Lorong Simpul
Pewaris Terakhir Langit • 1,225 kata
Di dalam gerbang tidak ada cahaya. Itu hal pertama yang salah dari semua yang kuceritakan pada diriku sendiri semalam.
Aku selalu membayangkan bagian dalam gerbang itu terang — lautan cahaya emas, tirai-tirai berkilau, seperti Langit Atas yang pernah kulihat sekilas dari celah jahitan. Kenyataannya: gelap. Gelap yang padat dan hangat, seperti berada di dalam kain tebal yang dilipat berkali-kali. Satu-satunya cahaya berasal dari benang abu-abu di antara pergelangan tanganku dan Danan — berdenyut redup, seperti bara yang hampir padam tetapi menolak mati.
“Danan?” suaraku terdengar aneh di sini — datar, tanpa gema, seolah ditelan sebelum sempat memantul.
“Aku di sini.” Napasnya hangat di sisi pipiku. Sayapnya masih melingkupi bahuku. “Jangan lepaskan tanganku.”
Perlahan, mataku menyesuaikan diri. Dan lorong itu — karena memang itu bentuknya, sebuah lorong — mulai menunjukkan dirinya.
Dinding-dindingnya terbuat dari benang yang ditenun. Emas dan abu-abu, saling silang, rapat seperti anyaman tikar raksasa — tetapi setiap beberapa jengkal, anyaman itu digantikan oleh simpul. Simpul-simpul sebesar kepalan tangan, berderet di sepanjang dinding kiri dan kanan, sejauh mata memandang, seperti lentera-lentera yang padam. Beberapa masih menyimpan sisa hangat; ketika kami lewat, yang terdekat berdenyut pelan, seolah mengenali sesuatu pada kami.
Lantainya empuk — benang yang dipadatkan, menyerap langkah. Dan waktu di sini terasa salah: langkahku jatuh terlalu lama, seolah kakiku bergerak melalui air. Aku menghitung detak jantungku untuk memastikan aku masih memilikinya. Satu. Dua. Tiga. Masih ada. Masih milikku.
“Jangan sentuh yang perak,” kata Danan tiba-tiba, ketika tanganku terulur hampir menyentuh seberkas benang keperakan yang terselip di antara anyaman emas. Aku menarik tanganku. Benang perak itu dingin — aku bisa merasakannya bahkan tanpa menyentuh, seperti hawa yang keluar dari celah pintu es. “Jahitan dewan,” lanjut Danan. “Mereka menambal dari luar, dengan cara mereka. Jahitan yang mengikat, bukan yang menambal.”
Aku memperhatikan benang-benang perak itu lebih saksama. Mereka tidak menyatu dengan anyaman — mereka menusuknya, seperti jarum yang ditinggalkan di dalam kain. Di beberapa tempat, anyaman emas di sekitarnya tampak mengerut, menjauh, seolah kesakitan. Aku teringat jerat perak yang pernah melilit pergelanganku — dingin yang membakar — dan tanpa sadar aku menggenggam pergelangan tanganku sendiri.
“Ketukan dari belakang sudah hilang,” bisikku. Memang: keheningan di belakang kami kini utuh, tidak berdenyut lagi. Apa pun yang mengetuk dari sisi lembah tadi — tertinggal di luar, atau menyerah.
“Bagus,” kata Danan, tetapi suaranya tidak terdengar yakin.
Kami berjalan. Dan semakin dalam kami masuk, semakin jelas satu hal: ada sehelai benang emas yang terlepas dari anyaman dinding, menjuntai ke tengah lorong seperti tali penuntun. Ujungnya terurai — serat-serat halusnya lepas satu per satu, melayang pelan sebelum padam. Benang itu masih hidup, masih berdenyut, tetapi setiap denyutnya lebih lemah dari sebelumnya. Seperti lilin yang sumbunya tinggal sejengkal.
Aku mengikutinya dengan mata, dan jantungku mencelos. Aku mengenali irama denyut itu. Tiga ketukan. Jeda. Tiga ketukan.
Irama Ibu.
“Danan,” bisikku. “Itu —”
“Aku tahu,” potongnya. “Ikuti.”
Benang yang terurai itu menuntun kami semakin dalam, dan lorong itu melebar — dinding-dinding anyaman menjauh ke kiri dan kanan hingga kami berdiri di sebuah ruang bundar yang luas. Ruang jantung. Dan di tengahnya —
Aku lupa cara bernapas.
Di tengah ruang itu menganga sebuah luka bundar. Bukan robekan seperti mulut gerbang tadi — ini lebih tua, lebih dalam, lebih gelap. Kegelapan yang bukan sekadar tidak adanya cahaya, melainkan kegelapan yang aktif — yang menatap balik. Di sekelilingnya terentang jaring-jaring emas, rapat dan berlapis-lapis, menahannya agar tidak melebar. Dan di pusat jaring itu, dengan kedua tangan terentang menjadi dua simpul terakhir yang menahan seluruh jaring —
Ibuku.
Ia tidak seperti yang kuingat dari malam-malam demam masa kecilku. Ia tembus pandang di tepi-tepinya, seperti kain yang terlalu sering dicuci hingga seratnya menipis. Rambutnya — rambut hitam panjang yang dulu selalu dikepangnya longgar — kini terurai menjadi helai-helai cahaya yang menyatu dengan jaring. Dari lengannya yang menipis, benang-benang emas keluar tanpa henti, mengalir menjadi bagian dari jaring, dan setiap helai yang keluar membuatnya sedikit lebih transparan.
