Nama untuk Gerbang
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,310 kata
"Jangan."
Satu kata. Tapi Nini Wulan mengatakannya sambil berdiri β benar-benar berdiri, tanpa bertopang pada tongkatnya yang retak β dan untuk pertama kalinya malam ini, benang emas tuanya menyala. Tidak terang seperti dulu. Tapi menyala. Seperti bara yang ditiup.
"Nek?" Suaraku kecil. Aku tahu apa yang akan ia katakan sebelum ia mengatakannya. Aku penenun. Aku bisa membaca benang β dan benangnya... benangnya sudah di ujung.
"Gerbang butuh nama untuk ditutup," kata Wulan β mengulangi kata-kata Dewan, tapi dengan suara yang berbeda. Bukan ancaman. Tawaran. "Bingkai patah butuh benang baru. Dan aku..." Ia tersenyum padaku β senyum yang sama seperti saat ia mengajariku simpul pertama, saat jariku masih terlalu kecil untuk memegang benang. "...aku sudah hidup cukup lama, Nak."
"TIDAK." Aku berdiri β kakiku gemetar, tapi aku berdiri. "Tidak. Aku tidak akan membiarkanmuβ"
"Dengar dulu." Wulan melangkah mendekat β setiap langkah pelan tapi pasti. "Namaku sudah tertulis di sana." Ia menunjuk palang gerbang raksasa di langit β dan kini aku bisa melihatnya: di antara ratusan ukiran nama, ada satu yang tua dan dalam: WULAN. "Semua penenun keluargamu ada di sana, Naya. Nini. Buyut. Semuanya. Mereka menutup sobekan dengan nama mereka β sehelai benang dari hidup mereka, ditenun ke bingkai. Itu tugas kami. Itu... warisan kami."
"Warisan bukan berarti aku harus kehilanganmu!" Air mataku mengalir lagi β aku bahkan tidak berusaha menghapusnya kali ini. "Pasti ada cara lain. Selalu ada cara lain. Aku penenun β aku bisa menenun ulangβ"
"NAYA." Suara Wulan β tegas, seperti dulu saat aku kecil dan hampir menyentuh benang yang belum boleh kusentuh. Aku terdiam. "Kau benar. Selalu ada cara lain. Tapi cara lain butuh sesuatu yang bahkan Dewan tidak punya." Ia menatapku β matanya berkaca-kaca tapi tajam. "Kau tahu apa itu?"
Aku menggeleng β tidak mampu bicara.
"Nama yang diberikan dengan rela." Wulan menatap gerbang itu. "Dewan selalu MENGAMBIL nama. Itu sebabnya gerbang terus patah β karena benang curian tidak pernah kuat. Tapi nama yang diberikan..." Ia menepuk dadanya sendiri. "...tidak bisa patah."
Saat itulah pintu rumah terbuka.
"Ibu?"
Ibuku berdiri di ambang pintu β wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan β dan di tangannya, digandeng erat, adalah Sela. Adikku. Kecil. Dengan mata besar yang menatap langit yang terbelah, gerbang raksasa yang patah, dan kami semua β tanpa takut. Hanya... penasaran.
"Kakak!" Sela melepaskan tangan Ibu dan berlari ke arahku β kaki-kaki kecilnya melintasi taman yang setengah musnah tanpa ragu. Ia menabrakku β memeluk kakiku erat. "Kakak, langitnya sobek!"
Aku berlutut dan memeluknya β erat, seerat-eratnya β dan aku bisa merasakan jantung kecilnya berdebar di dadaku. Hidup. Hangat. Nyata.
"Sela," bisikku β suaraku hancur. "Kau tidak apa-apa? Loncengmuβ"
"Aku dengar," katanya β polos, jujur. "Waktu Kakak jahit loncengku, aku dengar. Sakit sedikit. Tapi sekarang..." Ia merogoh saku bajunya β dan mengeluarkan... benang. Sehelai benang perak tipis β benangnya sendiri β yang ia tarik dari... dari mana? Dari dirinya? "Aku bawa ini. Buat nutup pintunya, Kak."
