Yang Digantikan
Pewaris Terakhir Langit β’ 2,171 kata
Waktu tidak berhenti. Tapi rasanya seperti itu β saat tangan-tangan berjubah perak itu berbalik ke arah adikku.
Sela β delapan tahun β berdiri memeluk ibuku, matanya membesar, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tidak terlihat berani. Ia terlihat seperti anak kecil. Seperti seharusnya.
"JANGAN SENTUH DIA!"
Aku tidak tahu siapa yang berteriak β aku, ibuku, atau kami berdua. Mungkin kami berdua. Suara kami bertabrakan di udara taman yang tiba-tiba terasa terlalu tipis untuk bernapas.
Sosok-sosok berjubah perak itu tidak berhenti. Mereka melayang β tidak berjalan, melayang β melintasi taman, lonceng-lonceng kecil di wajah mereka berdenting dengan irama yang mengerikan: teratur, sabar, tak terhindarkan. Bunga-bunga simpul menutup kelopaknya saat mereka lewat. Kunang-kunang benang berhamburan.
Lalu Danan bergerak.
Aku tidak pernah melihatnya bergerak seperti itu. Prajurit yang selalu tenang, selalu terukur, selalu setengah langkah di belakangku β kini ia melesat, jangkarnya berputar di tangannya, dan ia menempatkan dirinya di depan Sela dan ibuku dengan kecepatan yang membuat udara berdesis. Jangkar itu β senjata yang selama ini hanya terangkat setengah, ragu β kini terhunus penuh, ujungnya berkilau dengan cahaya yang bukan cahaya taman. Cahaya yang lebih tua. Cahaya penjaga.
"Lewati aku dulu," kata Danan.
Suaranya β rendah, datar, final. Bukan tantangan. Pernyataan. Seperti batu karang yang memberitahu ombak: aku di sini, dan aku tidak bergerak.
Sosok-sosok itu berhenti. Tiga langkah dari Danan. Lonceng-lonceng mereka berdenting β lebih cepat sekarang, tidak sabar.
"DANAN, GARIS PENJAGA." Suara Dewan dari langit β dingin, tapi ada sesuatu di dalamnya. Pengenalan. "KAU TAHU ATURANNYA. TARUHAN DITUTUP. YANG MENGGANTIKAN HARUS DIAMBIL."
"Aturan kalian," kata Danan β tanpa menoleh, tanpa menurunkan jangkarnya. "Bukan aturanku."
"SELA BUKAN BAGIAN DARI TARUHAN!" Aku melangkah maju, Wulan masih menggenggam tanganku β atau aku yang menggenggam tangannya, aku tidak tahu lagi. "Taruhan itu antara aku dan kalian! Benang Wulan! Bukan adikku!"
"IBUMU MENOLAK DIGANTIKAN." Suara Dewan β rapi, seperti pencatat. "PENENUN TUA MENOLAK DIGANTIKAN. MAKA GUDANG MEMILIH PENGGANTI. GUDANG SELALU SEIMBANG, PEWARIS. ITU BUKAN ATURAN KAMI. ITU SIFAT GUDANG."
"Tidak!" Ibuku berdiri β Sela masih menempel di sisinya β dan melangkah maju. Wajahnya basah tapi matanya menyala. "Ambil aku. Itu aturannya, kan? Yang menggantikan. Aku ibumuβ" ia menatap Wulan, "βaku ibunyaβ" ia menatapku, "βaku ibu Sela. Ambil aku. Jangan anak-anakku."
"Ibu, tidakβ" Aku menarik tanganku dari Wulan dan berlari ke ibuku β tapi Danan mengulurkan satu tangannya ke belakang, menahanku, tanpa menoleh. Tangannya β besar, hangat, mantap β menahan dadaku. "Danan!"
"Tetap di belakangku," katanya. Pelan. Tapi tidak bisa ditawar.
"Dewan!" Wulan melangkah maju β dan kini ia benar-benar tidak terlihat tua. Benang emas di pergelangannya menyala terang, dan cahaya itu merambat ke lengannya, ke bahunya, ke seluruh tubuhnya seperti api yang merambat di sumbu. "Kau ingin pengganti? Ambil aku. Aku penenun pertama. Benangku yang dipertaruhkan. Aku yang kalah seribu tahun lalu. Ambil aku dan lepaskan mereka semua."
Hening.
Lonceng-lonceng di wajah sosok-sosok itu berhenti berdenting. Di langit, suara Dewan β untuk pertama kalinya β terdengar... ragu.
"PENENUN PERTAMA TIDAK BISA DIGANTUNG DI GUDANG." Suaranya pelan. Hampir... takut. "BENANGMU TERLALU TUA. TERLALU KUAT. GUDANG TIDAK BISA MENAHANNYA. KAU TAHU ITU."
