Suara Nenek Buyut
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,646 kata
Suara itu tidak berhenti pada satu bait. Ia mengalir bersamaku, bait demi bait, seperti sungai kedua yang menemukan sungai pertama di tengah kegelapan β dan aku hampir menjatuhkan lentera karena aku mengenalinya.
Bukan hanya dari cerita Wulan. Aku mengenalnya dari masa kecilku yang paling awal, dari saat-saat aku bahkan belum bisa bicara dengan benar: suara yang menyenandungkan lagu yang sama di beranda, dengan nada yang sedikit lebih rendah dari nada Ibu, dengan jeda yang sedikit lebih panjang di antara bait-baitnya, seolah penyanyinya selalu memberi ruang bagi sesuatu yang lain untuk ikut bernapas.
Suara Nenek Buyut.
"Naya," kata suara itu β bukan di antara bait, melainkan di dalam bait itu sendiri, seperti kata yang disisipkan ke dalam lagu tanpa merusak lagunya. "Dengarkan. Jangan hanya bernyanyi. Dengarkan."
Aku mendengarkan. Dan begitu aku benar-benar mendengarkan, bukan hanya menyuarakan, aku menyadari apa yang selama ini tidak pernah kusadari tentang lagu nina bobok itu: ia bukan satu lagu. Ia dua lagu yang dinyanyikan bersamaan, saling mengisi, seperti dua tangan yang menenun satu kain.
Suaraku adalah satu tangan. Suara Nenek Buyut adalah tangan yang lain. Aku menyanyikan kata-kata yang menidurkan β tidurlah, tidurlah, anakku sayang β dan di sela-selanya, di jeda-jeda yang selama ini kukira hanya napas, Nenek Buyut menyanyikan kata-kata yang menjaga β jangan takut, jangan pergi, tetap di sini. Dua melodi yang tidak pernah bertabrakan karena yang satu selalu tahu kapan yang lain perlu berhenti untuk bernapas.
Selama ini aku hanya menyanyikan setengah lagu. Dan setengah lagu, ternyata, adalah pintu yang setengah terbuka.
"Kenapa baru sekarang?" bisikku di antara bait, nyaris tidak berani mengganggu aliran itu. "Kenapa suaramu baru datang sekarang, setelah ratusan tahun?"
"Karena baru sekarang ada yang menyanyi tanpa ingin memiliki," jawab suara itu, dan aku merasakan kehangatan yang aneh di dadaku β bukan hawa dari mulut lonceng, melainkan sesuatu yang lebih dalam, seperti tangan yang diletakkan di atas jantungku dari dalam. "Semua yang datang sebelum kamu datang untuk menamai, atau untuk diberi nama, atau untuk menutup pintu. Kamu datang untuk bernyanyi. Dan lagu yang dinyanyikan tanpa ingin memiliki adalah satu-satunya lagu yang bisa kudengar dari tempatku berada."
"Di mana tempatmu berada?" tanyaku. Pertanyaan itu keluar begitu saja, karena aku tiba-tiba takut β takut bahwa suara ini juga bagian dari lonceng, bahwa lonceng itu sudah belajar meniru lebih jauh lagi, sampai ke suara yang paling dalam dalam ingatanku.
"Di dalam lagu itu sendiri," kata suara itu. "Aku tidak pergi ke mana-mana, Naya. Aku tinggal di antara bait dan bait. Semua penyanyi yang menyanyikan lagu ini dengan benar akan mendengarku. Ibumu mendengarku saat ia menyanyikanmu tidur, hanya saja ia mengira itu gema dari beranda. Wulan mendengarku, dan ia mengira itu ingatannya sendiri. Kamu mendengarku sekarang karena kamu akhirnya berhenti menyanyi sendirian."
Danan mencengkeram tanganku lebih erat. Aku menoleh, dan ia menatapku dengan mata yang membesar β ia juga mendengarnya. Bukan hanya aku. Suara Nenek Buyut itu nyata di ruang ini, mengalir dari mulut lonceng yang menganga, dari kegelapan di balik perunggu, dari tempat yang selama ratusan tahun hanya mengeluarkan lapar.
"Kamu tidak ada di dalam lonceng," kataku pelan, dan itu bukan pertanyaan. Itu pemahaman yang terbentuk sendiri. "Kamu ada di dalam lagu. Dan lonceng itu β ia hanya mulut yang meminjam suaramu, karena ia tidak punya lagu sendiri."
