Ketukan dari Dalam Gerbang
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,439 kata
TOK.
TOK.
TOK.
Tiga ketukan dari dalam gerbang, dan tulang-tulang rusukku bergetar seperti senar gambus yang dipetik terlalu keras.
Pagi itu langit tidak biru. Langit berwarna kelabu pucat seperti air cucian beras, dan di tengahnya β terbuka lebar, tanpa kelopak, tanpa belas kasihan β Mata Langit menatap lembah kami tanpa berkedip.
Dan di bawah tatapan itu, ditulis dengan cahaya yang menolak padam meski matahari sudah merangkak naik, satu kata menyala di antara awan: IBU.
Kata itu ditulis oleh benang mati yang kuhidupkan kembali tadi malam. Tujuh jahitan dan satu nina bobo β itulah seluruh ilmuku, seluruh warisan dari perempuan yang suaranya kini hilang β dan benang itu memilih menulis nama yang paling kutakuti untuk kulihat.
Di sampingku, Danan berlutut di tanah yang dingin. Kerisnya tergeletak di antara kami seperti sesuatu yang mati. Wajahnya putih β bukan pucat karena takut, melainkan putih seperti kain kafan yang belum sempat dijahit.
Empat puluh dua tahun ia menjaga gerbang ini. Empat puluh dua tahun ia menyaksikan hal-hal yang dapat membuat orang biasa gila dalam semalam. Dan pagi ini, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Danan terlihat tua. Rapuh. Seperti benangnya sendiri β abu-abu badai yang penuh simpul tua β yang kini bergetar hebat di udara pagi.
Aku memungut kerisnya. Dingin. Namun di sela-sela ukiran pamornya ada denyut β pelan dan teratur, seperti jantung kedua yang bersembunyi di dalam baja.
"Ceritakan padaku," kataku. "Sekarang."
Ia tidak menjawab. Matanya terkunci pada kata yang menyala di langit. Bibirnya bergerak tanpa suara β menghitung, berdoa, atau mengutuk, aku tidak tahu.
"Danan." Aku menggenggam keris itu lebih erat sampai pamornya menekan telapak tanganku. "Empat puluh tahun kau mencoba melupakan sesuatu. Pagi ini sesuatu itu mengetuk dari dalam gerbang dan menulis nama ibuku di langit. Kau tidak boleh diam lagi."
"Belum," bisiknya. Suaranya serak seperti daun kering diinjak. "Kau belum siap mendengarnya, Naya."
Amarah naik ke tenggorokanku β panas dan pahit seperti jamu yang diseduh terlalu lama. "Aku cukup siap untuk mengusir juru tulis dewan hanya dengan tiga kata. Aku cukup siap untuk menghidupkan benang mati. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil yang benangnya baru kemarin kau lihat."
Benangku β emas, terang, keras kepala β berdenyut di udara di antara kami. Dan benangnya β abu-abu badai β menjawab, melilit, mengetat. Kepangan kami. Dua benang, satu jangkar. Sejak semalam, sejak ia meletakkan tangannya di atas tanganku, aku dapat merasakan setiap gemetar di dadanya seolah itu dadaku sendiri.
"Rasakan itu?" bisikku. "Kau tidak bisa berbohong padaku lagi. Tidak lewat benang ini."
Ia memejamkan mata. Setetes air jatuh dari pelupuknya β atau mungkin itu embun pagi. Danan tidak menangis. Penjaga gerbang tidak menangis. Itu aturannya, katanya dulu, setengah bercanda. Pagi ini aku tahu itu bukan candaan. Itu peringatan yang ia berikan pada dirinya sendiri.
TOK. TOK. TOK.
Ketukan itu datang lagi β dan kali ini aku merasakannya bukan di telinga, melainkan di gigi, di tulang kering, di ujung-ujung jariku. Seluruh lembah merasakannya. Di bawah sana, di desa, aku dapat melihat dengan mata benangku β ratusan benang milik orang-orang biasa bergetar serempak seperti hamparan padi tertiup angin.
