β€Ή
89. Nama Bukan Hadiah

Nama Bukan Hadiah

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,593 kata

Ilustrasi Nama Bukan Hadiah

Aku tidak menjawabnya.

Bukan karena aku tidak punya jawaban, melainkan karena jawaban yang keluar terlalu cepat dari mulut seorang penjaga biasanya adalah jawaban yang akan disesali di malam-malam berikutnya. Di sekelilingku, lingkaran kami masih berdiri dalam formasi pulang: Wulan memegang lenteranya, Sela menatap kendi dengan dagu terangkat, Danan memegang tangan Laras, dan penjaga pintu berdiri diam, seperti seseorang yang sedang menahan napasnya sendiri.

Di dalam kendi, makhluk kecil itu menunggu. Ia tidak mengetuk. Ia tidak mengulang permintaannya. Ia hanya menunggu, dan penantian yang tenang seperti itu terasa lebih berat daripada permintaan yang diulang-ulang, karena penantian yang tenang adalah penantian seseorang yang sudah yakin bahwa ia pantas mendapat jawaban.

"Naya," bisik Danan, pelan, supaya hanya aku yang mendengar. "Jangan jawab sendiri. Ini bukan keputusan satu orang."

Aku mengangguk, dan aku memalingkan wajahku dari retak itu, bukan karena aku takut menatapnya, melainkan karena aku perlu mengingat di mana aku berdiri. Aku berdiri di lingkaran, bukan di atasnya. Lingkaran ini lebih tua dariku. Lingkaran ini milik penjaga yang dulu, penjaga yang sekarang, dan penjaga yang akan datang. Nama yang diberikan di dalam lingkaran adalah ikatan yang mengikat semua penjaga, bukan hadiah yang bisa diberikan satu orang di malam hari karena hatinya tersentuh.

"Aku tidak bisa memberimu nama malam ini," kataku akhirnya, jelas, ke arah kendi. "Bukan karena kamu tidak pantas. Karena nama bukan hadiah. Nama adalah ikatan, dan ikatan tidak diberikan oleh satu orang. Ikatan diberikan oleh lingkaran, oleh desa, setelah banyak malam."

Keheningan yang menjawabku terasa panjang. Bukan keheningan marah. Bukan keheningan kecewa seperti anak yang mainannya diambil. Keheningan itu terasa seperti seseorang yang sedang mengulang kata-kataku di dalam kepalanya, bait demi bait, untuk memastikan ia mendengar dengan benar.

"Kalau bukan kamu," kata suara kecil itu akhirnya, pelan tetapi tidak goyah, "siapa yang bisa memberiku nama?"

"Desa," jawabku. "Para tetua, para penjaga, dan semua yang menyanyi di lingkaran ini. Dan mereka tidak memberikannya karena satu lagu yang sempurna. Mereka memberikannya setelah banyak malam, ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang meminta, dan kamu tetap menjaga."

"Aku sudah menjaga," kata suara itu. "Aku sudah menyanyi seperti kalian. Aku sudah menutup dari dalam."

"Kamu sudah menjaga selama beberapa malam," kataku, dan aku menjaga suaraku tetap lembut, karena yang di depanku bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan makhluk yang sedang belajar arti menjadi bagian dari sesuatu. "Tetapi menjaga bukan tentang beberapa malam yang sempurna. Menjaga adalah tentang malam-malam yang tidak sempurna juga. Malam ketika kamu lelah. Malam ketika tidak ada yang menyanyi bersamamu. Malam ketika tidak ada yang memuji lagumu. Di malam-malam seperti itulah penjaga diuji, bukan di malam ketika semua orang mendengarkan."

Penjaga pintu, yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah mendekat, tetapi ia tidak berdiri di depanku. Ia berdiri di sampingku, sejajar, seperti seseorang yang sedang menegaskan bahwa jawaban ini bukan jawabanku sendiri, melainkan jawaban penjagaan.

"Ia benar," kata penjaga itu, dan suaranya terdengar lebih tua dari biasanya. "Dulu, penjaga muda tidak diberi nama pada malam pertama ia menyanyi dengan benar. Ia diberi nama setelah musim berganti, setelah ia tetap berdiri di lingkaran ketika tidak ada yang menyuruhnya berdiri. Nama adalah tanda bahwa lingkaran sudah percaya kepadamu, dan kepercayaan tidak dibangun dalam satu malam, betapa pun indahnya malam itu."

