β€Ή
22. Penjaga, Bukan Kunci

Penjaga, Bukan Kunci

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,286 kata

Ilustrasi Penjaga, Bukan Kunci

Aku memegang benang mati itu hingga fajar β€” dan ia terus berdenyut, pelan, sabar, seperti menunggu keputusanku.

Dalam keabu-abuan itu, kalau kuperhatikan cukup lama, ada sesuatu yang berkilau samar: gema emas. Jejak benangku sendiri, yang teranyam ke dalamnya saat ia menumpang di jahitanku malam tadi. Ia mengingat jalan β€” karena sebagian jalan itu adalah aku.

"Benang mati masih bisa dijahit ulang," bisikku pada udara dingin menjelang pagi. "Asal ada yang mengingat jalannya." Dan aku mengingat. Tanganku mengingat.

"Kau tidak akan melakukannya." Danan sudah bangun β€” tentu saja ia bangun; penjaga tidak pernah benar-benar tidur. Ia menatap benang abu-abu di tanganku dengan ngeri. "Naya, itu perangkap mereka. Ia sudah menipumu sekali."

"Aku tidak akan menggunakannya seperti mereka," kataku, melilitkan benang itu dengan hati-hati di sekeliling jariku. "Aku akan menjahitnya ulang β€” dengan jangkar di tanganku. Kali ini, akulah yang memegang ujungnya. Bukan mereka."

Ia ingin membantah β€” aku melihatnya di rahangnya yang mengeras. Tetapi kemudian aku mengucapkan sesuatu yang membuat kami berdua diam, sesuatu yang perlu kuucapkan dengan suara keras agar menjadi nyata:

"Aku bukan kunci."

Kata-kata itu terasa seperti memutus benang. Seperti melepaskan sesuatu yang selama ini mengikat leherku.

"Aku pewaris terakhir penjaga gerbang langit." Aku menatap Danan, lalu Bima yang kini duduk tegak mendengarkan. "Kunci dipakai, Paman. Kunci ditanam ke dalam retakan dan dibiarkan di sana sampai habis. Tetapi penjaga β€” penjaga memilih. Penjaga memerintah. Itu bedanya, dan dewan tahu itu."

Aku teringat sesuatu β€” kenangan yang selama ini kusimpan di tempat yang salah. Aku berumur tujuh tahun, duduk di pangkuan Ibu, menanyakan kenapa langit di atas desa kami ada dua. Ibu mengelus rambutku dan berkata, "Karena langit yang satu dijaga, Nak. Dan yang menjaganya adalah kita β€” perempuan-perempuan keluarga kita, sejak sebelum dewan pandai berbohong." Saat itu aku mengira itu dongeng. Sekarang aku tahu: itu wasiat.

Aku memikirkan semua yang kuketahui sekarang, menyusunnya seperti jahitan: garis ibuku β€” garis Raras β€” adalah garis penjaga gerbang. Dahulu, penjagalah yang memegang gerbang. Tetapi dewan takut pada penjaga yang bisa berkata tidak β€” jadi mereka menulis ulang ceritanya. Penjaga menjadi kunci. Jantung yang hidup untuk ditanamkan ke dalam retakan. Generasi demi generasi.

"Ibu melihatnya," lanjutku, suaraku bergetar. "Itu sebabnya ia turun. Bukan hanya karena ayah β€” tetapi karena ia menolak memberi makan gerbang yang sekarat dengan jantungnya sendiri. Dan kemudian, saat aku lahir, dewan menandaku. Ibu memohon agar ia yang menjadi jahitan β€” agar aku bisa tumbuh sedikit lebih lama." Aku menatap tanganku. "Ia membeli waktuku dengan dirinya sendiri."

"Dan Arka," kata Bima pelan, "memilih tatanan. Ia naik β€” dan ia membenci pilihannya setiap hari sejak itu."

Aku mengangguk. "Ia pernah memohon agar ia yang menjadi jahitan, bukan Ibu. Dewan menolak. Sekarang ia menyimpan simpul Ibu β€” 'akan kusimpan, seperti yang kuinginkan sejak dulu.'" Aku mengepalkan tangan. "Itu bukan kenang-kenangan, Bima. Itu separuh dari kunci pertama β€” meterai penjaga yang asli. Ia menyimpannya karena ia ingin menjadi penjaga. Penjaga yang tidak perlu memohon pada dewan."

Keheningan panjang. Di bawah sana, desa mulai bangun β€” asap dapur mengepul, ayam berkokok, dunia yang tidak tahu bahwa langitnya hampir ditelan.

"Jadi apa jalan ketiganya, Naya?" tanya Danan akhirnya. "Kau tidak ikut sebagai kunci. Kau tidak membiarkan desa gelap. Lalu apa?"

Aku mengangkat benang mati yang kini terasa hangat di tanganku β€” hangat oleh genggamanku, oleh tekadku.

"Kalau gerbang itu butuh jantung yang hidup, ia akan mendapatkannya." Aku menatap ke atas, ke langit yang mulai memutih di ufuk timur. "Tetapi bukan sebagai kunci yang ditanam ke dalam retakan. Sebagai penjaga yang datang dengan kakinya sendiri β€” dan menjahit ulang gerbang itu dengan tangannya sendiri."

Bima menatapku. "Itu gila."

"Semua jalan ibuku gila, kata pamanmu," jawabku, dan ia tertawa β€” tawa yang pertama yang kudengar darinya yang tidak patah.

