Yang Dilupakan
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,203 kata
Dua ibu. Dua anak. Satu pintu. Dan kain semesta yang menahan napas.
Tangan Ayah β separuh bayangan, separuh benang cahaya β masih mendorong keluar dari kain tenunan, gemetar, seolah seluruh keberadaannya dipertaruhkan pada satu genggaman itu. Di sisi lain menara, Rangga berdiri dengan pecahan kristal terangkat, dan di belakangnya ibunya yang terbuat dari malam pekat melayang dengan titik cahaya berdenyut di dadanya.
Rangga menatap tangan itu β lalu tertawa. Tawa yang retak di tepinya.
"Bahkan ayahmu datang untuk ibumu," katanya, suaranya bergetar. "Semua orang dapat kembali β kecuali ibuku. KENAPA, NAYARA? Apa yang kurang dari penantian ibuku dibanding penantian ibumu?!"
Aku merasakan tusukan rasa bersalah β karena di satu sisi, dia benar. Aku mendapatkan ibuku kembali tadi malam β hangat, nyata, memelukku. Dan dia berdiri di sana dengan ibunya yang bahkan tidak bisa disentuh tanpa terurai. Siapa aku untuk bilang bahwa penderitaannya kurang layak?
"Rangga, bukan begituβ" aku melangkah maju, tapi Danan menahanku dengan sebelah sayapnya.
"Bukan begitu bagaimana?" Rangga mengangkat jarum kristalnya tinggi-tinggi. Cahaya menara memantul di permukaannya yang tajam. "Kau tahu dari mana aku dapat ini?" Dia menatap pecahan kristal itu β dan untuk sesaat, wajahnya melunak menjadi wajah anak kecil. "Aku menemukannya di reruntuhan gerbang, waktu aku berumur sembilan tahun. Kaum Bayang berbisik padaku lewat mimpi β mereka bilang ibuku menungguku di dalam. Mereka bilang hanya pecahan segel yang bisa membukakan jalan." Dia tertawa pahit. "Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk satu tujuan, Nayara. Kau jahit kainmu, kau dapat ibumu. Aku robek kainmu, aku dapat ibuku. Kita sama-sama anak yang hanya ingin ibunya pulang! Bedanya β kau menang!"
"Rangga." Suara Danan dalam dan tenang β terlalu tenang, seperti danau sebelum badai. Dia berjalan melewatiku, berdiri di antara Rangga dan pintu cahaya, sayap berjahitannya terbentang penuh. "Turunkan jarum itu."
"Jangan ceramahi aku, penjaga."
"Aku pernah berdiri di posisimu." Danan tidak bergeming. "Dengan tangan yang sama gemetarnya. Di depan segel yang sama." Dia terdiam sejenak β dan aku tahu dia sedang kembali ke malam itu. "Hujan badai. Aku terbang ke gerbang dengan belati cahaya, berteriak memanggil nama kakakku. Aku berhasil merobek segel itu sejengkal β hanya sejengkal β sebelum dewan datang. Mereka tidak membunuhku. Mereka melakukan sesuatu yang lebih kejam: mereka menjahit sayapku, satu jahitan untuk setiap tahun aku dilarang mendekati gerbang, dan memaksaku menonton dari jauh sementara keluargaku tumbuh tanpa aku."
Rangga terdiam. Jarum itu turun sejengkal.
"Kau tahu rasanya, Rangga?" lanjut Danan, menatapnya lurus-lurus. "Tahu rasanya ingin merobek dunia demi orang yang kaucintai? Aku tahu. Dan aku tahu harganya. Jangan bayar harga yang sama."
Untuk sesaat β hanya sesaat β aku melihat keraguan di wajah Rangga. Tangannya yang menggenggam kristal itu bergetar. Di belakangnya, Sekar melayang mendekat, suaranya seperti angin bertiup melalui rumpun bambu di malam hari:
"Rangga kecilku... dengarkan pamanmu."
"Ibuβ"
"Dengar Ibu." Perempuan bayangan itu mengulurkan tangannya yang terbuat dari malam β dan dengan ngeri aku melihat ujung-ujung jarinya mulai terurai, seperti benang yang lepas dari tenunan. "Waktu kau lahir, Nak, Ibu menggendongmu di beranda dan berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Lalu Ibu memilih tinggal di dalam kegelapan β dan Ibu mengingkari janji itu setiap hari selama seratus tahun." Titik cahaya di dadanya berdenyut lebih cepat β liar, tidak berirama. "Seratus tahun Ibu menahan lapar agar tidak menjadi lapar. Ibu lelah, Nak. Ibu tidak ingin diseret menjadi terang. Ibu hanya ingin... diingat sebagai terang."
"Aku tidak bisa kehilangan Ibu dua kali!" Rangga berteriak, air matanya akhirnya tumpah. Dia menatap jarum kristal di tangannya β lalu menatap titik cahaya di dada ibunya. Dan aku melihat perhitungan yang mengerikan terbentuk di matanya. Logika orang yang putus asa: kalau pintu tidak mau mengakuinya, dia akan MENJANGKAR cahaya itu. Menusuknya. Memaksanya tinggal. Memaksanya menjadi nyata.
"RANGGA, JANGANβ!"
