Cahaya yang Memilih
Pewaris Terakhir Langit β’ 2,205 kata
Cahaya itu bukan cahaya biasa.
Aku tahu itu karena aku tidak silau. Aku tidak menutup mata. Aku... melihat. Melihat segalanya β setiap helai cahaya seperti benang, setiap benang seperti jalan, dan setiap jalan... aku tahu ke mana ia pergi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengerti apa yang dilihat Wulan setiap hari selama seribu tahun.
Taman kami β taman kecil ibuku dengan bunga-bunga simpul dan jaring tenunnya β kini terbentang di hadapanku sebagai tenunan. Setiap bunga adalah simpul. Setiap kunang-kunang adalah ujung benang yang lepas. Dan sosok-sosok berjubah perak itu β aku bisa melihat mereka sekarang, benar-benar melihat: mereka bukan sosok. Mereka adalah kekosongan yang dibungkus jubah. Lubang-lubang di tenunan. Tempat-tempat di mana benang dicabut paksa.
Dan aku β dengan benang emasku yang baru lahir, terjalin dengan benang perak Danan β aku bisa melihat cara memperbaikinya.
"Wulan!" seruku β tapi suaraku tenggelam dalam cahaya.
Lalu cahaya itu padam β secepat ia datang β dan taman kembali menjadi taman. Tapi sosok-sosok berjubah perak itu β mereka mundur. Selangkah. Dua langkah. Lonceng-lonceng di wajah mereka berdenting pelan β bingung, takut.
Wulan berdiri di depan kami β kedua tangannya masih terangkat, benang emas tuanya menyala β tapi ia gemetar. Cahaya itu tadi β itu darinya. Dan aku bisa melihat harganya: tangannya yang bersinar kini meredup, seperti api yang kehabisan kayu.
"Nenek!" Aku melangkah maju β tapi Danan menahanku, tangannya di lenganku. Bukan menahan paksa. Menahan lembut. "Wulanβ"
"Aku baik-baik saja," kata Wulan β tapi suaranya tipis, seperti kain yang terlalu sering dicuci. Ia menurunkan tangannya perlahan. "Hanya... sudah lama aku tidak memakai sebanyak itu." Ia menoleh padaku β tersenyum lelah. "Kau melihatnya, kan? Tenunannya."
"Itu matamu sekarang, Nay." Wulan menyentuh keningku dengan satu jari β sentuhannya hangat, dan di mana ia menyentuh, aku merasakan denyut β seperti simpul yang diikat. "Mata penenun. Kau akan melihat dunia sebagai tenunan mulai sekarang. Setiap orang β benang. Setiap pilihan β simpul." Ia berhenti. "Jangan biarkan itu membuatmu lupa mereka manusia."
Di langit, retakan itu masih terbuka. Suara Dewan β belum selesai. "HANCURKAN MEREKA," katanya lagi β tapi kini suaranya tidak sekuat tadi. Ada keraguan di dalamnya. Karena mereka melihat apa yang kulihat: sosok-sosok mereka mundur.
"Kenapa mereka mundur?" bisik Sela β ia masih memeluk ibuku, tapi kini ia mengintip dari balik lengan ibuku, matanya membesar.
"Karena mereka melihat benangmu," kata Wulan β padaku. "Benang yang terjalin. Emas dan perak." Ia menatap Danan. "Dewan tidak punya catatan tentang itu. Mereka tidak tahu cara memanen sesuatu yang dibagi. Gudang mereka..." ia tersenyum tipis, "...hanya tahu cara menimbang yang sendiri-sendiri."
Danan menatap benang perak di pergelangannya β yang terjalin dengan benang emasku. Ia menggerakkan tangannya sedikit β dan benang itu bergerak bersamanya, lentur, hidup. "Jadi... mereka tidak bisa menyentuh kita?"
"Mereka tidak bisa *memanen* kalian," kata Wulan. "Tapi mereka masih bisa menghancurkan." Ia mendongak ke langit. "Dan mereka akan mencoba."
Seolah menjawab, retakan langit itu melebar β dan dari dalamnya, sesuatu yang baru turun. Bukan sosok-sosok berjubah. Sesuatu yang lebih besar. Lebih tua. Aku merasakannya sebelum melihatnya β tekanan di dadaku, seperti tangan raksasa yang meremas udara.
Lonceng. Bukan lonceng raksasa yang tadi β yang itu masih menggantung di sana, namaku terukir di permukaannya, diam untuk saat ini. Ini... berbeda. Ini adalah lonceng yang terbalik β mulutnya menghadap ke bawah, dan dari dalamnya, bukan suara yang keluar. Kegelapan. Kegelapan yang mengalir seperti air, jatuh dari langit ke taman kami.