"Aku tahu," kata Wulan. "Itulah kenapa aku menawarkannya."
Aku menatap nenekku β perempuan yang baru kukenal satu jam, yang darahnya mengalir di nadiku, yang kalah seribu tahun lalu untuk putrinya. Dan aku mengerti, tiba-tiba, dengan kejelasan yang menyakitkan: ia sudah merencanakan ini sejak ia muncul. Sejak ia memanggilku "Nay". Ia datang bukan untuk menyelamatkan kami. Ia datang untuk menggantikan kami.
"Tidak," kataku. Suaraku keluar kecil dulu, lalu lebih besar. "TIDAK. Tidak ada yang digantung. Tidak ada yang digantikan. Tidak ibuku, tidak nenekku, tidak adikku." Aku menatap langit yang retak itu β menatap kegelapan di dalamnya, menatap suara itu. "Dengar aku, Dewan. Kau bilang gudang selalu seimbang. Kau bilang tidak bisa mengambil tanpa meletakkan." Aku mengangkat tanganku β pergelangan tanganku yang kosong, yang tadi berdenyut menjawab benang Wulan. "Lalu ambil ini."
"Naya, janganβ" Danan menoleh β untuk pertama kalinya ia menoleh, dan wajahnya β wajah prajurit yang selalu tenang itu β penuh ketakutan yang tidak disembunyikan. "Naya, jangan katakan itu."
"Tanganku kosong," kataku β pada Dewan, pada langit, pada semuanya. "Tidak ada benang di sini. Tidak ada yang bisa kalian gantung. Tapi ada sesuatu yang lain." Aku menatap Wulan. "Nenekku bilang hanya darah penenun pertama yang bisa menenun gerbang kembali. Gerbang yang kalian rusak. Gerbang yang membuat kalian kuat."
"NAYA." Suara Dewan β tajam. "JANGANβ"
"Kalau aku menenun gerbang itu kembali," kataku β cepat, sebelum keberanianku habis, sebelum Danan menghentikanku, sebelum ibuku menjerit, "kalian kehilangan sumber kekuatan kalian. Kalian tahu itu. Wulan tahu itu." Aku menarik napas. "Jadi ini tawaranku. Bukan taruhan. Tawaran. Aku akan menenun gerbang itu kembali β dan sebagai gantinya, kalian melepaskan benang ibuku. Seluruhnya. Bukan dipinjam. Dilepaskan. Namanya dihapus dari lonceng. Selamanya."
Keheningan yang jatuh kali ini berbeda. Bukan hening takut. Hening menghitung. Aku bisa merasakan Dewan β di balik retakan langit itu β menimbang, mengukur, mencatat. Mereka selalu rapi soal pencatatan.
"Dan sebagai jaminan," kataku β suaraku bergetar tapi aku tidak berhenti, "aku memberikan tanganku. Bukan untuk digantung. Untuk menenun." Aku mengangkat pergelangan tanganku yang kosong ke langit. "Kalian butuh penenun. Aku butuh ibuku bebas. Itu seimbang. Itu sifat gudang, kan? Mengambil dan meletakkan."
"Naya." Danan kini berdiri tepat di depanku β jangkarnya turun, tangannya mencengkeram bahuku. Matanya β mata yang selalu tenang, selalu waspada β kini basah. "Kau tidak tahu apa yang kau tawarkan. Menenun gerbang β Wulan butuhβ" ia menatap nenekku, "βberapa lama kau menenunnya dulu?"
Wulan tidak menjawab langsung. Ia menatapku β lama β dan aku melihat di matanya: kebanggaan, duka, dan sesuatu yang terasa seperti perpisahan. "Tujuh tahun," katanya pelan. "Tujuh tahun tanpa berhenti."
"Tujuh tahun," ulang Danan β suaranya hancur. "Naya. Tujuh tahun."
"Aku tahu," bisikku. Aku menatapnya β benar-benar menatapnya. Prajuritku. Penjagaku. Laki-laki yang bahunya menjadi dindingku, yang tangannya menahanku, yang matanya kini basah untukku. "Dananβ"
"Jangan," katanya β cepat, kasar. "Jangan katakan 'tidak apa-apa'. Jangan katakan 'aku akan baik-baik saja'. Janganβ" Ia berhenti. Rahangnya mengeras. "Ada cara lain. Pasti ada cara lain."
"PEWARIS." Suara Dewan β memotong. Dingin. Tapi ada sesuatu yang baru di dalamnya. Ketertarikan. "TAWARANMU... MENARIK. TAPI TIDAK CUKUP."
"Apa kurangnya?" tanyaku.
