β€Ή
7. Harga Sebuah Nama

Harga Sebuah Nama

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,278 kata

Ilustrasi Harga Sebuah Nama

Di dalam Jantung Langit, tidak ada gelap dan tidak ada terang. Hanya menunggu β€” seperti napas yang ditahan oleh semesta.

Naya berdiri di sebuah ruang raksasa yang dindingnya terbuat dari benang-benang cahaya yang terjalin β€” jutaan benang, semua warna, berdenyut pelan seperti jantung. Di pusat ruangan, sebuah alat tenun raksasa berdenyut dengan cahaya, dan di depannya duduk seorang perempuan tua yang terbuat dari cahaya bintang. Tangan-tangannya yang keriput menenun tanpa henti β€” namun benang-benangnya putus. Setiap helai yang ia tenun putus di tengah, jatuh menjadi debu berkilau.

"Kau datang juga akhirnya," kata perempuan itu tanpa menoleh. "Aku sudah menunggu tiga pewaris."

"Siapa... siapa Anda?" Naya melangkah mendekat, lututnya lemas.

"Aku yang pertama." Perempuan itu menoleh β€” wajahnya seperti Nek Wulan yang jauh lebih tua, tapi matanya adalah langit itu sendiri, penuh bintang yang berputar. "Yang memasang segel seratus tahun lalu. Yang memisahkan dunia β€” dan memisahkan saudara-saudaraku sendiri." Suaranya retak seperti kaca tua. "Namaku sudah lama hilang dari dunia bawah. Di sini, aku hanya... yang menenun."

"Danan bilang segel itu untuk melindungi," kata Naya pelan. "Rangga bilang segel itu kejahatan para pengecut yang takut pada perubahan."

"Keduanya benar. Keduanya salah." Penjaga Pertama mengangkat tangannya yang bercahaya β€” dan di udara terbentuk gambaran: dua dunia yang dulunya satu, terjalin indah seperti kain tenun. Lalu kegelapan merayap dari satu sisi, pelan namun pasti. "Kebusukan," bisiknya. "Bukan kejahatan β€” penyakit. Dunia atas mulai membusuk, dan kami takut ia menelan dunia bawah yang masih muda. Jadi kami memisahkan." Ia menatap Naya, dan di matanya yang seperti langit ada penyesalan seratus tahun. "Segel adalah perban, Nak. Bukan obat. Perban yang seharusnya dilepas setelah luka sembuh β€” tapi tidak ada yang berani melepasnya. Seratus tahun, perban itu membusuk bersama lukanya. Dan yang terjebak di baliknya..."

"Menjadi Kaum Bayang," Naya menyelesaikan, mengingat kata-kata ibunya.

"Ya." Perempuan tua itu kembali menenun, dan kembali benangnya putus. "Itu dosaku. Dosa kami semua." Ia berhenti, menatap Naya lurus-lurus. "Ibumu bilang padamu tentang jalan ketiga, bukan? Ia selalu anak yang cerdas β€” bahkan sebagai gema."

"Jalan ketiga," Naya mengulang, jantungnya berdebar. "Apa itu?"

"Bukan menyegel ulang." Penjaga Pertama menggeleng pelan. "Itu hanya mengganti perban busuk dengan perban baru β€” dan meminta seorang anak menjadi perbannya. Selamanya." Ia menatap tanda yang menyala di telapak Naya. "Bukan membuka paksa seperti yang diinginkan Rangga β€” itu merobek perban beserta kulitnya, dan kedua dunia akan berdarah sampai mati." Ia berdiri β€” perlahan, seperti gunung yang bangkit β€” dan merentangkan tangannya ke seluruh ruangan. "Jalan ketiga adalah menenun ulang. Menyatukan kembali dua dunia β€” bukan dengan meruntuhkan dinding, melainkan dengan menjahitnya, helai demi helai, sampai keduanya menjadi satu kain yang utuh. Sampai Bayang dan Penjaga menjadi... utuh kembali. Sampai yang terpisah disembuhkan, bukan dibuang."

Harapan mekar di dada Naya, hangat dan nyaris menyakitkan β€” lalu ia melihat alat tenun itu lagi. Benang-benang yang putus, berjatuhan menjadi debu. "Kenapa Anda tidak melakukannya sendiri?"

Keheningan yang panjang. "Karena tenunan membutuhkan benang dari kedua dunia β€” dan penenun yang masih hidup di keduanya." Perempuan tua itu menatap tanda di telapak Naya. "Aku sudah menjadi bagian dari dinding, seperti ibumu. Hanya pewaris yang berdiri di ambang β€” satu kaki di dunia bawah, satu kaki di sini β€” yang bisa menenun." Ia berhenti menenun sepenuhnya, dan menatap Naya dengan kesungguhan yang membuat udara bergetar. "Dan ada harganya, Nak. Harga sebuah nama."

"Apa maksudnya?"

"Untuk menenun, penenun harus mengucapkan nama sejatinya ke dalam tenunan." Jari-jari cahaya perempuan itu menyentuh dada Naya, tepat di atas jantungnya. "Namamu akan menjadi benang pertama β€” dan sekali terucap di sini, ia akan dikenal oleh kedua dunia. Kau tidak akan bisa bersembunyi lagi, Nak. Kaum Bayang akan selalu bisa memanggilmu β€” dan kau akan selalu mendengar mereka. Namamu akan menjadi mercusuar. Terang bagimu..." ia berhenti, "...dan bagi mereka. Selamanya."

Naya terdiam. Namanya. Nama lengkapnya β€” yang hanya tertulis di akta kelahiran yang disimpan Nek Wulan di lemari kayu, yang tidak pernah dipakai siapa pun kecuali Nek Wulan saat ia marah besar waktu kecil dulu.

