Jahitan yang Menolak
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,893 kata
Benang mati tidak ingin dijahit. Ia ingin ditanam.
Sejak fajar merangkak naik di balik bukit kapur, benang abu-abu itu berdenyut pelan di telapak tanganku β denyut yang sabar dan dingin, seperti jantung yang sudah lupa cara berdebar untuk dirinya sendiri. Setiap denyutnya adalah bisikan yang sama, diulang tanpa lelah, tanpa jeda: kuburkan aku di retakan itu. Biarkan aku mekar menjadi kunci. Biarkan aku selesai. Biarkan aku habis dengan berguna.
Aku menggenggamnya lebih erat sampai buku-buku jariku memutih.
Semalam aku sudah memutuskan β di depan Danan, di depan langit yang retak, dengan deklarasiku sendiri yang masih menggema di tulang-tulangku: aku bukan kunci. Aku pewaris terakhir penjaga gerbang langit. Dan pagi ini aku akan membuktikannya dengan cara yang diperingatkan Danan sebagai perangkap: aku akan menjahit ulang benang mati ini. Bukan untuk dewan. Bukan untuk ditanam. Dengan jangkar di tanganku β akulah yang memegang ujungnya.
Aku mengambil ujung benang yang lepas β ujung yang selama ini hanya pernah dipegang oleh tangan-tangan dewan β dan mengikatkannya ke pergelangan kiriku. Simpul jangkar. Simpul yang diajarkan Ibu padaku saat aku berumur tujuh tahun, bukan untuk benang nasib, melainkan untuk tali ayunan di halaman belakang: "Simpul yang benar tidak mengikatmu pada dunia, Nak. Ia mengingatkan dunia bahwa kamulah yang memilih di mana kamu berhenti."
Danan yang berdiri di ambang pintu melihat simpul itu, dan wajahnya berubah β seperti langit sesaat sebelum hujan.
"Kamu tahu apa artinya simpul itu?" tanyanya pelan.
"Aku tahu," kataku. "Jangkar bekerja dua arah. Kalau dewan menarik dari ujung sana, mereka menarikku. Tapi β" aku mengangkat pergelangan kiriku yang terikat, "β aku juga bisa menarik balik. Dan mereka belum pernah ditarik balik seumur hidup mereka. Mereka hanya terbiasa dituruti."
Danan memejamkan mata sejenak. Ketika ia membukanya lagi, ada sesuatu yang pasrah sekaligus bangga di sana β ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya selama ia menjagaku. "Tidak ada penjaga yang menjahit sendirian," katanya akhirnya. Ia berjalan mendekat dan berlutut di hadapanku β gerakan yang membuat dadaku sesak, karena tidak ada seorang pun yang seharusnya berlutut di depan anak perempuan berumur dua puluh tiga tahun yang bahkan tidak bisa memasukkan benang ke lubang jarum tanpa menusuk jarinya sendiri. "Seseorang harus memegang si penjahit. Itu aturannya. Itu selalu aturannya, sejak sebelum dewan pandai berbohong."
Ia menggenggam pergelangan kananku β bukan benangnya. Tanganku. Genggamannya hangat dan mantap, genggaman seseorang yang sudah empat puluh tahun memegang sesuatu agar tidak jatuh ke dalam kegelapan.
"Kalau kamu tenggelam dalam jahitan," katanya, menatap mataku lurus-lurus tanpa berkedip, "aku yang menarikmu keluar."
"Tugas dari dewan?" tanyaku β setengah menggoda, setengah takut akan jawabannya.
"Tugas yang kupilih sendiri," katanya. "Sudah kubilang semalam: penjaga memilih dan memerintah. Dan aku memilih kamu."
Jantungku berdebar sekali β keras, bodoh, tidak pada tempatnya β lalu aku memaksanya tenang. Bukan sekarang. Bukan saat benang mati menunggu di tanganku.
Masalahnya: aku tidak punya jarum untuk benang nasib. Jarum jahit Ibu terlalu kasar, terlalu duniawi β ia akan merobek benang ini menjadi debu. Maka aku melakukan satu-satunya hal yang masuk akal bagi seorang pewaris garis Raras: aku memakai diriku sendiri.
