Lagu Tiga Suara
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,426 kata
"Kamu pikir jeda bisa menyembunyikanmu dari kami?"
Suara itu menggantung di udara ruang bawah tanah, sopan dan tua dan yakin, dan untuk sesaat aku tidak bisa bernapas β bukan karena takut, melainkan karena aku mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan: bahwa jeda yang kupakai untuk bersembunyi adalah jeda yang mereka ciptakan.
Lalu Danan berbicara, dan suaranya β yang selama ini hanya kudengar sebagai bisikan, peringatan, dan sesekali tawa yang pahit β terdengar dengan cara yang belum pernah kudengar sebelumnya: tenang, dalam, dan sangat yakin.
"Kalau mereka yang menciptakan jeda itu," katanya, "kenapa mereka takut saat kamu memakainya?"
Aku menatapnya. Ia menatapku. Dan aku mengerti.
Suara di balik pintu tadi tidak tenang saat jeda itu membesar. Ia kehilangan kerapian jedanya sendiri. Ia mengancam. Orang yang menciptakan sesuatu tidak akan takut saat sesuatu itu dipakai. Orang yang takut adalah orang yang tahu bahwa sesuatu itu sudah berubah di tangan orang lain β sudah bukan miliknya lagi.
"Jeda itu memang diajarkan pada Nenek Buyut," kataku pelan, dan kata-kata itu terbentuk sendiri saat aku mengucapkannya, seperti benang yang menemukan polanya. "Tapi Nenek Buyut tidak menyalinnya begitu saja. Ia menyanyikannya selama puluhan tahun, setiap malam, dengan napasnya sendiri, dengan jantungnya sendiri. Dan setiap kali ia bernapas di dalam jeda itu, jeda itu berubah sedikit β menjadi miliknya, bukan milik mereka. Sama seperti lagu itu: mereka mungkin yang pertama kali menulisnya, tapi ia yang membuatnya hidup."
Suara dari dalam lonceng itu diam. Diam yang tidak rapi. Diam yang tidak terlatih.
"Dan sekarang," lanjutku, dan suaraku semakin mantap, "jeda itu milikku juga. Karena aku yang bernapas di dalamnya malam ini. Bukan kamu. Bukan Dewan. Aku."
Aku menarik napas β dalam, pelan, dengan sengaja β dan aku membiarkan jeda itu membesar lagi. Bukan keheningan yang kosong. Keheningan yang bernapas dengan napasku sendiri, dengan detak jantungku sendiri, dengan semua hal kecil yang membuatku menjadi aku: bau dapur Ibu, tawa Sela, tangan Danan di tanganku.
Dan kali ini, sesuatu yang baru terjadi. Jeda itu tidak hanya menghentikan panggilan induknya. Jeda itu mulai menarik sesuatu yang lain β bukan dari bawah, bukan dari lonceng, melainkan dari atas. Dari rumahku. Dari beranda. Dari suara yang mulai menyanyi, pelan dan gemetar, di atas sana.
Suara Wulan.
Ia menyanyikan lagu nina bobok itu β lagu yang sama, dengan nada yang sama, dari atas tanah, dari dunia yang masih hidup β dan suaranya merambat turun melalui tanah, melalui tenggorokan sumur, melalui benang-benangku yang masih terentang tipis, sampai ke ruang bawah tanah ini.
Tiga suara, akhirnya. Bukan dua. Suaraku dari bawah. Suara Nenek Buyut dari dalam lagu. Suara Wulan dari atas. Tiga generasi, tiga tempat, satu lagu yang sama, dengan jeda yang sama di antara bait-baitnya β jeda yang kini bernapas dengan tiga napas sekaligus.
Danan menggenggam tanganku lebih erat, dan kali ini ia tidak hanya menggenggam. Ia mulai bersenandung β pelan, rendah, bukan kata-kata, melainkan nada yang menahan, nada yang membuat lagu itu punya lantai untuk berpijak. Senandungnya mengalir ke dalam jaring emasnya, dan jaring itu bergetar, dan getaran itu membawa lagu itu lebih jauh lagi β keluar dari ruang bawah tanah, naik melalui sumur, menyebar ke langit di atas rumahku.
Dan tujuh cahaya kecil itu β tujuh nama yang kuberikan, yang tadi berhenti ragu di tengah jalan β mulai bergerak lagi.
Bukan ke arah induknya. Bukan pulang.
Ke arah lagu itu. Ke arah kami.
Satu per satu, mereka berbalik. Bukan karena diperintah. Bukan karena dipanggil dengan nama yang lebih tua. Melainkan karena mereka memilih β karena lagu yang dinyanyikan oleh tiga suara, dengan jeda yang bernapas, adalah lagu yang lebih layak didengar daripada panggilan yang hanya tahu cara memerintah.
Te-ng. Terdengar lagi, tapi kali ini berbeda: bukan denting yang patuh, bukan denting yang pulang. Denting yang menjawab. Denting yang memilih tempatnya sendiri.
DIDENGAR berbalik pertama. Lalu yang lain menyusul, satu per satu, seperti anak-anak yang akhirnya berani berkata tidak pada panggilan yang selama ini mereka kira tidak bisa ditolak. Mereka tidak kembali ke bukit. Mereka tidak kembali ke lonceng pertama. Mereka menyebar β ke langit, ke rumah, ke tempat-tempat yang selama ini mereka jaga β dan masing-masing membawa sepotong lagu itu bersamanya, seperti lentera kecil yang dibawa pulang.
Dan di permukaan lonceng pertama, sesuatu yang sudah kutunggu-tunggu sejak awal malam ini akhirnya terjadi.
