‹
15. Suara dari Balik Robekan

Suara dari Balik Robekan

Pewaris Terakhir Langit • 1,395 kata

Ilustrasi Suara dari Balik Robekan

Suara Ibu tidak seharusnya ada di balik robekan langit. Ibu sudah mati—atau begitulah yang selalu kuceritakan pada diriku sendiri setiap malam, seperti dongeng pengantar tidur yang pahit, agar aku bisa terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Tapi suara itu nyata. Serak, jauh, dan gemetar—tapi nyata.

“Naya... sisakan jalan pulang untukku.”

Jarum kristal itu menggantung di udara di depan wajahku, ujungnya nyaris menyentuh tepi terakhir robekan. Tanganku membeku. Benang emas yang terentang di antara telapak tanganku dan jarum itu bergetar seperti senar yang dipetik, ditarik pelan dari sisi lain oleh sesuatu—oleh seseorang—yang tidak bisa kulihat.

“Raras?” Suara Danan pecah. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sosok bersayap berjahitan itu terdengar seperti manusia biasa yang ketakutan. “Raras, itu kau? Jawab aku!”

“Siapa yang bicara?!” Rangga mencengkeram lenganku lebih erat, matanya liar menatap celah sempit itu. “Siapa di balik sana?!”

Hanya keheningan yang menjawab—lalu tarikan pelan lagi di benangku, seperti seseorang yang mengetuk pintu dari dalam. Aku di sini. Aku masih di sini.

Pikiranku berpacu. Jika aku menutup jahitan terakhir ini, robekan itu akan rapat sepenuhnya. Dua dunia akan terjahit menjadi satu perbatasan yang utuh. Aman. Selesai. Tapi suara Ibu—jika itu benar Ibu, jika ia terjebak di antara, atau di balik, atau di dalam jahitan dunia ini—maka menutupnya berarti menguncinya di luar selamanya. Atau di dalam. Aku bahkan tidak tahu di sisi mana ia berada.

“Naya.” Danan berlutut di hadapanku, sejajar dengan mataku, dan meletakkan kedua tangannya di pipiku. Sentuhannya hangat dan mantap. “Dengarkan aku. Ibumu... Raras bukan mati seperti yang kau kira. Ia adalah jahitan pertama, Naya. Jauh sebelum kau lahir, ia menjahit dirinya sendiri ke perbatasan ini—sepotong dirinya di desa, sepotong dirinya di Langit Atas—agar robekan ini tidak melebar. Itulah kenapa gema suaranya bisa kau dengar di tempat ini. Ia adalah tempat ini.”

Air mataku jatuh lagi, dan kali ini aku tidak berusaha menghentikannya. “Jadi kalau aku menutup semuanya—”

“Kau akan merapatkan dirinya ke dalam jahitan selamanya. Ia tidak akan bisa... pulang. Ke mana pun pulang itu baginya sekarang.” Danan menelan ludah. “Tapi kalau kau menyisakan celah, robekan itu bisa melebar lagi. Suatu hari nanti. Mungkin sepuluh tahun lagi. Mungkin besok.”

Rangga menatap kami bergantian, wajahnya pucat. “Kau tidak bisa serius. Setelah semua harga yang kau bayar—kenanganmu, cahayamu—kau mau menyisakan lubang?”

Aku menatap jarum di tanganku. Aku menatap celah sempit yang menganga seperti mata menyipit. Aku mendengarkan tarikan pelan di benangku—aku di sini—dan aku membuat keputusanku.

Bukan jahitan penutup. Sebuah simpul.

Dengan gerakan yang dipelajari tanganku entah dari mana—mungkin dari darah ibuku yang mengalir di dalamnya—aku melingkarkan benang emas itu mengelilingi jarum, menariknya melalui lengkungannya sendiri, dan mengencangkannya tepat di tepi celah. Simpul hidup. Celah itu menyusut hingga tinggal sebesar lubang jarum—sebuah titik cahaya kecil yang berdenyut pelan di tengah parut emas yang membentang di langit, seperti bintang yang terjahit ke kain malam.

