β€Ή
49. Nama yang Hancur

Nama yang Hancur

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,305 kata

Ilustrasi Nama yang Hancur

"KETEMU."

Satu kata. Dan seluruh gudang berhenti bernapas.

Melalui celah di puncak loncengku, aku melihat retakan langit itu β€” kini bukan di langit. Di sini. Di dalam gudang. Kegelapan menganga di atas kami seperti mulut raksasa β€” dan dari dalamnya, sesuatu turun. Bukan sosok berjubah. Bukan pencatat. Sesuatu yang tidak punya bentuk β€” hanya... kehadiran. Tekanan. Seperti seluruh gudang tiba-tiba menjadi lebih kecil.

Danan menghunjamkan jangkar pertamanya lebih dalam ke dinding tenunan β€” cahaya perak berdenyut liar. "Naya. Selesaikan. SEKARANG."

Tanganku bergerak. Simpul demi simpul. Aku tidak lagi berhati-hati β€” tidak ada waktu untuk hormat, tidak ada waktu untuk sabar. Aku menarik, merobek, mengurai β€” dan setiap tarikan mengirimkan nyeri yang membakar lenganku. Benang-benang bebas beterbangan di sekitarku seperti kunang-kunang emas.

Tinggal sedikit. Tinggalβ€”

Benang hitam itu melata ke arahku β€” cepat, seperti ular yang mencium mangsa. Ia melilit pergelangan tanganku β€” DINGIN β€” dan aku menjerit. Bukan karena sakit. Karena... aku bisa merasakan apa itu. Bukan benang. Bukan utang. Tapi... kebohongan yang ditenun menjadi nyata. Setiap kebohongan yang pernah dikatakan Dewan tentang keluargaku β€” bahwa kami peminjam, bahwa kami gagal, bahwa kami pantas digantung β€” semuanya dipadatkan menjadi benang ini.

"Jangan sentuh itu dengan tanganmu!" teriak Danan.

Tapi sudah terlambat. Benang hitam itu merambat naik ke lenganku β€” dan di mana ia menyentuh, cahayaku meredup. Aku bisa merasakan pikiran-pikiran asing merayap masuk: menyerah, katanya. Kau tidak akan pernah lunas. Keluargamu memang peminjam. Itu sifatmu.

"TIDAK." Aku mencengkeram benang hitam itu dengan tangan kiriku β€” tangan yang tidak memegang apa-apa β€” dan aku menarik.

Rasanya seperti mencabut akarku sendiri.

Tapi aku menarik terus β€” dan benang hitam itu terlepas dari lenganku, dari tenunan, dari dinding β€” dan aku melemparkannya ke lantai lonceng. Ia menggeliat seperti cacing yang dipotong β€” lalu diam. Lalu... hancur. Menjadi debu hitam yang beterbangan.

"Tinggal satu," bisikku β€” menatap simpul terakhir. Simpulku sendiri. Sumpahku untuk menenun gerbang kembali.

Aku menyentuhnya β€” pelan. Ini bukan utang. Ini janji. Janjiku sendiri. Dan aku tidak akan mengurainya.

"Aku simpan yang ini," kataku β€” pada lonceng, pada Dewan, pada semuanya. "Ini milikku. Bukan milikmu."

Aku mengangkat tanganku β€” benang emasku menyala terang β€” dan aku... menenun. Bukan mengurai. Menenun. Aku mengambil semua benang bebas di sekitarku β€” benang Nini, benang buyutku, semua utang yang sudah lunas β€” dan aku menenunnya menjadi satu. Satu benang. Satu garis. Milikku.

Lalu aku mengikatnya β€” ke dinding lonceng.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Danan β€” matanya ke retakan di atas, ke kegelapan yang semakin turun.

"Wulan bilang: hancurkan dari dalam." Aku tersenyum β€” liar, berani, mungkin gila. "Tapi aku penenun. Aku tidak menghancurkan. Aku... menenun ulang."

Aku menarik benang tunggal itu β€” KENCANG β€”

Dan loncengku β€” retak.

