β€Ή
32. Yang Mengetuk Kembali

Yang Mengetuk Kembali

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,362 kata

Ilustrasi Yang Mengetuk Kembali

Tuk. Tuk. Tuk.

Ketukan itu datang lagi β€” dan kali ini, seluruh lorong menahan napas bersamaku.

Aku masih berlutut di depan simpul jantung, tanganku belum sempat kuangkat dari lilitan ketiga. Cahaya keemasan yang hangat β€” seperti teh jahe, seperti selimut β€” masih mengalir dari simpul itu ke setiap dinding lorong, menyalakan simpul-simpul yang padam satu per satu. Di sekelilingku, lorong yang selama ini kukenal dingin dan berat kini berdenyut dengan irama yang meleset. Iramaku. Rasanya seperti berada di dalam dadaku sendiri.

Lalu ketukan itu datang dari balik robekan pertama. Tiga ketukan. Jeda. Tiga ketukan.

Dan sesuatu di dalamnya β€” sesuatu yang tidak bisa kujelaskan β€” terdengar seperti pertanyaan.

"Cepat, Nak," bisik Ibu tadi β€” sebelum ketukan pertama menjawab. Kini Ibu berdiri β€” tidak, melayang β€” beberapa langkah dariku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya dalam wujud ini, tangannya kosong. Jaring emas yang selama ini ditahannya dengan dua simpul yang tinggal selilitan kini menahan dirinya sendiri, mengencang dan berdenyut dengan cahaya hangat yang baru. Ibu tidak perlu lagi menahannya. Beban seribu tahun terangkat dari tangannya dalam satu tarikan napas.

Tetapi Ibu tidak tersenyum. Ia menatap robekan pertama β€” luka bundar berisi kegelapan yang aktif itu, yang kini tidak lagi ditahan oleh tangannya melainkan oleh simpul pilihanku β€” dan wajahnya yang tembus pandang menjadi pucat melebihi pucat.

"Naya," bisiknya. "Jangan berhenti β€” dengarkan β€”"

Tuk. Tuk. Tuk.

Jeda.

Tuk. Tuk. Tuk.

Ketukan kedua β€” tiga ketukan yang kedua β€” terdengar sedikit berbeda. Lebih tinggi. Lebih cepat. Seperti sebuah jawaban yang tidak sabar.

Arka terhuyung mundur dua langkah. Gema suaranya yang rapi β€” presisi yang selama ini menjijikkan itu β€” kini hancur total, berantakan seperti kaca pecah. "Tidak β€” ini tidak β€” tatanan tidak β€”" Ia menoleh ke dua bayangan bersayap di sisinya, wajah mereka yang samar kini menunjukkan sesuatu yang belum pernah kulihat pada makhluk Langit Atas: keraguan. Untuk pertama kalinya, mereka saling berpandangan β€” bukan sebagai tanda kurung yang rapi, melainkan sebagai dua orang yang takut.

"Keponakanku," kata Arka, dan suaranya bergetar. Ia mencoba mengumpulkan kembali wibawanya, tetapi retakan di gemanya tidak mau hilang. "Apa pun yang ada di balik robekan itu β€” jangan dengarkan. Itu kegelapan. Kegelapan meniru suara. Itu yang dilakukannya."

"Tatanan yang rapi," kata Danan pelan dari sisiku, "selalu butuh monster untuk ditakuti, Naya."

Di pergelanganku, jerat lama itu β€” jerat Bima yang tidak pernah benar-benar dilepas β€” berdenyut dingin. Sejak lilitan ketiga terkunci, ia diam. Kini, mendengar ketukan dari balik robekan, ia menyala redup, seperti bara yang ditiup angin. Bukan menyerang. Hampir β€” hampir β€” seperti mengenali sesuatu. Danan meliriknya, alis tuanya berkerut, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Belum.

