β€Ή
2. Cahaya Emas di Hutan Jati

Cahaya Emas di Hutan Jati

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,788 kata

Ilustrasi Cahaya Emas di Hutan Jati

Naya tidak ingat kapan tepatnya kakinya mulai berlari. Yang ia ingat hanyalah suara Nek Wulan yang tertinggal di belakang β€” "Naya, jangan!" β€” lalu pekat hutan jati menelan cahaya senternya, dan di ujung barisan pohon, cahaya itu sudah menunggu: biru kehijauan, berdenyut seperti jantung raksasa yang terluka.

Akar-akar mencakar pergelangan kakinya. Ranting-ranting kering mencambuk pipinya. Napasnya terbakar di tenggorokan, dan setiap tarikan napas membawa bau tanah basah bercampur sesuatu yang lain β€” bau besi dan hujan yang tidak pernah turun. Bau yang sama dengan bulu hitam dingin di saku celananya.

Di belakangnya, entah seberapa jauh, suara Nek Wulan memanggil-manggil namanya, makin lama makin tenggelam oleh dengung aneh yang memenuhi udara β€” dengung rendah seperti ribuan lebah raksasa, datang dari arah cahaya. Jantung Naya berdegup begitu kencang sampai ia yakin suaranya terdengar oleh seluruh hutan.

Lalu pepohonan terbuka, dan ia melihatnya.

Gerbang itu β€” yang selama ini hanya datang dalam mimpi-mimpinya β€” kini berdiri nyata di tengah hutan, melengkung seperti tulang rusuk langit, memancarkan cahaya biru kehijauan yang membuat bayangan pepohonan menari-nari liar di tanah. Cahayanya begitu pekat sampai udara di sekitarnya tampak bergetar, seperti permukaan air yang disentuh.

Dan di tengahnya: retakan itu.

Garis hitam bergerigi, selebar lengan orang dewasa, membelah cahaya gerbang dari atas ke bawah. Dari sanalah asap hitam mengalir keluar β€” bukan mengepul seperti asap biasa, melainkan mengalir, kental dan hidup, seperti darah dari luka yang menganga. Asap itu bergulung-gulung ke arah desa, dan di dalam gulungannya, mata-mata merah menyala berpasangan-pasangan, menatap lurus ke arahnya. Menatap dia. Seolah mereka sudah menunggunya.

"Naya!"

Ia menoleh dengan sentakan. Danan berdiri di antara dua pohon jati, dadanya naik-turun memburu, dan matanya β€” mata emasnya β€” menyala dalam gelap seperti dua koin yang dibakar. Wajahnya yang biasanya tenang kini tegang, nyaris panik. "Mundur! Jangan dekati retakan itu!"

Sebelum Naya sempat menjawab β€” sebelum ia sempat bahkan berpikir β€” segumpal asap meledak dari retakan dan melesat ke arahnya dengan kecepatan yang mustahil, membentuk cakar raksasa di udara. Naya menjerit, kakinya terpaku, tangannya terangkat sia-sia melindungi wajahβ€”

β€”dan cahaya emas menyambar.

Danan sudah ada di depannya, entah bagaimana berpindah sejauh belasan meter dalam sekejap. Tangannya terangkat, dan dari telapak tangannya terburai benang-benang cahaya keemasan β€” puluhan, ratusan benang tipis berkilau β€” yang memotong cakar asap itu menjadi serpihan-serpihan hitam yang menguap dengan bunyi mendesis, seperti air yang diteteskan ke bara.

"Kau tidak seharusnya ke sini!" bentak Danan tanpa menoleh. Benang-benang cahaya di tangannya berputar dan memadat menjadi semacam pedang tipis yang berdenyut. "Kau belum siap!"

"Aku yang melihatnya duluan!" Naya berteriak balik, dan ia sendiri terkejut oleh keberanian yang tiba-tiba menyembur dari dadanya. "Itu muncul dalam mimpiku duluan β€” jadi ini urusanku juga!"

