β€Ή
37. Kebun Simpul

Kebun Simpul

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,313 kata

Ilustrasi Kebun Simpul

Ada pintu yang hanya bisa dibuka dari dalam. Dan ada pintu yang hanya bisa dibuka oleh orang yang berani masuk tanpa tahu jalan keluarnya. Pintu Sela malam ini adalah keduanya β€” dan aku tidak peduli.

Embun beku di bingkai pintu kecil itu bukan embun beku biasa. Aku tahu sekarang β€” setelah melihat luka Danan, setelah mendengar Candra β€” ini perak dewan. Dingin yang bukan suhu, melainkan kewajiban. Beku yang bukan es, melainkan perintah: diam. Jangan mengetuk. Jangan diingat.

Aku menatapnya lama. Lalu aku melakukan hal yang paling tidak masuk akal β€” aku memeluk bingkai pintu itu. Kedua tanganku melingkari anyaman kecil yang dingin itu, pipiku menempel, dan aku bernapas β€” pelan, dalam β€” ke dalamnya.

Hangat. Bukan sihir. Bukan mantra. Hanya hangat β€” ingatan akan uap teh jahe yang mengepul di cangkir retak; ingatan akan selendang lusuh ibu desaku yang berbau kayu bakar; ingatan akan tawa kecil Sela yang membuat kunang-kunang benang berputar gembira; ingatan akan tangan Ibu β€” Raras β€” yang baru nyata, yang canggung, yang mengepang rambutku terlalu kencang lalu berbisik "maaf, maaf."

Pilihan β€” aku mengerti sekarang, dengan seluruh tubuhku β€” adalah lawan dari kewajiban. Dan hangat adalah lawan dari dingin. Bukan karena lebih kuat. Karena lebih berani.

Embun beku itu meleleh. Menetes. Seperti air mata perak. Dan pintu kecil itu β€” klik β€” terbuka sendiri. Ke dalam.

Aku merangkak masuk β€” pintu itu terlalu kecil untuk dimasuki dengan bermartabat, dan aku sudah lama berhenti peduli pada martabat.

Taman itu berubah. Dingin menyergapku seperti tamparan. Rerumputan benang β€” tunduk di bawah putih, terkulai seperti padi kena embun beku. Bunga-bunga simpul β€” menutup, mengatupkan kelopaknya rapat-rapat seperti anak kecil memejamkan mata. Kolam cahaya cair β€” permukaannya dilapisi es tipis yang berderak pelan. Kunang-kunang benang β€” jatuh, satu per satu, padam sebelum menyentuh tanah.

Dan di depan alat tenun kecilnya β€” Sela. Meringkuk. Kecil. Diam. Benang emas di pergelangannya β€” dibungkus perak dingin seperti kepompong. Napasnya β€” nyaris tidak ada. Hanya denyut yang sangat pelan β€” tuk... ... ...tuk β€” seperti ketukan yang kelelahan.

"Sela." Aku merangkak ke sisinya β€” mengangkat tubuh kecilnya yang dingin itu ke pangkuanku. Ia ringan. Terlalu ringan β€” seperti anak kecil seharusnya tidak seringan ini. Aku melingkarkannya dengan kedua lenganku. Aku menguraikan benang dari simpulku sendiri β€” simpulku yang kini utuh β€” dan melilitkannya mengelilingi tubuh kecilnya, mengelilingi kepompong perak itu. Lilitan demi lilitan. Hangat demi hangat.

Lalu aku bernapas ke rambutnya β€” dan aku bercerita. Karena cerita adalah hal terhangat yang kumiliki.

"Aku bercerita tentang pohon randu," bisikku ke ubun-ubunnya yang dingin. "Tentang akar-akarnya yang seperti jari raksasa. Tentang anak perempuan tujuh tahun yang melempar gelangnya ke semak-semak dan berteriak pada angin. Tentang ibu yang berkata 'kau harus kuat karena kau anak pertama' β€” dan anak itu yang menangis bukan karena lututnya berdarah."

