β€Ή
62. Nama yang Dimakan

Nama yang Dimakan

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,808 kata

Ilustrasi Nama yang Dimakan

Namaku β€” masih basah, masih hangat β€” menatapku dari permukaan perunggu itu, dan untuk sesaat aku tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir, tidak bisa melakukan apa pun selain menatap huruf-huruf yang membentuk diriku sendiri seolah aku baru pertama kali melihatnya dituliskan.

Lalu tangan Danan mencengkeram lenganku begitu keras hingga tulangku terasa, dan ia menarikku mundur selangkah, dua langkah, menjauh dari mulut lonceng yang menganga itu.

"Jangan sentuh," desisnya, suaranya serak dan rendah, nyaris tidak terdengar di antara dengung tanah. "Naya, jangan sentuh goresan itu."

Aku tidak berniat menyentuhnya. Sungguh. Tapi tanganku sudah terangkat setengah jalan sebelum aku sadar β€” seperti tangan yang terulur sendiri menuju api karena api itu terasa hangat di malam yang dingin. Aku menurunkannya dengan paksa, kugenggam ujung bajuku sendiri sampai buku-buku jariku memutih, dan aku memaksa mataku berpaling dari namaku sendiri.

Itu sulit. Sulit sekali. Karena goresan itu tidak diam seperti goresan-goresan lain. Ribuan nama di sekelilingnya sudah dingin, sudah menjadi bagian dari perunggu, sudah menjadi kulit. Namaku masih bergerak. Aku melihatnya β€” aku bersumpah aku melihatnya β€” ujung huruf terakhirnya memanjang pelan, seperti akar yang mencari tanah, seperti tinta yang belum kering dan masih merembes.

"Ia belum selesai menuliskannya," bisikku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, tipis dan bergetar. "Danan, ia masih menulis namaku."

Danan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah ke depanku β€” setengah badan, bukan sepenuhnya, karena ia tahu aku tidak akan membiarkannya berdiri sepenuhnya di antara aku dan bahaya β€” dan jaring emasnya terentang dari tangannya, tipis dan berkilau, membentuk tirai di antara kami dan lonceng itu. Jaring itu bergetar. Bukan karena takut. Karena tarikan. Aku bisa melihat benang-benang emas itu condong ke arah perunggu, seperti rambut yang tertarik angin, seperti sesuatu di dalam jaring itu ingin menyentuh lonceng dan ikut bernyanyi.

"Apa yang terjadi pada mereka?" tanyaku. Pertanyaan itu keluar sebelum aku bisa menahannya, karena ingatan perempuan tua yang tadi menyentakku masih menempel di kulitku: tangan gemetar, paku, harapan di matanya, lalu kegelapan. "Para pemberi nama itu. Yang namanya dimakan. Apa yang terjadi pada mereka?"

Danan menelan ludah. "Nayaβ€”"

"Jawab aku." Aku menatapnya. "Aku harus tahu. Kalau namaku sudah di sana β€” kalau ia sudah mulai memakanku β€” aku harus tahu apa yang dimakan itu sebenarnya."

Ia diam lama. Terlalu lama. Dan dalam diam itu, lonceng pertama itu bergetar lagi β€” pelan, dalam, seperti binatang besar yang mendengkur puas setelah mencicipi sesuatu yang enak. Hawa hangat dari mulutnya menyapu wajahku, dan di dalam hawa itu aku mencium sesuatu yang membuat lututku lemas: bau dapur Ibu di pagi hari. Bau bunga kamboja yang jatuh di beranda. Bau hujan pertama setelah kemarau. Bau-bau rumahku. Bau-bau hidupku.

Ia sedang mencicipiku. Bukan tubuhku. Bukan darahku. Hidupku. Kenangan-kenangan kecil yang membuatku menjadi aku.

"Kau ingat perempuan tua itu?" kata Danan akhirnya, pelan. "Yang kau lihat saat menyentuh goresan tadi. Harapan di matanya."

Aku mengangguk. Tenggorokanku terlalu sempit untuk bicara.

"Itu yang tersisa darinya," kata Danan. "Bukan tubuhnya. Bukan suaranya. Hanya sesaat itu β€” sesaat ia memberi nama dengan harapan. Lonceng itu menyimpan sesaat itu, dan memakan sisanya. Semua yang lain dari dirinya β€” seluruh hidupnya sebelum dan sesudah sesaat itu β€” habis. Dimakan. Yang tinggal hanya goresan hangat dan satu kenangan yang bukan miliknya lagi, melainkan milik lonceng."

Dingin merambat dari ujung jariku sampai ke tulang punggungku. Aku memikirkan hidupku β€” bukan hal-hal besar, bukan gerbang langit atau benang-benang atau tugas penjaga. Hal-hal kecil. Sela yang tertawa sampai tersedak saat hujan. Ibu yang menyisir rambutku sambil mengomel pelan. Danan yang mencium keningku di bibir sumur tadi dan berbisik jangan berani-berani mati. Wulan yang menyenandungkan lagu nina bobok di beranda.

