β€Ή
55. Simpul Ketiga

Simpul Ketiga

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,338 kata

Ilustrasi Simpul Ketiga

"NAYA!"

Suara itu β€” tegas, memerintah, suara Nini Wulan saat aku kecil dan hampir menyentuh benang terlarang β€” menghantamku seperti tamparan. Tanganku berhenti di udara. Benang emasku bergetar sejengkal dari lonceng kecil itu β€” begitu dekat hingga aku bisa merasakan dingin yang mengisap dari dalam perunggu.

Aku mencengkeram pergelangan tanganku sendiri dengan tangan kiriku β€” menahannya, seperti menahan kuda yang ketakutan β€” dan menariknya kembali. Perlahan. Setapak demi setapak. Benang emasku melunak, kembali padaku.

Di tengah taman, Sela terkulai. Ibuku berlari dan menangkapnya sebelum ia jatuh β€” menggendongnya erat. Adikku mengerjap β€” matanya jernih lagi, miliknya sendiri β€” dan mulai menangis pelan, bingung.

"Kakak?" suaranya kecil. "Kok aku di sini?"

Aku berlutut di depannya β€” kakiku gemetar β€” dan memeluknya. "Tidak apa-apa, Dek. Kakak di sini."

Di ambang pintu, Wulan berdiri β€” bersandar pada tongkatnya yang retak, napasnya berat. Ia memaksakan diri keluar demi satu teriakan itu. Danan sudah di sisinya, menopangnya.

"Bawa dia masuk," kata Wulan pada Ibuku β€” lalu menatapku. "Dan kau. Kita bicara. Sekarang."

Ruang tengah. Lampu minyak. Lonceng kecil Sela tergeletak di atas meja β€” di tengah-tengah kami, seperti terdakwa. Sela sudah tidur di kamar, dijaga Ibu. Tinggal kami bertiga: aku, Wulan, Danan.

"Kita buka," kataku β€” langsung. "Kita keluarkan dia dari lonceng Sela."

"Dan melepaskannya ke mana?" Wulan menatapku tajam. "Ia tidak bernama, Naya. Ia tidak bisa diikat. Kau membukanya, ia keluar β€” lalu apa? Ia akan mencari benang hangat lain. Benangmu. Benangku." Ia melirik Danan. "Benangnya."

"Lalu kita biarkan ia di dalam?" Suaraku meninggi. "Ia memakan benang Sela, Nek! Setiap hari ia tumbuh. Sela sudah mendengarnya bernyanyiβ€”"

"Aku tahu." Wulan memejamkan mata. "Aku tahu."

Danan β€” yang diam sejak tadi β€” akhirnya bicara. "Ada cara ketiga. Cara keluargaku." Ia menatap meja β€” tidak berani menatapku. "Umpan. Kami memancing penumpang keluar dengan nama curian β€” benang nama yang dicuri dari orang mati, yang tidak akan dirindukan siapa pun. Penumpang lapar akan pindah ke benang yang lebih hangat. Lalu..." Ia berhenti.

"Lalu apa?" tanyaku β€” meski aku sudah tahu jawabannya.

"Lalu kami membakarnya. Beserta umpannya." Ia mengangkat wajah β€” matanya merah. "Itu cara keluargaku, Naya. Cara yang membuat kami menjadi musuh keluargamu selama tujuh generasi."

Sunyi. Lampu minyak berkerlip.

"Tidak," kataku akhirnya. Pelan, tapi final. "Benang curian tidak pernah kuat. Itu aturan kita. Dan aku tidak akan membakar apa pun yang... yang pernah menjadi bagian dari takut seseorang." Aku menatap lonceng kecil itu. "Ia bukan jahat, Danan. Ia hanya... dingin. Dan lapar. Dan sudah menunggu terlalu lama."

Danan menatapku β€” lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk. Ada kelegaan di wajahnya β€” seolah ia berharap aku menolak, seolah ia sendiri tidak ingin mewarisi cara itu.

"Maka kita cari cara penenun," katanya. "Bukan cara keluargaku."

Aku menatap lonceng kecil itu. Otak penenunku bekerja β€” bukan dengan takut, kali ini. Dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang diajarkan Wulan padaku sejak aku kecil, jauh sebelum aku tahu apa itu gerbang langit: menenun bukan soal mengikat. Menenun soal memberi tempat. Setiap benang punya tempatnya dalam pola. Bahkan benang yang salah warna β€” jika ditenun dengan benar β€” bisa menjadi bagian terindah dari kain.

"Kita tidak mengusirnya," kataku perlahan. "Dan kita tidak mengadopsinya." Aku mengangkat wajah. "Kita memberinya kamar."

Wulan mengerutkan kening. "Kamar?"

"Ia menumpang karena ia kedinginan dan tidak punya rumah. Buyut Sari menenun lonceng pertama untuk menampungnya β€” dan ia tinggal. Karena tidak ada yang memberinya tempat yang benar-benar untuknya." Aku menatap Danan. "Aku akan menenun lonceng baru. Bukan dari perunggu β€” dari benang. Lonceng tenunan. Kamar untuk tamu. Dan ia harus pindah dengan rela β€” karena kalau dipaksa, ia akan melawan, dan kalau dibujuk, itu undangan."

"Tapi ia tidak akan meninggalkan benang hangat Sela untuk rumah yang dingin," kata Wulan.

"Karena itu rumahnya harus hangat." Aku berdiri. "Dan ada satu hal yang lebih hangat dari benang yang dimakan diam-diam."

Aku masuk ke kamar. Sela tidur β€” napasnya teratur, benang perak tipisnya melingkar di pergelangan tangannya seperti gelang, berdenyut pelan. Aku berlutut di sisi tempat tidurnya dan mengelus rambutnya.