"Aku ikut," katanya kemudian, serius. "Aku kabur sekali β€” aku bisa masuk lagi. Aku tahu jalan-jalan kecil di atas sana, lorong-lorong yang tidak dijaga karena dewan terlalu sombong untuk menjaganya. Asal ada yang memegang ujung benangnya."

"Aku memegangnya," kataku. "Kali ini aku memegang semuanya."

"Tidak." Danan berdiri. "Aku tidak mengizinkanβ€”"

"Kau tidak akan membawaku terbang, Paman." Aku memotongnya β€” lembut, tetapi tidak memberinya ruang. "Cahayamu sudah terlalu tipis. Sayapmu sudah berlubang. Aku melihatnya semalam." Aku mengangkat benang perak-abu yang kini kujalin dengan benang emasku β€” kelabu dan emas berpilin seperti fajar. "Aku menjahit jalanku sendiri. Kau tidak perlu terbakar untukku lagi."

Ia menatapku β€” dan aku melihat pertarungan di wajahnya: penjaga yang ingin melindungi, paman yang ingin melarang, laki-laki yang tahu bahwa melarangku sama sia-sianya dengan melarang hujan.

Akhirnya ia menghela napas. Tangannya terangkat ke sayap kanannya β€” dan dengan gerakan yang cepat dan pasti, ia mencabut sehelai bulu. Bukan bulu biasa: bulu itu berkilau, masih menyimpan cahaya Langit Atas yang murni, hangat seperti matahari kecil.

"Bulu terakhir yang masih menyimpan cahaya Langit Atas," katanya, menekannya ke telapak tanganku dan menutup jari-jariku di atasnya. "Bawa ini. Kalau kau tersesat di atas sana, remas β€” ia akan menuntunmu pulang." Jemarinya berhenti sejenak di atas tanganku yang terkepal. "Atau menuntunku padamu."

Tangannya tinggal di atas tanganku β€” sedetik lebih lama dari seharusnya. Ibu jarinya menyentuh buku-buku jariku. Sekali. Seperti segel. Seperti janji yang tidak diucapkan.

"Pulanglah, Naya," katanya pelan. "Kali ini, biar aku yang menunggu."

Tenggorokanku tercekat. Aku menyelipkan bulu itu ke balik selendangku, dekat dengan hatiku β€” dekat dengan tempat simpul Ibu biasa berdenyut. "Aku selalu pulang, Paman," bisikku. "Kau yang mengajariku jalan pulang β€” dengan semua simpulmu."

Fajar merekah. Waktunya bekerja.

Aku kembali ke robekan seukuran telapak tangan itu dan menjahitnya dengan sungguh-sungguh kali ini β€” bukan jahitan sementara, melainkan tiga lapis simpul, kuat seperti dulu. Tetapi di lapisan terdalam, aku menyisakan sesuatu: jahitan yang terlihat seperti jaringan parut, yang kalau disentuh dengan benangku β€” hanya benangku β€” akan terbuka seperti kelopak.

Pintu yang hanya terbuka untuk benangku.

Lalu aku mengambil benang mati itu β€” kelabu, dingin, berdenyut pelan β€” dan aku menjahitnya ulang. Emas menembus kelabu. Kenanganku kupilin ke dalamnya: bau hujan, suara Ibu, cahaya Sekar, tawa Rangga yang khawatir, tangan Danan yang terbakar karena melindungiku. Setiap pilinan adalah janji: jalan ini milikku, bukan milik mereka. Jalan ke atas β€” tetapi jangkarnya di pergelangan tanganku, atas pilihanku sendiri. Ia terangkat dari tanganku seperti asap, seperti pertanyaan yang belum terjawab, mengarah ke langit yang memutih.

Di belakangku, aku mendengar Danan menahan napas. Aku tidak menoleh β€” kalau aku menoleh, aku akan goyah. Tetapi aku mengangkat tangan yang bebas dan melambaikan sekali, tanpa melihat ke belakang. Cukup. Ia akan mengerti.

Bima berdiri di sisiku. Tangannya melayang di dekat benang itu β€” tidak menyentuhnya, hanya merasakan arahnya. "Aku tahu jalannya," katanya. "Kau yang memegangnya."

"Aku yang memegangnya," tegasku.

Aku menyentuhkan benangku ke pintu tersembunyi itu. Ia terbuka β€” celah cahaya perak yang mustahil, lebarnya hanya cukup untuk dua orang yang berani.

Kami melangkah maju β€”

β€” dan sebuah suara datang dari atas, melalui celah itu. Bukan genta retak dewan. Satu suara. Lelah. Kukenal.

"Kau memanggilku, keponakanku?"

Aku membeku. Simpul Ibu di tangannya β€” tentu saja. Kedua simpul itu kembar; saat aku memutuskan, saat hatiku memilih jalan ke atas, simpul yang satunya berdenyut β€” dan ia merasakannya.

Ia berdiri di sisi lain pintu, dalam cahaya yang terlalu terang untuk ditatap langsung. Tanpa formasi. Tanpa gema. Sendirian. Dan ia tersenyum β€” untuk pertama kalinya aku melihatnya tersenyum: bukan gema, bukan tatanan. Senyum yang mirip sekali dengan Ibu hingga dadaku sakit.

"Akhirnya," katanya pelan, "kau memilih jalan ibumu." Ia mengulurkan tangannya β€” dan di telapaknya, simpul Ibu berdenyut hangat, hidup, menungguku. "Sekarang β€” maukah kau mendengar jalan kakak ibumu?"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!