Pesan dari Sisi Perak
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,522 kata
Aku tidak tidur malam itu. Tidak ada yang tidur.
Jaring kami tergantung di atas taman seperti langit kedua β berdenyut pelan, emas dan perak bercampur. Titik-titik emas terus menyala β desa-desa yang memilih. Setiap kali satu titik baru menyala, Sela bersorak kecil, dan kunang-kunang benang berputar lebih cepat, seolah ikut merayakan.
Tapi aku tidak bisa berhenti menatap garis-garis perak yang merambat di antara benang-benang kami.
Mereka bergerak. Pelan β sangat pelan, seperti akar yang tumbuh β tapi bergerak. Dari simpul ke simpul. Dari desa ke desa. Dan setiap kali garis perak itu mencapai satu titik emas β titik itu berkedip. Tidak padam. Berkedip β seperti seseorang yang sedang berpikir ulang.
"Berapa banyak?" tanya Danan. Ia duduk di sampingku di tepi taman, jangkarnya tergeletak di tanah anyaman. Ia tidak menatap jaring. Ia menatap tanganku β pergelangan tanganku yang kosong, tempat benang emas ibuku biasa melingkar.
"Aku tidak menghitung," kataku. Bohong. Aku menghitung. Tujuh belas titik berkedip.
"Kau seharusnya tidak memberikan benang itu," katanya.
"Aku tahu."
"Kau mempertaruhkan ibumu."
"Aku mempertaruhkan benang," kataku lagi β tapi kali ini suaraku tidak setegak tadi. Malam membuat semua kata terdengar lebih tipis.
Danan diam lama. Lalu β pelan, hampir tidak terdengar β "Jangkar ini juga bukan aku."
Aku menoleh. Ia menatap jangkarnya β besi besar yang ia pasang kembali karena ia mau, bukan karena dipaksa. Luka perak di bahunya berkilau samar.
"Waktu mereka mencabutnya," katanya, "aku mengira aku selesai. Prajurit tanpa jangkar β seperti penjaga tanpa benang." Ia tersenyum miring β senyum yang belum pernah kulihat sebelum malam jaring itu dibuat. "Ternyata aku masih bisa memilih untuk memasangnya lagi. Dan pilihan itu β" ia mengangkat bahu, "β lebih berat dari besinya."
Aku ingin mengatakan sesuatu β terima kasih, atau aku mengerti, atau maaf karena menyeretnya ke dalam taruhanku dengan Dewan. Tapi sebelum aku sempat bicara, Sela menjerit.
Bukan jeritan takut. Jeritan marah.
"TIDAK! Jangan dengarkan mereka!"
Kami berdua melompat berdiri. Sela berdiri di tengah taman, menatap jaring di atas β menatap satu titik emas yang berkedip paling keras. Tangannya terkepal. Benang emas di pergelangannya menyala terang β terlalu terang, seperti akan putus.
"Sela!" Aku berlari ke arahnya. "Ada apa?"
"Mereka bicara!" katanya β suaranya bergetar. "Lewat garis perak itu β mereka bicara ke desa itu! Mereka bilang β mereka bilang β" Ia menatapku, matanya berkaca-kaca. "Mereka bilang kalau memilih mereka, tidak perlu takut lagi. Tidak perlu memilih-milih. Tidur saja. Mereka yang menjaga."
Darahku dingin.
Dewan tidak menunggu dua hari dengan diam. Mereka menenun balik β mengirim pesan mereka sendiri melalui garis-garis perak yang merambat di jaring kami. Jaring yang kubangun untuk menyampaikan "pilih" β sekarang menyampaikan dua kata. Milikku. Dan milik mereka.
"Pilih kami," bisikku.
Sela mengangguk β marah dan takut bersamaan. "Desa itu β" ia menunjuk titik yang berkedip, "β mereka lelah, Naya. Aku bisa mendengar mereka. Mereka bilang panen selalu datang, tidak peduli apa yang mereka lakukan. Mereka bilang β" suaranya pecah, "β mereka bilang mungkin lebih mudah menyerah."