Aku bercerita tentang lentera desa yang menyala kembali β€” tentang perempuan berselendang lusuh yang menengadah ke langit dan tersenyum pada cahaya yang tidak ia tahu asalnya. Aku bercerita tentang Nini yang mengikat dari sisi gelap. Tentang Danan yang memasang kembali jangkarnya β€” bukan karena sumpah, karena ia mau. Tentang Ibu β€” Raras β€” yang tangannya baru belajar menjadi tangan.

"Tangan yang baru nyata itu," bisikku, "tadi malam mengepang rambutku. Canggung. Menarik terlalu kencang. Tapi hangat, Sela. Hangat sekali."

Di pelukanku β€” denyut kecil itu β€” menguat. Tuk... tuk... tuk. Kepompong perak di pergelangan Sela β€” retak. Sehelai β€” lalu sehelai lagi. Cahaya emas merembes keluar seperti matahari terbit dari balik awan.

Sela membuka matanya. Mata keluarga. Mataku.

"Kau datang," bisiknya β€” suaranya serak seperti daun kering.

"Aku janji." Air mataku jatuh ke pipinya β€” menguap menjadi cahaya kecil. "Penjaga tidak mengingkari janji."

Ia tersenyum β€” kecil, lelah, tetapi utuh. "Berarti pilihanku benar."

"Pilihan apa?"

"Aku memilih mengetuk." Ia duduk β€” perlahan, dengan bantuanku. "Selama ini β€” Naya, dengarkan β€” aku mengetuk bukan supaya MEREKA ingat aku ada." Ia menatap pintu kecilnya. "Aku mengetuk supaya KAU dengar. Nini bilang β€” waktu ia lewat β€” 'suatu hari akan datang penjaga yang menjawab ketukan, bukan memerintahkannya berhenti.' Aku mengetuk untukmu. Selama ini β€” untukmu."

Dadaku sesak hingga sulit bernapas. "Sela β€”"

"Tapi ada yang harus kau tahu." Wajah kecilnya menjadi serius β€” terlalu serius untuk delapan tahun. "Aku mendengar banyak hal dari balik pintu ini. Selama ratusan tahun β€” dewan bicara seolah pintu-pintu tidak bisa mendengar. Tapi pintu mendengar, Naya. Pintu selalu mendengar."

Ia menggenggam tanganku β€” jari-jarinya kini hangat kembali. "Mereka tidak mau menutup pintu-pintu itu. Pintu yang tertutup tidak menghasilkan cahaya β€” itu yang mereka pelajari dari Nini. Seribu tahun ia terperangkap, dan cahayanya β€” padam. Tidak berguna."

Dingin merambat di tulang punggungku. "Lalu apa yang mereka mau?"

"Memanen." Kata itu keluar dari mulut kecilnya dengan berat yang tidak seharusnya dipikul anak delapan tahun. "Mereka mau memanen penjaganya. Mengikat kami sebelum kami bisa memilih β€” seperti mereka mengikatku β€” supaya cahaya kami mengalir ke atas. Ke mereka. Teratur. Nyaman." Ia menatapku. "Seperti lentera desamu dulu, Naya. Kau ingat? Seseorang menutup kerannya. Tangan perak. Cahaya desamu tidak padam β€” ia DIALIHKAN. Ke atas."

Aku ingat. Kata-kata Nini di chapter hidupku yang lalu: lentera-lentera itu padam bukan karena cahayanya habis β€” melainkan karena seseorang MENUTUP kerannya. Tangan perak. Tangan dewan.

"Tiga hari," bisikku. "Itu waktu panen."

Sela mengangguk. "Itu waktu panen."

Hening β€” hanya denyut taman yang perlahan menghangat kembali. Es di kolam retak β€” pelan, seperti kaca yang bernapas. Satu bunga simpul β€” merah muda β€” membuka kelopaknya, ragu-ragu.

