‹
1. Mimpi Tentang Gerbang

Mimpi Tentang Gerbang

Pewaris Terakhir Langit • 1,845 kata

Ilustrasi Mimpi Tentang Gerbang

Gerbang itu bercahaya biru kehijauan, seperti laut yang disulap menjadi cahaya, menjulang tinggi di tengah hamparan awan yang tidak pernah berhenti bergerak. Di balik jerujinya yang terbuat dari cahaya beku, sesuatu yang hitam dan berasap menekan-nekan dari sisi lain, menggeram tanpa suara. Naya berdiri di depannya dengan kaki telanjang, dan di tangannya—entah sejak kapan—tergenggam sebuah kunci yang terbuat dari tulang burung.

"Naya."

Suara itu memanggil namanya dari balik gerbang. Bukan dari sisi cahaya. Dari sisi gelap.

"Naya, bangun. Matahari sudah setinggi itu dan kau masih juga bermimpi tentang gerbangmu."

Naya tersentak. Langit-langit bambu kamar tidurnya menatapnya balik, polos dan tidak bercahaya sama sekali. Keringat dingin membasahi lehernya. Di ambang pintu berdiri Nek Wulan—neneknya—dengan kedua tangan berkacak pinggang dan alis yang terangkat setengah.

"Itu bukan gerbangku," gumam Naya sambil duduk. Jantungnya masih berdebar. "Itu cuma mimpi, Nek."

"Mimpi yang sama untuk keempat kalinya minggu ini," sahut Nek Wulan. Matanya yang sudah keriput menatap Naya terlalu lama, terlalu tajam, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak berani ia ucapkan. "Cepat mandi. Ayam-ayam sudah ribut minta makan, dan Bu RT tadi pagi tanya kapan kau mau bantu jaga warung lagi."

Naya mengangguk lesu. Neneknya berbalik pergi, tapi di ambang pintu ia berhenti sejenak.

"Nay."

"Ya?"

"Kalau mimpi itu datang lagi malam ini..." Nek Wulan ragu. Tangannya meremas ujung kain jariknya. "Jangan sentuh kuncinya."

Pintu kamar tertutup sebelum Naya sempat bertanya apa maksudnya.

---

Desa Langit Biru terletak di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan kapur di tiga sisinya, dan di sisi keempatnya terbentang hutan jati yang menurut orang-orang tua "tidak boleh dimasuki setelah magrib". Naya sudah sembilan belas tahun tinggal di sini dan belum pernah sekalipun melewati batas hutan itu—bukan karena takut, tapi karena setiap kali ia mendekati pepohonan yang rapat itu, tengkuknya meremang dan telinganya berdenging seperti ada lonceng yang dibunyikan jauh di dalam kepalanya.

Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Naya berjalan menyusuri jalan tanah menuju warung Bu RT sambil menenteng keranjang berisi singkong rebus titipan neneknya. Kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah panggung. Dari kejauhan terdengar suara lesung ditumbuk, ayam berkokok bersahutan, dan radio tua milik Pak Kades yang memutar dangdut dengan volume yang selalu terlalu keras untuk jam enam pagi.

"Nay! Mampir dulu!"

Sari—sahabatnya sejak kecil, yang sekarang sudah punya satu anak dan warung kelontong sendiri—melambai dari depan rumahnya.

"Nek Wulan sehat?" tanya Sari sambil menyodorkan sebungkus kacang rebus. "Kemarin aku lihat beliau ke hutan jati sendirian, pagi-pagi buta. Aku panggil tidak menoleh."

Naya mengernyit. "Ke hutan jati?"

"Iya. Bawa keranjang anyaman yang itu, loh, yang ada tutupnya. Kayak mau sesajen."

Sesajen. Kata itu menggantung di udara pagi yang lembab. Di desa ini, sesajen bukan hal aneh—setiap Jumat Kliwon orang-orang menaruh bunga dan kemenyan di perempatan jalan. Tapi Nek Wulan tidak pernah ikut-ikutan hal seperti itu. Neneknya selalu bilang, "Kita berdoa langsung, tidak perlu perantara."

"Beliau tidak cerita apa-apa," kata Naya akhirnya.

Sari menatapnya dengan pandangan yang sulit dibaca. "Nay... boleh aku tanya sesuatu? Jangan tersinggung ya."

"Apa?"

"Kau... akhir-akhir ini kelihatan aneh. Kemarin waktu arisan, Bu Darmi cerita kau tiba-tiba menatap kosong ke sudut balai desa, terus kau bilang ada 'asap hitam' di sana. Padahal tidak ada apa-apa."

Naya merasakan perutnya melilit. Ia ingat kejadian itu—jelas sekali ia ingat. Ada gumpalan asap hitam sebesar kambing yang merayap di sepanjang dinding balai desa, dengan dua titik merah menyala yang seperti mata. Ia menunjuknya, panik, dan semua orang menatapnya seolah ia sudah gila.