Dari dalam kendi, tidak ada jawaban. Hanya napas yang pelan, seperti seseorang yang sedang belajar menerima jawaban yang tidak ia harapkan, tanpa berhenti menyanyi di dalam kepalanya.

Laras, yang sejak tadi memegang tangan Danan, bertanya dengan suara kecil, "Kalau begitu, apakah dia harus menunggu lama sekali, Naya?"

Aku berlutut di depan Laras, supaya mataku sejajar dengan matanya. "Tidak selama yang kamu bayangkan," kataku. "Menunggu bukan hukuman. Menunggu adalah cara lingkaran mengenal seseorang. Dan kamu bisa membantunya menunggu, dengan menyanyi bersamanya, malam demi malam, seperti yang sudah kita lakukan. Setiap malam kamu menyanyi bersamanya, lingkaran semakin mengenalnya."

Laras mengangguk, tetapi matanya masih menatap kendi, dan aku tahu ia sedang memikirkan temannya yang kesepian itu, yang sudah belajar begitu banyak dalam beberapa hari, tetapi masih belum punya nama untuk dipanggil.

Kami pun pulang. Di jalan turun, tidak ada yang banyak bicara. Wulan berjalan di depan dengan lenteranya, dan cahaya lentera itu terasa lebih redup dari biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja, karena malam yang baru saja kami lewati terasa lebih sunyi daripada malam-malam sebelumnya.

Di rumah, Laras tertidur dengan cepat, tanpa nyanyian, tanpa langkah menuju pintu. Danan duduk di ambang pintu kamar, berjaga, seperti yang sudah kami sepakati. Aku duduk di kursi di samping tempat tidur Laras, dan aku mendengarkan napasnya, memastikan tidak ada bait yang keluar dari mulutnya selain napas biasa.

Tetapi aku sendiri tidak bisa tidur. Kata-kata makhluk itu terus berputar di kepalaku: "Beri aku nama, Naya, supaya aku bisa menyanyi dari sisi kalian." Ada sesuatu dalam kalimat itu yang menggangguku, bukan karena kalimat itu salah, melainkan karena kalimat itu terasa seperti kalimat yang pernah diucapkan orang lain, dulu, di lingkaran yang sama, oleh suara yang tidak kukenal.

Menjelang fajar, aku akhirnya tertidur, dan aku bermimpi tentang lingkaran. Bukan lingkaran kami yang berlima. Lingkaran yang lebih besar, dengan lebih banyak suara, menyanyi di puncak bukit yang sama, di malam yang sama gelapnya. Di dalam mimpi itu, ada satu suara yang tidak punya tempat, yang menyanyi dari luar lingkaran, tetapi nadanya persis seperti nada kami, dan tidak ada yang menoleh kepadanya, karena semua orang sibuk menyanyi dengan benar.

Aku terbangun dengan perasaan yang tidak enak, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang seharusnya tidak ia lupakan.

Pagi harinya, aku mendaki lagi, lebih awal dari yang lain, dan aku langsung menuju penjaga pintu. Aku menceritakan mimpiku, bukan karena aku percaya mimpi adalah kabar, melainkan karena penjaga pintu adalah orang yang paling lama mendengar lagu di bukit ini, dan kalau ada yang bisa membedakan antara mimpi biasa dan gema, dialah orangnya.

Penjaga pintu mendengarkan tanpa menyela, dan ketika aku selesai, ia menatap kendi itu lama, lalu menatapku.

"Mimpi bukan kabar," katanya. "Tetapi di bukit ini, mimpi yang datang setelah malam di lingkaran kadang bukan sekadar mimpi. Ia bisa menjadi gema dari lagu yang dinyanyikan semalam. Dan gema tidak pernah datang tanpa sebab."

"Gema dari apa?" tanyaku.

