β€Ή
92. Napas Pertama dari Dalam Tanah

Napas Pertama dari Dalam Tanah

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,486 kata

Ilustrasi Napas Pertama dari Dalam Tanah

Tanah itu bergetar hanya sekejap, tetapi sekejap itu cukup untuk mengubah malam kami selamanya.

Aku masih memegang tangan Laras ketika getaran itu lewat di bawah kaki kami, pelan seperti napas yang tertahan lalu dilepas. Laras tidak menjerit. Ia hanya menempelkan wajahnya ke lenganku, dan bisikannya masih terngiang di telingaku: dia bilang ada yang bangun.

Siapa dia? Pertanyaan itu tidak sempat kujawab, karena penjaga pintu sudah berdiri, dengan tangan terentang, memberi isyarat agar kami tidak bergerak, tidak berlari, tidak menyanyi. Kami berdiri diam di puncak bukit, berlima, ditambah penjaga pintu, mendengarkan tanah yang sudah kembali diam, seolah getaran tadi tidak pernah terjadi, seolah napas pertama itu hanya mimpi kami bersama.

"Tidak ada yang menyanyi lagi malam ini," kata penjaga pintu akhirnya, pelan, tetapi tegas. "Lagu sudah selesai, meskipun tidak selesai dengan cara yang biasa. Kita pulang, sekarang, dengan langkah yang tenang. Jangan berlari. Sesuatu yang baru bangun tidak boleh mendengar langkah yang panik."

Kami turun dengan lentera Wulan sebagai satu-satunya cahaya. Jalan setapak terasa berbeda. Bukan karena jalannya berubah, melainkan karena aku baru menyadari bahwa setiap langkahku menekan tanah yang di bawahnya ada sesuatu yang sedang mendengarkan. Aku berjalan lebih pelan dari biasanya, dan Danan berjalan di sampingku, tanpa bicara, dengan tangan yang sesekali menyentuh punggung Laras, memastikan adikku itu tetap di antara kami.

Di rumah, Laras tidak mau tidur di kamarnya sendiri. Ia duduk di beranda, berselimut, menatap ke arah bukit yang gelap.

"Apakah dia akan tidur lagi?" tanyanya.

"Aku tidak tahu," kataku, dan kali ini aku duduk di sampingnya, bukan untuk menenangkannya dengan jawaban, melainkan untuk menemaninya mendengarkan. "Tetapi kita akan menjaganya, seperti kita menjaga semua yang ada di bukit. Menjaga bukan berarti membuatnya tidur selamanya. Menjaga berarti memastikan ia bangun dengan cara yang benar."

Laras mengangguk, tetapi matanya tetap menatap bukit. Aku tahu ia sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa kudengar, sesuatu yang hanya bisa didengar oleh anak kecil yang belum belajar membedakan antara lagu dan getaran.

Malam itu aku hampir tidak tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku merasa tanah di bawah rumah kami ikut bernapas, pelan, dalam, seperti detak yang jauh. Aku tahu itu mungkin hanya perasaanku, tetapi di bukit ini, perasaan yang datang setelah malam di lingkaran jarang sekali hanya perasaan.

Pagi harinya, balai sudah penuh sebelum matahari naik sepenuhnya. Para tetua duduk melingkar, dan wajah mereka lebih tegang daripada malam-malam sebelumnya. Bukan tegang karena marah. Tegang karena mereka sedang menghadapi sesuatu yang tidak pernah mereka siapkan untuk dihadapi: penjaga yang lebih tua dari kendi, yang selama ini mereka anggap tertidur selamanya.

Tetua tertua berbicara pertama, dan suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, seperti seseorang yang sedang mengucapkan cerita yang sudah lama ia simpan karena ia berharap tidak pernah perlu mengucapkannya.