"Aku cuma kecapekan," kata Naya cepat. Terlalu cepat. "Kurang tidur. Mimpi aneh terus."

Sari mengangguk, tapi matanya tidak yakin. "Istirahat yang cukup, ya. Oh iya—ada kabar. Katanya ada pendatang baru di desa. Laki-laki, seumuran kita. Ngontrak rumah kosong milik Pak Haji yang di ujung jalan itu."

"Pendatang?" Naya menoleh ke arah ujung jalan. Rumah Pak Haji sudah kosong hampir lima tahun, sejak pemiliknya pindah ke kota. "Sendirian?"

"Sendirian. Kemarin aku lihat sekilas waktu dia beli rokok di warungku. Tinggi, rambut agak gondrong, dan..." Sari merendahkan suaranya, "matanya aneh, Nay. Seperti... terlalu terang untuk ukuran mata orang biasa. Aku sampai merinding."

Naya tertawa, tapi tawanya terdengar dipaksakan bahkan di telinganya sendiri. "Kau ini kebanyakan nonton sinetron."

"Mungkin." Sari mengangkat bahu. "Tapi kata Mang Udin yang antar dia ke rumah itu, si pendatang tanya-tanya soal hutan jati. Tanya soal 'batas' dan soal 'keluarga penjaga'."

Darah Naya serasa berhenti mengalir.

"Keluarga penjaga apa?"

"Tidak tahu. Mang Udin juga bingung. Katanya si pendatang cuma senyum waktu ditanya balik, terus bilang, 'Nanti juga tahu sendiri.'"

---

Warung Bu RT ramai seperti biasa. Naya membantu melayani pembeli sambil pikirannya melayang-layang antara mimpi tentang gerbang, asap hitam di balai desa, dan pendatang misterius bermata terang.

"Naya, tolong ambilkan gula di gudang belakang," kata Bu RT.

Gudang belakang warung itu gelap dan pengap, penuh karung beras dan tumpukan kardus mi instan. Naya menyalakan lampu bohlam yang redup dan berjongkok mencari karung gula.

Dan di sanalah ia melihatnya lagi.

Di sudut gudang, di antara bayangan karung-karung beras, ada gumpalan asap hitam—lebih besar dari yang di balai desa, sebesar manusia dewasa. Dua titik merah menyala menatapnya. Kali ini, asap itu tidak hanya diam. Ia bergerak. Merayap mendekat, perlahan, seperti predator yang yakin mangsanya tidak bisa lari.

Naya ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Kakinya seolah terpaku ke lantai tanah.

Asap itu berhenti satu meter di depannya. Titik-titik merah itu berkedip. Dan kemudian—Naya bersumpah ia mendengar ini, sejelas ia mendengar detak jantungnya sendiri—sebuah suara berbisik dari dalam asap itu:

"Pewaris... akhirnya... ketemu..."

Lampu bohlam berkedip. Padam. Menyala lagi.

Asap itu hilang. Gudang kembali normal—karung beras, kardus mi instan, bau apek yang biasa. Tidak ada apa-apa.

Tapi di lantai tanah, tepat di tempat asap itu tadi berdiri, ada bekas gosong berbentuk lingkaran. Dan di tengah lingkaran itu, tergeletak sebuah bulu hitam yang panjangnya hampir sehasta, berkilau seperti minyak.

Dengan tangan gemetar, Naya memungut bulu itu. Dingin. Terlalu dingin untuk sebuah bulu, seperti baru dikeluarkan dari freezer.

"Naya! Gulanya mana? Pembeli sudah nunggu!"

Naya buru-buru memasukkan bulu itu ke saku celananya dan mengambil karung gula. Sepanjang sisa hari itu, ia tidak bisa berhenti memikirkan bisikan itu.

Pewaris.

Pewaris apa?

---

Sore harinya, langit berubah warna menjadi oranye keunguan. Naya berjalan pulang dengan langkah gontai, keranjang kosong di tangannya terasa lebih berat dari seharusnya. Bulu hitam di sakunya sesekali terasa berdenyut—atau mungkin itu hanya imajinasinya. Ia sudah tidak yakin lagi mana yang nyata dan mana yang tidak.

Di tikungan jalan dekat rumah Pak Haji yang kosong itu—yang sekarang ternyata tidak kosong lagi—ia berhenti.

Seorang laki-laki berdiri di halaman rumah itu, membelakanginya, menatap ke arah hutan jati yang mulai gelap. Rambutnya memang agak gondrong, sebahu, dan posturnya tegap. Ia mengenakan jaket hitam yang terlihat terlalu tebal untuk cuaca desa yang hangat.

Seolah merasakan tatapan Naya, laki-laki itu berbalik.

Sari benar. Matanya terlalu terang. Bukan cokelat tua seperti kebanyakan orang desa, bukan hitam pekat. Matanya berwarna keemasan—seperti madu yang terkena cahaya matahari. Dan tatapan itu... menusuk. Seolah ia bisa melihat menembus kulit Naya, menembus tulang-tulangnya, sampai ke sesuatu yang bahkan Naya sendiri tidak tahu ada di dalam dirinya.