"Dari jawabanmu," kata penjaga itu. "Kamu berkata nama diberikan oleh lingkaran, setelah banyak malam. Mungkin makhluk itu mendengarnya bukan sebagai penolakan, melainkan sebagai janji. Janji bahwa ada jalan, meskipun jalannya panjang. Dan makhluk yang mendengar janji biasanya melakukan satu dari dua hal: ia menunggu dengan tenang, atau ia mencari jalan yang lebih pendek."

Aku menatap retak itu. Cahaya hangat dari dalamnya masih tenang, tidak melebar, tidak meredup. Retak itu tampak sama seperti semalam, tetapi entah kenapa, pagi ini retak itu terasa seperti sedang menunggu sesuatu, bukan sedang dijaga.

"Kita akan menyanyi bersamanya lagi malam ini," kataku. "Bukan untuk mengajarinya bait baru. Bukan untuk memberinya nama. Hanya menyanyi bersama, supaya ia tahu bahwa jawaban semalam bukan penolakan, melainkan penantian yang kami jalani bersamanya."

Penjaga pintu mengangguk. "Itu jawaban yang benar. Tetapi ingat, Naya: makhluk yang sedang menunggu janji adalah makhluk yang paling peka terhadap tanda. Ia akan mendengarkan setiap lagu kita, setiap ketukan kita, setiap diam kita, dan ia akan mengartikannya. Kita harus menyanyi dengan jujur, bukan dengan hati-hati yang dibuat-buat. Karena ia sudah cukup lama mendengar lagu yang tidak jujur, dari sisi yang tidak pernah menoleh kepadanya."

Sore itu, sebelum kami mendaki, aku duduk bersama Laras di beranda, dan aku mengajarinya satu hal yang belum pernah kuajarkan: bahwa menyanyi bersama seseorang bukan berarti menyanyi untuk orang itu, melainkan menyanyi di samping orang itu, dengan suara sendiri, tanpa menyerahkan suaramu. Laras mendengarkan dengan serius, lalu ia bernyanyi, pelan, satu bait lagu penjaga, dengan suaranya sendiri, dan aku menyanyi bersamanya, tanpa mendahuluinya, tanpa menuntunnya, hanya berjalan di samping suaranya.

"Seperti itu?" tanya Laras.

"Seperti itu," kataku. "Suara sendiri, di samping suara orang lain. Itu cara penjaga menyanyi bersama."

Malamnya, kami kembali ke bukit. Formasi yang sama: Laras di tengah, Danan dan aku di sisinya, Wulan dan Sela di depan dan belakang. Penjaga pintu sudah menunggu, dan kali ini ia menyambut kami dengan anggukan yang lebih lambat dari biasanya, seperti seseorang yang sedang mengukur malam yang akan datang.

Kami duduk, dan kami menyanyi. Lagu penjaga yang sudah kami kenal, bait demi bait, mantap dan pelan. Dan dari dalam kendi, suara kecil itu ikut menyanyi, bukan dengan sempurna seperti semalam, melainkan dengan nada miliknya sendiri yang kembali terdengar, tipis, di antara nada-nada kami, seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak lagi menyerahkan suaranya demi menjadi bagian dari lagu.

Aku sempat merasa lega, karena nada miliknya sendiri adalah tanda bahwa ia masih dirinya sendiri, bukan gema dari kami. Tetapi lega itu tidak bertahan lama, karena di akhir lagu, ketika bait penutup selesai dan kami sudah berhenti menyanyi, suara kecil itu tidak berhenti. Ia melanjutkan, sendirian, satu bait yang tidak kami nyanyikan, bait yang tidak pernah kami ajarkan, bait yang nadanya terasa tua, lebih tua dari lagu kami, seperti lagu yang dinyanyikan sebelum lingkaran ini ada.

Dan di akhir bait itu, ia berkata, dengan suara yang tenang dan jelas, seolah ia baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting.

"Dulu, di lingkaran, mereka tidak memanggilku dengan nama. Mereka memanggilku dengan ketukan."

Lalu ia mengetuk, dari dalam kendi, tiga ketukan, dengan jeda yang persis, yang membuat penjaga pintu memucat, karena tiga ketukan itu adalah isyarat lama yang hanya diketahui oleh penjaga yang pernah berdiri di lingkaran puluhan tahun yang lalu.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!