Retakan pertama melintang di dinding tenunan β€” cahaya keemasan menyembur keluar. Retakan kedua. Ketiga. Dewan meraung β€” suara yang bukan suara, tekanan yang menghancurkan β€” tapi sudah terlambat.

Lonceng raksasa bertuliskan namaku β€” pecah.

Bukan meledak. Pecah β€” seperti telur. Seperti kepompong. Dinding-dinding tenunan terbelah, perunggu tua berjatuhan dalam kepingan-kepingan besar β€” dan aku berdiri di tengahnya, Danan di sampingku, jangkar pertamanya masih menyala β€” dikelilingi reruntuhan loncengku sendiri.

Dan namaku β€” ukiran NAYA di permukaan perunggu β€” retak, pecah, dan... larut. Huruf demi huruf menjadi debu emas yang beterbangan β€” lalu hilang.

Utangku β€” hilang. Bukan dibayar. Dibatalkan. Karena tidak pernah ada. Karena sebagian besar adalah kebohongan yang ditenun Dewan.

Keheningan.

Lalu β€” dari retakan langit di atas β€” suara Dewan. Bukan raungan. Bukan perintah. Sesuatu yang belum pernah kudengar darinya:

Ketakutan.

"PEWARISβ€”"

"Tidak ada lagi pewaris utang," kataku β€” suaraku bergema di gudang yang sunyi. "Hanya ada penenun."

Kegelapan dari retakan itu menyembur turun β€” cepat, marah β€” tapi Danan sudah bergerak. Ia mengangkat jangkar pertama β€” TINGGI β€” dan menghunjamkannya ke lantai batu.

"BERHENTI."

Cahaya perak meledak dari ujung jangkar β€” menyebar seperti jaring β€” dan kegelapan itu... berhenti. Terpaku. Seperti serangga di papan. Aku bisa melihatnya dengan mata penenunku: paku-paku cahaya menahan kegelapan di tempatnya, memakukannya pada lantai, pada udara, pada... keberadaan itu sendiri.

Jangkar pertama. Ia tidak hanya menjangkar benda. Ia menjangkar... apapun.

Danan terengah β€” keringat membasahi wajahnya, tangannya gemetar memegang jangkar. "Naya. Lonceng Sela. Sekarang β€” sebelumβ€”"

Aku berlari. Keluar dari reruntuhan loncengku β€” kakiku menginjak kepingan perunggu β€” ke lonceng perak kecil yang masih tergantung di samping. Lonceng Sela. Masih berdenyut pelan, polos, tidak bersalah.

Aku meraihnya β€” dan berhenti. Tanganku gemetar.

Kalau aku melepaskannya dari gantungannya β€” apa yang terjadi? Apakah benang Sela akan bebas? Atau... apakah aku akan merusaknya?

Tidak ada waktu untuk ragu. Aku menggenggam lonceng kecil itu β€” HANGAT, seperti burung kecil β€” dan menariknya dari gantungannya.

Benang tipis Sela β€” yang turun ke bawah β€” bergetar β€” lalu... terlepas. Bukan putus. Terlepas β€” seperti tali yang dilepas dari tiang. Ujungnya melayang β€” dan aku menangkapnya β€” dan aku... mengikatnya. Ke benangku. Ke benang emas-perak yang terjalin.

Sela kini terikat padaku. Bukan pada gudang. Padaku.

Lonceng kecil itu berdenyut di telapak tanganku β€” hangat, hidup β€” dan aku memasukkannya ke saku bajuku. Dekat jantungku.

"Naya!" Danan menarik jangkarnya dari lantai β€” kegelapan yang terpaku mulai bergerak lagi, paku-paku cahaya retak satu per satu. "PINTU! Kita harus ke pintu!"

Kami berlari.

Gudang itu β€” runtuh. Bukan bangunannya β€” tenunannya. Tanpa loncengku sebagai salah satu simpul utama, pola di sekitar kami mulai... terurai. Lorong-lorong bergeser. Lonceng-lonceng berdenting panik. Pencatat itu muncul di depan kami β€” bukunya terbuka lebar, halaman-halamannya membalik liar β€” tapi kami tidak terlihat. Kami masih kesalahan jahit. Kami masih tidak ada dalam catatan.