Aku berlutut di depannya β sejajar dengan matanya yang delapan tahun. "Dengarkan aku, Sela. Kau tidak bisa memilih untuk mereka. Itu aturan mainnya. Itu sebabnya Dewan kalah β karena mereka tidak mengerti aturan itu."
"Tapi kalau mereka memilih yang salahβ"
"Tidak ada pilihan yang salah kalau itu pilihan mereka." Kata-kata itu pahit di lidahku. "Itu harga yang kita bayar. Kebebasan berarti membiarkan orang memilih β bahkan memilih untuk menyerah."
Sela menatapku lama. Lalu β pelan β ia mengangkat pergelangannya, benang emasnya masih menyala. "Aku tidak akan menyerah," katanya. "Tidak peduli berapa banyak yang menyerah."
Dan di atas kami β titik emas itu berhenti berkedip.
Bukan karena kembali menyala terang. Bukan karena padam.
Titik itu berubah warna. Menjadi perak.
Desa pertama memilih Dewan.
Hening yang jatuh di taman berbeda dari hening tadi malam. Hening tadi malam adalah hening yang menunggu. Hening ini adalah hening yang berduka.
Lalu β dari sisi gelap β suara Nini. Pelan. "Satu."
"Niniβ"
"Dua," katanya β dan aku menoleh ke jaring. Titik emas lain berhenti berkedip. Berubah perak. "Mereka lelah, anak penjaga. Desa-desa yang paling jauh β yang panennya paling sering datang β mereka tidak punya alasan untuk percaya padamu. Kau baru datang semalam. Dewan sudah datang seribu tahun."
Aku ingin membantah. Tapi aku tidak punya bantahan. Nini benar.
"Aku pernah menenun untuk mereka," kata Nini tiba-tiba.
Semua menoleh β bahkan Danan. Suara kain tua itu terdengar β rapuh, seperti akan robek.
"Seribu tahun menenun dalam gelap β kau pikir aku memilih gelap, anak penjaga?" Tawa kering β tanpa humor. "Aku penenun gudang. Tanganku β" jeda, "β tanganku yang menenun benang-benang curian menjadi kain mereka. Benang hitam-perakku β" ia berhenti, "β melewati gudang mereka karena mereka yang membuatnya. Aku kabur. Tapi benang tidak pernah benar-benar kabur dari penenunnya."
Itu sebabnya garis-garis perak merambat melalui benang-benangnya. Itu sebabnya Dewan bisa menenun balik melalui jaring kami. Jaringku dibangun β sebagian β dari benang mereka.
"Aku seharusnya memberitahumu," kata Nini.
"Kau memberitahuku sekarang," kataku. "Itu sudah cukup."
Apakah cukup? Aku tidak tahu. Tapi menyalahkan Nini tidak akan mengembalikan dua desa yang berubah perak.
Di sampingku, Ibu β Raras β diam-diam bekerja. Aku baru menyadarinya sekarang: ia duduk di tepi jaring, tangan barunya β yang masih canggung, yang masih gemetar β mengikat simpul. Satu simpul. Kecil. Tidak sempurna β longgar di satu sisi, terlalu kencang di sisi lain.
Tapi itu simpulnya. Simpul pertamanya. Sendiri. Tanpa bantuanku.
Aku berjongkok di sampingnya. "Ibuβ"
"Jangan," katanya β lembut tapi tegas. "Jangan bilang 'tidak perlu'. Jangan bilang 'biar aku saja'." Ia mengikat simpul kedua β sedikit lebih baik. "Semalam kau bilang aku hanya perlu di sini. Maka aku di sini. Dan selagi aku di sini β" simpul ketiga, "β aku menenun."
Aku menatap tangan itu β tangan yang baru belajar menjadi tangan β dan tenggorokanku tercekat. Ibu tidak punya benang emas lagi. Dewan memegangnya sebagai taruhan. Tapi ia menenun dengan benang taman β benang rumput, benang bunga simpul β benang biasa yang tidak berkilau.
Dan simpul-simpul itu β entah bagaimana β menyala. Bukan emas. Bukan perak. Warna yang tidak punya nama β hangat seperti roti baru keluar dari oven.
"Lihat," bisik Sela β ia sudah di sampingku, menatap simpul-simpul ibuku. "Titik-titik di dekat simpul Ibu β mereka berhenti berkedip."