"Wulan," kata Danan β tegang. "Apa itu?"
"Lonceng kosong," bisik Wulan β dan untuk pertama kalinya, aku mendengar ketakutan yang nyata di suaranya. "Lonceng yang namanya sudah dihapus. Yang benangnya sudah dipanen habis." Ia mencengkeram tanganku. "Nay, dengar. Lonceng kosong tidak memanen. Ia menghapus. Siapapun yang tersentuh kegelapan itu β namanya hilang. Bukan dari lonceng. Dari segalanya. Dari ingatan. Dari tenunan."
Ibuku terisak. "Ibu..."
"Raras, bawa Sela ke dalam," kata Wulan β cepat, tegas. "Sekarang. Ke rumah. Tutup pintu. Jangan keluar apapun yang terjadi."
"Tidak!" Sela mencengkeram ibuku. "Aku tidak mau! Aku mau di sini! Akuβ"
"Sela." Aku berlutut di depannya. Aku memegang wajah adikku dengan kedua tanganku. "Dengar kakak. Kau penjaga rahasia terbaik yang pernah kakak kenal." Aku menyentuh dadanya β di tempat ia menyimpan rahasia tentang fragmen lonceng. "Kau masih menyimpan rahasia kita, kan?"
Ia mengangguk β air matanya jatuh.
"Sekarang kakak punya misi baru untukmu." Aku menatapnya β dalam. "Jaga Ibu. Itu misi terpenting. Lebih penting dari apapun. Bisa?"
Sela menatapku β lama. Lalu ia mengangguk β sungguh-sungguh, seperti penjaga kecil yang diberi misi. "Aku pandai menjaga," bisiknya.
"Aku tahu." Aku mencium keningnya. "Pergi sekarang. Cepat."
Ibuku menatapku β matanya penuh air mata, tapi ia mengangguk. Ia menggenggam tangan Sela dan berlari ke rumah. Sebelum masuk, ia menoleh β sekali. Ia masuk. Pintu tertutup.
Kegelapan dari lonceng kosong itu kini menyentuh tanah taman β dan di mana ia menyentuh, bunga-bunga simpul layu. Mereka... hilang. Kelopaknya menjadi transparan, lalu tidak ada. Seperti tidak pernah mekar.
"Kita harus bergerak," kata Danan β jangkarnya terangkat. "Kegelapan itu menyebar."
"Ke mana?" tanyaku.
Wulan menatapku β dan aku melihat di matanya: keputusan. Rencana. Sesuatu yang ia simpan sejak ia muncul. "Ke gudang," katanya.
"APA?" Aku dan Danan bersamaan.
"Gudang," ulang Wulan. "Lonceng kosong itu dikendalikan dari gudang. Kalau kita menghancurkannya di sini, mereka akan menurunkan sepuluh lagi. Tapi kalau kita masuk ke gudang..." Ia menatap benang emas-perak yang terjalin di pergelangan tanganku dan Danan. "Kalian bisa masuk sekarang. Benang kalian β terjalin β adalah kunci. Gudang mengenali benang. Dan benang yang terjalin..." ia tersenyum, "...tidak ada di catatan mereka. Kalian tidak terlihat."
"Menjadi tidak terlihat," ulang Danan β pelan. "Di gudang Dewan."
"Untuk sementara," kata Wulan. "Sampai mereka menyadari." Ia menggenggam kedua tanganku. "Dengar, Nay. Di dalam gudang β ada loncengmu. Yang raksasa. Yang ada namamu. Kalau lonceng itu dihancurkan β dari dalam β utangmu hilang. Sumpahmu tetap β kau tetap penenun β tapi mereka tidak bisa memanenmu lagi." Ia menatap Danan. "Dan ada jangkar di sana. Jangkar pertama. Milik kakek buyutmu."
Danan menegang. "Jangkar... pertama?"
"Senjata garis penjaga," kata Wulan. "Dewan mengambilnya β seperti mereka mengambil segalanya. Tapi jangkar tidak bisa digantung seperti benang. Jadi mereka menyimpannya." Ia menatap Danan β dalam. "Dengan jangkar itu, kau bisa... melindungi penenunmu. Dengan cara yang jangkarmu sekarang tidak bisa."
Aku menatap Danan. Danan menatapku.
Kegelapan itu kini setengah taman. Bunga-bunga simpul menghilang satu per satu. Kunang-kunang benang berhamburan panik.
"Wulan," kataku β cepat. "Kau ikut?"