Jantungku berhenti.
"SELA, TIDAKβ" Ibuku maju β tapi Wulan mengangkat tangannya, menghentikannya. Mata tua itu menatapku β dan aku mengerti. Ini bukan Dewan yang mengambil. Ini anak kecil yang memberi. Dengan rela.
Aku menatap benang tipis di tangan adikku β bergetar, berkilau, begitu kecil hingga hampir tidak terlihat. Dan aku mengerti semuanya. Tiba-tiba. Seperti simpul terakhir yang akhirnya ketemu.
Gerbang butuh nama yang diberikan dengan rela. Lonceng kosong β lubang kunci yang kehilangan pintu β butuh diisi. Dan Dewan... Dewan butuh diberi nama. Karena selama ini mereka tidak punya nama. Mereka hanya "Dewan" β bayangan tanpa nama, dan bayangan tanpa nama tidak bisa diikat.
Tapi sesuatu yang bernama... bisa.
Aku berdiri. Aku menatap reruntuhan gudang β kepingan-kepingan perunggu loncengku, benang-benang hitam kebohongan yang berserakan seperti ular-ular mati. Dan aku mengangkat tanganku.
"Kemari," kataku β bukan pada siapa-siapa. Pada benang-benang itu.
Mereka datang. Merangkak, melayang, melata β benang-benang hitam kebohongan Dewan β dan aku menangkap mereka satu per satu. Aku tidak mengurainya. Aku tidak menghancurkannya. Aku... menenunnya. Menjadi satu. Satu benang hitam yang panjang, berkilau seperti minyak.
Lalu aku mengangkatnya tinggi-tinggi β ke arah sobekan langit, ke arah bayangan tanpa nama itu.
"Setiap kebohongan butuh nama untuk hidup," kataku β suaraku bergema di taman yang sunyi. "Kau hidup dari nama-nama curian selama ini. Tapi kau sendiri..." Aku tersenyum β liar, berani. "Kau sendiri tidak punya nama, kan?"
Keheningan. Tekanan yang membekukan.
"Maka aku beri kau nama." Aku mengikat benang hitam itu menjadi simpul β simpul yang tidak bisa dilepas β dan aku mengucapkannya, jelas, final:
"TAKUT."
Sesuatu di langit itu BERGETAR. Sobekan langit berdenyut β dan aku bisa merasakannya: bayangan itu kini punya bentuk. Punya batas. Punya... nama. Dan sesuatu yang bernama bisa diikat.
Aku melemparkan benang hitam bernama TAKUT itu β bukan ke langit. Ke bawah. Ke lonceng kosong yang masih menggantung terbalik di atas taman, mulutnya menganga.
Benang itu masuk ke dalam mulut lonceng β dan lonceng itu... BERGERAK. Untuk pertama kalinya, ia bergerak. Perlahan β dengan suara rintihan perunggu tua β ia berputar. Mulutnya yang menghadap ke bawah... naik. Naik. Sampai ia tergantung dengan benar. Mulut menghadap ke atas. Seperti lonceng seharusnya.
Dan ia berhenti meneteskan kegelapan. Karena kini ia penuh. Penuh dengan nama. Penuh dengan TAKUT β yang kini terikat, bernama, dan tidak bisa keluar.
Sunyi. Bahkan jangkrik pun diam.
Lalu aku menoleh ke gerbang. Ke nama Sela yang menyala di palangnya.
"Sekarang," kataku pelan. "Kita tutup pintunya."
Aku mengulurkan tanganku. Dan satu per satu, mereka datang:
Danan β berdiri dengan susah payah, jangkar kedua masih di tangannya, urat-urat hitam di wajahnya β mengulurkan benang peraknya. Yang kini bercampur hitam di ujung-ujungnya. Tapi masih perak di pangkalnya. Masih dia.
