Nada yang Belum Pernah Ada
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,425 kata
Ketukan itu tidak berhenti.
Tiga ketukan, jeda, tiga ketukan β dari arah bukit, sejak pagi, tanpa henti, seperti seseorang yang mengetuk pintu yang tidak akan dibukakan, dan justru karena pintu itu tidak dibuka, ketukannya menjadi semakin sabar, semakin yakin, semakin dekat. Pada awalnya aku mengira hanya aku yang mendengarnya. Lalu aku melihat Wulan menghentikan nyanyiannya di tengah bait dan menoleh ke arah jendela. Lalu Sela, yang sedang menggenggam cangkirnya, membeku dengan cangkir setengah terangkat. Lalu Danan, yang seharusnya beristirahat, bangkit dari tempatnya berbaring dengan jaring emasnya yang terurai di tangan, dan berkata, "Mereka sudah tidak lagi mengintai. Mereka memanggil dengan cara yang baru."
"Apa maksudmu, cara yang baru?" tanyaku.
Danan menatap ke arah bukit, dan wajahnya pucat. "Dewan tidak pernah mengetuk. Dewan memerintah lewat lonceng. Ketukan ini..." Ia menggeleng. "Ketukan ini meniru jeda. Seseorang mempelajari irama napasmu, Naya, dan sekarang ia menggunakannya sebagai bahasa. Ia tidak memanggil namamu. Ia memanggil jedamu."
Aku merasakan jeda di dadaku bergetar, dan getaran itu kini tidak lagi terasa seperti milikku sepenuhnya β seperti ada gema yang menjawab dari bukit, dan gema itu sedikit lebih cepat dari detakku, sedikit lebih mendesak, seperti seseorang yang menarik benang yang terikat di dadaku, pelan-pelan, menguji seberapa jauh benang itu bisa ditarik sebelum putus.
Wulan menggenggam lenganku. "Naya, lagu nina bobokku tidak lagi cukup," bisiknya. "Setiap kali aku menyanyi, suara lain itu ikut menyanyi, dan sekarang suara itu tidak lagi di belakang nadaku β ia di depan. Ia mendahului aku, seolah ia tahu bait berikutnya sebelum aku menyanyikannya." Matanya berkaca-kaca. "Aku takut, kalau aku terus bernyanyi, aku akan bernyanyi dengan suaranya, bukan suaraku."
Sela, yang sejak pagi diam, tiba-tiba berkata, suaranya kecil tapi jelas, "Kak, kendi itu bernyanyi lagi. Lebih keras dari tadi. Seperti ia tahu ada yang datang."
Aku menoleh ke beranda. Benar β nada pelan dari kendi itu kini terdengar jelas, bukan lagi bisikan, melainkan lagu yang hampir utuh, lagu yang melodinya terasa seperti lanjutan dari lagu tiga suara kami di sumur. Dan di antara nada-nada itu, aku mendengar sesuatu yang membuatku mengambil keputusan: kendi itu tidak bernyanyi untuk dirinya sendiri. Kendi itu bernyanyi untuk menjawab ketukan dari bukit β dan jawabannya bukan ketakutan, melainkan keberanian yang tenang, seperti seseorang yang menyanyi di tengah badai bukan karena ia tidak takut badai, melainkan karena ia tahu nyanyiannya adalah satu-satunya atap yang ia miliki.
"Aku akan menyanyikan lagu tiga suara lagi," kataku. "Bukan untuk melawan ketukan itu. Bukan untuk membuka kendi. Tapi untuk mengingatkan semua yang mendengar β yang di bukit, yang di beranda, yang di dalam rumah ini β seperti apa suara yang benar itu."
Danan menatapku, dan aku melihat ketakutan di matanya bertarung dengan sesuatu yang lain: kepercayaan. "Jaringku tidak utuh, Naya," katanya. "Aku tidak bisa menahanmu seperti dulu."
"Aku tidak memintamu menahanku," jawabku. "Aku memintamu menyanyi bersamaku. Bukan sebagai penahan. Sebagai suara kedua."
Ia terdiam, lalu mengangguk, dan senandung penahannya keluar β bukan senandung yang menahan, melainkan senandung yang mengalir, rapuh di ujung-ujungnya, tapi jujur, dan untuk pertama kalinya aku mendengar Danan menyanyi bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai seseorang yang ikut takut dan ikut berani dalam waktu yang bersamaan.
Aku melangkah ke beranda, ke tempat kendi itu berada, dan aku mulai menyanyi. Bukan lagu yang keras. Bukan lagu yang megah. Lagu yang sama dengan yang kami nyanyikan di sumur: suaraku dari bawah, suara Nenek Buyut dari dalam lagu, dan suara Wulan dari atas β tiga suara yang bertemu di jeda, di napas yang tenang, di tempat di mana nama yang sudah selesai ditulis tidak bisa ditulis ulang. Wulan, meski gemetar, ikut menyanyi dari dalam rumah, suaranya kecil tapi nyata, dan aku mendengar suara lain itu mencoba mendahuluinya β lalu goyah, lalu tertinggal, karena lagu tiga suara tidak bisa didahului: lagu ini tidak berjalan maju seperti lagu biasa. Lagu ini berputar, kembali ke jeda, dan jeda itu adalah tempat di mana tidak ada suara yang bisa mendahului suara yang lain, karena semua suara lahir dari napas yang sama.