Goresan namaku β namaku yang masih basah, masih hangat, masih berdenyut seperti jantung kedua β mulai mengering. Bukan dihapus. Bukan dimakan. Mengering dengan sendirinya, seperti tinta yang akhirnya selesai ditulis dan dibiarkan menjadi bagian dari kertas, bukan lagi sesuatu yang basah dan bisa dihapus. Denyutnya melambat, lalu berhenti, lalu yang tersisa hanyalah goresan yang tenang β bukan hilang sepenuhnya, melainkan menjadi bekas yang tidak lagi tumbuh, tidak lagi menarik, tidak lagi memakan.
Danan menatap goresan itu, lalu menatapku, dan ia tersenyum β senyum yang pertama sejak kami turun ke bawah sini, senyum yang membuat wajahku memanas meski tanah masih menempel di bajuku dan darah masih mengering di bibirku.
"Apakah itu berartiβ" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia tidak berani berharap terlalu keras.
"Berarti namaku bukan lagi sesuatu yang sedang ditulis," kataku. "Berarti ia sudah selesai ditulis β olehku, bukan olehnya. Dan sesuatu yang sudah selesai ditulis tidak bisa ditulis ulang."
Lonceng itu bergetar β bukan dengkur, bukan tawa, bukan ancaman. Getaran yang pelan dan panjang, seperti napas yang dihembuskan setelah ditahan terlalu lama. Hawa hangat dari mulutnya berubah menjadi sejuk, seperti udara pagi yang masuk melalui jendela yang baru dibuka. Dan dari kegelapan di balik perunggu, suara Nenek Buyut itu kembali β sekali lagi, pelan, dan kali ini terdengar seperti seseorang yang mengucapkan selamat tinggal tanpa benar-benar pergi:
"Naya, dengarkan yang terakhir. Nama tersembunyi itu β nama yang diberikan pada lonceng pertama, yang selama ini kamu sembunyikan di dalam lagu β ia tidak hilang. Ia tidak kembali ke Dewan. Ia berpindah."
"Berpindah ke mana?" tanyaku, dan jantungku berdebar karena aku sudah tahu jawabannya sebelum ia mengatakannya.
"Ke dalam jeda itu," kata suara itu. "Ke dalam napasmu. Mulai malam ini, kamu bukan hanya penyanyi lagu itu. Kamu adalah tempat lagu itu tinggal saat ia tidak sedang dinyanyikan. Nama itu hidup di dalam jedamu, di antara detak jantungmu yang satu dan detak jantungmu yang berikutnya. Jaga jeda itu, Naya. Bernapaslah dengan tenang. Karena selama kamu bernapas dengan tenang, nama itu aman. Dan selama nama itu aman, pintu itu tidak bisa dibuka dari sisi mereka β karena kunci pintu itu bukan lagi kata yang bisa dicuri. Kunci itu adalah napasmu sendiri."
Suara itu menghilang β pelan, seperti lagu yang dinyanyikan dari ruangan lain yang pintunya ditutup dengan lembut.
Kami diam sejenak. Hanya kami berdua, lentera perunggu, lonceng yang kini tenang, dan tujuh cahaya kecil yang sudah menyebar ke langit. Dan aku menyadari bahwa fajar pasti sudah dekat β karena dari atas sana, melalui tenggorokan sumur, mulai masuk udara yang lebih dingin, udara yang berbau embun, udara yang hanya datang saat malam hampir selesai.
"Kita harus naik," kata Danan pelan. "Sebelum fajar. Sebelum mereka yang menunggu di luar itu memutuskan untuk tidak menunggu lagi."
Kami naik β pelan, hati-hati, dengan jaring emas Danan yang membantu kami memanjat dinding sumur yang licin, dengan lentera yang cahayanya semakin redup karena minyaknya hampir habis. Setiap pijakan terasa seperti kembali ke dunia yang masih hidup: tanah menjadi lebih hangat, udara menjadi lebih segar, suara-suara malam menjadi lebih dekat.
Dan saat kami akhirnya keluar dari sumur, di beranda yang basah oleh embun, Wulan sudah menunggu β berdiri di ambang pintu, dengan selendang yang melilit bahunya, dengan mata yang merah karena tidak tidur semalaman. Ia menatapku, dari ujung rambutku yang berantakan sampai tanah yang menempel di bajuku, dan ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya membuka lengannya, dan aku jatuh ke dalam pelukannya, dan untuk sesaat yang panjang, aku hanya bernapas β bernapas dengan tenang, di dalam jeda yang kini menjadi milikku.
"Mereka sudah pergi," bisik Wulan ke rambutku. "Sebelum fajar. Mereka tidak menunggu. Mereka hanya meninggalkan sesuatu di depan pintu."
Aku mengangkat kepala. Dan di depan pintu rumahku, di atas papan beranda yang basah oleh embun, tergeletak sebuah kendi kecil β hitam, tanpa hiasan, dengan mulut yang tertutup rapat β yang berdenyut pelan, sabar, seperti jantung kedua yang baru saja belajar berdetak.
Dan dari dalam rumah, dengan suara yang kecil dan gemetar, Sela berbisik:
"Mbak, kendi itu β sejak tadi ia menyebut namamu. Bukan namamu yang biasa. Nama yang lain. Nama yang tidak pernah Mbak ceritakan pada siapa pun."
Aku menatap kendi itu. Danan menatapku. Dan di dalam dadaku, di antara satu detak jantung dan detak jantung berikutnya, di dalam jeda yang kini menjadi tempat tinggal nama tersembunyi itu, sesuatu bergerak β pelan, sabar, seperti sesuatu yang baru saja dibangunkan dari tidur yang sangat panjang.