Terlambat. Dia menghunjamkan pecahan kristal itu ke titik cahaya di dada Sekar.
Jeritan Sekar bukan jeritan manusia. Itu suara kain yang dirobek β melengking, memanjang, membuat seluruh menara bergetar. Dari luka di dadanya, bayangan mulai TERURAI β helai-helai kegelapan lepas berputar-putar seperti benang yang ditarik paksa dari tenunan. Titik cahaya itu menyala liar, berkedip-kedip seperti lampu yang korsleting.
"Apa yang kulakukan... apa yang kulakukan..." Rangga berlutut di sisi ibunya, mencoba mencabut jarum itu β tapi kristalnya macet, tertanam di antara terang dan gelap. Dan kemudian β krek β retakan halus membelah permukaan kristal.
Uraian itu merambat. Dari dada Sekar, helai-helai lepas merayap ke kain tenunan di sekitar pintu β dan kain itu mulai LONGGAR. Pintu cahaya berkedip-kedip seperti lilin tertiup angin. Penjaga Pertama berlari ke alat tenun, tangannya yang bercahaya menekan-nekan helai yang longgar β tapi setiap helai yang disentuhnya, tubuhnya retak sedikit lebih dalam. "Kain ini menolakku," desisnya. "Hanya penenun jalan ketiga yang bisa menyentuhnya sekarang. Hanya KAU, Nak!"
Dari dalam kain, Kaum Bayang menekan-nekan β wajah-wajah cekung, mulut-mulut yang bergerak tanpa suara: Nayara... Nayara... Bukan rindu lagi. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih lapar. Mereka mencium kelonggaran itu seperti hiu mencium darah.
"NAYARA!" Suara Ayah menggelegar dari dalam kain, kini penuh ketakutan β bukan untuk dirinya sendiri. "Dengar Ayah! Kalau kain ini terurai, mereka tidak akan menjadi rindu lagi β mereka akan menjadi LAPAR. Dan yang pertama mereka telan adalah desamu!"
Aku berlari ke tepi menara. Di bawah sana β Desa Langit Biru. Lampu-lampu obor kecil, rapuh, berkelip-kelip seperti kunang-kunang. Aku bisa melihat atap rumah Nek Wulan β gentengnya yang bocor di sudut barat, yang selalu kutambal setiap musim hujan. Warung Bu RT β lampunya masih menyala, pasti Sari masih di sana, tertawa dengan pembeli terakhir. Semua yang kujahitkan ke dalam kain sebagai benang-benang cintaku β semuanya akan menjadi makanan pertama kalau bayangan itu tumpah.
"Tutup pintunya, Nak!" suara Ayah lagi, tangannya yang separuh cahaya itu kini ditarik mundur oleh arus bayangan yang bergolak. "SEKARANG! Sebelumβ"
Ibu mencengkeram lenganku β bukan untuk menahanku, tapi untuk membuatku menatapnya. "Dengar Ibu. Pilihanmu bukan antara dua ibu, Sayang. Tidak pernah." Matanya berkaca-kaca tapi tegas. "Pilihanmu adalah: apakah kau menjahit luka ini dengan cinta β atau kau membiarkannya dijahit dengan rasa takut. Pilih dengan hati yang utuh, Sayang β karena jahitan terakhir selalu yang paling sakit."
Aku menatap Rangga β yang masih berlutut, mencakar-cakar jarum yang retak itu, menangis seperti anak kecil. Aku menatap Sekar β yang terurai, yang memudar, yang masih sempat berbisik pada anaknya: "Tidak apa... tidak apa, Nak..."
Retakan pada kristal itu melebar. Dari dalamnya menyembul seberkas cahaya tipis yang melengking β dan robekan pada kain melebar ke arah helai-helai sisi desa. Bayangan-bayangan pertama mulai merembes keluar, jatuh menuju Desa Langit Biru seperti hujan hitam.
"NAYA!" Danan berteriak.
Di kepalaku, suara Ibu tadi bergema: pilih dengan hati yang utuh. Dan tiba-tiba aku sadar β hatiku sudah memilih sejak lama, sejak aku melangkah masuk ke dalam belahan itu dan berkata pada Danan: tangkap aku. Aku tidak pernah memilih satu dunia. Aku memilih SEMUANYA β desa dan langit, ibu dan ayah, terang dan bayang, bahkan Rangga yang merobek duniaku. Dan pilihan itu... adalah jahitan. Jahitan tidak memilih satu sisi kain β ia memeluk keduanya.
Aku berlari melintasi lantai cahaya yang bergetar β melewati Penjaga Pertama yang tubuhnya retak menahan tenunan, melewati Ibu yang berteriak memanggil namaku, melewati Rangga yang menatapku dengan mata memohon dan ngeri sekaligus. Dunia menyempit menjadi satu titik: gagang kristal yang retak, berdenyut, menungguku seperti jantung yang dicabut dari dadanya.
Bayangan-bayangan itu semakin dekat β aku bisa merasakan dinginnya merayap di kulitku, lapar yang seratus tahun ditahan kini menganga bebas. Kalau aku gagal di sini, Desa Langit Biru tidak akan sempat berteriak. Mereka hanya akan menjadi sarapan.
Aku melompat. Tanganku menggenggam gagang jarum yang retak itu.