Nama yang Baru Digores
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,292 kata
Hutan bambu itu berbisik dalam bahasa yang bahkan benangku tidak mengerti.
Kami berjalan di bawah kanopi hijau yang rapat, cahaya pagi jatuh berbelang-belang di tanah. Danan berjalan di depan β langkahnya mantap meski ia masih pucat, matanya setengah terpejam, mengikuti dengung yang hanya ia dengar. Aku berjalan di belakangnya, ujung jaring emas pengaman terasa hangat di telapak tanganku β satu-satunya bukti bahwa ia masih terhubung padaku, masih di sini, belum tersedot ke dalam dengung itu.
Akar-akar abu-abu benangku merayap di depan kami seperti jarum kompas β menunjuk, ragu, menunjuk lagi. Mereka mengenali jalan yang dilalui kegelapan. Dan aku membencinya β betapa mudahnya mereka bergerak di tempat gelap, betapa alaminya. Seolah sebagian diriku memang selalu ditakdirkan untuk ini.
"Di depan," kata Danan pelan. "Dengungnya... berhenti bergerak. Ia menunggu kita."
Di tengah jalan, Danan tersandung β lututnya lemas, dan aku menangkap lengannya tepat sebelum ia jatuh. Jaring emas pengaman di pergelangannya berdenyut panas.
"Danan?"
"Maaf." Ia mengatur napas, wajahnya pucat. "Dengungnya... menarik. Seperti ada yang memanggil dari dalam."
Aku membeku. "Memanggil?"
"Ia memanggil yang pernah penuh." Danan menatapku β matanya perak, tapi ada ketakutan di dalamnya yang belum pernah kulihat, bahkan saat kegelapan masih menguasainya. "Lonceng itu mengenali wadah, Naya. Dan aku... aku masih berbau seperti wadah."
Aku mengencangkan genggamanku di lengannya β dan mengencangkan jaring emas yang menghubungkan kami. "Kalau ia menarikmu, aku yang menahan. Itu gunanya jaring ini."
Ia menatapku lama β lalu mengangguk, dan kami berjalan lagi. Tapi kini aku berjalan di sampingnya, bukan di belakangnya. Bahu kami bersentuhan. Jaring emas di antara kami berdenyut seperti nadi kedua.
Kami menerobos rumpun bambu terakhir β dan berhenti.
Di depan kami: reruntuhan pendopo. Tiang-tiang kayunya sudah miring dan lapuk, atapnya tinggal separuh, lantainya ditumbuhi lumut tebal. Pasti puluhan tahun tidak disentuh manusia. Tapi di tengahnya β tergantung di balok yang patah β ada lonceng kecil. Tidak lebih besar dari tempayan air. Perunggunya hijau oleh lumut dan usia, tapi ia berdengung β pelan, dalam, seperti dada raksasa yang bernapas dalam tidur.
"Kecil," bisikku. "Aku membayangkan semuanya sebesar lonceng-palang kita."
"Ukuran tidak menentukan isi," kata Danan. Ia sudah berdiri di bawahnya, mendongak. "Yang ini... penuh sesak."
Aku mengencangkan jaring pengaman di tangannya. "Dengarkan saja. Jangan dibuka."
Ia mengangguk β lalu mengulurkan tangan dan menyentuh perunggu berlumut itu dengan ujung jarinya.
Tubuhnya menegang. Matanya yang perak menjadi kosong β bukan kosong seperti mati, kosong seperti langit. Dan lewat jaring emas yang menghubungkan kami, aku ikut terseret masuk β sekilas, seperti mencelupkan jari ke air mendidih.
Bukan kegelapan yang mengisi lonceng ini. Lebih buruk: duka.
Aku melihatnya β sepotong-sepotong, seperti mimpi yang diputar terlalu cepat. Langit berdarah di atas desa di kaki gunung, bertahun-tahun lalu. Orang-orang berlarian dengan anak-anak di gendongan. Dan di tengah kepanikan itu, orang-orang berjas hujan β biasa saja, terlalu biasa β menggantung lonceng kecil ini di balai desa. Lonceng itu berdenting sekali. Dan semua tangis di desa itu β semua ketakutan, semua kehilangan β mengalir masuk seperti air ke dalam tempayan. Desa itu selamat dari retakan. Tapi dukanya tidak pernah pergi. Dukanya disimpan. Dipanen.
Di antara potongan mimpi itu, ada satu yang menancap β seorang ibu muda, menggendong anaknya yang tidak bergerak, berjalan mengikuti orang-orang berjas hujan itu tanpa melawan. Bukan karena ia tidak berduka. Karena dukanya sudah tidak ada lagi di dalam dirinya β sudah dituang keluar, seteguk demi seteguk, ke dalam perunggu. Ia berjalan kosong. Hidup, tapi kosong. Dan aku mengerti, dengan ngeri yang membuatku ingin muntah: inilah yang dilakukan lonceng. Ia tidak membunuh. Ia mengosongkan.
"Panen," bisik Danan, suaranya serak. "Dewan tidak menciptakan kegelapan, Naya. Mereka... mengumpulkannya. Menyimpannya. Seperti lumbung."
Tanganku gemetar di jaring pengaman. "Berapa lama lonceng ini di sini?"
"Lima belas tahun." Danan melepaskan tangannya dari perunggu itu β perlahan, seperti melepaskan genggaman dari tangan yang sedang tidur. ""Lima belas tahun tangis disimpan dalam perunggu."