Asap itu menyerang lagi. Tiga, empat, lima gumpalan sekaligus meledak dari retakan, mata merahnya menyala liar, lolongannya β€” ya, mereka melolong, suara seperti angin yang terjepit di celah batu β€” memenuhi hutan. Danan bergerak seperti tarian yang sudah dihafal selama seribu tahun: memutar, menebas, merunduk. Benang emasnya menjerat satu gumpalan dan mencabiknya menjadi kabut. Pedang cahayanya membelah yang lain menjadi dua.

Tapi mereka terlalu banyak.

Satu gumpalan lolos dari jangkauan Danan, melesat rendah di atas tanah seperti binatang buas, langsung ke arah Naya. Mata merahnya membesar, memenuhi seluruh pandangannya, dan Naya mencium bau busuk β€” bau kuburan tua yang dibuka paksaβ€”

β€”dan bulu hitam di saku celananya terbakar.

Bukan terbakar panas. Terbakar dingin β€” menusuk, menggigit, seperti es yang ditusukkan langsung ke kulit. Naya merogoh sakunya dengan tangan gemetar dan menarik keluar bulu itu. Kini ia bersinar. Urat-urat halusnya memancarkan cahaya biru kehijauan yang sama persis dengan cahaya gerbang, berdenyut seirama dengan dengung di udara.

Waktu melambat menjadi tetesan-tetesan kental.

Naya mendengar Danan meneriakkan namanya, jauh sekali, seperti dari dasar sumur. Gumpalan asap itu sudah sejengkal dari wajahnya. Mata merahnya β€” begitu dekat kini β€” bukanlah mata binatang. Di dalamnya ada sesuatu yang berpikir. Sesuatu yang mengenali. Dan entah dari mana, kata-kata itu naik dari tenggorokannya sendiri β€” kata-kata yang tidak pernah ia pelajari, dalam bahasa yang tidak pernah ia dengar, namun lidahnya menuturkannya dengan sempurna, dengan keyakinan yang bukan miliknya:

"Balik. Tutup. Kembali ke langit."

Cahaya meledak dari telapak tangannya.

Bukan emas seperti milik Danan β€” melainkan biru kehijauan, warna gerbang, warna mimpi-mimpinya. Cahaya itu menghantam gumpalan asap tepat di wajahnya, dan makhluk itu melolong β€” suara seperti kaca raksasa yang diremukkan β€” lalu tubuhnya terpelintir, tercabik, dan terhisap kembali ke dalam retakan dengan paksa, menyeret dua gumpalan lain yang terlalu dekat bersamanya.

Retakan itu bergetar hebat, seperti binatang yang kesakitan. Tepi-tepinya yang hitam bergerigi menggeliat, lalu perlahan β€” sangat perlahan β€” mulai merapat. Dari selebar lengan menjadi selebar jari. Dari selebar jari menjadi selebar rambut. Hingga tinggal garis tipis berkedip-kedip seperti urat nadi yang hampir padam.

Asap yang tersisa menciut, melolong pelan, dan tersedot kembali ke dalam kegelapan di balik gerbang.

Hening.

Hanya napas mereka berdua yang tersengal-sengal dan dengung pelan gerbang yang kini tenang kembali, berdenyut lembut seperti orang yang tertidur. Bulu di tangan Naya hancur menjadi abu dingin yang beterbangan, ditiup angin malam, hilang di antara pepohonan.

Lutut Naya lemas. Ia terduduk di tanah yang dingin, tangannya masih terangkat, masih bergetar hebat.

"Kauβ€”" Danan menatapnya, pedang cahayanya padam menjadi titik-titik emas yang menguap. Wajahnya pucat pasi. "Kau baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya mustahil. Kata-kata itu β€” dari mana kau mempelajarinya?"

"Aku tidak mempelajarinya," bisik Naya. Tenggorokannya kering. "Kata-kata itu... keluar sendiri. Seperti... seperti aku pernah mengatakannya. Dulu sekali."