Aku memejamkan mata dan mencari di dalam dadaku β gema emas itu. Jejak benangku sendiri yang teranyam di benang mati ini sejak semalam, saat aku menumpang di jahitannya dan tanpa sadar meninggalkan sebagian diriku di sana. Aku menariknya keluar, sehelai tipis cahaya keemasan, perlahan, seperti mencabut bulu mata dari dalam jantung. Rasanya perih dan manis sekaligus, seperti rindu.
Danan menahan napas. "Naya..."
"Jangan," kataku. "Pegang saja aku. Itu tugasmu, kan?"
Jahitan pertama adalah perang.
Begitu ujung emas itu menyentuh benang abu-abu, benang mati itu MELAWAN. Ia tidak mau ditembus β ia pecah menjadi serbuk abu-abu yang beterbangan, mencoba lolos dari tanganku, mencoba kembali ke langit, kembali ke dewan, kembali ke satu-satunya takdir yang pernah dikenalnya: ditanam. Debu itu berbisik dengan seribu suara kecil: bukan begini caranya bukan begini caranya bukan beginiβ
Aku menarik ujung jangkar di pergelangan kiriku. Satu sentakan, tegas.
Dan untuk pertama kalinya dalam keberadaannya yang panjang, benang mati itu TERKEJUT.
Selama ini ia hanya pernah ditarik oleh dewan β ditarik untuk pergi, untuk ditanam, untuk habis. Tidak pernah ada yang menariknya untuk TINGGAL. Tarikanku bukanlah tarikan seorang pemilik. Itu tarikan seorang penjaga yang berkata: berhenti. Kamu tidak pergi ke mana-mana sampai aku selesai denganmu.
Debu abu-abu itu membeku di udara. Lalu, perlahan β dengan enggan yang terasa hampir seperti malu β ia kembali berkumpul di tanganku.
Jahitan pertama mendarat. Emas menembus abu-abu.
Dari ambang pintu terdengar suara langkah mundur yang tersentak. Bima berdiri di sana β pucat seperti kain kafan, tangannya mencengkeram kusen pintu sampai buku-buku jarinya putih. Entah sejak kapan ia menonton.
"Bima," kataku tanpa melepaskan pandanganku dari benang. "Masuk atau pergi. Tapi jangan berdiri di ambang seperti hantu."
Ia masuk β dua langkah ragu β lalu berhenti. Matanya terpaku pada benang di tanganku, pada jahitan emas yang kini berdenyut di tengah abu-abu seperti bara api di dalam abu.
"Juru tulis dewan memberikannya padaku tiga malam yang lalu," katanya tiba-tiba, suaranya serak. "Ia bilang... ia bilang ini obat untuk retakan. Ia bilang kalau benang ini sampai ke tanganmu, retakan akan sembuh. Aku tidakβ"
"Kamu tidak tahu," potong Danan, dingin seperti air sumur. "Begitu katamu setiap kali, Bima."
"Aku tidak tahu!" Bima bersikeras, lalu suaranya pecah. "Baik β mungkin aku tahu. Mungkin sebagian diriku tahu dan aku memilih untuk tidak tahu. Puas? Aku berharap tidak tahu, Danan. Berharap itu lebih mudah daripada tahu."
"Kamu membawa umpan ke rumah penjaga," kata Danan. Tangannya mengencang di pergelanganku β bukan marah padaku, melainkan menahanku agar tetap di sini, tetap sadar, tetap menjadi jangkar bagi diriku sendiri. "Umpan yang dirancang untuk menelan Naya bulat-bulat."
"Cukup," kataku. Jarum emasku berhenti di tengah jahitan kedua. Aku menatap Bima β benar-benar menatapnya, untuk pertama kalinya sejak ia datang dengan benang itu. Di matanya ada rasa bersalah yang begitu pekat sampai hampir berwujud, menggantung di sekelilingnya seperti asap. "Kamu sudah di sini, Bima. Benang ini sudah di tanganku. Jangkarnya juga di tanganku. Yang penting sekarang bukan siapa yang membawanya β tapi siapa yang memegang ujungnya."