Tetapi wajahnya — wajahnya sama persis. Mata yang sama. Lekuk senyum yang sama, yang dulu muncul setiap kali aku berhasil mengikat tali sepatuku sendiri.
“Ibu,” kataku. Suaraku pecah di tengah jalan.
Ia menoleh. Dan tersenyum — senyum yang sama itu, kini dengan susah payah.
“Naya,” katanya. “Kau datang.”
Aku berlari — atau mencoba berlari; lantai benang menahan langkahku seperti air — dan berhenti tepat di luar jangkauan jaring. Tanganku terulur, tetapi tidak berani menyentuh. Aku takut sentuhanku akan membuatnya semakin terurai.
“Ibu mengetuk,” kataku, bodoh dan tergagap. “Dari dalam. Aku mendengarnya. Makanya aku —”
“Aku mengetuk supaya kau hafal polanya, Nak.” Suaranya tipis, seperti suara dari ujung lorong yang panjang. “Tiga ketukan. Jeda. Tiga ketukan. Itu pola simpul penjaga — pola yang harus dihafal di luar kepala, karena di dalam sini tidak ada yang bisa mencatat.” Ia memiringkan kepalanya, mempelajari wajahku. “Aku tidak memanggilmu masuk. Tapi kau sudah di sini.” Jeda. “Maka dengarkan.”
Danan melangkah maju, dan untuk pertama kalinya sejak kami masuk, suaranya bergetar. “Raras.”
Ibuku menatapnya — dan sesuatu yang lama sekali terkubur melintas di wajahnya. “Kakak,” katanya pelan. “Kau menua.”
“Kau memilih ini sendirian,” kata Danan. Bukan tuduhan — sesuatu yang lebih berat dari tuduhan. Sesal.
“Seseorang harus,” jawab Ibu sederhana. “Dan kau harus menjaga Naya. Kita sudah membagi tugas malam itu, ingat? Kau lupa?”
Malam itu. Malam aku demam dan Ibu tidak pulang-pulang. Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal dengan cara yang mengerikan: Ibu tidak pergi. Ibu masuk — ke dalam sini — dan tidak pernah keluar lagi.
“Dengarkan,” ulang Ibu, menatapku lurus-lurus. “Gerbang ini bukan pintu, Nak. Gerbang ini perban. Di baliknya —” ia mengangguk ke arah luka bundar yang ditahan jaringnya, “— robekan pertama. Luka langit yang paling tua, yang tidak pernah sembuh. Kalau perban ini lepas, robekan itu akan melebar, dan semua jahitan — perbatasan, desa, langit ganda — akan terurai mengikutinya.”
“Dan Ibu menahannya,” bisikku. “Dengan menjadi —”
“Jahitan yang hidup.” Ia mengatakannya tanpa kepahitan, seperti menyatakan warna langit. “Itu rancangan dewan sejak awal, Nak. Penjaga masuk, menjadi simpul, menahan dari dalam sampai habis — lalu penjaga berikutnya masuk. Rantai yang rapi. Tatanan yang rapi.” Tangannya — dua simpul terakhir itu — berdenyut lemah. “Aku sudah hampir habis. Lihat.”
Aku melihat. Dua simpul di tangannya tinggal selilitan — serat terakhir yang menahan, berkilau tipis seperti embun di ujung daun.
“Arka menginginkanmu sebagai penggantiku,” lanjut Ibu. “Kunci yang hidup. Simpul yang baru, yang kuat, yang bisa menahan puluhan tahun. Itu sebabnya mereka membiarkanmu tumbuh besar. Itu sebabnya mereka tidak mengambilmu waktu kecil.” Matanya berkaca-kaca — cahaya, bukan air mata; di sini ia bahkan tidak punya air mata lagi. “Maafkan Ibu, Nak. Maaf Ibu menjadikanmu umpan dengan tetap hidup.”
“Jangan minta maaf,” kataku — suaraku tiba-tiba keras, menggema aneh di ruang jantung ini. “Jangan pernah minta maaf karena hidup.”
Benang abu-abu di pergelangan Danan bergetar. Ia menatap Ibu — menatap dua simpul yang tinggal selilitan itu — dan rahangnya yang keriput mengeras seperti batu.
Dan saat itulah lorong di belakang kami bergetar.
Bukan ketukan. Bukan denyut. Getaran — seperti langkah raksasa yang mendekat melalui anyaman. Cahaya perak merembes dari mulut luar di kejauhan, merayap di sepanjang dinding, membuat simpul-simpul emas meredup satu per satu seperti lentera yang ditiup angin.
Dan suara itu — gema yang rapi, terlalu rapi untuk tempat sekacau ini:
“Keponakanku. Ternyata kau lebih mudah dilacak daripada kukira.”
Arka.
Tanganku menemukan tangan Danan dalam gelap — dan di pergelangan kami, simpul kecil pilihanku berdenyut panas, seolah terbangun. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih tua dari ketakutan: penolakan.
Ibu menoleh ke arah cahaya perak itu, dan wajahnya yang tembus pandang menjadi pucat. “Mereka mengikuti benangmu yang putus,” bisiknya. “Benang Bima — jerat perak itu masih terhubung padamu, Nak. Mereka tidak pernah melepaskannya.”
Cahaya perak semakin dekat. Dan di dalam cahayanya, tiga bayangan bersayap mulai terbentuk.