Jalan pulang. Sekecil apa pun, ia ada.

“Ibu...” bisikku ke titik cahaya itu. “Aku menyisakannya. Aku janji.”

Tarikan di benangku melembut. Melambat. Lalu berhenti—bukan terputus, tapi mengendur, seperti tangan yang akhirnya melepaskan genggamannya dengan lega. Dari titik cahaya kecil itu, sehangat napas, aku merasakan sesuatu yang menyerupai... terima kasih.

Lalu dunia berguncang.

Bukan gempa. Lebih dalam dari itu—seperti seluruh langit menarik napas panjang setelah menahannya bertahun-tahun. Parut emas di udara itu berdenyut sekali, dua kali, lalu cahayanya meresap ke dalam, menyatu dengan langit itu sendiri. Dan di bawah kami, Desa Langit Biru berubah.

Aku melihatnya dari tempatku berlutut di perbatasan: atap-atap desa yang tadinya hanya diterangi matahari sore kini juga disinari cahaya keemasan dari atas—bukan matahari kedua, tapi lapisan langit yang bertumpuk. Awan-awan desa yang rendah dan kelabu kini berlapis cahaya tipis yang turun dari Langit Atas seperti tirai sutra. Bulu-bulu cahaya jatuh perlahan seperti salju pertama, dan penduduk desa keluar dari rumah mereka satu per satu, menengadah dengan mulut ternganga.

Seorang anak kecil menunjuk ke langit dan tertawa. Ibunya memeluknya erat, menangis. Seorang lelaki tua berlutut di tanah lapang. Di kejauhan, lonceng bale desa berbunyi sendiri—tiga kali, pelan, seperti salam.

“Mereka bisa melihatnya sekarang,” kata Danan pelan, berdiri di sisiku. “Perbatasannya. Selama ini hanya para penjaga yang bisa melihat. Sekarang langit menunjukkan dirinya pada semua orang.”

“Apakah itu... baik?” tanyaku.

Ia tidak menjawab. Mungkin ia juga tidak tahu.

Di samping kami, terdengar bunyi krak yang halus—seperti es tipis retak di permukaan danau. Kami menoleh serentak.

Kristal di wajah Sekar runtuh berkeping-keping.

Kepingan-kepingan bening itu jatuh ke tanah dan meleleh menjadi cahaya sebelum sempat menyentuhnya, dan di baliknya—wajah seorang perempuan yang masih muda, pucat, dengan mata yang perlahan terbuka. Mata itu mencari-cari, bingung, lalu menemukan Rangga yang berlutut di sisinya dengan wajah basah oleh air mata.

“Ibu?” suara Rangga seperti anak kecil yang tersesat. “Ibu, ini aku. Rangga.”

Sekar mengangkat tangannya yang gemetar dan menyentuh pipi putranya. “Kau... sudah besar.” Suaranya serak karena lama tidak dipakai, tapi hangat. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu memilih ini. Bertahun-tahun lalu, saat robekan itu mulai melebar, seseorang harus menjadi kuncinya—seseorang harus membiarkan kristal gerbang tumbuh di tubuhnya untuk menahan celah itu. Ibu yang mengajukan diri.” Ia tersenyum, dan senyum itu persis seperti senyum Rangga saat ia tidak sedang marah. “Ibu tidak mau desamu yang menjadi taruhannya.”

Rangga terisak—bukan tangis marah seperti tadi, tapi tangis anak yang akhirnya menemukan ibunya kembali. Ia membenamkan wajahnya di bahu Sekar, dan Sekar memeluknya dengan lengan yang masih gemetar, mengelus rambutnya seperti ia pasti sering melakukannya dulu, sebelum kristal itu mengambilnya.

Aku memalingkan wajah, memberi mereka ruang, dan saat itulah aku melihatnya: pintu cahaya yang sekarat itu.