Aku kembali menjahit.
Jahitan kedua. Jahitan ketiga. Emas menembus abu-abu seperti akar menembus batu β perlahan, pasti, dengan kesabaran yang tidak bisa ditawar. Di setiap titik jahitan, benang mati itu berubah warna: abu-abu menjadi perak, perak menjadi sesuatu yang hangat, sesuatu yang hampir... hidup.
Dan saat jahitan ketiga mendarat sempurna, sesuatu TERLEPAS dari kepalaku.
Bukan darah. Bukan tenaga. Kenangan.
Sore itu datang dan pergi dalam sekejap: aku berumur enam tahun, duduk di pangkuan Ibu di beranda belakang, belajar memasukkan benang merah ke lubang jarum untuk pertama kalinya. Jariku tertusuk. Aku menangis. Ibu tertawa β tawa yang hangat seperti teh manis β lalu mencium ujung jariku dan berkata, "Tidak apa-apa, Nak. Penjahit hebat selalu berdarah dulu." Kenangan itu larut seperti gula dalam teh. Aku masih TAHU itu terjadi. Tapi aku tidak bisa lagi MELIHAT wajah Ibu di sore itu. Wajahnya menjadi kabut. Tawanya menjadi gema tanpa sumber.
Tanganku berhenti di udara. Jarum emasku bergetar.
"Naya?" Danan mencondongkan tubuh.
"Ia mengambil kenangan," kataku pelan. "Benang ini... ia dibayar dengan kenangan."
Keheningan yang jatuh begitu pekat sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Danan memejamkan mata β ia sudah tahu. Tentu saja ia sudah tahu.
"Setiap jahitan penjaga dibayar dengan kenangan," katanya akhirnya, suaranya berat. "Itu sebabnya dewan menulis ulang kami menjadi kunci, Naya."
"Kenapa?" bisikku β meskipun sebagian diriku sudah tahu jawabannya.
"Karena kunci tidak perlu mengingat." Danan menatap benang di tanganku dengan duka yang tua. "Kunci hanya perlu ditanam sampai habis. Penjaga yang mengingat akan melawan. Penjaga yang mengingat akan memilih. Jadi dewan mengambil ingatan kami β jahitan demi jahitan β sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan."
Aku menatap tiga jahitan emas di benang abu-abu β tiga bintang kecil yang dibayar dengan wajah Ibu di suatu sore yang kini berkabut. Dadaku sesak. Tapi di bawah sesak itu, sesuatu yang keras mengkristal.
"Kalau begitu," kataku, mengangkat jarum emasku lagi, "aku akan mengingat untuk dua kali lipat. Untuk setiap kenangan yang diambil, aku akan membuat dua kenangan baru. Mereka bisa mengambil masa laluku β tapi mereka tidak bisa mengambil masa depanku."
Danan tersenyum tipis β senyum pertama pagi itu, retak di tepinya seperti tembikar tua yang masih dipakai. "Itu kalimat paling penjaga yang pernah kudengar darimu."
Setiap kali emas itu mendarat, gema emas di dalam benang β jejak diriku dari semalam β beresonansi dengannya, berdengung seperti dawai yang dipetik. Dua emas saling memanggil. Benang mati berdenyut semakin cepat.
"Pelan-pelan," Danan memperingatkan, genggamannya mengencang. "Ia mencoba menarikmu MASUK, Naya. Rasakan tarikannya."
Aku merasakannya. Dari ujung benang yang jauh β dari arah retakan di langit β ada tarikan. Dewan menarik dari sana. Ujung jangkar di pergelangan kiriku menegang seperti tali pancing yang disambar ikan besar. Inilah perangkap yang diperingatkan Danan semalam: tarik-menarik. Jika aku kalah kuat, aku akan terseret ke dalam jahitan β menjadi bagian dari benang β menjadi... kunci.
Keringat dingin membasahi pelipisku. Bima berseru memperingatkan. Danan mulai menarik pergelangan kananku ke belakang.
