Jalan Turun
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,319 kata
Aku menerjang dan menarik Sela ke dalam pelukanku sebelum ia sempat melangkah lebih jauh.
Tubuh kecilnya gemetar β gelang di pergelangan tangannya masih berpijar, panas menyengat kulitku. Aku memeluknya erat, membiarkan panas itu membakar lenganku, dan aku berbisik di telinganya β bukan nama, bukan jawaban, hanya suara: "Sst. Mbak di sini. Mbak di sini."
Pijar itu perlahan meredup. Denyutnya melambat. Sela terisak di bahuku β tangis anak kecil biasa, akhirnya β dan aku hampir menangis lega.
Ibu mengunci pintu kamar. Wulan menyuruh semua naik ke dipan β tidak ada yang menyentuh lantai. Kami duduk berdesakan di kamar tengah: Ibu memeluk Sela yang sudah mulai mengantuk, Wulan di kursi dengan tongkat melintang di pangkuannya, Danan bersandar di kusen pintu dengan jaring emasnya terentang tipis di sekeliling ruangan, dan aku di dipan, di samping Ibu β Wulan melototiku saat aku hendak duduk di lantai.
Denting dari kedalaman masih terdengar β samar melalui papan dan tanah, tapi ada. Selalu ada. Seperti detak jantung kedua rumah ini.
"Kita tidak bisa menunggu," kataku pelan, agar Sela yang mulai terlelap tidak dengar. "Dewan terus menuang. Semakin kenyang ia, semakin kuat panggilannya."
"Dan semakin kuat panggilannya," sambung Danan, "semakin dekat ia ke... apa? Apa yang terjadi kalau ia cukup kuat?"
Wulan diam lama. Tongkatnya diketuk-ketukkan pelan ke bingkai dipan β tuk, tuk, tuk β mengimbangi denting dari bawah, seolah ia sedang berpikir dalam bahasa yang sama.
"Dua belas lonceng adalah bingkai," katanya akhirnya. "Satu lonceng tidak bisa membuka pintu. Tapi lonceng pertama..." Ia menatapku. "Ia bukan sekadar satu dari dua belas, Nak. Ia induknya. Cetakan tempat Dewan menempa sebelas saudaranya."
Dingin merambat di tulang punggungku. "Maksud Nek?"
"Tujuh yang kau namai β DIDENGAR, TEDUH, SINGGAH, TIDUR, PULANG, DIJAWAB, TEPIAN β mereka keluar dari paduan karena kau beri mereka lagu sendiri." Wulan mencondongkan tubuh. "Tapi kalau induknya memanggil cukup kuat... ia bisa memanggil mereka pulang."
Aku menatap tanganku. "Namaku bisa... tenggelam?"
"Nama yang kau berikan masih muda. Sehari umurnya." Suara Wulan berat. "Panggilannya sudah ratusan tahun. Kalau ia cukup kenyang untuk berteriak β tujuh anaknya akan mendengar ibunya."
Keheningan. Di kejauhan β sangat jauh, dari arah bukit tempat pendopo runtuh berdiri β aku bersumpah aku mendengar sesuatu. Nada yang kukenal. DIDENGAR β bergetar, goyah, seperti seseorang yang dipanggil namanya dari jauh dan ragu-ragu menoleh.
Danan mendengarnya juga. Wajahnya mengeras. "Ia sudah mulai memanggil."
"Jadi kita tidak menunggu." Aku berdiri. "Aku turun."
"TIDAK." Tiga suara sekaligus β Ibu, Wulan, Danan.
"Aku satu-satunya yang bisa menamainya," kataku. "Benangku tidak sampai dari atas β kedalaman itu menolak akarku. Satu-satunya cara menyentuhnya adalah..." Aku menatap papan dipan, menatap tanah di bawahnya. "Berdiri di sampingnya."
"Di bawah sana ada kegelapan yang bahkan akar abumu tidak berani sentuh," kata Danan β suaranya rendah, berbahaya. "Kau hampir mati memberi tujuh nama dari atas. Apa yang akan terjadi padamu di bawah?"
"Kalau aku tidak turun, tujuh nama itu akan tenggelam satu per satu, dan paduan itu akan lengkap, dan Dewan akan punya pintunya." Aku menatapnya. "Kau tahu itu."
Rahang Danan mengeras. Jaring emas di sekeliling ruangan bergetar β marah, takut. Lalu ia menghela napas, panjang, dan berkata: "Aku ikut."
"Dananβ"
"Aku ikut," ulangnya β datar, final. "Jaringku tidak bisa menamai. Tapi ia bisa menahan. Kalau benangmu putus di bawah sana, akan ada yang menarikmu naik." Matanya yang perak menatapku β dan di sana, di balik ketegasannya, ada sesuatu yang membuat dadaku sesak. "Aku tidak akan berdiri di atas sini mendengarkan kau tenggelam."
Ibu menangis pelan. "Naya..."
"Bu." Aku berlutut di depan dipan, menggenggam tangannya. Tangannya dingin. "Ibu yang mengajariku: penjaga tidak lari dari gerbangnya. Ini gerbangku juga, Bu. Di bawah rumah kita."
"Sumur tua," kata Wulan tiba-tiba.
Kami semua menoleh.