Benar. Di sekitar tempat ibuku menenun, garis-garis perak melambat. Tidak berhenti β tapi melambat, seperti ragu.
Pilihan β bahkan pilihan kecil, bahkan simpul yang tidak sempurna β menular juga.
Aku hampir tersenyum. Hampir.
Lalu langit bergetar.
Bukan retak kali ini. Bukan hujan. Getaran β seperti tali busur yang ditarik terlalu kencang. Dan dari retakan yang masih terbuka di atas taman, benang-benang perak yang menggantung β yang sejak tadi diam menunggu β mulai bergerak lagi.
Turun.
"Mereka datang!" Danan sudah berdiri β jangkar terangkat. "Panen dimajukan lagi!"
"Tidak," kata Nini β suaranya tegang. "Bukan panen. Lihat β mereka tidak menuju desa-desa."
Benar. Benang-benang perak itu tidak menyebar ke jaring. Mereka berkumpul β puluhan, ratusan β menjadi satu aliran tebal, berkilau seperti sungai β dan sungai itu mengalir turun β lurus β ke arah taman.
Ke arah Sela.
Penjaga terkecil. Yang paling mudah diikat. Yang berani berkata aku sudah memilih ke langit yang retak.
Sela mendongak β tidak lari. Mengangkat pergelangannya lagi β benang emasnya menyala. "Aku sudahβ"
Tapi kali ini benang perak itu tidak berhenti. Tidak ragu. Kali ini mereka datang dengan izin β dengan kesepakatan β dengan taruhan yang sudah disetujui. Dua untuk satu. Dan Sela β desa kecilnya yang sudah aman β tidak lagi dilindungi janji itu, karena aku sudah menukar janji itu dengan taruhan yang lebih besar.
Kesalahanku. Semua ini β kesalahanku.
Danan bergerak sebelum aku sempat berpikir. Ia melompat β jangkar besarnya terangkat tinggi β dan menancapkannya ke tanah anyaman tepat di depan Sela β dalam, hingga tanah bergetar β dan ia berdiri di belakang jangkar itu, tubuhnya menjadi perisai.
Sungai perak menghantam jangkar.
Suara itu β seperti seribu lonceng pecah bersamaan. Cahaya perak meledak β menyilaukan β dan aku menutup mata, mencengkeram tangan ibuku, mendengar Sela menjerit β
Lalu β hening.
Aku membuka mata.
Jangkar Danan masih berdiri. Danan masih berdiri di belakangnya β napas tersengal, lutut gemetar β tapi berdiri. Sela meringkuk di balik kakinya β gemetar, tapi utuh. Benang emasnya masih menyala.
Tapi jangkar itu β berubah.
Setengah dari besi besar itu β dilapisi perak. Mengkilap. Dingin. Berat β aku bisa melihatnya dari cara jangkar itu miring, menarik ke satu sisi, seperti akan tumbang.
"Danan." Aku berlari ke arahnya. "Jangkarβ"
Ia menatap jangkarnya lama. Lalu ia menyentuhnya β bagian yang perak β dan mengangkat bahu. "Masih bisa dipakai," katanya. Tapi suaranya β untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya β terdengar lelah. "Hanya β lebih berat."
Di atas kami, sungai perak itu surut β kembali ke retakan langit. Tapi sebelum menghilang sepenuhnya, satu tetes β satu benang perak tipis β terlepas dari aliran itu. Jatuh. Bukan ke taman β ke arahku.
Aku menangkapnya. Refleks.
Dingin. Sangat dingin. Dan di ujungnya β terikat β sesuatu yang kecil. Keras. Berkilau.
Fragmen lonceng. Seukuran kuku jari kelingkingku.
Dan di permukaannya β terukir β satu kata.
Aku mendekatkannya ke cahaya kunang-kunang. Membacanya. Membacanya lagi.
Tanganku mulai gemetar.
"Danan," bisikku. "Lihat ini."
Ia mendekat. Membaca. Wajahnya β wajah prajurit yang tidak pernah takut β memucat.
Di fragmen lonceng perak itu, terukir jelas:
Raras.
Nama ibuku.