"KAU MENAWARKAN TANGANMU UNTUK MENENUN. TAPI TANGANMU KOSONG." Suara itu β rapi, logis, mengerikan. "KAU BELUM PENENUN. KAU HANYA DARAH PENENUN. UNTUK MENENUN GERBANG, KAU BUTUH BENANG PERTAMA. BENANG YANG MENGALIR DARI TANGANMU SENDIRI. DAN BENANG ITU..." jeda, "...BELUM LAHIR."
Aku menatap Wulan. "Apa maksudnya?"
Wulan memejamkan mata. "Benang pertama seorang penenun lahir dari... pilihan. Dari sumpah." Ia membuka matanya. "Aku bersumpah seribu tahun lalu β di depan gerbang, dengan tanganku di tenunan β bahwa aku akan menjaga gerbang dengan hidupku. Dan benang itu lahir." Ia mengangkat pergelangannya. "Benang ini bukan benang biasa, Nay. Ini sumpah yang menjadi benang."
"Jadi aku harus bersumpah," kataku.
"Dan sumpah itu mengikatmu," kata Wulan β pelan, berat. "Selamanya. Seperti aku terikat seribu tahun. Seperti Nini terikat." Ia menatapku. "Kau masih bisa mundur, Nay. Masih bisa."
Aku menatap ibuku β yang menangis diam-diam, Sela memeluknya. Aku menatap Danan β yang mencengkeram bahuku, yang matanya memohon padaku untuk tidak melakukannya. Aku menatap tanganku yang kosong.
Lalu aku berlutut.
Bukan karena kakiku menyerah. Karena aku memilih.
Di tanah taman, di antara bunga-bunga simpul yang mekar untuk nenekku, aku meletakkan kedua tanganku di tanah β dan aku bersumpah. Bukan dengan kata-kata indah. Dengan kata-kata yang kumiliki:
"Aku, Naya, darah Wulan, anak Raras, kakak Sela β aku bersumpah. Aku akan menenun gerbang langit kembali. Aku akan menjaga tenunan dengan hidupku. Dan sebagai gantinya β" aku mendongak ke langit yang retak, "β Dewan melepaskan benang Raras. Seluruhnya. Namanya dihapus dari lonceng. Selamanya. Itu janjimu. Itu sifat gudang. Mengambil dan meletakkan."
Hening.
Lalu β dari retakan langit β suara Dewan. Satu kata:
"SETUJU."
Dan sesuatu terjadi di pergelangan tanganku.
Panas. Bukan panas membara seperti fragmen lonceng. Panas yang lembut β seperti tangan ibu yang menempel di dahi anaknya yang demam. Aku menatap tanganku β dan di sana, di pergelangan tanganku yang kosong selama ini, sesuatu muncul. Tipis. Samar. Berdenyut.
Benang. Benang emas. Benangku.
Baru lahir. Masih basah oleh cahaya. Berdenyut seirama dengan jantungku.
"Naya..." Danan berlutut di sampingku β tangannya menyentuh pergelangan tanganku, jemarinya gemetar di tepi benang yang baru lahir itu. Ia menatapku β dan aku melihat segalanya di matanya: kekaguman, ketakutan, dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang ia tidak pernah katakan, sesuatu yang aku tidak pernah berani tanyakan. "Kau... kau bersinar."
Aku menatapnya. "Dananβ"
Tapi Wulan menjerit.
Bukan jeritan takut. Jeritan peringatan.
"NAY! LONCENGNYA!"
Aku mendongak β dan melihatnya. Di langit yang retak, di antara kegelapan, sebuah lonceng perak raksasa muncul β lebih besar dari semua lonceng yang pernah kulihat. Dan di permukaannya, terukir nama β bukan "Raras". Nama itu bersinar, baru diukir, masih panas:
"Naya."
"APA INI?!" jeritku. "Kita sudah setuju! Ibukuβ"
"IBUMU BEBAS." Suara Dewan β dingin, rapi, puas. "NAMANYA DIHAPUS DARI LONCENG. BENANGNYA DILEPASKAN. JANJI DIPENUHI."
Aku menatap ibuku β dan melihatnya. Di leher ibuku β di tempat yang selama ini terasa berat, terasa seperti ada sesuatu yang menggantung β kini kosong. Ringan. Ibuku menyentuh lehernya sendiri, matanya membesar, dan ia menangis β kali ini tangis lega.
"Tapi," kataku β suaraku bergetar, "lonceng ituβ"
"LONCENG TIDAK PERNAH KOSONG, PEWARIS." Suara Dewan β seperti pencatat yang menutup buku besar. "GUDANG SELALU SEIMBANG. KAU MELETAKKAN SUMPAHMU. KAMI MELETAKKAN NAMAMU."