Aku mendekatkan telapak tanganku ke perunggu itu β tidak menyentuh, hanya dekat. Dan akar-akar abu-abu benangku bergerak sendiri β tertarik, merentang ke arah duka yang tersimpan, seperti mengenali makanan.
Aku menarik tanganku dengan sentakan. "Mereka... tertarik padanya."
Danan menatap akar-akar abuku β wajahnya tegang. "Jangan dekat-dekat. Benangmu sudah pernah menjadi jalan bagi kegelapan." Ia menggenggam tanganku, menjauhkannya dari lonceng. "Dan jalan yang pernah dilalui... selalu ingin dilalui lagi.""
Ia mengusap lumut di sisi lonceng β dan di bawahnya, aku melihatnya: goresan-goresan. Nama-nama. Puluhan nama digores ke perunggu dengan benda tajam, dan hampir semuanya dicoret dengan garis dalam β garis-garis silang yang tegas, seperti daftar yang sudah selesai.
"Sensus," kata Danan pelan. "Nama-nama yang dukanya dipanen. Yang sudah... selesai."
Jarinya berhenti di satu nama.
Tidak dicoret. Goresannya masih baru β perunggu di sekitarnya belum sempat menghijau.
SELA.
Darahku berhenti mengalir. "Tidak," bisikku. "Tidak mungkin. Bagaimana merekaβ"
"Karena namanya bersinar paling terang." Danan menatapku β matanya kembali fokus, dan penuh ketakutan. ""Di palang gerbang, Naya. Huruf S itu. Dewan menandai nama-nama yang terang. Nama yang dijaga... adalah nama yang diinginkan."
Tanganku naik ke dadaku sendiri β ke tempat namaku sendiri terukir, PENJAGA, yang kutenun ke dalam diriku semalam. "Namaku juga terang?"
Danan menggeleng β cepat, tegas. "Namamu kau tempa sendiri, dengan benangmu, dengan pilihanmu. Mereka tidak bisa mengklaim yang sudah ditempa." Ia menatap goresan SELA itu. "Tapi Sela... namanya diberi. Indah. Terang. Dan belum ditempa oleh tangannya sendiri." Ia berhenti. "Itulah yang mereka incar, Naya. Nama-nama terang yang belum bisa menjaga dirinya sendiri.""
Amarah meledak di dadaku β panas, begitu panas hingga akar-akar abu-abu benangku berdenyut. "Aku akan menghapusnya." Aku mengangkat tanganku, benang emasku sudah terulur. "Aku akan menenun di atasnya, menutupinyaβ"
"Jangan." Tangan Danan mencengkeram pergelangan tanganku β dingin, kuat. "Dengar aku. Kalau kau menenun di atas klaim mereka, kau menghubungkan benangmu ke klaim itu. Kau akan memberi mereka jalan." Ia menatap lonceng itu. "Goresan Dewan bukan nama, Naya. Itu tanda. Dan tanda hanya bisa dilawan dengan nama yang diberi β bukan yang ditutup."
Aku teringat Wulan: sesuatu yang bernama bisa diikat. Sela sudah bernama β namanya terukir di gerbang, dijaga oleh INGAT. Tapi goresan ini... goresan ini adalah janji. Janji bahwa mereka akan datang mengambil.
"Kita harus kembali," kataku. "Sekarang. Selaβ"
"Kalau isinya dipanggil pulang," tanyaku pelan, "ke mana? Ke Dewan?"
"Ke lonceng yang kosong." Danan masih menatap perunggu yang kini diam itu. "Mereka menuang dari tempayan ke tempayan, Naya. Mengumpulkan. Memadatkan." Ia menoleh padaku. "Lima belas tahun duka dari satu desa β dan mereka memindahkannya dalam sekejap, seperti memindahkan air. Artinya mereka tidak lagi menyimpan. Mereka... menyiapkan."
"Menyiapkan apa?"
Ia tidak menjawab. Tapi aku bisa melihat jawabannya di matanya: sesuatu yang butuh wadah-wadah penuh, terkonsentrasi, siap dituang sekaligus.
Dengung itu berhenti.
Bukan memudar β berhenti. Seperti napas yang ditahan. Lonceng kecil itu diam, perunggunya dingin di bawah lumut. Keheningan yang tiba-tiba itu terasa seperti tamparan.
Danan menyentakkan tangannya dari lonceng β wajahnya pucat pasi. "Ia kosong sekarang."
"Apa?" Jantungku berdegup kencang. "Ke mana isinya?"
Ia memejamkan mata β mendengarkan paduan suara yang jauh, yang hanya bisa didengar wadah yang pernah penuh. Dan ketika ia membuka matanya lagi, suaranya hampir tidak keluar.
"Delapan."
"Delapan apa?"
"Delapan lonceng yang penuh." Ia menatapku. "Lonceng lumut tidak pernah menjawab panggilan β ia tidur selama lima belas tahun. Tapi isinya baru saja dipanggil pulang. Lima belas tahun duka β dituang ke lonceng lain. Yang baru itu... bernyanyi."
Aku mengerti β tiba-tiba, seperti simpul terakhir yang akhirnya ketemu, sama seperti semalam di beranda.
"Denting-denting itu bukan panggilan," bisikku. "Itu... hitungan."
Danan mengangguk β pelan, ngeri. "Dan hitungannya... bertambah."