"Benar," kata suara itu. "Dan karena itu, dengarkan apa yang akan kukatakan, karena lonceng itu juga sedang mendengarkan, dan ia akan mencoba mengingat kata-kataku untuk dipakai nanti."
Aku mengangguk, meski aku tidak tahu apakah suara itu bisa melihat anggukanku. Aku terus bernyanyi, dan ia terus bernyanyi bersamaku, dan di antara dua suara itu, sesuatu mulai berubah di permukaan lonceng.
Goresan-goresan yang tadi meredup itu tidak hanya meredup lagi. Satu per satu, dari yang paling pinggir, mereka mulai mengering dengan cara yang berbeda β bukan menjadi dingin seperti kulit, melainkan menjadi pudar seperti tulisan kapur yang dihapus oleh hujan yang lembut. Satu goresan menghilang. Lalu satu lagi. Bukan karena dimakan. Karena dilepaskan.
"Apa yang terjadi?" bisik Danan. "Naya, lihat β goresan ituβ"
"Aku melihatnya," bisikku. Jantungku berdebar begitu keras hingga aku takut suaranya mengganggu lagu. "Mereka dilepaskan. Bukan dimakan. Dilepaskan."
"Setiap nama yang dilepaskan adalah satu beban yang tidak lagi harus dibawa lonceng ini," kata suara Nenek Buyut, dan kini ada kesedihan di dalamnya, kesedihan yang sangat tua. "Tapi dengarkan, Naya. Ada yang harus kamu pahami sebelum kamu meminta lebih. Lonceng ini tidak lapar karena ia jahat. Ia lapar karena ia dibuat untuk menampung, dan Dewan mengisinya dengan beban yang bukan miliknya. Setiap kali Dewan menuang, mereka tidak memberi makan lonceng ini. Mereka memberinya beban untuk ditahan, supaya mereka sendiri tidak perlu menahannya. Lapar yang kamu rasakan itu bukan lapar makanan. Itu berat beban yang tidak pernah boleh diletakkan."
Aku memikirkan suara tuangan dari arah laut tadi β berat, sabar, tidak terburu-buru. Aku memikirkan Dewan yang selama ini kusebut dalam cerita Wulan sebagai penjaga dari sisi lain, yang ternyata selama ini menuangkan beban mereka sendiri ke dalam bejana yang sudah hampir penuh.
"Jadi bagaimana cara membuatnya berhenti lapar?" tanyaku. "Kalau aku bernyanyi, goresan-goresan itu terlepas. Tapi Dewan terus menuang. Bukankah itu sama saja dengan menguras bejana yang terus diisi?"
"Benar," kata suara itu. "Dan karena itu, kamu tidak boleh berhenti pada melepaskan. Kamu harus belajar menahan β bukan menahan pintu, bukan menahan beban, melainkan menahan lagu itu sendiri di tempatnya, supaya tuangan itu tidak punya tempat untuk jatuh."
Aku tidak mengerti. Dan sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, tanah di bawah kami bergetar lagi β lebih keras dari sebelumnya, dan kali ini bukan dari arah bukit, bukan dari arah laut. Dari atas. Langsung dari atas, dari tenggorokan sumur, dari rumahku sendiri.
Danan menengadah. "Naya, ituβ"
Aku mendengarnya juga. Suara langkah kaki di atas papan rumah. Bukan langkah Sela yang kecil dan ragu. Langkah yang lebih berat, lebih banyak β dua pasang, tiga pasang β dan suara Wulan yang terdengar tegang, menahan sesuatu, dan suara Ibu yang menjawab dengan nada yang kukenal: nada yang dipakainya saat ada tamu yang tidak diharapkan datang di tengah malam.
Seseorang datang ke rumahku. Di tengah malam. Saat aku dan Danan berada di bawah tanah.
Dan suara Nenek Buyut itu, untuk pertama kalinya sejak ia muncul, terdengar tergesa-gesa.
"Naya, dengarkan aku baik-baik. Lagu ini punya bagian yang tidak pernah dinyanyikan sampai habis β bukan kata terakhir yang kamu takutkan, bukan nama tersembunyi yang kamu sembunyikan. Bagian itu adalah jeda. Jeda di antara bait terakhir dan bait pertama, saat lagu berputar kembali ke awal. Dalam jeda itu, penyanyi tidak bernyanyi, dan yang mendengarkan tidak mendengarkan. Dalam jeda itu, tidak ada nama yang bisa ditulis, tidak ada beban yang bisa dituang, tidak ada pintu yang bisa dibuka. Jeda itu adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa dimasuki oleh apa pun β bahkan oleh Dewan."