Lalu Sela berdiri. Kecil. Tegak. Debu cahaya jatuh dari bajunya. Ia menatap pintu kecilnya β€” lalu menatapku β€” dan berkata, dengan suaranya sendiri, dengan mulutnya sendiri, tanpa ditanya siapa pun:

"Aku memilih menjaga."

Jeda. Taman menahan napas.

"Bukan karena diikat." Ia mengangkat pergelangannya β€” benang emasnya kini menyala terang, kepompong perak tinggal serpihan-serpihan yang jatuh seperti salju terbalik. "Karena aku mau."

Dan seperti gema dari lorong yang jauh β€” seperti Danan tertawa dan berkata "karena aku mau" β€” taman itu menjawab. Cahaya keemasan menyembur dari tanah anyaman. Rerumputan benang tegak kembali, bergoyang. Bunga-bunga simpul mekar serentak β€” merah muda, kuning, biru β€” berdenyut seperti jantung-jantung kecil yang bangun tidur. Es di kolam pecah menjadi kepingan-kepingan yang mencair sebelum menyentuh dasar. Kunang-kunang benang bangkit kembali, berputar-putar gembira mengelilingi kami.

Pintu kecil Sela β€” bingkainya β€” menyala hangat. Bukan perak. Bukan abu-abu. Emas. Seperti teh jahe. Seperti selimut. Seperti pilihan.

Sela menatap tangannya sendiri β€” takjub β€” lalu menatapku, dan tertawa. Tawa yang sesungguhnya. Tawa anak delapan tahun yang baru saja melakukan hal paling berani di dunia: memilih.

"Ajari aku menenun seperti Nini?" pintanya tiba-tiba β€” anak kecil lagi, sepenuhnya.

"Nanti." Aku menyentuh hidungnya. "Setelah tiga hari ini lewat. Janji penjaga."

"Janji penjaga," ia mengangguk dengan khidmat β€” lalu tersenyum nakal. "Kau banyak berjanji, Naya."

"Dan aku menepati semuanya." Aku berdiri β€” lututku protes β€” dan hendak berbalik menuju pintu kecil itu, menuju lorong, menuju tiga hari yang menunggu.

"Naya."

Satu kata. Nada yang berubah. Aku menoleh.

Sela menunjuk β€” ke ujung taman. Ke tempat yang kemarin hanya dinding anyaman β€” tempat aku yakin kemarin hanya dinding anyaman.

Kini ada pintu di sana.

Tinggi. Dua kali tubuhku. Anyamannya β€” aku menahan napas β€” dari benang PERAK dan EMAS yang dijalin bersama, tak terpisahkan, saling melilit seperti dua sungai yang bertemu. Cahayanya β€” bukan hangat, bukan dingin. Keduanya. Seperti fajar di musim hujan.

"Itu tidak ada kemarin," bisik Sela β€” suaranya kecil.

Aku melangkah mendekat β€” kakiku bergerak sendiri. Pintu itu berdenyut β€” pelan, dalam β€” dan dari baliknya β€”

Suara. Memanggil namaku.

"Naya."

Darahku membeku β€” lalu mendidih. Aku kenal suara itu. Aku kenal sejak sebelum aku bisa bicara. Itu suara ibuku. Bukan Raras β€” ibu yang membesarkanku di desa. Yang menengadah ke langit waktu lenteranya menyala. Yang berselendang lusuh. Yang tidak tahu apa-apa tentang lorong ini, tentang benang, tentang pilihan.

Tidak mungkin. Ia di desa. Ia selamat. Lenteranya menyala.

Tetapi pintu itu β€” mengetuk. Tuk. Tuk. Tuk. Jeda. Tuk. Tuk. Tuk.

Dengan irama jantung. Irama yang meleset.

Iramaku.

Tanganku terangkat sendiri β€” menuju pintu itu β€” untuk menjawab.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!