Wulan β melangkah maju, mengulurkan benang emas tuanya. Redup. Tapi hidup.
Sela β dengan serius seperti anak kecil yang diberi tugas penting β meletakkan benang perak tipisnya di telapak tanganku. "Jangan sampai putus ya, Kak."
"Janji," bisikku.
Dan aku β aku menarik benang emasku. Yang paling terang. Yang paling hidup.
Empat benang. Emas. Perak. Emas tua. Perak tipis.
Aku mulai menenun.
Bukan menambal. Bukan mengurai. Menenun β ke atas. Benang-benang itu naik dari tanganku seperti asap cahaya, melengkung ke langit, menuju bingkai gerbang yang patah. Aku melihat dengan mata penenunku: pola bingkai itu. Simpul-simpul yang lepas. Tiang yang patah. Lubang-lubang bekas ngengat.
Dan aku menenunnya kembali. Simpul demi simpul. Tiang kanan yang patah β aku menyambungnya dengan pilinan emas dan perak. Lubang-lubang β aku menutupnya dengan jaring emas tua Wulan. Dan palang bawah β tempat nama-nama terukir β aku... aku tidak menghapus nama Sela.
Aku menenunnya KE DALAM pola. Huruf-hurufnya yang menyala melunak β bukan padam, tapi menyatu β menjadi bagian dari tenunan itu sendiri. Bukan nama yang dituntut. Bukan nama yang berutang.
Nama yang menjaga.
Langit bergetar. Sobekan itu β perlahan, seperti luka yang akhirnya menutup β merapat. Tepi-tepinya bertemu. Benang-benangku menjahitnya β dan dengan setiap jahitan, bintang-bintang yang tadi hilang... kembali. Satu per satu. Seperti lampu yang dinyalakan kembali.
Gerbang Langit β yang kini utuh, berkilau, bingkainya berdenyut dengan empat warna benang β perlahan... memudar. Bukan hancur. Masuk kembali ke balik langit. Ke tempatnya. Menunggu. Menjaga.
Taman bernapas lagi.
Aku merasakannya lebih dulu di kaki: tanah yang tadi kosong dan bukan-tanah itu... menjadi tanah lagi. Lalu bau bunga. Lalu suara jangkrik β satu, lalu dua, lalu paduan suara malam yang sempurna. Bunga-bunga simpul bermekaran di tempat-tempat yang tadi musnah β kelopak-kelopak cahaya yang membuka perlahan.
Danan terduduk di tanah β napasnya berat, tapi urat-urat hitam di wajahnya... surut. Tidak hilang sepenuhnya β garis-garis abu tipis tertinggal di sepanjang lengannya, seperti tato β tapi surut. Ia menatap tangannya β lalu menatapku β dan tersenyum.
Wulan... Wulan tertidur di pangkuan Ibuku. Bernapas. Benang emas tuanya redup β sangat redup β tapi ada. Masih ada.
Sela tertidur juga β kepalanya di pangkuanku β benang perak tipisnya kini kembali padanya, melingkar di pergelangan tangannya seperti gelang.
Malam itu, setelah semua orang tidur β setelah Ibu membawa Wulan dan Sela masuk, setelah Danan menolak tidur dan malah duduk di beranda menjagaku yang juga menolak tidur β aku duduk di taman yang hidup kembali, dan aku mengeluarkan lonceng kecil dari sakuku.
Lonceng Sela. Tambalan emasku masih di sana β berkilau redup di bawah cahaya bulan. Di dalamnya, benang tipis adikku berdenyut pelan. Tenang.
Aku tersenyum β dan baru saja akan memasukkannya kembali ke sakuβ
Lonceng itu berdenting.
Sekali. Pelan. Tanpa disentuh.
Aku membeku.
Lalu β dari dalam lonceng kecil itu β suara yang sangat kecil, sangat jauh, seperti bisikan dari dasar sumur β suara adikku:
"Kak... ada yang ikut masuk."