"Bagaimana cara membuat jeda itu?" tanyaku cepat, karena langkah-langkah di atas sana semakin jelas, dan suara Ibu semakin tegang.
"Kamu sudah membuatnya, tanpa sadar, setiap kali kamu mengulang lagu dari awal," kata suara itu. "Saat kamu kembali ke bait pertama, ada sesaat β sangat singkat β di mana lagu lama sudah selesai dan lagu baru belum dimulai. Sesaat itu adalah jeda. Yang harus kamu lakukan adalah memperpanjangnya. Bukan dengan diam. Dengan bernapas. Tarik napas, dan jangan buru-buru menyanyi lagi. Biarkan jeda itu membesar, seperti mata air yang dibiarkan menggenang. Dan saat jeda itu cukup besar, tuangan itu tidak akan punya tempat untuk jatuh β karena ia hanya bisa jatuh ke dalam lagu yang sedang berjalan, bukan ke dalam keheningan yang sedang bernapas."
Aku mencoba. Di akhir bait yang sedang kunyanyikan, aku tidak langsung kembali ke bait pertama. Aku menarik napas β dalam, pelan, seolah aku bernapas untuk seluruh ruangan ini β dan aku membiarkan keheningan itu tinggal sesaat lebih lama dari biasanya.
Dan sesuatu yang luar biasa terjadi.
Goresan namaku di permukaan lonceng β namaku yang masih basah, masih hangat, masih berdenyut seperti jantung kedua β berhenti berdenyut. Bukan menghilang. Berhenti bergerak. Seperti tunas yang berhenti tumbuh karena musimnya berubah. Seperti tinta yang akhirnya mengering, bukan karena dihapus, melainkan karena tidak lagi ditulis.
Danan menatap goresan itu, lalu menatapku, dan aku melihat di matanya sesuatu yang belum pernah kulihat sejak kami turun ke bawah sini: harapan yang bukan harapan yang putus asa, melainkan harapan yang punya bentuk.
"Tapi," kata suara Nenek Buyut, dan kini suaranya mulai menjauh, seperti seseorang yang berjalan mundur ke dalam lorong yang panjang, "jeda hanya bekerja selama penyanyinya bernapas dengan tenang. Dan di atas sana, ada yang datang untuk membuatmu tidak bisa bernapas dengan tenang. Jangan naik terburu-buru, Naya. Jangan biarkan mereka melihatmu keluar dari sumur dengan tanah di bajumu dan darah di bibirmu sebelum kamu siap. Dengarkan dulu dari bawah sini. Kenali langkah mereka. Baru putuskan."
Suara itu menghilang β bukan terputus, melainkan memudar seperti lagu yang dinyanyikan dari ruangan lain, yang pintunya ditutup pelan-pelan.
Dan dalam keheningan yang ditinggalkannya, aku mendengar dengan jelas suara dari atas sana: suara pintu rumahku diketuk. Tiga kali. Pelan, sabar, tidak terburu-buru β persis seperti cara Dewan menuang.
Dan suara Wulan yang menjawab, dengan nada yang berusaha tenang: "Siapa di sana?"
Suara yang menjawab dari balik pintu itu bukan suara yang kukenal. Ia dalam, sopan, dan sangat tua β dan ia menyebutkan namaku, dengan lengkap, seolah ia sudah lama tahu siapa aku dan dari mana aku berasal:
"Kami mencari pewaris penjaga gerbang. Kami datang untuk mengembalikan sesuatu yang dipinjam dari kami."
Danan mencengkeram tanganku sampai sakit, dan di permukaan lonceng, goresan namaku yang baru saja berhenti berdenyut mulai berdenyut lagi β pelan, sabar, seperti jantung kedua yang baru saja diingatkan bahwa ia masih hidup.
Dan aku mengerti, dengan dingin yang merambat dari ujung jariku sampai ke tulang punggungku, bahwa tamu di atas sana tidak datang untukku. Ia datang untuk lagu itu. Dan ia tahu persis di mana lagu itu sedang dinyanyikan.