Selama ini ia berkedip-kedip seperti lilin yang kehabisan sumbu, di ambang padam. Tapi sekarang—dengan parut emas yang meresap ke langit—ia meminum cahaya itu. Perlahan, denyutnya menguat. Bentuknya berubah: bukan lagi pintu lebar yang menganga, melainkan lengkungan kecil yang anggun, sebesar pintu rumah desa, dengan cahaya yang stabil dan tenang di dalamnya. Bukan pintu yang terbuka untuk siapa saja. Sebuah celah yang dijaga. Sebuah jendela antara dua dunia yang kini tahu cara hidup berdampingan.

“Ia tidak mati,” bisikku takjub. “Ia... berubah.”

“Seperti kita semua,” kata Danan.

Dan kemudian harga itu menagihku sepenuhnya.

Aku mencoba mengingat lagu yang dinyanyikan Ibu saat menanak nasi—lagu yang tadi sempat kulihat dalam kenangan sebelum terlepas. Aku meraihnya dalam pikiranku dan menemukan... tidak ada. Bukan kekosongan yang samar, tapi ketiadaan yang mutlak, seperti mencoba mengingat mimpi yang tidak pernah kau mimpikan. Aku tahu aku pernah tahu. Aku tahu ada sesuatu yang hilang. Tapi aku tidak tahu apa.

Itulah yang paling kejam: aku bahkan tidak bisa berduka dengan benar atas apa yang kuberikan, karena aku tidak ingat apa yang kuberikan.

Lututku lemas. Danan menangkapku sebelum aku jatuh, dan ia memelukku—bukan seperti penjaga memeluk pewaris, tapi seperti paman memeluk keponakan yang baru saja memberikan terlalu banyak.

“Aku tidak ingat,” bisikku di bahunya, suaraku hancur. “Aku tahu aku kehilangan sesuatu yang penting, tapi aku tidak ingat apa.”

“Aku ingat untukmu.” Tangannya yang besar mengelus punggungku dengan lembut. “Aku ada di dapur itu, Naya. Aku mendengar lagu itu ratusan kali. Dan aku akan menyanyikannya untukmu setiap malam sampai kau hafal lagi—sampai kenangan itu menjadi milikmu kembali, meski lewat suaraku.” Ia menarik napas yang gemetar. “Itu gunanya keluarga. Mengingat untuk satu sama lain saat yang lain tidak bisa.”

Aku menangis di bahunya sampai langit ganda di atas kami mulai meredup ke arah senja—senja yang kini berwarna emas dan perak sekaligus, milik dua dunia dalam satu bingkai.

Rangga menghampiriku saat aku akhirnya melepaskan diri dari pelukan Danan. Wajahnya masih basah, tapi matanya jernih. Ia menatapku lama, lalu—dengan kaku, seolah setiap katanya harus ditarik paksa keluar—ia berkata: “Terima kasih. Untuk... ibuku.”

Sebelum aku sempat menjawab, pintu cahaya yang baru stabil itu bergetar.

Bukan kedipan sekarat seperti dulu. Getaran yang disengaja—seperti seseorang yang mengetuk dari sisi lain. Cahaya di dalam lengkungan itu berputar, memadat, membentuk siluet. Dan kemudian, dengan langkah yang tenang dan pasti, sesosok melangkah keluar dari pintu itu.

Bukan cahaya. Bukan bayangan. Seorang pemuda.

Seusiaku, mungkin sedikit lebih tua. Rambutnya hitam dengan sehelai uban perak di pelipis—atau mungkin itu benang cahaya. Dan dari kedua telapak tangannya, menjuntai benang-benang emas hidup yang bergerak sendiri seperti akar yang mencari tanah.

Ia menatap parut emas di langit. Ia menatap simpul kecil bercahaya yang kusisakan. Lalu ia menatapku—tepat ke mataku—dan tersenyum tipis.

“Jadi kau yang menjahit ulahku,” katanya. Suaranya jernih seperti lonceng kaca. “Kita perlu bicara, Pewaris.”

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!