Wulan menggeleng β pelan. "Aku tidak bisa. Benangku terlalu tua β gudang mengenalinya. Aku akan terlihat seketika." Ia menyentuh pipiku. "Tapi aku akan di sini. Menjaga taman. Menjaga ibumu dan Sela." Ia menatap Danan. "Jaga dia, penjaga."
"Dengan hidupku," kata Danan β dan kali ini, itu bukan sumpah baru. Itu pengulangan. Janji yang sudah ia buat β dengan benang perak di pergelangannya sebagai saksi.
Wulan mengangkat tangannya β benang emas tuanya menyala β dan ia menggerakkannya di udara, menenun. Bukan bunga. Bukan simpul. Pintu. Aku melihatnya terbentuk β benang-benang cahaya yang dianyam menjadi bingkai, menjadi ambang, menjadi... jalan. Di tengah taman kami β pintu cahaya.
"Ini akan membawamu ke gudang," kata Wulan β suaranya menegang, tenunannya menghabiskan sisa kekuatannya. "Cepat. Sebelum mereka sadar."
Aku menatap pintu itu. Menatap Wulan β nenekku, yang baru kutemui, yang sudah memberiku segalanya. "Nenekβ"
"Jangan katakan selamat tinggal," katanya β cepat, matanya berkaca-kaca. "Penenun tidak mengucapkan selamat tinggal. Kami mengucapkan..." ia tersenyum, "...sampai simpul berikutnya."
"Sampai simpul berikutnya," bisikku.
Danan menggenggam tanganku β erat. Benang emas-perak kami berdenyut bersamaan. Ia menatapku β dan di matanya, aku melihat segalanya yang tidak pernah ia katakan: ketakutan, tekad, dan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang membuat jantungku berdebar lebih kencang daripada kegelapan yang mendekat.
"Siap?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Bersama."
Kami melangkah ke pintu cahaya β
β dan dunia terbalik.
Bukan gelap. Bukan terang. Sesuatu di antaranya β koridor panjang dari benang-benang perak yang digantung, ratusan, ribuan, setiap benang berakhir di lonceng kecil yang berdenting pelan. Bau debu dan cahaya tua.
Gudang Dewan.
Aku mencengkeram tangan Danan lebih erat; jangkarnya terangkat β siap.
"Lihat," bisik Danan β menunjuk ke depan.
Di ujung koridor β lonceng raksasa. Loncengku. Namaku terukir di permukaannya, bersinar dingin. Dan di sampingnya β di atas alas batu β jangkar. Jangkar yang lebih besar dari jangkar Danan, lebih tua, ujungnya berukir pola yang sama dengan pola di gagang jangkar Danan.
Jangkar pertama.
"Kita bagi tugas," bisik Danan β cepat, taktis, prajurit kembali mengambil alih. "Aku ambil jangkar. Kauβ"
Tapi aku tidak mendengarkannya. Karena aku melihat sesuatu yang lain.
Di belakang lonceng raksasa β tergantung di dinding gudang, hampir tidak terlihat di antara ribuan benang β sebuah benang. Benang emas. Tua. Dan di ujungnya β lonceng perak kecil. Retak.
Aku mengenal retakan itu. Aku mengenal lonceng itu.
Itu fragmen yang kusembunyikan di lipatan bajuku. Atau tepatnya β itu pasangannya. Bagian yang hilang.
Dan di lonceng kecil yang retak itu β terukir satu nama.
Bukan "Raras".
Aku melangkah mendekat β Danan menarik tanganku, berbisik "Naya, janganβ" tapi aku harus melihat. Aku harus tahu.
Nama di lonceng kecil yang retak itu:
"Wulan."
Darahku membeku.
Di belakangku β suara. Bukan suara Dewan. Suara yang kukenal. Suara tua, lelah, seribu tahun membenci pekerjaannya.
"Akhirnya kau sampai, anak penjaga."
Aku berbalik.
Nini berdiri di ujung koridor β tangannya yang hitam-perak terangkat, dan di tangannya β jarum ukir. Dan di belakangnya β sosok-sosok berjubah perak, puluhan, lonceng-lonceng di wajah mereka berdenting.
"Kau..." bisikku. "Kau bekerja untuk mereka? Selama ini?"
Nini tersenyum β senyum yang patah. "Aku bekerja untuk siapa yang memegang benangku, anak penjaga." Ia mengangkat jarum ukirnya. "Dan benangku..." ia menatap lonceng kecil yang retak itu, "...ada di tangan mereka."
Danan mengangkat jangkarnya β berdiri di depanku. "Naya, mundur."
