β€Ή
87. Lagu yang Menutup dari Dalam

Lagu yang Menutup dari Dalam

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,443 kata

Ilustrasi Lagu yang Menutup dari Dalam

Danan menangkap Laras tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu.

Bukan dengan kasar, bukan dengan tarikan yang mengejutkan. Danan berlutut di depannya, memegang kedua bahunya dengan lembut, dan memanggil namanya, sekali, dua kali, tiga kali, sampai nyanyian bait penunggu itu putus di tengah nada, dan mata Laras yang tadi terbuka lebar itu berkedip, lalu benar-benar melihat kami.

"Naya?" bisik Laras, bingung, seperti anak yang baru saja dibangunkan dari mimpi yang terlalu nyata. "Kenapa aku di pintu? Aku tadi di tempat tidur."

"Kamu berjalan dalam tidur," kata Danan, suaranya dijaga tetap tenang, meskipun tangannya masih gemetar di bahu Laras. "Tidak apa-apa. Kamu sudah bangun sekarang. Kamu di rumah."

Tetapi aku tahu, dan Danan tahu, bahwa itu bukan sekadar berjalan dalam tidur. Anak kecil yang berjalan dalam tidur tidak menyanyikan bait yang tidak pernah diajarkan kepadanya, dengan suara yang bukan sepenuhnya suaranya. Anak kecil yang berjalan dalam tidur tidak berjalan menuju bukit dengan langkah yang begitu pasti.

Malam itu kami tidak tidur lagi. Kami duduk bertiga di kamar Laras, dengan lentera kecil menyala, dan kami menyanyikan lagu penjaga dengan suara pelan, bukan lagu patroli yang penuh, melainkan senandung penjaga yang biasa dinyanyikan orang tua untuk anak yang gelisah. Laras tertidur lagi menjelang fajar, kali ini tanpa nyanyian, tanpa langkah, hanya napas yang pelan dan teratur. Dan aku duduk di sampingnya sampai matahari naik, menjaga tidurnya seperti menjaga lingkaran.

Pagi harinya, aku mendaki sendirian, lebih awal dari yang lain, dan aku langsung menuju penjaga pintu. Aku tidak berbasa-basi. Aku menceritakan apa yang terjadi semalam, setiap detailnya, termasuk suara yang berubah di akhir bait, termasuk langkah Laras menuju pintu.

Penjaga pintu mendengarkan tanpa menyela, dan ketika aku selesai, ia menatap kendi itu lama, lalu menatapku.

"Menyanyi bersama mengikat," katanya. "Itulah yang tidak pernah kukatakan dengan jelas, karena aku mengira kalian sudah tahu. Ketika dua suara menyanyikan bait yang sama, dari dua sisi, mereka tidak hanya berbagi lagu. Mereka berbagi jalan. Laras menyanyikan bait itu bersama makhluk itu, dan makhluk itu menyanyikan bait itu bersama Laras. Jalan itu kini ada di antara mereka, dan jalan itu bisa dilalui dari dua arah. Malam tadi, jalan itu dilalui dari arah kendi menuju Laras, lewat mimpi."

"Jadi Laras dalam bahaya karena ia menyanyi bersama?" tanyaku, dan suaraku keluar lebih tajam dari yang kumaksud, karena Laras hanyalah anak kecil yang memuji temannya yang sedang belajar.

"Bukan bahaya karena menyanyi," kata penjaga itu. "Bahaya karena menyanyi tanpa penjaga yang memegang tangannya. Laras menyanyi bersama, tetapi ia masih anak kecil, dan jalan yang terbuka untuk anak kecil bisa dilalui oleh apa pun yang tahu jalan itu. Karena itu, mulai malam ini, Laras tidak boleh menyanyi bersama makhluk itu tanpa kamu atau Danan menyanyi bersamanya, memegang tangannya, dan menutup jalan itu setelah lagu selesai."

"Bagaimana cara menutup jalan itu?" tanyaku.

Penjaga itu diam sejenak, lalu berkata, "Dengan mengajarkan bait yang selama ini tidak pernah kami ajarkan kepada siapa pun dari sisi lain. Bait menjaga dari dalam. Bukan bait membuka, bukan bait menutup dari luar. Bait yang dinyanyikan oleh penjaga yang berdiri di dalam batas, untuk menjaga batas itu dari sisi tempat ia berdiri. Kalau makhluk itu mempelajari bait itu dengan sungguh-sungguh, ia akan belajar menjaga dari tempatnya sendiri, dari dalam kendi, dan jalan antara ia dan Laras akan berubah: bukan lagi jalan untuk berjalan menuju satu sama lain, melainkan jalan untuk saling menjaga dari tempat masing-masing."

Aku menelan ludah. "Kamu memintaku mengajarinya lagi? Setelah kemarin kita menolak mengajarinya membuka, sekarang kita mengajarinya bait lain?"

"Aku memintamu mengajarinya menjaga, bukan membuka," kata penjaga itu. "Ada bedanya, dan beda itu adalah seluruh penjagaan ini. Membuka memberi jalan keluar. Menjaga dari dalam memberi alasan untuk tetap di dalam, dengan tenang, sampai waktunya tiba. Kalau ia tidak diajari menjaga dari dalam, ia akan terus mencari jalan keluar dengan bait membuka yang ia ingat. Kalau ia diajari menjaga dari dalam, ia punya sesuatu yang lain untuk dinyanyikan selain bait membuka."

Aku membawa kabar itu kepada yang lain, dan seperti yang kuduga, perdebatan kembali terjadi. Wulan setuju dengan cepat. "Kalau itu melindungi Laras, kita ajarkan," katanya. "Laras lebih penting daripada ketakutan kita tentang apa yang akan ia pelajari."