Paman Danan perlahan bangkit dari lututnya. Lutut tuanya yang tadi menghantam lantai benang kini menopang tubuhnya dengan susah payah, tetapi punggungnya tegak. Gulungan benang abu-abunya masih tertancap di lantai lorong, akar-akar abu-abu masih mencengkeram jauh ke dalam anyaman, bergetar tetapi bertahan. Cahaya abu-abu yang stabil dan dalam β€” seperti napas orang tidur β€” masih menyebar dari titik itu. Jangkar kami. Jangkarnya.

Ia berdiri di sisiku. Tua dan keriput dan hangat. Benang abu-abu di antara kami berdenyut dengan irama yang kukenal lebih baik daripada detak jantungku sendiri.

Tuk. Tuk. Tuk.

Aku menyadari sesuatu. Jantungku berdetak β€” dan ketukan itu berdetak bersamanya. Bukan mengikuti. Bukan meniru. Selaras. Seolah ketukan dari balik robekan dan jantungku adalah dua tangan yang mengetuk pintu yang sama dari dua sisi yang berbeda.

"Ibu," kataku tanpa menoleh, "kau kenal suara itu."

Hening. Lalu suara Ibu β€” tipis seperti benang terakhir, tetapi jernih: "Sejak aku seusiamu, Nak. Sejak pertama kali aku ditugaskan menjaga lorong ini." Ia melayang lebih dekat, matanya yang tembus pandang tidak lepas dari robekan. "Setiap penjaga mendengarnya, pada malam-malam ketika bebannya terlalu berat. Tiga ketukan. Jeda. Tiga ketukan. Kami diajari untuk tidak menjawab. Kami diajari bahwa itu kegelapan yang memanggil."

"Dan kau tidak pernah menjawab?"

"Aku takut." Suara Ibu pecah. "Aku takut, dan aku mengajari diriku sendiri untuk takut, dan aku hampir mengajarimu untuk takut juga."

Tuk. Tuk. Tuk.

Jeda.

Tuk β€” tuk β€” tuk.

Ketukan ketiga kali ini β€” tiga ketukan yang terakhir β€” melambat di tengah. Seperti seseorang yang kehabisan napas. Seperti seseorang yang sudah mengetuk terlalu lama.

Dan tiba-tiba aku ingat. Malam-malam demam waktu kecil. Ibu menyelimutiku, dan di antara isak tangisku ia menyanyikan sesuatu tanpa kata β€” hanya dengungan dengan irama. Tiga dengung. Jeda. Tiga dengung. Irama yang sama. Irama yang kutahu lebih baik daripada detak jantungku sendiri β€” tidak, irama yang kutahu SAMA BAIKNYA dengan detak jantungku sendiri.

"Lagu nina bobok itu," bisikku. "Itu dari sana."

Ibu mengangguk perlahan. Air mata β€” cahaya, bukan air β€” mengalir di pipinya yang tembus pandang. "Ibuku menyanyikannya untukku, setiap malam, sampai aku terlalu besar untuk diayun. Ia bilang, kalau aku takut pada gelap, aku harus ingat iramanya β€” karena irama itu berarti seseorang di balik sana masih mengetuk. Masih hidup. Masih menunggu." Suaranya tercekat. "Dan ibuku mendengarnya dari balik robekan ini, pada malam ia seusiamu. Ia bilang, suara itu tidak pernah berhenti mengetuk. Ratusan tahun. Tidak pernah berhenti."

Ratusan tahun. Seseorang β€” sesuatu β€” telah mengetuk dari balik kegelapan selama ratusan tahun, dan setiap penjaga diajari untuk tidak menjawab.

Arka melangkah maju, tangannya terulur β€” bukan ke arahku, melainkan ke arah dua bayangan bersayap itu. "Tangkap dia!" perintahnya, dan untuk pertama kalinya perintahnya terdengar seperti permohonan. "Seret dia dari simpul itu sebelum β€”"

Kedua bayangan itu tidak bergerak. Salah satunya β€” yang di kiri β€” bahkan mundur setengah langkah. Sayap-sayap mereka yang sempurna dan berkilau dingin kini tampak redup di bawah cahaya keemasan yang hangat.