Cahaya lentera bergoyang di antara pepohonan. Nek Wulan muncul dari kegelapan, terengah-engah, selendangnya basah oleh embun malam, sandal jepitnya penuh lumpur. Matanya yang tua berpindah dengan cepat: dari gerbang yang kini tenang, ke Danan yang berdiri kaku, ke Naya yang terduduk di tanah.

Dan yang Naya lihat di wajah neneknya bukanlah keterkejutan.

Melainkan duka. Duka yang sudah disiapkan selama bertahun-tahun, menunggu malam ini tiba.

"Pulang," kata Nek Wulan pelan, suaranya serak. "Kita bicara di rumah."

Perjalanan pulang terasa seperti berjalan di dalam mimpi buruk yang bergerak lambat. Tidak ada yang bicara. Di belakang mereka, gerbang itu perlahan memudar β€” cahayanya meredup, lengkungannya larut ke dalam gelap β€” hingga hutan jati kembali menjadi sekadar hutan jati, seolah tidak pernah ada apa-apa di sana. Tapi Naya tahu. Tubuhnya masih gemetar mengetahuinya. Ia sudah melihat, dan tidak ada cara untuk tidak melihat lagi.

Di rumah, Nek Wulan menyalakan lampu minyak dan menuang tiga cangkir teh yang tidak disentuh siapa pun. Lama ia duduk menatap cucunya β€” menatap seolah menghafal wajah itu untuk terakhir kalinya. Lalu ia menghela napas panjang, napas orang yang akhirnya meletakkan beban yang terlalu lama dipikul sendirian.

"Ibumu bernama Raras," kata Nek Wulan. "Dan sebelum ibumu, ada ibumu dari ibumu β€” nenek buyutmu, Sakinah. Dan sebelum Sakinah, ibu-ibu yang lain, terus ke belakang sampai nama mereka hilang dari silsilah desa, hilang dari ingatan siapa pun kecuali keluarga kita. Garis ibu, Naya. Selalu garis ibu. Tidak pernah garis ayah."

"Garis ibu... untuk apa?" suara Naya nyaris tidak terdengar.

"Penjaga Gerbang Langit." Nek Wulan menatap lurus ke matanya, dan tidak ada keraguan sedikit pun di wajah tuanya. "Kita adalah keturunannya. Gerbang yang kau lihat di hutan itu adalah segel antara dunia kita dan Langit β€” dunia di atas sana. Dan keluarga kita, selama ratusan tahun, adalah yang menjaganya tetap tertutup."

Naya tertawa β€” pendek, gugup, nyaris histeris. "Nek, ini gila. Iniβ€”"

"Ibumu meninggal bukan karena demam."

Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air yang tenang. Suara Nek Wulan tidak bergetar sama sekali, dan justru itu yang paling menakutkan.

"Lima belas tahun lalu, retakan kecil muncul di gerbang β€” seperti malam ini, tapi lebih kecil. Ibumu pergi ke sana sendirian, tengah malam, tanpa memberitahuku. Ia melakukan apa yang baru saja kau lakukan β€” ia menutupnya. Tapi retakan sekecil apa pun meminta harga. Ibumu kembali... tidak sepenuhnya. Seperti lilin yang sumbunya sudah terbakar habis. Tiga hari kemudian, ia pergi dalam tidurnya." Nek Wulan berhenti, menelan ludah. "Itulah harga yang kubayar karena terlambat menceritakan kebenaran padanya. Aku bersumpah pada diriku sendiri tidak akan mengulanginya padamu β€” tapi lihat, aku malah hampir melakukannya. Terlambat, seperti ibumu bilang dulu. Kita selalu terlambat."

Air mata mengalir di pipi Naya tanpa ia sadari. "Kenapa... kenapa Nek Wulan tidak pernah cerita? Kenapa aku harus tahu dari mimpi?"

"Karena selama kau tidak tahu, kau aman." Nek Wulan menggenggam tangan cucunya, tangannya yang keriput gemetar. "Kunci tidak memanggil yang tidak tahu, Naya. Itu aturan pertamanya. Tapi rupanya ia sudah memanggilmu sejak lama. Mimpi-mimpimu, kan? Gerbangnya. Dan kuncinya β€” kunci tulang burung itu."

