β€Ή
10. Jahitan Terakhir

Jahitan Terakhir

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,288 kata

Ilustrasi Jahitan Terakhir

Dunia tidak berakhir dengan ledakan. Dunia berakhir dengan robekan β€” dan Naya mendengarnya: suara kain semesta yang terkoyak, melengking seperti jeritan yang tak pernah selesai.

Dari belahan kain tenunan itu, banjir bayangan menyembur keluar. Bukan asap tipis lagi β€” melainkan ARUS. Gelombang kegelapan hidup yang mengalir menembus menara, menembus dinding kaca, tumpah ke langit dunia bawah menuju satu titik: Desa Langit Biru.

"Tidak..." Naya berlari ke tepi menara, menatap ngeri. Di bawah sana, desa mungilnya diterangi cahaya obor yang berlarian panik β€” dan di atasnya, langit malam MERAHITAM oleh bayangan yang turun seperti badai. "Sari... Nek..."

Ia berbalik ke alat tenun, tangannya bergerak liar, mencoba menambal belahan itu dari luar. Benang-benang terang melesat dari telapaknya β€” tapi setiap jahitan yang ia buat PUTUS seketika, dimakan oleh kain tandingan hitam yang menahan belahan itu tetap menganga dari sisi gelap.

"Tidak bisa," kata Penjaga Pertama, merangkak mendekat dengan tubuh cahaya yang retak-retak. "Tidak bisa dijahit dari luar, Nak. Kain yang robek dari dalam..."

"...harus dijahit dari dalam," Naya menyelesaikan. Dan ia mengerti. Tiba-tiba semuanya jelas β€” seperti fajar yang menyingsing di kepalanya. "Jalan ketiga butuh penenun yang hidup di kedua dunia. Bukan berdiri DI AMBANG." Ia menatap belahan yang menganga itu. "Menjadi AMBANGNYA."

"Nayara, jangan." Danan mencengkeram lengannya. "Kau tidak tahu apa yang ada di dalam sana."

"Aku tahu," kata Naya lembut. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Danan. "Mereka yang dilupakan. Mereka yang menunggu seratus tahun untuk didengar." Ia tersenyum β€” senyum yang berani meski bibirnya gemetar. "Dan aku... aku sudah berjanji akan selalu menangkapmu yang jatuh. Sekarang giliranku yang jatuh. Tangkap aku, ya?"

"Nayaraβ€”"

Ia melangkah masuk ke dalam belahan itu.

Rasanya seperti diurai.

Tubuhnya β€” kulitnya, tulangnya, napasnya β€” terlepas helai demi helai, berubah menjadi benang-benang cahaya yang melayang. Sakit? Tidak. Lebih seperti... dibuka. Seperti buku yang halaman-halamannya diterbangkan angin, dan setiap halaman adalah dirinya.

Dan di dalam sana β€” di antara dua dunia β€” ia MELIHAT mereka.

Kaum Bayang. Bukan monster. Bukan iblis. Mereka adalah sosok-sosok yang cekung, lelah, berlubang di sana-sini seperti kain yang dimakan ngengat β€” para Penjaga yang dulu memilih tinggal bersama luka, yang perlahan dilupakan oleh terang hingga mereka lupa caranya menjadi terang. Mereka menatapnya β€” benang cahaya yang hidup di tengah kegelapan mereka β€” dan dari ribuan tenggorokan yang hampir lupa bicara, terdengar satu kata:

"Nayara..."

Bukan lapar. Bukan marah. Rindu.

Satu sosok melayang mendekat β€” dulunya pasti seorang penjaga yang gagah, kini tinggal kerangka cahaya yang redup. Dari dadanya yang berlubang, Naya mendengar kenangan yang bocor keluar: tangan kecil seorang anak yang digenggam erat, tawa di beranda bambu, janji "aku akan kembali sebelum panen" β€” janji yang tidak pernah ditepati karena segel dipasang keesokan harinya. Naya menangis β€” dan air matanya menjadi benang, menjahit lubang di dada sosok itu. Sosok itu menatapnya, terkejut β€” lalu tersenyum, untuk pertama kalinya dalam seratus tahun.

Satu per satu, mereka mendekat. Bukan menyerang. Memohon untuk dijahit. Dan Naya menenun mereka semua β€” setiap kerinduan, setiap penyesalan, setiap nama yang terlupakan β€” ke dalam kain. Kain itu tumbuh, melebar, berpola seperti langit malam yang akhirnya lengkap dengan bintang-bintangnya.

"Aku mendengar kalian," kata Naya β€” dan suaranya bergema di antara dunia sebagai getaran cahaya. "Seratus tahun kalian berteriak dan tidak ada yang mendengar. Aku mendengar kalian SEKARANG."

Ia mulai menenun. Bukan menambal dari luar β€” melainkan dari dalam, helai demi helai, ia menjahit belahan itu... dan ke dalam setiap jahitan, ia menyelipkan kerinduan mereka. Tidak menghapus mereka. Tidak mengusir mereka. MELIBATKAN mereka. Inilah jalan ketiga yang sesungguhnya β€” bukan terang yang menelan gelap, bukan gelap yang menelan terang, melainkan keduanya diakui dalam satu kain yang sama.

Di tengah banjir bayangan, ia melihatnya: perempuan bayangan bermata dikenal itu β€” ibu Rangga β€” mengulurkan tangan malamnya menembus jahitan yang setengah jadi, ke arah Rangga yang berlutut di lantai menara, menangis seperti anak kecil.

"Rangga kecilku... ikut Ibu..." bisiknya. "Di sini tidak sakit lagi..."