Tapi aku tidak melawan tarikan itu.
Aku mengikutinya selangkah β menari mengikutinya, seperti Ibu mengajariku menari jaipong saat aku kecil: jangan melawan pasanganmu, rasakan ke mana ia membawamu, lalu β di saat yang tepat β hentakkan kakimu dan AMBIL ALIH.
Aku menghentakkan jangkar.
Prinsip yang ditanamkan garis Raras di tulangku, yang bahkan dewan tidak berhasil menulis ulang: jangkar bukan untuk menahan badai. Jangkar adalah untuk memilih kapan kapal berhenti.
Aku berhenti.
Tarikan dari ujung sana β tarikan dewan yang sudah menarik ribuan benang selama ratusan tahun tanpa pernah dilawan β TERPANTUL. Bukan terputus. Terpantul. Dan untuk pertama kalinya, SESUATU di ujung sana tersentak kaget. Aku merasakannya melalui benang: keterkejutan yang dingin, kuno, dan β untuk sesaat yang memabukkan β takut.
Keheningan jatuh di ruangan itu seperti kain.
Benang di tanganku kini setengah hidup: abu-abu berurat emas, berdenyut dengan irama JANTUNGKU, bukan irama dewan. Tiga jahitan emas berkilau di sepanjangnya seperti bintang-bintang kecil.
Danan mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti ia menahannya selama setahun. "Kamu melakukannya," bisiknya. "Demi langit yang dijaga β kamu benar-benar melakukannya."
Tapi Bima tidak menatapku. Ia menatap ke ATAS benang β ke udara di atasnya β dengan mulut terbuka.
"Lihat," bisiknya.
Bagian benang yang sudah kujahit mulai MENULIS.
Di udara di atasnya, huruf-huruf cahaya terbentuk sendiri, berbaris rapi seperti murid-murid yang dipanggil: daftar nama. Buku besar dewan β terpanggil keluar oleh benang yang kini setengah milikku, menunjukkan isinya padaku seolah aku berhak melihatnya.
Srikandi β ditanam 1912, retakan Cirebon. Larasati β ditanam 1948, retakan Dieng. Sukesi β ditanam 1975, retakan Tengger. Ratna β ditanam 2001, retakan ...
Daftar itu terus berjalan. Perempuan-perempuan garis Raras β nenek moyangku, bibi-bibiku yang tidak pernah kuceritakan β generasi demi generasi, semuanya ditanam. Semuanya habis. Mataku mencari satu nama dengan panik: Ibu. Di mana Ibu? Aku memindai daftar itu sekali, dua kali β nama Ibu tidak ada di sana.
Sebelum aku sempat memikirkan artinya, daftar itu berhenti di bagian bawah. Satu baris kosong. Dan dari atas β dari arah retakan di langit β sebuah pena cahaya bintang turun perlahan, melayang menuju baris kosong itu.
Pena itu mulai menulis. Huruf demi huruf, dengan keanggunan yang mengerikan:
N. A. Y. A.
Danan berdiri, tubuhnya menegang seperti busur yang ditarik penuh. Bima membaca dengan suara gemetar: "Naya."
Pena cahaya itu berhenti β melayang di atas namaku yang baru tertulis. Menunggu. Seolah menungguku... menyetujui. Atau menungguku datang untuk ditanam, agar tulisannya menjadi kebenaran.
Aku mengangkat benang yang setengah kujahit β jangkar masih terikat erat di pergelangan kiriku β dan berkata kepada pena cahaya itu, kepada langit yang retak, kepada dewan yang menonton dari kejauhan:
"Tulis yang benar. Naya β PENJAGA."
Pena itu bergetar hebat. Cahayanya berkedip-kedip seperti lilin tertiup angin.
Dan halaman buku besar itu β halaman yang memuat namaku β robek. Dari atas sampai bawah. Dengan suara seperti kain langit yang disayat.
Pena cahaya itu jatuh, padam sebelum menyentuh tanah.
Di kejauhan, dari arah retakan, terdengar sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya: dewan β untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun β terdengar... marah.