β€Ή
58. Paduan Suara Kedua Belas

Paduan Suara Kedua Belas

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,238 kata

Ilustrasi Paduan Suara Kedua Belas

Kami berlari pulang dengan hitungan di kepala β€” delapan β€” dan setiap langkah di jalan setapak terasa seperti mengejar lonceng yang tidak terlihat.

Wulan mendengarkan laporanku tanpa menyela β€” wajahnya semakin pucat di setiap kalimat, tangannya mencengkeram tongkatnya erat-erat. Ketika aku sampai pada bagian "delapan", ia memejamkan mata lama.

"Dua belas," katanya akhirnya.

"Apa?"

"Dewan menempa dua belas lonceng." Ia membuka mata β€” dan aku belum pernah melihatnya setakut ini, bahkan saat langit berdarah semalam. "Dari retakan pertama, Nak. Sebelum ada penenun, sebelum ada penjaga β€” mereka sudah membuat wadah. Dua belas tempayan untuk dua belas jenis beban: takut, duka, haus, kesepian, rindu, doa yang tak terjawab..." Ia berhenti, napasnya berat. "Mereka sudah menabung selama ratusan tahun. Dan sekarang mereka mulai menuang." "Satu lonceng adalah wadah, Nak. Dua belas lonceng yang berdenting bersama... adalah bingkai. Paduan suara bisa membuka pintu β€” dari sisi lain."

Darahku dingin. "Pintu untuk apa?"

"Untuk Dewan." Wulan menatap gerbang yang berkedip di balik langit siang. "Mereka tidak bisa melewati gerbang kita β€” gerbang sudah punya penjaga. Jadi mereka membangun gerbang mereka sendiri. Dari lonceng-lonceng. Bingkai yang bernyanyi."

Aku menatap tanganku β€” benang emasku yang berakar abu-abu. Semalam aku memindahkan kegelapan dan menenun lonceng menjadi palang. Pagi ini aku mendengar tujuh nada. Aku sudah menjadi bagian dari musik ini, mau atau tidak.

"Kalau begitu kita buat paduannya sumbang," kataku.

Wulan menatapku. "Maksudmu?"

"Semalam aku menamai TAKUT β€” dan ia menjadi wadah yang bisa kuikat. Aku menamai INGAT β€” dan ia menjadi penjaga." Aku menggenggam benangku erat. "Sesuatu yang bernama menyanyikan lagunya sendiri, Nek. Bukan lagu paduan suara. Kalau aku beri setiap lonceng nama... mereka akan keluar dari hitungan."

"Berapa banyak yang bisa kau jangkau?" tanya Danan pelan.

Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk bersila di beranda β€” di bawah gerbang yang berkedip β€” dan aku melepaskan benang-benangku.

Mereka menyebar seperti alat tenun raksasa β€” emas yang berakar abu-abu, melintasi bukit, menembus hutan, merayap ke tempat-tempat gelap tanpa terbakar. Kegelapan membiarkannya lewat β€” mengenali salah satu miliknya. Harga yang kubayar semalam menjadi jalan hari ini.

Aku bisa merasakan semuanya lewat benang itu β€” atap-atap seng yang panas oleh matahari siang, sawah yang basah, anak-anak yang bermain tanpa tahu langit pernah berdarah. Dunia yang tidak tahu bahwa ia sedang dipertaruhkan. Dan di antara semuanya, dengung-dengung itu β€” seperti luka-luka kecil di udara, masing-masing bernanah nada. Danan menghitung di sampingku, suaranya pelan: "Pelan-pelan. Jangan terburu-buru. Mereka sudah menunggu ratusan tahun β€” mereka bisa menunggu sepuluh menit lagi."

Di dalam rumah, aku mendengar suara Ibu β€” setengah berbisik, setengah panik: "Naya! Gelang Selaβ€”" Aku tidak membuka mata, tidak berani memutus tenunan. Tapi Wulan menjawab untukku, suaranya tenang: "Biarkan. Yang bernama mengenali yang bernama." Dan aku merasakannya β€” setiap kali aku memberi sebuah nama, simpul INGAT di pergelangan Sela berdenyut menjawab dari dalam rumah, seperti tepuk tangan kecil dari jauh. Seolah ia berkata: aku juga bernama. Aku juga menjaga.

Satu per satu, aku menemukan mereka β€” lewat dengungnya, lewat rasanya.

Lonceng kecil berlumut di pendopo runtuh β€” yang kini kosong, tapi perunggunya masih ingat lima belas tahun duka. Aku menyentuhnya dengan ujung benangku dan aku memberinya nama: "DIDENGAR." Bukan untuk mengisinya β€” untuk memberinya tugas. "Tugasmu mengingat tangis yang pernah kau simpan β€” agar didengar, bukan agar lapar." Perunggu itu bergetar β€” nadanya berubah, turun setengah nada. Keluar dari paduan. Disegel dari pengisian ulang.

Lonceng di dasar sumur kering di desa seberang bukit β€” penuh dengan haus yang dipanen saat kemarau panjang. Aku menamainya "TEDUH." "Tugasmu menampung haus β€” agar yang haus tahu mereka tidak sendiri." Nadanya berubah. Keluar.