Mereka saling menatap selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam.

Kemudian laki-laki itu tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Kau Naya, kan?" katanya. Suaranya rendah dan tenang. "Cucu Nek Wulan."

Naya tidak menjawab. Tenggorokannya kering.

"Aku Danan." Ia melangkah mendekat satu langkah. "Kita akan sering bertemu, aku rasa. Desa ini..." Ia melirik ke arah hutan jati, lalu kembali menatap Naya. Matanya yang keemasan berkilat. "Desa ini menyimpan banyak hal yang tidak seharusnya kau ketahui. Tapi sepertinya..." Ia berhenti. Hidungnya mengembang sedikit, seperti sedang mencium sesuatu di udara. "Sepertinya sudah terlambat untuk itu."

"Apa maksudmu?" Naya akhirnya menemukan suaranya.

Danan tidak menjawab. Ia justru menatap saku celana Naya—tempat bulu hitam itu tersimpan. Senyumnya memudar.

"Kau sudah melihat mereka," katanya pelan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Jantung Naya berdebar kencang. "Melihat apa?"

"Jangan sentuh kuncinya, Naya."

Darah Naya membeku. Kata-kata itu—persis sama dengan yang dikatakan neneknya pagi tadi.

"Bagaimana kau—"

Tapi Danan sudah berbalik dan berjalan masuk ke rumahnya, meninggalkan Naya sendirian di jalan tanah yang mulai gelap, dengan bulu hitam yang berdenyut di sakunya dan seribu pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.

---

Malam itu, Naya tidak bisa tidur. Ia berbaring menatap langit-langit bambu, mendengarkan suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan. Kata-kata Danan terus terngiang: Jangan sentuh kuncinya.

Kunci apa? Kunci dalam mimpinya? Bagaimana mungkin orang asing itu tahu tentang mimpinya?

Tiba-tiba, dari arah hutan jati, terdengar suara. Bukan suara hewan. Bukan suara angin. Suara seperti... kaca retak. Pelan, tapi jelas. Krek. Krek. Krek.

Naya bangkit dan berjalan ke jendela. Dari kamarnya, ia bisa melihat garis pepohonan hutan jati yang hitam pekat di bawah langit malam.

Dan di sana—di antara pepohonan, di tempat yang seharusnya tidak ada apa-apa—ada cahaya.

Cahaya biru kehijauan. Persis seperti cahaya gerbang dalam mimpinya.

Cahaya itu berdenyut, semakin terang, semakin terang—dan kemudian, tepat di tengahnya, Naya melihatnya: sebuah garis hitam vertikal, tipis seperti rambut, membelah cahaya itu dari atas ke bawah.

Retakan.

Suara kaca retak itu terdengar lagi, lebih keras. KREK.

Cahaya itu bergetar hebat. Dan dari dalam retakan itu, sesuatu mulai merembes keluar. Asap hitam. Banyak. Bergulung-gulung seperti air bah yang jebol dari bendungan, mengalir turun dari pepohonan menuju desa.

Naya ingin berteriak memanggil neneknya, tapi sebelum ia sempat membuka mulut, pintu kamarnya terbuka sendiri.

Nek Wulan berdiri di sana. Wajahnya pucat pasi. Di tangannya tergenggam keranjang anyaman bertutup yang diceritakan Sari tadi—keranjang yang ia bawa ke hutan jati pagi-pagi buta.

Neneknya menatap ke arah jendela, ke arah cahaya dan asap hitam itu. Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun hidup Naya, ia melihat ketakutan yang nyata di mata neneknya.

"Terlambat," bisik Nek Wulan. "Kita terlambat seratus tahun."

Di luar, suara kaca retak itu terdengar untuk ketiga kalinya—dan kali ini, seluruh desa ikut bergetar.

---

Kata: ±1.850

Catatan untuk parent:

- Chapter 1 selesai: "Mimpi Tentang Gerbang", ±1.850 kata, Bahasa Indonesia

- Hook: mimpi berulang tentang gerbang bercahaya + kunci tulang burung

- Kejadian aneh: asap hitam bermata merah yang hanya Naya lihat (balai desa + gudang warung), bulu hitam dingin sebagai bukti fisik

- Worldbuilding ringan: Desa Langit Biru, hutan jati terlarang, Nek Wulan yang menyimpan rahasia (ke hutan bawa keranjang sesajen, tahu soal "kunci")

- Danan diperkenalkan: pendatang misterius bermata emas, tahu soal mimpi Naya, mengucapkan kalimat yang sama dengan neneknya

- Cliffhanger: retakan pertama di gerbang + asap hitam mengalir ke desa + pengakuan nenek "kita terlambat seratus tahun"

- Siap untuk Chapter 2

Bagikan
‹ Sebelumnya Berikutnya ›
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!