"Hanya itu harganya?" bisiknya.

"Tidak." Penjaga Pertama kembali duduk di depan alat tenunnya β€” dan kali ini, untuk pertama kalinya, satu helai benang bertahan, berkilau lemah. "Benang pertama membutuhkan kenangan. Kenangan yang paling berharga β€” yang diberikan dengan rela." Ia menatap Naya, dan matanya yang seperti langit melembut. "Tenunan ini dijahit dengan apa yang paling dicintai penenunnya. Pilihlah, Nak."

Naya memejamkan mata. Kenangan berkelebatan seperti kunang-kunang: tangan Nek Wulan yang hangat menggenggamnya saat demam, tawa Sari yang pecah di warung Bu RT, aroma minyak kayu putih di beranda... dan nada nina bobo itu. Suara ibunya. Satu-satunya hal yang ia miliki dari ibunya selain foto kusam di ruang tamu.

Air matanya jatuh β€” berubah menjadi cahaya sebelum menyentuh lantai. "Ambil," bisiknya, suaranya hancur berkeping-keping. "Ambil lagunya. Tapi..." ia menatap perempuan tua itu, memohon dengan seluruh jiwanya, "biarkan aku mengingat bahwa aku pernah memilikinya. Biarkan aku mengingat bahwa ibuku pernah menyanyi untukku."

Penjaga Pertama mengangguk perlahan, dan ada air mata cahaya di matanya yang seperti langit. "Kemarilah, Nak."

Naya berlutut di samping perempuan tua itu. Jari-jari cahaya menyentuh keningnya β€” hangat β€” dan Naya merasakannya: nada itu terangkat darinya, perlahan, seperti benang emas yang ditarik dari jantungnya. Untuk sesaat ia mendengarnya dengan sempurna β€” suara ibunya, utuh, jernih β€” lalu nada itu melayang pergi, bergabung menjadi helai benang yang berkilau di alat tenun. Dadanya terasa kosong. Tapi di kekosongan itu, ada sesuatu yang aneh: bukan kehilangan. Seperti... sebuah pintu yang dibiarkan terbuka.

"Kenangan yang diberikan dengan rela tidak pernah benar-benar hilang, Nak," kata Penjaga Pertama lembut. "Ia hanya berubah bentuk β€” menjadi benang."

Naya berdiri. Kakinya gemetar, tapi punggungnya tegak. Ia melangkah ke alat tenun raksasa itu, mengangkat telapak tangannya yang bertanda β€” dan mengucapkan, lantang, ke dalam jantung cahaya itu:

Untuk sesaat, Naya ragu. Nama itu β€” nama yang bahkan Sari tidak tahu, nama yang hanya dipanggil Nek Wulan saat ia mecahkan guci kesayangan neneknya umur tujuh tahun β€” akan menjadi milik semua orang. Milik kegelapan juga. Tangannya gemetar. Lalu ia teringat tangan Danan yang mencengkeram pergelangan tangannya di hutan jati dulu: jangan sentuh kuncinya β€” bukan karena Danan ingin menguasainya, melainkan karena Danan ingin ia hidup cukup lama untuk memilih sendiri. Ia teringat Nek Wulan yang menua sepuluh tahun dalam sepuluh detik demi desa. Ia teringat ibunya yang memilih karena takut β€” dan ia memilih sekarang karena hati.

"Namaku NAYARA!"

Dunia berhenti bernapas.

Tanda di telapaknya meledak menjadi cahaya, dan benang-benang melesat darinya β€” biru kehijauan, emas, putih, merah muda β€” menembus dinding menara, menembus langit yang retak, menembus sobekan menuju dunia bawah. Dan di kejauhan, dari terang dan dari gelap sekaligus, ia mendengarnya: ribuan suara berbisik dalam waktu yang bersamaan, memanggil:

Nayara... Nayara... Nayara...

Alat tenun raksasa itu bergetar, benang-benang lamanya yang putus-putus mulai tersambung satu per satu oleh benang baru yang lahir dari telapak Naya. Penjaga Pertama menenun di sisinya, tangan mereka bergerak dalam irama yang sama β€” tua dan muda, masa lalu dan masa depan, dalam satu tarikan napas. Di kejauhan, Naya bisa mendengar lolongan Kaum Bayang berubah β€” bukan lagi kemarahan, melainkan sesuatu yang hampir seperti... tangisan. Kerinduan yang akhirnya didengar.

Tenunan dimulai. Di sekelilingnya, dinding-dinding menara mulai berubah. Bukan runtuh β€” berdenyut, bernapas, menjadi. Naya bisa merasakannya sampai ke tulangnya: di dunia bawah, di desanya, cahaya aneh menari-nari di langit malam. Tangannya bergerak sendiri, menenun bersama perempuan tua itu, dan untuk pertama kalinya benang-benang itu tidak putus. Ia tertawa di tengah air mata β€” berhasil, ini berhasilβ€”

β€”lalu ia melihatnya.

Melalui dinding menara yang kini tembus pandang seperti kaca, jauh di bawah, di langit dunia bawah: sesosok jatuh dari ketinggian. Sayap-sayap emasnya robek dan berkobar lalu padam, tubuhnya berputar tanpa daya menuju atap-atap desa Langit Biru yang tampak mungil dari sini.

"DANAN!"

Jeritan Naya merobek jantung langit itu sendiri. Tenunan di tangannya bergetar hebat β€” belum selesai, masih setengah jadi β€” tapi kakinya sudah bergerak, berlari menuju cahaya, menuju bawah, menuju dia.

Di belakangnya, tenunan yang belum selesai itu berdenyut liar β€” menunggu penenunnya kembali. Atau menunggu untuk putus selamanya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!