Sela lebih hati-hati. "Setiap bait yang kita ajarkan adalah satu langkah lagi ia mendekati kita. Bait menjaga dari dalam memang bukan bait membuka, tetapi bait itu tetap diajarkan oleh kita, dan setiap ajaran membuat jarak semakin tipis. Kita harus yakin bait ini benar-benar menutup jalan, bukan membuka jalan yang baru."

Danan, yang sejak semalam tidak banyak bicara, akhirnya berkata, "Aku tidak peduli tentang jarak. Aku peduli Laras tidak berjalan lagi dalam tidur menuju pintu. Kalau bait ini yang menghentikannya, ajarkan. Kalau bait ini gagal, kita cari cara lain. Tetapi kita tidak bisa membiarkan Laras berjalan lagi malam ini."

Keputusan itu membuat kami mendaki lagi sore harinya, lebih awal dari patroli malam biasa, dengan cahaya matahari yang masih cukup untuk melihat retak itu dengan jelas. Retak itu masih ada, masih tipis, tetapi cahaya pucat dari dalamnya kini lebih redup daripada kemarin, seperti api yang sudah mulai belajar untuk tidak membakar.

Kami duduk dalam lingkaran, Laras di tengah, tangannya dipegang olehku dan Danan, dan aku menyanyikan bait menjaga dari dalam, pelan, jelas, satu bait penuh. Bait tentang berdiri di tempat sendiri dan menjaga agar tempat itu tetap tenang. Bait tentang lagu yang tidak perlu pergi ke mana-mana untuk menjadi penjagaan. Bait tentang pintu yang dijaga bukan dengan dibuka, melainkan dengan dinyanyikan dari dalam, supaya yang di luar tahu bahwa yang di dalam sedang menjaga, bukan sedang menunggu untuk keluar.

Ketika bait itu selesai, keheningan jatuh, dan dari dalam kendi, suara kecil itu mencoba mengulang.

Nada pertamanya salah, seperti dulu. Nada keduanya terlalu tinggi. Tetapi pada pengulangan ketiga, sesuatu berubah. Nada yang selama ini selalu ia selipkan, nada miliknya sendiri yang berbeda dari lagu kami, kini tidak lagi terdengar seperti nada yang menyelinap. Nada itu terdengar seperti nada yang menemukan tempatnya, di antara nada-nada bait menjaga dari dalam, seperti seseorang yang akhirnya menemukan kursi yang memang disediakan untuknya.

Dan cahaya dari dalam retak itu berubah. Bukan lagi pucat. Cahaya itu menjadi lebih hangat, sedikit, seperti cahaya lentera yang dinyalakan dari dalam ruangan yang gelap, bukan cahaya yang merembes karena dindingnya retak.

Laras, yang memegang tanganku, berbisik, "Dia tidak menyanyi sendirian lagi. Dia menyanyi seperti kita."

Penjaga pintu mengangguk, pelan. "Itu tandanya bait itu dipelajari dengan benar. Ia tidak lagi menyanyi untuk keluar. Ia menyanyi untuk menjaga tempatnya."

Sebelum kami pulang, penjaga pintu memintaku mendekat. Ia menunjuk retak itu, yang cahayanya kini hangat tetapi garisnya tetap terlihat jelas, seperti bekas luka yang tidak hilang hanya karena lukanya sudah tidak berdarah lagi.

"Retak tidak akan menutup dengan bait ini," katanya. "Bait menjaga dari dalam membuat retak itu tenang, bukan hilang. Retak adalah bukti bahwa sesuatu pernah belajar dari dua sisi sekaligus. Bukti seperti itu tidak dihapus. Ia dijaga, seperti jejak yang tidak dihapus sembarangan. Kalau suatu hari retak ini menutup sendiri, itu karena makhluk di dalamnya sudah tidak lagi membutuhkan jalan untuk didengar. Sampai hari itu, tugas kita bukan menutup retak, melainkan memastikan tidak ada yang masuk atau keluar lewat retak tanpa lagu."

Wulan, yang mendengar itu, bertanya dengan pelan, "Apakah cahaya hangat itu berarti ia sudah tenang, atau berarti ia sudah semakin dekat? Karena cahaya yang hangat terasa lebih dekat daripada cahaya yang pucat."

Penjaga itu tidak langsung menjawab. Ia menatap kendi itu, lalu menatap Laras yang sedang memegang tangan Danan. "Keduanya," katanya akhirnya. "Tenang dan dekat adalah dua hal yang datang bersamaan, dan itulah kenapa penjagaan ini sulit. Yang tenang belum tentu aman. Yang dekat belum tentu berbahaya. Kita menjaga keduanya, dengan lagu, malam demi malam, sampai kita tahu yang mana."

Kami pulang dengan perasaan yang lebih ringan daripada kemarin, tetapi ringan itu bercampur dengan hati-hati yang baru. Dan malam itu Laras tidur tanpa berjalan, tanpa menyanyi dalam tidur, hanya napas yang tenang. Aku sempat berpikir, untuk pertama kalinya dalam tiga hari, bahwa mungkin kami akhirnya menemukan bait yang tepat, bait yang tidak membuka dan tidak mengurung, melainkan memberi tempat.

Tetapi pagi berikutnya, ketika kami kembali ke bukit untuk memeriksa kendi, retak itu tidak menutup. Retak itu justru memanjang lagi, satu garis rambut, sangat tipis, tetapi jelas, ke arah lingkaran.

Dan dari dalam retak yang baru memanjang itu, di siang yang terang, keluar sesuatu yang bukan cahaya dan bukan suara.

Sebuah tangan kecil, pucat, dengan jari-jari yang kurus dan gemetar, merayap keluar dari retak, meraba udara di luar kendi, dan menggenggam, pelan-pelan, ke arah tempat Laras berdiri.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!