Naya tersentak. "Nek Wulan tahu soal kunci itu?"

"Aku yang memberitahumu dalam mimpimu untuk tidak menyentuhnya," kata Nek Wulan lirih. "Atau setidaknya, aku mencoba. Ada hal-hal yang bahkan dalam mimpi pun sulit dikatakan."

Danan yang sedari tadi diam di sudut ruangan akhirnya melangkah maju ke lingkaran cahaya lampu minyak. "Namaku Danan," katanya, menatap Naya dengan mata emasnya yang kini redup, "dan aku adalah Pengawal. Setiap pewaris memiliki satu. Ditugaskan sejak ia lahir β€” untuk mengawasi dari jauh, untuk memastikan garis penjaga tidak putus, sampai waktunya tiba."

"Sejak aku lahir?" Naya menatapnya tidak percaya. "Kau mengawasiku selama sembilan belas tahun? Selama ini kauβ€”"

"Aku yang memastikan kau tidak tersesat ke hutan saat kecil. Aku yang mengusir bayang-bayang pertama yang mencoba mendekatimu saat kau berumur tujuh tahun β€” yang kau kira hanya mimpi buruk." Danan tersenyum tipis, getir. "Mataku ini adalah tanda darah langit. Aku bukan sepenuhnya manusia, Naya. Tidak ada Pengawal yang sepenuhnya manusia."

"Lalu makhluk-makhluk tadi?" tanya Naya. "Asap bermata merah itu β€” apa mereka?"

"Kaum Bayang." Wajah Danan mengeras. "Mereka yang terbuang saat gerbang disegel ratusan tahun lalu. Mereka hidup di celah β€” tidak di sini, tidak di Langit β€” dan mereka membenci segel itu. Setiap retakan adalah pintu bagi mereka. Jika retakan membesar, jika gerbang sampai terbuka... batas antara dunia akan runtuh. Dan mereka akan masuk. Semua."

"Dan kata-kata Nek Wulan tadi β€” 'kita terlambat seratus tahun'?"

Nek Wulan dan Danan saling berpandangan β€” pandangan yang menyimpan sesuatu yang belum boleh dikatakan. "Itu," kata Nek Wulan akhirnya, pelan, "adalah bagian yang belum kuceritakan. Malam ini kau sudah menerima terlalu banyak. Tidurlah. Besok... besok kita mulai dari awal."

"Aku tidak bisa tidur setelah ini!"

"Kau harus mencoba." Nek Wulan berdiri, mematikan lampu minyak, menyisakan cahaya bulan yang masuk lewat jendela. "Karena mulai besok, tidak ada lagi Naya yang hanya cucu penjual jamu di Desa Langit Biru. Mulai besok, kau adalah pewaris. Dan pewaris tidak punya kemewahan untuk tidak tidur."

Naya ingin berteriak, ingin menangis, ingin tertawa β€” semuanya sekaligus, semuanya tertahan di tenggorokannya seperti batu. Ia berjalan gontai ke kamarnya, merebahkan diri di dipan tanpa mengganti pakaian, menatap langit-langit yang gelap.

Ibu. Raras. Lima belas tahun ia percaya ibunya meninggal karena demam. Lima belas tahun ia berziarah ke makam yang menyimpan kebohongan.

Lalu angin malam berembus lewat jendela kamarnya yang terbuka, membawa serta bau hutan jati β€” dan sesuatu yang membuat darahnya membeku, jantungnya berhenti, dan air matanya yang tadi tertahan akhirnya tumpah juga.

Suara. Pelan, jauh, seperti datang dari dasar hutan β€” dari arah gerbang. Suara perempuan, bernyanyi pelan dengan nada yang sangat dikenalnya, nada nina bobo yang dulu dinyanyikan untuknya, memanggil satu nama.

Namanya.

"Naya..."

Itu suara ibunya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!