β€Ή
33. Suara dari Balik Robekan

Suara dari Balik Robekan

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,556 kata

Ilustrasi Suara dari Balik Robekan

"Seribu tahun aku mengetuk," kata suara itu, "dan seribu tahun tidak ada yang berani menjawab."

Kegelapan di balik robekan pertama menyibak seperti tirai, dan ia melangkah keluar β€” setengah. Sebelah tubuhnya masih di dalam gelap, sebelah lagi sudah di dalam cahaya keemasan lorong. Ia tua β€” lebih tua dari Danan, lebih tua dari apa pun yang pernah kulihat. Tubuhnya dijalin dari benang-benang cahaya keemasan, seperti Ibu, tetapi lebih padat, lebih nyata, dengan urat-urat cahaya yang berdenyut di bawah "kulitnya". Rambutnya β€” kalau itu bisa disebut rambut β€” adalah jalinan benang perak dan emas yang tergerai sampai ke lantai. Dan matanya β€” matanya sama persis dengan mata Ibu. Sama persis dengan mataku, kata Danan dulu sekali.

"Nini," bisikku. Kata itu terasa asing dan akrab sekaligus di lidahku.

"Saras," kata Ibu β€” Raras β€” dari belakangku, suaranya pecah menjadi seribu keping cahaya. "Ibu..."

Saras β€” Nini β€” menoleh ke arah Ibu, dan untuk sesaat wajah tuanya yang bercahaya itu bergetar. "Raras," bisiknya. "Anakku. Kau β€” kau sudah setua ini." Tangannya yang terjulur β€” tangan yang masih menyentuh simpul jantung β€” bergetar. "Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak pernah pulang."

"Jangan dengarkan dia!" Arka berseru. Ia sudah mundur sampai ke tepi cahaya perak yang padam, punggungnya menempel pada dinding anyaman. Gema suaranya yang dulu rapi kini tinggal parau. "Itu bukan ibumu, Raras! Itu kegelapan yang memakai wajah! Kegelapan meniru β€” itu yang dilakukannya β€”"

"Diam, Arka." Suara Saras tidak keras. Tetapi ketika ia mengucapkan nama itu, seluruh lorong bergetar β€” dan Arka terdiam, mulutnya masih terbuka. "Aku mengenalmu sejak kau sebesar kepalan tanganku. Kau tidak perlu berbohong kepadaku. Kau sudah cukup berbohong untuk seribu tahun."

Dua bayangan bersayap di sisi Arka β€” kini aku bisa melihat mereka lebih jelas dalam cahaya keemasan β€” saling berpandangan lagi. Salah satunya perlahan menurunkan tangannya yang sejak tadi terangkat setengah, siap menyerang.

"Ceritakan," kataku kepada Saras. Tanganku masih di simpul jantung, merasakan denyutnya yang hangat dan meleset. "Ceritakan semuanya. Kebenarannya."

Saras mengangguk perlahan. Kegelapan di belakangnya bergolak pelan, seperti air yang gelisah, tetapi tidak merembes keluar β€” simpul pilihanku menahannya, dan tangan Nini yang menyentuh simpul itu seolah menegaskan: aku di sini, aku menjaga dari sisi ini.

"Aku adalah Penjahit Pertama," katanya. "Yang pertama menemukan lorong ini, yang pertama memahami bahwa langit di atas desa-desa kita β€” langit yang kalian sebut Langit Atas β€” sebenarnya adalah perban. Luka yang harus dijahit agar tidak robek dan menelan dunia di bawahnya."

Ia menarik napas β€” atau gerakan yang menyerupai napas.

"Pada awalnya, tidak ada giliran. Tidak ada tahanan. Tidak ada rantai darah. Perban itu kujahit dengan benang kehendak β€” kemauan para penjaga yang memilih menjaga. Dan ia bertahan. Ratusan tahun ia bertahan." Matanya yang sama seperti mataku menatapku dalam-dalam. "Sampai dewan dibentuk. Sampai mereka menemukan bahwa ketakutan lebih mudah dikendalikan daripada kemauan."

Danan di sisiku mengeluarkan suara β€” seperti erangan tertahan. Akar-akar abu-abunya di lantai bergetar.