Lonceng di bawah jembatan tua β€” penuh dengan kesepian para pengembara yang tidak pernah sampai. "SINGGAH." Keluar.

Lonceng di dalam gua β€” penuh dengan gelap yang bahkan Dewan pun takut menyimpannya terlalu lama. Yang ini melawan β€” benangku terbakar di ujungnya, akar abunya meronta seperti dicambuk. Aku menggertakkan gigi dan aku menamainya juga: "TIDUR." "Tugasmu tidur. Lama. Dalam." Ia diam β€” nadanya tenggelam seperti batu ke air. Keluar.

Lonceng di pasar malam yang sudah tutup β€” penuh dengan rindu yang tidak pernah terucap, milik para pedagang yang menutup lapak dengan tangan kosong. Aku menamainya "PULANG." "Tugasmu menampung rindu β€” agar yang merindu tahu jalan pulang selalu ada." Nadanya pecah menjadi hangat. Keluar.

Lonceng di menara bambu tua β€” penuh dengan doa-doa yang tidak terjawab, yang dipanjatkan orang-orang saat langit pertama kali berdarah. Aku menamainya "DIJAWAB." "Tugasmu menyimpan doa β€” bukan sebagai tagihan, tapi sebagai bukti bahwa mereka pernah berharap." Ia bergetar β€” lega, seperti bahu yang akhirnya diturunkan. Keluar.

Lonceng di kapal karam di tepi pantai β€” penuh dengan takut tenggelam para nelayan. "TEPIAN." "Tugasmu menjadi tepian β€” tempat takut boleh berlabuh tanpa menenggelamkan." Ombak di kejauhan seolah berhenti sesaat. Keluar. Setiap nama merenggut sesuatu dariku β€” napasku menjadi pendek, pelipisku berdenyut, darah menetes dari hidungku tanpa kusadari. Danan berlutut di sampingku, tangannya di bahuku, jaring emas pengaman menahanku agar tidak terseret masuk ke dalam tenunan raksasa itu.

"Tujuh," bisiknya. "Tujuh sudah keluar. Tinggal..."

Aku merentangkan benangku lebih jauh β€” ke cakrawala, ke tempat dua dengung terakhir berasal. Tapi dua nada itu terlalu jauh β€” di seberang lautan, di balik gunung-gunung yang bahkan akar-akar abuku tidak berani sentuh. Benang-benangku bergetar, menipis, hampir putus di tengah jalan.

"Tidak sampai," desahku. Darah menetes dari hidungku ke tanah beranda. "Dua itu... terlalu jauh."

Aku mencoba sekali lagi β€” memaksa satu akar abu-abu melintasi lautan, menuju nada jauh itu. Akar itu meregang... meregang... lalu PUTUS. Rasanya seperti gigi dicabut tanpa bius β€” nyeri tajam menjalar dari ujung benang sampai ke dadaku. Aku tersentak, dunia miring. Tangan Danan mencengkeram bahuku, menahanku tetap duduk.

"Cukup," geramnya, tangannya gemetar di bahuku. "Kau sudah memberi tujuh nama. Cukup."

"Berapa yang kosong?" tanya Wulan β€” suaranya tegang.

Aku mencari β€” meraba kekosongan-kekosongan yang menunggu. Satu: di bawah laut, dingin dan dalam, seperti paru-paru yang belum pernah bernapas. Dua: di puncak gunung yang berasap, sabar seperti batu. Tiga: di kota yang bising, tersembunyi di antara ribuan suara... tapi ada yang keempat. Aku mengerutkan kening. Benangku berputar-putar di satu titik β€” tidak menemukan arah. Seolah kekosongan itu tidak ada di luar sana.

Seolah ia tidak punya arah β€” karena ia ada di sini.

Aku membuka mata.

Danan sudah berdiri β€” wajahnya putih seperti mayat. Ia tidak menatap cakrawala. Ia menatap ke bawah. Ke tanah di bawah kaki kami. Ke taman.

"Tidak," bisikku.

"Lonceng pertama," kata Danan β€” suaranya datar, seperti orang yang sudah kehabisan cara untuk takut. "Milik Dewan yang paling tua. Mereka tidak menggantungnya di mana-mana." Ia menekan telapak tangannya ke tanah. "Mereka menguburnya. Di sini. Di bawah rumah kita. Selama ini."

Danan berlutut β€” menempelkan telinganya ke tanah, seperti mendengarkan detak jantung seseorang yang sedang tidur. "Aku mendengarnya," bisiknya. "Bukan dengung. Detak. Seperti jantung..." Ia mengangkat wajahnya β€” pucat pasi. "Tapi terbalik. Jantung yang berdetak ke dalam."

Akar-akar abu-abuku menjerit β€” tertarik ke bawah, ke arah detak terbalik itu, seperti ingin menjawab. Dari dalam rumah, aku mendengar Sela menangis β€” tangis kecil yang tertahan β€” dan suara Ibu menenangkannya, goyah. Simpul INGAT di gelang Sela berdenyut liar, panas.

Tanah di bawah kakiku bergetar β€” pelan, sabar, seperti dada raksasa yang mulai bernapas dalam tidur.

Dan dari kedalaman yang bahkan akar-akar abuku tidak berani sentuh, naiklah denting yang paling tua.

Dalam. Sabar.

Dan lapar.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!