Tapi Nini menggeleng. "Tidak, prajurit. Tidak ada lagi mundur." Ia menatapku β matanya β untuk pertama kalinya β tidak lelah. Penuh. "Karena ada yang harus kau ketahui sebelum mereka datang. Tentang nenekmu. Tentang Wulan." Ia berhenti β jarum ukirnya bergetar. "Wulan tidak kalah taruhan seribu tahun lalu, anak penjaga."
"Apa?" bisikku.
"Ia *menyerah*," kata Nini. "Ada bedanya. Kalah berarti kau mencoba dan gagal. Menyerah berarti..." suaranya pecah, "...berarti kau memilih. Dan Wulan memilih β untuk putrinya. Untuk Raras." Nini menatapku β dalam, pilu. "Sama seperti yang kau lakukan malam ini untuk ibumu."
Aku tidak bisa bernapas. "Kenapa kau memberitahuku ini?"
"Karenaβ" Nini melangkah maju β dan sosok-sosok berjubah perak di belakangnya ikut bergerak. "βkarena Dewan tidak hanya ingin memanenmu, anak penjaga. Mereka ingin kau *menyerah*. Seperti Wulan. Karena penenun yang menyerah..." ia mengangkat jarum ukirnya tinggi-tinggi, "...benangnya paling manis untuk dipanen."
Jarum itu turun β
β bukan ke arahku. Ke arah lonceng kecil yang retak itu. Ke arah nama "Wulan".
"TIDAK!" jeritku.
Dan Danan β bergerak. Jangkarnya berputar β ia melesat ke depan, menempatkan dirinya di antara jarum Nini dan lonceng itu β
β dan jarum itu menancap.
Bukan di lonceng.
Di bahu Danan.
Dunia berhenti.
Danan terhuyung β tangannya mencengkeram bahunya, darah β bukan darah merah. Cahaya. Cahaya perak mengalir dari lukanya, menetes ke lantai gudang, dan di mana ia menetes β benang-benang perak di sekitarnya bergetar.
"DANAN!" Aku berlari padanya β menangkapnya saat ia jatuh berlutut. Tanganku menekan lukanya β cahaya perak mengalir di antara jemariku, hangat, dan aku bisa merasakan β melalui benang kami yang terjalin β rasa sakitnya. Seperti rasa sakitku sendiri.
"Aku... baik-baik saja," katanya β tapi suaranya tipis, dan matanya β matanya berkaca-kaca. "Naya... loncengnya..."
Aku mendongak. Nini berdiri di sana β jarum ukirnya berlumuran cahaya perak, tangannya gemetar. Di belakangnya, sosok-sosok berjubah perak mendekat β pelan, sabar, tak terhindarkan.
Dan di dinding β lonceng kecil yang retak itu β nama "Wulan" β masih utuh. Nini tidak jadi menghancurkannya. Jarumnya β berbelok di detik terakhir. Ke bahu Danan.
Kenapa?
Nini menatapku β dan di matanya, aku melihat jawabannya: ia tidak bisa menghancurkan lonceng Wulan. Karena benangnya β benang Nini β terikat pada lonceng itu. Menghancurkan lonceng Wulan berarti menghancurkan dirinya sendiri.
Tapi melukai Danan β penjaga yang sumpahnya terjalin dengan sumpahku β itu melemahkan jalinan. Itu membuatku... bisa dipanen.
"Aku minta maaf," bisik Nini β air matanya jatuh, hitam-perak seperti tangannya. "Aku sudah seribu tahun membenci tanganku. Sekarang..." ia menatap tangannya yang berlumuran cahaya, "...aku punya alasan baru."
Sosok-sosok itu semakin dekat. Danan di pelukanku β bernapas pendek-pendek, cahaya perak masih mengalir dari bahunya. Benang perak di pergelangannya β berkedip. Meredup.
"Danan," bisikku β memegang wajahnya. "Tetap bersamaku. Kau bersumpah."
"Aku tahu," bisiknya β tersenyum lemah. Senyum laki-laki, bukan prajurit. "Aku tidak pergi kemana-mana. Aku hanya..." ia menatap lonceng raksasa dengan namaku, "...butuh kau melakukan sesuatu untukku."
"Apa?"
Ia menggenggam tanganku β lemah tapi mantap β dan menatapku. Dalam. "Hancurkan lonceng itu, Naya. Loncengmu. Sekarang. Selagi aku masih bisa menjaga jalinan kita."
Aku menatap lonceng raksasa itu. Menatap tanganku β benang emasku. Menatap Danan β yang berdarah cahaya untukku.
Lalu aku berdiri β
β dan mengulurkan tanganku ke lonceng dengan namaku.