Burung-burung berhenti berkicau. Bahkan angin pun seolah menahan napas.
"Ibu?" Suaraku lolos sebelum sempat kutahan. Kecil. Bodoh. Seperti anak lima tahun yang memanggil ke dalam sumur tua.
Hening.
Lalu β dari dalam batu, dari dalam kegelapan di balik gerbang β terdengar sesuatu. Bukan ketukan. Bukan suara. Melainkan getaran yang teratur. Panjang β pendek β panjang. Seperti...
Jantungku berhenti berdetak. Itu ritme nina bobo yang biasa dinyanyikan Ibu. Lagu pengantar tidur yang suaranya kini hilang β yang hanya tinggal di kepalaku sebagai warisan tanpa penyanyi.
"Kau dengar itu?" bisikku pada Danan.
Ia mengangguk pelan, seperti orang yang kepalanya terlalu berat untuk lehernya. "Empat puluh tahun," katanya, "aku mencoba melupakan lagu itu."
Halaman kosong yang ditinggalkan juru tulis semalam masih tersimpan di sakuku. Kertasnya hangat β bukan hangat seperti dijemur matahari, melainkan hangat seperti kulit manusia. Aku mengeluarkannya. Di bawah cahaya Mata Langit, halaman itu berdenyut. Pelan. Teratur. Seperti...
"Ini jantung," kataku, ngeri. "Atau tiruan jantung."
"Itu surat," kata Danan. "Surat yang belum ditulis. Dewan tidak mengirim surat dua kali β juru tulis itu tidak berbohong soal itu. Berikutnya mereka datang sendiri. Dan halaman ini..." Ia menatap kertas itu seperti menatap ular berbisa. "Halaman ini menunggu untuk diisi. Oleh tangan yang berani."
"Diisi dengan apa?"
"Nama." Ia menatapku lurus-lurus. "Selalu nama. Dewan hanya mengenal dunia lewat nama-nama."
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, terdengar langkah berlari di jalan setapak menanjak. Bima muncul di tikungan, napasnya terengah-engah, wajahnya pucat seperti orang yang tidak tidur semalam. Benangnya β tipis dan bergetar, benang seorang pemuda yang memikul terlalu banyak β tertarik kencang ke arahku. Ke arah benang mati yang kuhidupkan.
"Kau merasakannya juga?" tanyanya tanpa salam.
"Seluruh lembah merasakannya," kataku.
Ia menatap kata IBU yang menyala di langit, lalu menatapku, lalu menatap Danan yang masih berlutut di tanah. "Juru tulis itu datang ke gubukku semalam," katanya pelan. "Setelah dari sini. Ia bilang... ia bilang janjinya batal karena aku tidak menanam benang mati itu padamu. Ia bilang dewan tidak berutang apa-apa pada seorang pengkhianat."
"Bimaβ"
"Dua tahun," potongnya, suaranya pecah seperti tembikar retak. "Dua tahun Wulan dihapus dari buku besar orang hidup. Dua tahun ia hidup tetapi tidak ada yang mengingatnya. Setiap pagi aku harus memperkenalkan diri pada adikku sendiri, Naya. Setiap pagi ia bertanya siapa aku, dan setiap pagi aku mati sedikit." Ia mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. "Dan sekarang mereka bilang janji itu batal. Seolah Wulan tidak pernah dijanjikan apa-apa."
Aku mengulurkan tangan. Di telapakku, benang mati yang kini hidup itu melingkar malas β tujuh jahitanku berkilau seperti bekas luka yang indah, dan di ujungnya, cahaya keemasan yang tadi pagi menulis IBU di langit masih menetes perlahan seperti madu.
"Ini benangmu," kataku. "Yang kau berikan padaku tiga malam lalu. Aku tidak menanamnya seperti yang mereka mau. Aku menghidupkannya. Dan ia memilih menulis ini."
Bima menatap benang itu lama sekali. "Siapa yang mengajarinya menulis?"