"Di belakang rumah. Di bawah pohon kamboja." Wulan menatapku. "Ibuku menyegelnya lima puluh tahun lalu β dengan lempeng batu dan gelang perunggu. Sumur itu..." Ia berhenti. "Sumur itu tenggorokannya, Nak. Saat ibuku mengubur lonceng itu, ia meninggalkan satu lubang napas. Satu. Denting yang kita dengar malam ini naik melalui sana."
"Tenggorokan," ulangku. "Jadi jalan turunnya... lewat tenggorokannya."
"Lewat sumur," Wulan mengangguk. "Hati-hati. Yang turun lewat tenggorokan sesuatu yang lapar..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Sela menggeliat dalam tidur β tangannya mencengkeram bajuku. "Mbak janji pulang," bisiknya β setengah tidur, setengah sadar.
Tenggorokanku tercekat. Aku mencium keningnya β hangat, berkeringat. "Mbak janji."
Persiapan dilakukan dalam diam. Danan memeriksa jaring emasnya β ia menenunnya ulang menjadi tali panjang, dengan simpul-simpul pengaman di setiap jengkal. Wulan mengambil sesuatu dari peti tuanya: lentera kecil dari perunggu, yang apinya β katanya β "tidak bisa padam oleh napas bawah tanah." Dan dariku β aku hanya membawa benang-benangku yang tersisa, dan tubuhku yang berdarah-darah, dan satu hal lagi:
Wulan menarikku ke samping sebelum kami keluar. Ia bersenandung β pelan, nyaris tak terdengar. Lagu lama. Lagu yang samar-samar kuingat dari masa kecilku β yang ia nyanyikan saat menidurkanku dulu, yang kupikir hanya lagu biasa.
"Ingat lagu ini?" bisiknya.
Aku mengangguk β air mataku jatuh tanpa izin. Aku ingat. Setiap anak di rumah ini ditidurkan dengan lagu itu.
"Kalau kau tersesat di bawah sana," kata Wulan β tangannya yang keriput menggenggam tanganku erat, "nyanyikan ini. Bukan untuk menjawabnya." Matanya menatapku tajam. "Untuk mengingat jalan pulang."
Di belakang rumah, di bawah pohon kamboja yang bunganya berguguran seperti salju kecil, sumur tua itu menunggu.
Lempeng batunya masih di sana β ditumbuhi lumut, gelang-gelang perunggunya menghijau. Dan dari celah-celahnya β tipis, sabar β naiklah denting itu. Lebih jelas di sini. Lebih dekat. Seperti mendengarkan detak jantung seseorang dengan telinga menempel di dadanya.
Danan dan aku mengangkat lempeng itu bersama. Beratnya luar biasa β atau mungkin tanganku yang sudah terlalu lemah. Di bawahnya: kegelapan yang bernapas. Bau perunggu basah dan hujan yang lama. Tidak ada anak tangga. Hanya dinding sumur yang licin dan lubang yang turun entah sampai mana.
Aku melepaskan sehelai benang ke bawah β sebagai peraba. Ia turun... sepuluh meter, dua puluh meter β lalu ujungnya menyentuh sesuatu yang bukan tanah dan bukan air. Sesuatu yang hangat. Benangku tersentak mundur seperti menyentuh bara.
"Ia di bawah sana," bisikku. "Dekat."
Danan melilitkan jaring emasnya di pinggangku β simpulnya kuat, teliti. Tangannya berhenti sejenak di pinggangku β lalu ia berlutut agar sejajar denganku, dan mencium keningku. Lama. Hangat.
"Jangan berani-berani mati," bisiknya di keningku.
Aku tertawa β kecil, gemetar. "Kau juga."
"Aku ikut bukan untuk melindungimu." Ia menempelkan keningnya ke keningku β matanya yang perak begitu dekat hingga aku bisa melihat ketakutan di dalamnya, yang ia tidak sembunyikan dariku. "Tapi supaya ada yang menarikmu pulang."
Kami turun.
Dinding sumur licin oleh lumut dan usia β aku mencari pijakan dengan kaki, Danan di atasku mengatur tali jaringnya. Lentera perunggu Wulan tergantung di pinggangku, apinya bergoyang tapi tidak padam. Semakin dalam kami turun, semakin keras denting itu β bukan lagi dari bawah, melainkan dari sekeliling, dari dinding-dinding tanah itu sendiri, seolah seluruh bumi di sini adalah dadanya.
Dua puluh meter. Tiga puluh. Benang-benangku menjuntai di sekelilingku seperti rambut, ujung-ujungnya gemetar.
Lalu β denting itu berhenti.
Bukan melemah. Berhenti. Seketika. Seperti seseorang menutup mulut.
Keheningan yang jatuh sesudahnya lebih berat dari denting mana pun. Aku bisa mendengar napasku sendiri, napas Danan di atasku, tetesan air dari dinding sumur. Dan β
Bukan denting.
Napas.
Panjang, dalam, sabar β naik dari bawah, menyentuh wajahku seperti angin dari mulut gua. Dan di antara hembusan napas itu, terdengar sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku:
Namaku.
Disebut pelan. Hangat. Seperti seseorang yang sudah lama menungguku pulang.
"Naya."
Tangan Danan mencengkeram bahuku dari atas β keras, memperingatkan. "Jangan jawab," bisiknya β suaranya bergetar.
Tapi suara itu menyebutnya lagi β lebih lembut, lebih dekat β dan sesuatu di dalam dadaku, sesuatu yang lama dan kecil dan rindu, ingin menjawab.