"Mereka datang kepadaku," lanjut Saras, "dengan tatanan mereka yang rapi. Satu penjaga masuk, satu penjaga keluar. Darah menggantikan darah. Mereka bilang, begitulah cara perban bertahan β€” dengan korban. Aku bilang, itu bohong. Perban bertahan dengan kemauan, bukan dengan korban. Kami bertengkar." Senyum pahit melintasi wajah tuanya. "Aku kalah. Mereka lebih banyak, dan mereka lebih rapi."

Ia mengangkat tangan bebasnya β€” tangan yang tidak menyentuh simpul β€” dan menunjuk ke robekan pertama, ke kegelapan yang aktif di belakangnya.

"Mereka melemparkanku ke balik robekan ini. Dan agar tidak ada penjaga yang berani mempertanyakan tatanan mereka, mereka merobeknya lebih lebar β€” dengan tangan perak mereka yang sempurna." Suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena marah yang sudah berumur seribu tahun. "Robekan pertama bukan luka alami, Nak. Ia dibuat. Kegelapan di baliknya bukan musuh. Ia hanya β€” gelap. Kosong. Tempat mereka membuang apa pun yang tidak rapi."

Hening. Bahkan denyut simpul jantung seolah melambat.

"Jadi selama ini," kata Ibu pelan, "kami menjaga perban dari kegelapan yang β€”"

"Yang tidak pernah menyerang," Saras menyelesaikan. "Tidak sekali pun dalam seribu tahun kegelapan itu menyerang. Karena tidak ada yang perlu diserang. Yang menyerang kalian β€”" ia menoleh ke Arka, "β€” selalu mereka."

Arka membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Wajahnya yang sempurna β€” wajah tanpa keriput, tanpa bekas kerja β€” kini tampak seperti topeng yang retak.

"Tiga ketukan," kataku perlahan, potongan-potongan itu tersusun di kepalaku. "Pola yang Ibu ajarkan. Emas β€” darah penjaga. Abu-abu β€” sumpah jangkar. Dan yang ketiga β€” pilihan."

"Aku yang menemukannya," kata Saras. "Simpul yang diikat karena mau tidak bisa dimakan gerbang. Aku menemukannya semalam sebelum mereka melemparkanku ke sini." Ia tertawa β€” tawa tua yang berderak seperti daun kering. "Aku tidak sempat mengikatnya. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang kubisa: aku mengetuk. Tiga ketukan. Jeda. Tiga ketukan. Ke setiap penjaga yang bebannya terlalu berat. Berharap β€”" suaranya pecah, "β€” berharap suatu hari ada yang cukup berani untuk menjawab."

Ibuku β€” Raras β€” melayang mendekat, tangannya yang tembus pandang terulur ke arah tangan Nini, tetapi berhenti sejengkal sebelum menyentuh. Seolah takut ibunya akan hilang jika disentuh.

"Aku mendengarmu," bisik Ibu. "Setiap malam. Aku mendengarmu dan aku takut menjawab."

"Aku tahu, Nak. Aku tahu. Dan aku tidak pernah menyalahkanmu."

Lalu Saras menoleh kepadaku, dan matanya β€” mata yang sama seperti mataku β€” menjadi serius.

"Naya. Dengarkan baik-baik. Simpulmu β€” simpul pilihanmu β€” telah mengubah lorong ini. Ia tidak lagi berjalan dengan darah dan kewajiban. Ia berjalan dengan kemauan. Itu sebabnya jaring ibumu menahan dirinya sendiri. Itu sebabnya cahaya ini hangat." Ia mengangguk ke sekeliling, ke dinding-dinding lorong yang menyala seperti lentera. "Tetapi robekan ini β€”" ia melirik ke belakang, ke kegelapan, "β€” masih luka. Luka yang hanya dijahit dari satu sisi. Untuk menjadi pintu β€” untuk aku bisa keluar, untuk kegelapan ini berhenti menjadi momok β€” ia harus dijahit dari dua sisi. Aku dari sini." Ia mengangkat tangannya yang bebas, menunjukkan benang emas yang melilit pergelangannya β€” benang yang sama seperti milikku dulu. "Dan kau dari sana."

Aku menatap benang itu. Lalu menatap simpul jantung. Lalu menatap Danan.

Paman menggeleng perlahan. "Jangkar ini menahan simpulmu, Nak. Kalau kau melonggarkan ikatanmu untuk menjahit robekan β€”" ia menatap akar-akar abu-abunya yang bergetar di lantai, "β€” aku harus menahan dua kali lipat. Aku sudah tua, Naya."