Benang emas di pergelangan tanganku β benangku yang baru lahir β tiba-tiba terasa berat. Sangat berat. Seperti rantai.
"Kau menipuku," bisikku.
"KAMI MENCATAT," kata Dewan. "ITU YANG KAMI LAKUKAN."
Dan lonceng raksasa itu β berdenting. Sekali. Dalam. Dan setiap dentingnya menarik β aku merasakannya β menarik sesuatu dari dalam diriku. Dari benangku. Dari sumpahku.
Wulan berlutut di sampingku β tangannya yang bersinar menyentuh pipiku. "Nay. Dengar aku. Sumpahmu nyata. Benangmu nyata. Tapi lonceng itu..." ia menatap lonceng raksasa itu, "βlonceng itu bukan bagian dari janji. Itu jebakan. Mereka mencatat sumpahmu sebagai... utang."
"Utang?" bisikku.
"Setiap denting menarik benangmu," kata Wulan β cepat, mendesak. "Mereka akan memanenmu β perlahan β seperti mereka memanen ibumu. Kecuali..." Ia menatap Danan. Lalu menatapku. "Kecuali sumpah itu dibagi."
"Dibagi?" Danan mengangkat wajahnya.
"Sumpah penenun bisa dibagi," kata Wulan. "Tapi hanya dengan satu orang. Satu yang bersumpah bersamanya β bukan untuk menenun, tapi untuk menjaga. Penenun dan penjaga." Ia menatap Danan β dalam. "Seperti dulu. Seperti selalu. Garis kami tidak pernah berjalan sendiri, Danan. Itulah kenapa garis kalian ada."
Aku menatap Danan. Danan menatapku.
Di langit, lonceng raksasa itu berdenting untuk kedua kalinya β dan aku merasakan tarikannya, lebih kuat, benangku yang baru lahir berdenyut kesakitan.
"Danan," bisikku. "Kau tidak harusβ"
"Aku tahu," katanya.
Ia meletakkan tangannya di atas tanganku β di atas benang emas yang baru lahir itu. Tangannya besar, hangat, mantap. Dan ia bersumpah β bukan dengan kata-kata indah. Dengan kata-kata yang ia miliki:
"Aku, Danan, garis penjaga β aku bersumpah. Aku akan menjaga penenun. Dengan hidupku. Dengan jangkar ini. Dengan segalanya."
Cahaya meledak dari tangannya β bukan emas. Perak. Benang perak β tipis, kuat, berkilau β muncul di pergelangan tangannya, melilit, lalu terulur β dan menyatu dengan benang emasku. Emas dan perak. Penenun dan penjaga. Terjalin.
Lonceng raksasa itu β berhenti berdenting.
Di langit, suara Dewan β untuk pertama kalinya β terdengar... bingung.
"APA... APA INI?"
Wulan tersenyum β senyum seribu tahun yang akhirnya menemukan tempat untuk pergi. "Itu," katanya, "adalah sesuatu yang tidak pernah kalian catat. Karena kalian tidak pernah mengerti."
"Apa?" bisikku β menatap benang emas-perak yang terjalin di pergelangan tanganku dan Danan.
Wulan menatap kami β aku dan Danan, tangan kami bertaut di atas benang yang terjalin β dan matanya berkaca-kaca.
"Pilihan," katanya. "Bukan taruhan. Bukan utang. Pilihan."
Dan dari retakan langit β suara Dewan β bukan lagi dingin. Bukan lagi rapi. Retak. Marah. Takut:
"HANCURKAN MEREKA."
Sosok-sosok berjubah perak itu β bergerak. Semua sekaligus. Lonceng-lonceng di wajah mereka berdenting liar. Tangan-tangan mereka terulur β bukan lagi ke Sela. Bukan lagi ke ibuku.
Ke aku dan Danan.
Danan berdiri β menarikku berdiri bersamanya, jangkarnya terangkat, benang perak di pergelangannya menyala. "Naya," katanya β cepat, tanpa menoleh, matanya pada sosok-sosok yang mendekat. "Apapun yang terjadiβ"
"Jangan," kataku β menggenggam tangannya erat, benang kami yang terjalin berdenyut. "Jangan katakan 'apapun yang terjadi'. Katakan..."
Ia menoleh β sekilas β dan tersenyum. Senyum yang belum pernah kulihat. Bukan senyum prajurit. Senyum laki-laki.
"Katakan apa?" tanyanya.
Tapi sosok-sosok itu sudah tiba β dan Wulan melangkah di depan kami, benang emas tuanya menyala seperti matahari, dan ia mengangkat kedua tangannya β
β dan taman meledak menjadi cahaya.