Ketukan dari bukit itu berubah. Tiga ketukan, jeda, tiga ketukan β lalu ketukan itu melambat, mengikuti irama lagu kami, seperti seseorang yang tadinya mengetuk pintu kini ikut mendengarkan lagu dari balik pintu. Dan di tengah lagu itu, aku mendengar suara ketiga bergabung β bukan Wulan, bukan Danan. Suara Nenek Buyut, dari dalam lagu itu sendiri, menyanyi dari tempat yang tidak bisa kutunjuk, nadanya tua dan dalam seperti akar yang menyanyi di bawah tanah. Tiga suara itu kini lengkap, dan saat ketiganya bertemu di jeda, aku merasakan rumah ini, beranda ini, dan bukit itu, semuanya bernapas dalam irama yang sama, seperti satu tubuh yang akhirnya mengingat cara bernapas dengan benar. Dan kendi di depanku merespons: denyutnya menyatu dengan lagu, nada-nadanya menyatu dengan suaraku, dan permukaannya yang hitam β yang selama ini menyerap cahaya β mulai memantulkan cahaya matahari sore yang jatuh di beranda, retak demi retak, garis-garis halus seperti urat daun yang merekah.
"Jangan berhenti," bisik Danan, suaranya bergetar di antara senandungnya. "Sedikit lagi."
Aku tidak berhenti. Aku menyanyi sampai tenggorokanku perih, sampai napasku menjadi satu-satunya hal yang ada di dunia, sampai jeda di dadaku menjadi begitu tenang sehingga ia terasa seperti permukaan air yang tidak beriak β dan di permukaan yang tenang itulah, kendi itu akhirnya retak sepenuhnya.
Retakannya bukan ledakan. Retakannya seperti telur yang menetas: garis halus yang membelah, lalu terbuka, perlahan, dengan suara yang sangat pelan, seperti seseorang yang menghela napas lega setelah menahannya seumur hidup. Dari dalam kendi yang terbuka sebagian itu, keluar bukan cahaya, bukan asap, bukan sesuatu yang bisa kulihat β keluar satu kata, diucapkan dengan suara yang bukan suara siapa pun yang kukenal, tapi terasa seperti suaraku sendiri yang diucapkan dari tempat yang sangat jauh, dari sisi lain jeda.
"Pulang."
Kata itu menggantung di udara, dan lagu kami berhenti dengan sendirinya, bukan karena kami berhenti menyanyi, melainkan karena kata itu menyelesaikan lagu itu β seperti bait terakhir yang selama ini hilang dari lagu nina bobok Wulan, yang akhirnya menemukan tempatnya. Wulan menangis, pelan, lega, dan benang hitam di lehernya terlepas dengan sendirinya, jatuh ke lantai dan menghilang seperti asap yang tertiup angin. Sela menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, rumah kami mengeluarkan suara yang benar: bunyi periuk, desir angin, kicau burung yang kembali satu per satu, seperti dunia yang menghembuskan napas setelah menahannya seharian.
Danan memandangku, dan senandungnya berhenti, dan ia tersenyum β senyum yang lelah, yang rapuh, yang benar. "Kau melakukannya," katanya. "Kau tidak membuka kendi karena dipaksa. Kau menyanyikannya sampai ia membuka dirinya sendiri."
Aku menatap kendi yang terbuka sebagian itu dan menyadari sesuatu yang membuat tanganku gemetar: di dalam retakannya, bukan kegelapan yang kulihat, melainkan cahaya yang sangat pelan, seperti cahaya fajar yang dilihat dari dasar sumur. Dan cahaya itu tidak menyilaukan. Ia hangat, seperti napas seseorang yang tidur di sampingmu. Aku teringat kata-kata Wulan tentang bait lagu yang tidak pernah dinyanyikan sampai habis, dan aku mengerti sekarang β bait itu bukan hilang. Bait itu menunggu. Menunggu seseorang menyanyikan lagu tiga suara bukan untuk melawan, bukan untuk membuka, melainkan untuk mengundang, sampai yang menunggu di balik jeda merasa cukup aman untuk menjawab dengan satu kata saja. Dan kata itu, "pulang," kini bergema di dadaku, di tempat yang sama dengan jeda itu tinggal, seperti nama kedua yang akhirnya menemukan pemiliknya.
Aku mengangguk, dan aku hendak menjawab, hendak mengatakan bahwa aku belum mengerti apa arti "pulang" itu β pulang ke mana, pulang untuk siapa, pulang dengan cara apa β ketika suara itu datang dari arah bukit. Sebelum suara itu datang, sempat ada keheningan yang sempurna, keheningan yang bahkan burung-burung pun menghormatinya, seolah seluruh bukit menahan napas bersamaan denganku, menunggu nada pertama dari sesuatu yang baru lahir.
Bukan ketukan. Bukan panggilan. Bukan lonceng yang kukenal.
Lonceng dari arah bukit itu berbunyi lagi, dan nadanya adalah nada yang belum pernah kudengar seumur hidupku: bukan nada panggilan Dewan yang memerintah, bukan nada lagu tiga suara yang menenangkan, melainkan nada yang baru, yang asing, yang indah dan menakutkan dalam waktu yang bersamaan β nada yang terdengar seperti pintu yang terbuka di tempat yang selama ini kukira tidak punya pintu, dan dari balik pintu itu, seseorang sedang menyanyikan namaku, nama yang itu, dengan suara yang persis sama dengan suaraku sendiri.
Dan kendi yang terbuka sebagian itu berdenyut sekali lagi β bukan seperti jantung, melainkan seperti langkah pertama seseorang yang baru saja belajar berjalan menuju pulang. Jeda di dadaku menjawab denyut itu tanpa seizinku, dan untuk sesaat aku tidak tahu lagi apakah napas yang kurasakan adalah napasku, napas kendi itu, atau napas seseorang yang sedang berjalan ke arahku dari balik bukit.