"Tidak," kataku cepat. "Aku tidak akan membiarkanmu β€”"

"CUKUP!"

Suara Arka membelah lorong β€” bukan gema rapi, melainkan jeritan. Dan di pergelanganku, jerat Bima β€” jerat lama yang tidak pernah benar-benar dilepas β€” MENYALA.

Dingin yang membakar. Kait-kait perak yang tak terlihat mencengkeram kulitku, menembus sampai ke tulang. Aku berteriak β€” dan tubuhku tersentak ke belakang, diseret oleh kekuatan yang tak terlihat. Jerat itu β€” jerat dewan, jerat Bima, pemburu dewan β€” menarikku menjauh dari simpul jantung, menjauh dari robekan, menuju Arka.

"Naya!" Danan meraung. Benang abu-abu di antara kami menegang β€” jangkar menahan. Aku tergantung di antara dua kekuatan: jerat perak yang menyeretku ke belakang, jangkar abu-abu yang menahanku di tempat. Pergelangan tanganku terasa seperti akan putus.

"Lepaskan dia!" Saras berseru dari balik robekan, tangannya terulur β€” tetapi ia tidak bisa keluar lebih jauh. Kegelapan menahannya.

Arka berdiri tegak β€” untuk pertama kalinya sejak cahaya peraknya padam, ia tampak seperti dirinya yang dulu: rapi, dingin, berkuasa. Di tangannya, segulung benang perak berdenyut β€” ujung jerat Bima.

"Kau mengira kau menang, keponakanku?" katanya, dan ada sesuatu yang mengerikan dalam ketenangannya. "Simpulmu memang kuat. Lorongmu memang hangat. Tetapi dewan tidak hanya memegang lorong ini." Ia menarik benang perak itu β€” dan jerat di pergelanganku mengencang. Aku menjerit. "Kami memegang cahaya desa-desamu."

Ia mengangkat tangan bebasnya, dan di udara di depan kami β€” di atas simpul jantung yang berdenyut β€” sebuah bayangan muncul. Bayangan desa. Desaku. Rumah-rumah kayu dengan atap jerami. Sumur tua di tengah lapangan. Dan lentera-lentera β€” lentera yang digantung di setiap rumah, lentera yang cahayanya selama ini dijaga oleh lorong ini.

Satu per satu, lentera itu padam.

Tidak. Tidak tidak tidak.

"Kau lihat?" kata Arka lembut. "Setiap detik kau menentang tatanan, satu lentera padam. Ibumu, ayahmu β€”" ia tersenyum tipis, "β€” mereka masih di sana, bukan? Dalam gelap?"

Aku bisa merasakan β€” melalui benang-benang lorong, melalui simpul jantung di bawah tanganku β€” kegelapan merayap ke desaku. Dingin. Sepi. Ketakutan.

"Pilih, Naya," kata Arka. "Lepaskan simpulmu. Kembali ke tatanan β€” menjadi jahitan yang hidup seperti yang ditawarkan β€” dan desamu bercahaya kembali. Atau bebaskan β€”" ia melirik Saras dengan jijik, "β€” nenekmu, dan saksikan desamu padam selamanya."

Jerat perak mengencang. Jangkar abu-abu menahan. Aku berlutut di antara keduanya, napasku tersengal, air mata mengalir di pipiku.

Di satu sisi: tangan Nini yang terulur dari balik robekan, benang emas di pergelangannya, seribu tahun penantian.

Di sisi lain: desaku β€” rumahku β€” yang lampunya padam satu per satu.

"Naya," suara Danan β€” parau, tertahan, menahan beban dua kekuatan yang merobekku. "Dengarkan aku. Pilih." Ia menatapku dengan mata tuanya yang lelah tetapi jernih. "Tapi pilih karena maumu, Nak. Bukan karena takut. Jangan pernah β€” jangan pernah β€” memilih karena takut."

Dan dari balik robekan, suara Saras β€” lembut, mendesak:

"Nak. Ada yang harus kau tahu tentang cahaya desamu. Sesuatu yang tidak pernah diceritakan dewan kepadamu."

Bayangan desa di atas simpul jantung berkedip. Satu lentera lagi padam.

"Cahaya desamu," kata Saras cepat, "tidak pernah milik dewan β€”"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!