Rangga mengulurkan tangannya yang gemetar β€” hampir menyentuh kegelapan itu β€” lalu berhenti. Ia menatap wajah ibunya yang terbuat dari malam. Menatap banjir bayangan di sekelilingnya. Menatap Naya yang terurai menjadi cahaya di jantung belahan.

"Tidak, Bu," bisiknya β€” dan untuk pertama kalinya suaranya bukan suara orang yang marah, melainkan suara orang yang akhirnya mengerti. "Ibu yang ikut aku. Hiduplah. Di sisi yang terang." Ia menarik tangannya kembali β€” dan mendorong tangan ibunya dengan lembut ke arah jahitan cahaya. "Pergi dengan damai, Bu. Bukan sebagai Bayang."

Perempuan bayangan itu menatapnya lama. Lalu β€” perlahan β€” kegelapannya memudar di tepi-tepinya, berubah menjadi benang perak yang berkilau. Ia tersenyum β€” senyum ibu yang sesungguhnya β€” dan membiarkan dirinya terurai, terjalin menjadi helai terang di kain Naya. Bukan dihapus. Ditenun ulang.

Rangga terisak, dahinya menyentuh lantai cahaya. Pecahan kristal hitam di sisinya meretak β€” lalu hancur menjadi debu yang tertiup angin antardunia.

Di luar belahan, Danan melakukan hal yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang mencintai tanpa syarat: ia menancapkan sisa cahaya sayapnya ke bingkai alat tenun, menahan bingkainya agar tidak runtuh selagi Naya menenun dari dalam. Sayap-sayap emas itu meredup β€” satu per satu bulunya padam β€” hingga sayap itu terlipat gelap dan bisu di punggungnya.

Harga. Selalu ada harga.

"Sayap bisa tumbuh lagi," bisik Danan, meski suaranya bergetar menahan sakit. "Kau hanya satu, Nayara."

Dan belahan itu β€” perlahan, helai demi helai β€” MENUTUP.

Di langit di atas Desa Langit Biru, dua bayangan bulan yang bertumpang-tindih selama badai itu menyatu menjadi satu bundaran sempurna. Banjir bayangan surut seperti air bah yang menemukan muaranya β€” terserap ke dalam kain, menjadi bagian dari pola. Fajar menyingsing di ufuk timur, merah muda dan emas, dan untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, cahaya itu jatuh ke desa TANPA terhalang segel.

Di bawah sana, Naya tahu β€” Nek Wulan pasti sedang menatap langit sambil memeluk Sari yang menangis. Desa selamat.

Ayam-ayam mulai berkokok β€” suara dunia bawah yang paling biasa, yang kini terdengar seperti mukjizat. Asap kayu bakar mengepul dari dapur-dapur, bercampur dengan sisa cahaya fajar yang turun tanpa terhalang. Di pematang sawah, dua sosok kecil berpelukan menatap langit: seorang nenek berjarik dan seorang gadis dengan obor yang padam. Naya tersenyum di antara air matanya. Tunggu aku pulang, bisiknya. Aku akan pulang.

Naya jatuh keluar dari jahitan yang menutup β€” kembali menjadi gadis, terengah, utuh β€” dan langsung ditangkap oleh lengan Danan yang kokoh.

"Kau menangkapku," bisiknya.

"Selalu," jawabnya.

Tapi ia berbeda sekarang. Naya bisa merasakannya β€” bayangannya sendiri bergerak setengah ketukan lebih lambat darinya, dan di matanya ada cahaya bintang yang tidak pernah ada sebelumnya. Penjaga Pertama mendekat, tubuh cahayanya perlahan pulih, dan menatapnya dengan duka yang lembut.

"Kau adalah jahitannya sekarang, Nak," katanya. "Kau tidak bisa memilih satu dunia lagi. Kakimu akan selalu berpijak di keduanya β€” dan hatimu... hatimu akan selalu terbelah di antara keduanya. Itulah harga jalan ketiga yang sesungguhnya."

Naya mengangguk pelan. Ia sudah tahu β€” sejak ia melangkah masuk, ia sudah tahu. Dan ia tidak menyesal.

Lalu β€” jahitan yang baru selesai itu BERDENYUT.

Bukan liar seperti sebelumnya. Berirama. Seperti pintu yang diketuk dari dalam.

Di tengah kain yang telah utuh, sebuah PINTU terbuka β€” pintu dari cahaya tenunan, berbingkai benang emas dan perak. Dan melaluinya, melangkah keluar dengan anggun...

Seorang perempuan berkebaya putih. Rambutnya disanggul sederhana. Dan dari bibirnya mengalun pelan... nada itu. Nina bobo itu. Lagu yang baru saja Naya berikan sebagai benang pertama.

Bukan gema. Bukan suara samar. NYATA. Hangat. Hidup.

"Ibu...?" bisik Naya β€” suaranya hilang.

Perempuan itu mendekat, menangkup wajah Naya dengan tangan yang hangat dan nyata β€” tangan yang sama yang dulu menimangnya, yang hanya ia kenal dari foto kusam dan mimpi. Air mata Naya tumpah, berubah menjadi cahaya sebelum menyentuh lantai.

"Nayara," kata ibunya β€” dan namanya diucapkan dengan cinta yang utuh, bukan bisikan kerinduan. "Anakku yang berani. Ibu bangga padamu."

"Ibu... ibu hidup? Selama ini...?"

"Jalan ketigamu membebaskanku, Sayang. Gema tidak bisa tinggal di kain yang utuh β€” ia harus menjadi... nyata, atau pergi." Ibunya tersenyum β€” lalu senyum itu memudar menjadi kesungguhan. Ia menggenggam tangan Naya erat-erat.

"Dengarkan Ibu baik-baik. Ada yang harus kau tahu..."

Ia menatap ke arah Danan β€” yang memucat β€” lalu kembali ke Naya.

"Tentang ayahmu."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!