"Dulu, sebelum kendi ini berdiri, bukit ini dijaga dengan lagu," katanya. "Bukan lagu yang kita nyanyikan sekarang. Lagu yang lebih tua, yang baitnya lebih panjang, yang dinyanyikan oleh banyak penjaga, bukan segelintir. Lagu itu bukan untuk menutup. Lagu itu untuk menidurkan."

"Menidurkan apa?" tanya Sela.

"Menidurkan bukit itu sendiri," kata tetua itu. "Karena bukit ini bukan sekadar tanah. Bukit ini adalah penjaga yang pertama, yang paling tua, yang tubuhnya menjadi tanah tempat kita berdiri. Ia tertidur karena ia lelah menjaga terlalu lama, dan lagu itu adalah lagu tidurnya, yang dinyanyikan setiap malam, supaya ia tetap tidur, supaya ia tidak bangun dalam keadaan lupa siapa dirinya."

Wulan menatapku, dan aku menatapnya, dan kami berdua memikirkan hal yang sama: kalau lagu kami selama ini bukan lagi lagu tidur yang asli, melainkan lagu penjaga kendi yang lebih pendek, maka setiap malam kami menyanyi, kami mungkin bukan menidurkan bukit itu, melainkan membangunkannya, sedikit demi sedikit, dengan lagu yang nadanya mirip tetapi baitnya salah.

"Apakah lagu tidur itu masih ada?" tanya Danan.

Tetua tertua itu menggeleng, pelan. "Sebagian hilang. Sebagian masih diingat oleh penjaga pintu, dan sebagian lagi, mungkin, masih diingat oleh sesuatu yang lain. Lagu tidur yang lengkap tidak pernah ditulis, karena lagu tidur tidak boleh ditulis. Ia hanya boleh dinyanyikan, dari penjaga ke penjaga, dari mulut ke telinga, supaya tidak ada yang bisa membacanya tanpa mendengarnya."

"Dan kendi itu?" tanyaku. "Apa hubungannya kendi dengan lagu tidur?"

"Kendi itu datang kemudian," kata tetua itu, "ketika lagu tidur mulai dilupakan, dan bukit mulai gelisah dalam tidurnya. Para penjaga waktu itu membuat kendi sebagai penjaga yang lebih kecil, yang tugasnya menyanyi di atas bukit, supaya bukit itu mendengar lagu dari dekat, dan tetap tidur. Kendi itu bukan penjara. Kendi itu adalah lagu tidur yang dibuat menjadi bentuk, yang diletakkan di atas bukit, supaya yang di bawah tidak merasa sendirian."

Aku terdiam. Selama ini kami mengira kendi itu adalah batas yang kami jaga, dan makhluk di dalamnya adalah sesuatu yang ingin masuk. Ternyata kendi itu adalah teman tidur, yang diletakkan di atas penjaga yang lebih besar, supaya penjaga yang besar itu tidak bangun sendirian.

"Jadi makhluk di dalam kendi itu," kata Wulan pelan, "bukan penjaga yang tertinggal. Ia adalah lagu tidur itu sendiri, yang diberi bentuk?"

Tetua tertua itu menatap ke arah bukit, melalui pintu balai. "Mungkin. Atau mungkin ia adalah penjaga yang pertama kali menyanyikan lagu tidur itu, yang kemudian tinggal di dalam kendi, supaya lagunya tidak pernah berhenti. Kami tidak tahu lagi. Yang kami tahu, malam ini kita tidak boleh menyanyi seperti biasa. Kalau lagu kita yang sekarang adalah lagu yang membangunkan, maka menyanyi lagi malam ini sama dengan memanggilnya bangun lebih cepat."

"Jadi kita diam?" tanya Sela, dan suaranya terdengar tidak percaya. "Kita berhenti menyanyi sama sekali?"