"Aku mengenal tulisan itu." Danan akhirnya bersuara. Ia bangkit perlahan β lututnya berderak seperti pintu tua yang lama tidak dibuka. Ia mengambil kerisnya dari tanganku; jari-jarinya menyentuh jariku sedetik lebih lama dari yang perlu, dan kepangan benang kami berdenyut hangat di antara kami. "Empat puluh tahun aku mencoba melupakan goresan huruf-huruf itu."
"Maksudmuβ" Bima menatap bergantian antara Danan dan kata yang menyala di langit.
"Ibumu masih hidup, Naya." Danan mengatakannya seperti orang mencabut duri dari kakinya sendiri β cepat, agar sakitnya tidak berlarut-larut. "Tetapi hidup di balik gerbang bukanlah hidup seperti yang kau kenal."
Dunia miring di sekelilingku. Aku mendengar suaraku sendiri seperti berasal dari tempat yang jauh: "Apa maksudmu?"
"Gerbang ini bukan pintu," kata Danan. "Ia adalah jahitan. Jahitan antara langit dan bumi, antara yang hidup dan yang menunggu. Ibumu ada di sisi lain jahitan itu. Menjaganya. Menahannya agar tidak robek. Bernyanyi agar dunia ini tetap utuh." Ia menatapku, dan matanya β mata seorang penjaga yang telah melihat terlalu banyak β berkaca-kaca. "Dan pagi ini, untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun, ia mengetuk. Itu artinya jahitannya melemah. Itu artinya nyanyiannya tidak lagi cukup."
TOK. TOK. TOK.
Kali ini ketukannya berbeda. Lebih cepat. Mendesak. Dan di antara ketukan-ketukan itu, jelas sekali kini, terdengar melodi. Nina bobo. Lagu Ibu. Dinyanyikan dengan suara yang retak di tepi-tepinya seperti porselen tua β tetapi tidak salah lagi, itu suaranya. Suara yang kukira telah hilang selamanya.
Air mataku jatuh sebelum aku sempat merasa malu. "Ibu..."
Danan bergerak β bukan ke arah gerbang, melainkan ke arahku. Tangannya yang kasar dan penuh bekas luka membingkai wajahku dengan hati-hati, seolah aku terbuat dari kaca. Kepangan benang kami menyala di antara kami β emas dan abu-abu berpilin seperti tali yang ditempa dalam api.
"Dengar aku," bisiknya, dahinya hampir menyentuh dahiku. Napasnya hangat dan bergetar. "Apa pun yang terjadi hari ini. Apa pun yang keluar dari gerbang itu. Kau tidak menghadapinya sendirian. Dua benang, satu jangkar. Ingat?"
"Kalau langit menuntut satu jantung," bisikku, membalas janji yang kami buat semalam, "biar dua yang menjawab."
Sesuatu yang berbahaya dan manis bergetar di antara kami β sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan gerbang atau dewan atau langit. Sesuatu yang membuat penjaga yang telah berjaga empat puluh dua tahun menahan napas seperti seorang pemuda.
Lalu gerbang itu berderak.
Bukan kiasan. Batu-batu kuno itu β yang lebih tua dari desa, lebih tua dari nama-nama β bergeser dengan suara seperti tulang-tulang raksasa yang diregangkan setelah tidur panjang. Sebuah retakan selebar jari membuka di tengahnya, dan dari kegelapan di dalamnya, cahaya keemasan merembes keluar seperti madu dari sarang yang retak.
Dan kemudian β sebuah tangan.
Tangan perempuan. Pucat. Jari-jarinya panjang dan kapalan di ujung-ujungnya seperti tangan seorang penenun. Ia muncul dari retakan itu dengan perlahan, telapak terbuka menghadap ke atas β seperti meminta, atau seperti menawarkan.
Dan dari dalam kegelapan, suara itu bernyanyi semakin jelas. Nina bobo. Bait yang sama yang Ibu nyanyikan untukku setiap malam, sebelum suaranya hilang ditelan sunyi.
Tangan itu terulur ke arahku. Menungguku.
Dan aku β sebelum Danan sempat menahanku, sebelum akal sehatku sempat berteriak β melangkah maju.