"Dek," bisikku. "Bangun sebentar. Kakak butuh bantuanmu."

Ia mengerjap β€” mengucek matanya. "Kakak?"

Aku menjelaskan β€” dengan kata-kata anak kecil, karena ia memang anak kecil. Bahwa ada tamu kedinginan di dalam loncengnya. Bahwa tamu itu butuh kamar sendiri yang hangat. Bahwa Kakak bisa menenun kamarnya β€” tapi kamar butuh fondasi, dan fondasi terbaik adalah benang yang diberikan dengan rela.

Sela mendengarkan β€” serius, seperti saat ia meletakkan benang perak tipisnya di telapak tanganku semalam. Lalu ia mengulurkan pergelangan tangannya.

"Ambil," katanya. "Buat dia. Biar nggak kedinginan."

Jantungku hancur dan mekar di saat yang sama. Aku menarik sehelai benang perak tipis dari pergelangan tangannya β€” setipis rambut, berkilau β€” dan ia tidak menangis. Ia tersenyum.

"Jangan sampai putus ya, Kak."

"Janji," bisikku β€” untuk kedua kalinya dalam dua hari.

Tengah malam. Taman.

Kami berkumpul β€” seperti semalam, tapi kali ini bukan untuk perang. Wulan duduk di kursi yang dibawakan Ibu β€” terlalu lemah untuk berdiri lama, tapi matanya tajam. Ibu memeluk Sela yang mengantuk di pangkuannya. Danan berdiri di sisiku β€” jangkar kedua di tangannya, benang peraknya terulur.

Dan aku β€” aku mulai menenun.

Bukan menambal. Bukan mengikat. Membangun. Benang emasku naik dari tanganku β€” melengkung, berpilin β€” membentuk kubah kecil di udara. Dinding-dinding cahaya. Danan mengulurkan benang peraknya β€” menjadi jangkar, tiang-tiang yang menahan kubah itu tetap di tempatnya. Dan di fondasinya β€” aku menenun benang perak tipis pemberian Sela. Melingkar. Menjadi lantai.

Lonceng tenunan. Sekecil kepalan tangan. Berdenyut dengan tiga warna: emas, perak, perak tipis. Hangat β€” aku bisa merasakan hangatnya dari tempatku berdiri, seperti mendekatkan tangan ke api kecil.

Wulan mulai bersenandung. Bukan lagu untuk mengingatkan penenun β€” lagu yang sebenarnya, yang lengkap, yang tidak pernah ia nyanyikan sampai habis sebelumnya:

"Tidurlah benang, tidurlah lonceng... ada rumah untuk yang tak bernama... bukan kau yang empunya nama, tapi ada tempat untukmu di pola..."

Aku meletakkan lonceng kecil Sela di tanah β€” di depan lonceng tenunan itu. Dan aku bicara β€” bukan dengan suara penenun yang memerintah. Dengan suara kakak yang mengerti apa itu kedinginan.

"Kami tidak mengusirmu," kataku pelan. "Kami tidak akan menamaimu. Kami tidak akan mengikatmu." Aku menunjuk lonceng cahaya itu. "Itu kamarmu. Hangat. Ditenun dari benang yang diberikan dengan rela β€” dan nama yang diberikan dengan rela tidak bisa patah. Tidak ada yang bisa mengusirmu dari sana. Pindah jika kau mau. Tetap jika kau mau."

Sunyi. Jangkrik menahan napas. Bunga-bunga simpul menutup kelopaknya β€” seolah taman ikut menonton.

Lalu β€” perlahan, seperti asap yang akhirnya menemukan jalan keluar β€” sulur hitam itu merayap keluar dari mulut lonceng kecil Sela. Ia berhenti di bibir perunggu β€” ragu. Dingin. Tua. Aku bisa melihatnya dengan jelas sekarang: bukan sekadar benang. Ada bentuk di dalamnya β€” samar, seperti bayangan dari sesuatu yang pernah punya wajah.

Ia melayang β€” mendekati lonceng tenunan itu β€” dan menyentuh dinding cahayanya.

Hangat.

Aku melihatnya bergidik β€” seluruh sulur itu bergetar β€” seperti seseorang yang terlalu lama kedinginan akhirnya menyentuh api. Lalu, perlahan, ia merayap masuk. Melingkar di lantai benang perak Sela. Dan diam.

Lonceng tenunan itu berdenyut β€” sekali β€” dan cahayanya melembut. Bukan padam. Puas.

Aku mengangkat lonceng kecil Sela β€” mendekatkannya ke telingaku.

Satu denyut. Benang perak adikku β€” pelan, tenang, sendiri. Bersih.

Aku hampir menangis.

"Tamu," kataku pada lonceng cahaya itu β€” karena ia butuh disapa, semua yang hidup butuh disapa, tapi aku tidak akan menamainya. Tidak akan pernah. "Selamat datang."

Dan lonceng tenunan itu β€” menjawab.

Bukan dengan denting. Dengan suara. Kecil. Tua. Lelah β€” seperti seseorang yang akhirnya duduk setelah berjalan ratusan tahun.

Suara Buyut Sari β€” penenun pertama β€” keluar dari cahaya itu:

"Akhirnya... ada yang memberiku rumah... tanpa meminta namaku."

Darahku membeku. Wulan terkesiap. Danan mencengkeram jangkarnya.

Tapi sebelum siapa pun bisa bicara β€” sebelum aku bisa memahami apa artinya β€” dari atas taman, dari lonceng perunggu raksasa yang seharusnya tidur...

DENTING.

Satu dentingan. Dalam. Berat. Menggema ke seluruh taman.

TAKUT β€” yang bernama, yang terikat, yang seharusnya tidur β€” terbangun.

Dan ia tertawa.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!