Kami berlari melewatinya β€” begitu dekat hingga jubahnya menyentuh bahuku β€” dingin seperti kematian β€” tapi ia tidak menoleh.

Di depan kami, lorong itu... runtuh. Bukan batunya β€” tenunannya. Lantai di bawah kami bergetar β€” dan aku melihat dengan mata penenunku: pola tenunan gudang terurai seperti sweter yang ditarik benangnya. Lonceng-lonceng di atas kami bergoyang liar di gantungannya β€” beberapa jatuh, menghantam lantai dengan dentang yang memekakkan, pecah menjadi kepingan dan benang-benang yang beterbangan seperti lebah marah.

"Naya, ke sini!" Danan menarikku ke samping saat sebuah lonceng sebesar drum jatuh tepat di tempat kami berdiri sedetik lalu. Kepingan perunggu beterbangan β€” satu menggores lenganku β€” panas, perih.

"Aku tidak apa-apa!" Aku bangkit β€” darah menetes dari goresan itu, tapi aku tidak peduli. "Terus!"

Kami berlari di antara lonceng-lonceng yang jatuh β€” seperti berlari di tengah hujan besi. Danan mengangkat jangkar pertamanya β€” dan setiap kali sebuah lonceng jatuh ke arah kami, ia... memakukannya. Di udara. Lonceng-lonceng itu berhenti β€” terpaku di tengah jatuh β€” tergantung di kehampaan seperti serangga di amber. Cahaya perak berdenyut di setiap paku.

"Jangan berhenti mengagumi!" teriak Danan β€” wajahnya pucat, tangannya gemetar. Setiap paku menghabiskan tenaganya. "LARI!"

Pintu cahaya Wulan β€” di depan. Tapi ia... berkedip. Tenunan Wulan melemah. Simpul-simpulnya terurai satu per satu.

"Wulan!" jeritku.

Kami melompat β€”

β€” dan mendarat di taman.

Panas. Bau bunga. Suara jangkrik. Dunia yang nyata.

Tapi taman kami β€” hancur setengah. Kegelapan dari lonceng kosong itu kini menutupi tiga perempat taman β€” bunga-bunga simpul hilang, hanya menyisakan tanah kosong yang... bukan tanah. Kehampaan. Lubang di dunia.

Dan di tengahnya β€” Wulan. Berlutut. Benang emas tuanya β€” meredup, hampir padam. Tangannya masih terangkat β€” menjaga pintu di belakang kami tetap terbuka β€” tapi tubuhnya gemetar hebat.

"NENEK!"

Aku berlari ke arahnya β€” tapi Danan menahanku. "Lonceng kosong," katanya β€” menunjuk.

Lonceng terbalik itu masih menggantung β€” mulutnya menghadap ke bawah β€” dan kegelapan masih mengalir darinya. Tapi kini... ia bergerak. Bukan menyebar acak. Ia bergerak β€” menuju rumah kami. Menuju pintu yang tertutup. Menuju Ibu dan Sela.

"Ia mencari nama baru," bisik Wulan β€” suaranya hampir tidak terdengar. "Loncengmu hancur... utangmu hilang... jadi ia... mencari pengganti."

Jantungku berhenti.

Lonceng kecil di sakuku β€” lonceng Sela β€” berdenyut. Hangat. Terlalu hangat.

Aku mengeluarkannya β€” dan melihatnya.

Retak. Garis retak tipis melintang di permukaan perak β€” dan dari retakan itu, cahaya... bocor. Bukan cahaya perak. Cahaya hitam. Kegelapan kecil yang merembes keluar.

"Tidak," bisikku. "Tidak, tidakβ€”"

Lonceng Sela β€” retak. Dan melalui retakan itu, lonceng kosong di langit... bisa menciumnya. Bisa mencium nama di dalamnya.

Kegelapan itu berhenti bergerak menuju rumah β€” dan berbalik.

Menuju aku.

Menuju lonceng kecil di tanganku.

Menuju nama adikku.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!