Kalau lonceng itu memakan namaku, apakah semua itu yang akan tinggal? Satu sesaat β€” aku berdiri di ruang bawah tanah ini, bernyanyi dengan gemetar β€” dan sisanya hilang?

"Tidak," kataku. Kata itu keluar keras, lebih keras dari yang kumaksud, dan gema di dinding tanah mengulanginya. "Tidak. Aku tidak memberikannya. Aku tidak menggoreskannya. Ia yang mengambilnya. Itu berbeda."

"Apakah berbeda baginya?" tanya Danan β€” bukan untuk menyakitiku, aku tahu, tapi karena ia juga perlu tahu. "Naya, ia memanggil namamu dengan suaramu sendiri. Ia menulisnya dengan tanganmu sendiri, bisa dibilang. Apakah lonceng peduli siapa yang memegang paku?"

Pertanyaan itu menusuk, karena aku tidak punya jawabannya. Dan sebelum aku sempat mencari jawaban itu, lagu itu kembali.

Bukan dari lonceng. Dari dalam kepalaku lagi β€” bait-bait lagu nina bobok yang tadi terhenti di ujung lidahku. Kata terakhir itu. Nama tersembunyi itu. Nama yang diberikan Nenek Buyut pada lonceng pertama, yang disembunyikan di dalam lagu supaya tidak bisa dicuri Dewan atau siapa pun, yang hanya bisa diingat oleh darah yang menyanyikannya.

Ia menunggu di ujung lidahku seperti pintu yang tinggal didorong.

Dan aku mengerti, tiba-tiba, dengan kejelasan yang menakutkan, apa jebakan yang sebenarnya di sini. Lonceng itu tidak membutuhkanku untuk mengucapkan nama tersembunyi itu. Ia sudah punya caranya sendiri untuk mendapatkan nama: ia menyebut namaku lebih dulu. Ia menulis namaku lebih dulu. Ia membalikkan permainan. Selama ini aku mengira aku datang untuk menamainya. Ternyata ia datang β€” selama ratusan tahun, melalui denting, melalui panggilan, melalui lagu yang disusupkan ke dalam nina bobok kami β€” untuk menamaiku.

Menamai bukan membebaskan. Menamai adalah mengklaim. Dan ia baru saja mengklaimku.

"Berhenti," bisikku pada diriku sendiri, pada lagu di kepalaku, pada dorongan di dadaku yang ingin menyelesaikan bait terakhir itu. "Berhenti bernyanyi. Jangan selesaikan."

Tapi lagu itu tidak berhenti semudah itu. Ia sudah mengalir begitu lama β€” sejak aku kecil, sejak Wulan menidurkanku, sejak sebelum aku mengerti apa yang kunyanyikan β€” dan sekarang ia mengalir dengan sendirinya, seperti sungai yang sudah menemukan jalannya. Aku menggigit bibirku lagi, sampai darah yang tadi mengering pecah lagi, rasa besi memenuhi mulutku, dan rasa sakit itu β€” rasa sakit yang nyata, yang milikku β€” menarikku kembali ke tubuhku sendiri.

"Aku tidak akan menyelesaikannya," kataku, keras-keras, pada lonceng itu, pada tanah, pada diriku. "Kau dengar? Aku tidak akan memberimu kata terakhir itu. Bukan dengan cara ini. Bukan saat kau sudah menggores namaku."

Lonceng itu diam. Getar dengkurannya berhenti. Keheningan yang jatuh sesudahnya begitu pekat hingga aku bisa mendengar tetesan air dari akar kamboja di atas, satu per satu, jatuh ke tanah.

Lalu, dengan suaraku sendiri β€” persis suaraku, nada yang kupakai saat bernyanyi tadi, lembut seperti ibu yang membujuk anaknya tidur β€” ia berkata:

"Kalau begitu aku yang akan menyanyikannya sampai habis."

Dan goresan namaku di perunggu itu memanjang lagi. Satu huruf. Satu goresan kecil yang baru, masih basah, masih hangat, tumbuh di ujung namaku seperti tunas.

Aku merasakan sesuatu bergerak di dalam dadaku. Bukan sakit. Bukan tarikan. Sesuatu yang lebih halus dan lebih mengerikan: sebuah kenangan kecil terlepas. Aku mencoba menangkapnya β€” kenangan apa itu? Pagi yang mana? Suara siapa? β€” tapi ia sudah lewat, seperti air melalui jari, dan yang tinggal hanya rasa hangat yang samar dan kesadaran bahwa sesuatu yang dulu milikku kini sudah tidak sepenuhnya milikku lagi.

Danan melihat wajahku berubah, dan ia mengerti sebelum aku sempat menjelaskan. Ia menarikku lebih jauh ke belakang, jaring emasnya menebal di antara kami dan lonceng, dan ia berbisik cepat, "Kita harus keluar. Sekarang. Sebelum ia menyanyikan bait berikutnya."

"Tapi lagu ituβ€”" Aku menatap lonceng itu. "Kalau aku pergi, ia akan terus menyanyikan namaku. Sampai habis. Sampai tidak ada lagi yang tersisa."