"Tidak," kata penjaga pintu, yang sejak tadi diam di sudut balai. "Diam total juga berbahaya. Sesuatu yang sedang belajar mendengarkan, kalau tiba-tiba tidak mendengar apa-apa, akan mencari suara itu sendiri. Dan kalau ia mencari sendiri, ia bisa menemukan suara yang salah. Kita harus menyanyi, tetapi tidak dengan lagu yang biasa. Kita harus menyanyi dengan lagu yang paling pelan, yang paling pendek, yang paling dekat dengan lagu tidur, meskipun kita tidak ingat seluruhnya. Kita menyanyi seperti seseorang yang menenangkan, bukan seperti seseorang yang memanggil."

Keputusan itu terasa seperti berjalan di atas tali. Terlalu keras, ia bangun. Terlalu diam, ia mencari. Kami harus menemukan suara di tengah-tengah, suara yang cukup untuk menemaninya, tetapi tidak cukup untuk membangunkannya.

Sore itu, sebelum mendaki, aku pergi sendiri ke kendi. Aku tidak menyanyi. Aku hanya duduk di dekatnya, dan aku berkata, pelan, "Kami sudah tahu. Bukit ini adalah penjaga yang tertidur, dan kamu adalah lagu tidurnya. Apakah itu benar?"

Dari dalam kendi, cahaya hangat yang sejak semalam redup itu menyala sedikit lebih terang, seperti seseorang yang sedang mengangguk dalam gelap.

"Aku tidak tahu apakah aku lagu itu," kata suara kecil itu, pelan. "Aku hanya tahu aku sudah lama menyanyi di sini, dan setiap kali aku berhenti, tanah di bawahku gelisah. Aku berhenti dua malam karena aku mendengar sesuatu dari bawah, dan aku takut suaraku menutupinya. Tetapi sekarang aku tahu, berhenti juga berbahaya. Jadi malam ini, aku akan menyanyi lagi, tetapi tidak dengan keras. Aku akan menyanyi seperti dulu, ketika aku pertama kali diletakkan di sini: pelan, pendek, dan berulang, seperti seseorang yang menidurkan, bukan seperti seseorang yang memanggil."

"Apakah kamu ingat lagu tidur yang asli?" tanyaku.

"Aku ingat sebagian," kata suara itu. "Tetapi sebagian yang hilang itu bukan hilang karena dilupakan. Sebagian itu hilang karena sengaja tidak dinyanyikan, karena bait terakhirnya bukan bait tidur. Bait terakhirnya adalah bait bangun. Dan bait bangun itu tidak boleh dinyanyikan, kecuali oleh penjaga yang sudah siap menyambutnya bangun."

Aku merasakan dingin di tengkukku. "Jadi lagu tidur itu punya bait bangun di ujungnya?"

"Semua lagu tidur punya," kata suara itu. "Karena yang tertidur suatu hari harus bangun. Lagu tidur yang baik bukan lagu yang membuat tidur selamanya. Lagu tidur yang baik adalah lagu yang menjaga tidur itu sampai waktunya bangun tiba. Dan waktunya belum tiba, Naya. Belum. Tetapi ia sudah mulai mendengarkan, dan sesuatu yang mulai mendengarkan akan segera bertanya, kapan waktunya tiba."

Malamnya, kami mendaki dengan formasi yang sama, tetapi dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Kami bukan lagi lingkaran yang menjaga kendi. Kami adalah lingkaran yang menidurkan bukit, dengan lagu yang kami nyanyikan pelan, pendek, dan berulang, bersama suara kecil dari dalam kendi yang juga menyanyi pelan, seperti dulu.

Kami menyanyi, dan tanah di bawah kami diam. Tidak ada ketukan. Tidak ada getaran. Untuk sesaat, aku berpikir bahwa cara ini berhasil, bahwa kami sudah menemukan suara yang benar.

Tetapi di akhir lagu, ketika kami sudah berhenti dan berdiri untuk pulang, dari dalam kendi, suara kecil itu berbisik, hanya kepadaku, dengan suara yang gemetar untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.

"Naya, jangan menoleh ke belakang malam ini. Ia sudah tahu namamu. Ia mendengarnya dari lagumu sendiri, dan ia sedang belajar mengucapkannya."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!