"Pengawal Langit," kata Arka, gemanya naik setengah oktaf, "ini perintah dewan!"

"Perintah dewan," kata Danan pelan, "dibangun di atas tatanan. Dan tatanan β€”" ia mengangguk ke arah simpul jantung yang berdenyut hangat, "β€” baru saja diganti."

Tuk. Tuk. Tuk.

Ketukan itu semakin keras. Robekan pertama β€” luka bundar berisi kegelapan yang aktif β€” mulai bergetar. Tepi-tepinya, yang selama ini ditahan oleh simpul pilihanku, meregang seujung jari. Udara dingin merembes keluar, dingin yang menusuk sampai ke tulang, dingin yang tidak seperti dingin biasa β€” dingin yang terasa seperti dilupakan.

Aku seharusnya takut. Semua yang diajarkan kepadaku β€” oleh dewan, oleh cerita-cerita penjaga, oleh ketakutanku sendiri β€” mengatakan aku harus takut.

Tetapi benang abu-abu di pergelanganku berdenyut hangat. Danan berdiri di sisiku. Dan di dadaku, jantungku berdetak dengan irama yang meleset β€” irama yang sama dengan ketukan dari balik robekan.

Aku melangkah maju. Satu langkah. Menuju robekan.

"Naya, jangan!" Arka berseru. "Ketukan yang dijawab menjadi ikatan! Itu hukum lorong β€” siapa pun yang menjawab ketukan dari balik robekan terikat padanya selamanya!"

Aku berhenti. Hukum lorong. Ikatan.

Lalu aku tersenyum β€” senyum yang terasa asing di wajahku, mantap seperti suaraku tadi. "Kalau begitu," kataku, "biarlah aku yang memilih ikatannya."

"Naya β€”" Danan memulai, tetapi aku mengangkat tanganku.

"Bukan karena kewajiban," kataku. "Bukan karena darah. Bukan karena perintah." Aku menatap robekan itu β€” kegelapan yang aktif, yang bergetar, yang mengetuk. "Karena mauku."

Aku menarik napas dalam-dalam, dan ke dalam keheningan lorong yang menahan napas, aku berkata dengan jelas:

"Siapa di sana?"

Hening.

Hening yang begitu total sehingga aku bisa mendengar denyut simpul jantung, desis akar-akar abu-abu Danan di lantai, napas tertahan Ibu, dan β€” jauh di kejauhan β€” gema suara Arka yang pecah.

Lalu, dari balik robekan pertama, dari dalam kegelapan yang aktif itu, sebuah suara menjawab.

Tua. Bergetar. Hangat seperti teh jahe.

"Akhirnya," kata suara itu. "Akhirnya ada yang menjawab."

Jeda. Dan ketika suara itu berbicara lagi, ia mengucapkan satu kata yang membuat lututku lemas:

"Naya. Cucuku. Ini Nini."

Dari dalam robekan, kegelapan itu bergerak β€” bukan merembes, melainkan menyibak, seperti tirai β€” dan sebuah tangan terjulur keluar. Tangan yang tua dan keriput, terbuat dari cahaya keemasan yang dijalin seperti benang, dengan urat-urat cahaya yang berdenyut lembut. Tangan itu terulur, perlahan, dan menyentuh simpul jantung β€” simpul pilihanku.

Simpul itu menyala lebih terang. Tidak pecah. Tidak goyah. Menyambut.

Di belakangku, Ibu jatuh berlutut, tangannya menutupi mulutnya yang tembus pandang. "Ibu..." bisiknya. "Ibu..."

Dan di seluruh lorong, cahaya perak Arka β€” cahaya perak dewan yang dingin dan sempurna β€” padam total, seperti lilin yang ditiup.

Kegelapan di balik robekan bergeser. Sesuatu β€” seseorang β€” mulai melangkah keluar.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!