"Dan kalau kau tinggal, kau akan menyelesaikannya sendiri dan memberinya tongkat konduktor atas dua belas nada," kata Danan. Matanya yang perak menatapku, tajam dan takut sekaligus. "Naya, dengarkan aku. Ini bukan pilihan antara menang dan kalah. Ini pilihan antara kehilangan sedikit demi sedikit, atau kehilangan semuanya sekaligus. Kita keluar, kita pikirkan lagi di atas, bersama Wulan, bersama ibumu β€” bukan di sini, di mulutnya, sendirian."

Ia benar. Aku tahu ia benar. Dan aku membencinya karena ia benar.

Tapi sebelum aku sempat melangkah menuju dinding sumur, menuju jalan naik yang jauh di atas sana, tanah di bawah kakiku bergetar β€” bukan getaran lonceng, bukan denting. Getaran dari atas. Dari jauh. Dari arah bukit.

Te-ng.

Terdengar lagi. Lebih jelas dari sebelumnya, menembus tanah dan batu dan kegelapan, sampai ke ruang bawah tanah ini. DIDENGAR. Nada yang kemarin sore kuberikan tugas itu, nada yang tadi sudah terdengar ragu seperti anak yang mendengar ibunya memanggil dari seberang sungai β€” kini terdengar lebih dekat. Lebih jelas. Lebih patuh.

Ia sedang pulang. Bukan karena ia mau. Karena ia dipanggil β€” dan panggilan ibunya lebih tua, lebih dalam, lebih lapar dari nama muda yang kuberikan padanya sehari yang lalu.

"Naya," kata Danan, suaranya berubah. Ia tidak lagi membujuk. Ia memperingatkan. "Kita kehabisan waktu bukan hanya untukmu. Tujuh nama ituβ€”"

"Aku tahu." Aku memejamkan mata sejenak, dan dalam kegelapan di balik kelopak mataku, aku melihat tujuh cahaya kecil β€” tujuh nama yang kuberikan dengan darah dan benang dan seluruh keberanianku β€” bergetar, goyah, mulai bergerak ke arah suara yang memanggil mereka pulang. "Aku tahu."

Aku membuka mata. Aku menatap lonceng pertama itu β€” besar, hitam, penuh nama, mulutnya menganga seperti pintu yang tidak pernah tertutup. Aku menatap namaku sendiri di permukaannya, masih basah, masih hangat, masih tumbuh. Dan aku membuat keputusan β€” bukan keputusan yang kupikirkan matang-matang, melainkan keputusan yang dibuat oleh tubuhku sebelum pikiranku sempat melarangnya.

Aku mulai bernyanyi lagi.

Bukan bait terakhir. Bukan kata tersembunyi itu. Aku bernyanyi dari awal β€” bait pertama lagu nina bobok itu, pelan, gemetar, dengan suaraku sendiri yang masih berdarah di bibir. Tidurlah, tidurlah, anakku sayang. Aku menyanyikannya bukan untuk menyelesaikan, melainkan untuk mengulur. Untuk mengisi udara di antara aku dan lonceng dengan sesuatu yang bukan namaku. Untuk memberinya lagu tanpa ujung β€” lagu yang berputar kembali ke awal setiap kali hampir sampai di akhir, seperti anak yang meminta dongeng yang sama diulang dari awal karena ia belum mau tidur.

Lonceng itu mendengarkan. Getar dengkurannya melambat lagi. Goresan namaku berhenti memanjang β€” tidak menghilang, tidak mengering, tapi berhenti tumbuh, seperti tunas yang ditahan oleh musim dingin yang tiba-tiba. Hawa hangat dari mulutnya melembut, berubah dari cicipan menjadi dengaran.

Ia mendengarkan aku mengulur waktu. Dan untuk sesaat β€” sesaat yang rapuh dan berharga β€” aku yang memegang kendali atas lagu itu, bukan ia.

Tapi aku tahu, sambil terus bernyanyi dengan suara yang semakin serak, bahwa mengulur bukan jawaban. Lagu yang berputar tanpa ujung pada akhirnya akan membuat penyanyinya lelah. Tenggorokanku sudah perih. Bibirku berdarah. Dan di atas sana, tujuh nama itu terus berjalan pulang, selangkah demi selangkah, menuju ibunya.

Dan kemudian β€” di tengah bait kedua yang kuulangi untuk ketiga kalinya β€” aku mendengarnya.

Bukan dari lonceng. Bukan dari atas. Dari dalam jaring emas Danan β€” dari benang-benang yang terentang di antara kami dan perunggu itu β€” terdengar suara yang sangat kecil, sangat jauh, sangat kukenal, yang membuat nyanyianku tersangkut di tenggorokan:

Suara Sela. Memanggil namaku dari atas sana, dari rumah, dari dunia yang masih hidup.

Dan aku tidak tahu β€” dan ketidaktahuan itu lebih menakutkan dari lonceng mana pun β€” apakah suara itu benar-benar Sela, atau lonceng itu sudah belajar meniru suaranya juga.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!