β€Ή
53. Bisikan dari Dasar Lonceng

Bisikan dari Dasar Lonceng

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,340 kata

Ilustrasi Bisikan dari Dasar Lonceng

"Kak... ada yang ikut masuk."

Suara itu β€” suara adikku, kecil dan jauh seperti bisikan dari dasar sumur β€” keluar dari lonceng kecil di telapak tanganku. Dan lonceng itu dingin. Bukan dingin perunggu malam hari. Dingin yang lain. Dingin yang mengisap hangat dari kulitku.

Aku tidak bergerak. Di beranda, Danan mengangkat kepala β€” ia melihat wajahku, dan ia langsung berdiri. Jangkar keduanya masih di tangannya, urat-urat abu di lengannya berkilat redup di bawah cahaya bulan.

"Naya?" suaranya pelan. "Apa yang terjadi?"

Aku tidak menjawab. Aku menatap lonceng kecil Sela β€” tambalan emasku masih di sana, berkilau redup β€” dan aku melakukan apa yang selalu kulakukan saat aku takut: aku melihat dengan mata penenunku.

Dunia berlapis. Di balik perunggu, di balik cahaya bulan, aku melihat benang.

Benang perak tipis Sela ada di sana β€” berdenyut pelan, tenang, seperti jantung anak kecil yang tidur nyenyak. Tapi di sekelilingnya β€” melilitnya seperti sulur β€” ada yang lain. Seutas benang hitam. Kecil. Tipis. Hampir tak terlihat. Ia melingkar di sekeliling benang perak Sela dengan satu simpul yang membuat darahku berhenti mengalir.

Simpul itu menggigit ke belakang. Kaitnya menghadap arah yang salah β€” bukan mengikat ke depan seperti semua simpul yang diajarkan Wulan padaku, tapi menusuk mundur, ke dalam benang yang diikatnya. Seperti kail.

"Danan," bisikku β€” suaraku bergetar. "Lihat ini."

Ia mendekat β€” langkahnya masih goyah, tapi matanya tajam. Aku mengulurkan lonceng itu, dan ia menatapnya lama. Terlalu lama. Wajahnya β€” yang tadi lega setelah gerbang tertutup β€” perlahan kehilangan warna.

"Itu..." Ia menelan ludah. "Itu simpul balik."

"Simpul apa?"

"Simpul balik." Ia duduk β€” kakinya sepertinya tidak kuat lagi menopangnya. "Nenekku yang membuatnya. Maksudku β€” pola itu. Hanya keluargaku yang menenun seperti itu."

Taman yang baru hidup kembali tiba-tiba terasa sempit. Jangkrik masih bernyanyi, bunga-bunga simpul masih bermekaran β€” tapi udara di antara kami berdua menjadi berat.

"Danan," kataku pelan. "Keluargamu musuh bebuyutan keluargaku. Aku tahu itu. Tapi malam ini kau berdiri di sisiku dan mengulurkan benangmu. Jadi sekarang β€” sekarang kau harus jujur padaku. Apa itu?"

Ia menatap tangannya β€” garis-garis abu di sepanjang lengannya, sisa urat hitam yang surut. Lalu ia menatapku. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat rasa malu yang begitu dalam di matanya hingga aku hampir memalingkan wajah.

"Keluargaku tidak hanya mencuri nama, Naya." Suaranya nyaris tak terdengar. "Dewan β€” bayangan-bayangan itu β€” mereka senjata yang berisik. Yang terlihat. Tapi ada yang lebih sunyi." Ia menunjuk lonceng kecil di tanganku. "Penumpang."

"Penumpang?"

"Kami menanamkannya." Ia mengucapkan kata itu seperti mengakui dosa. "Seutas benang kecil β€” dengan simpul balik β€” dititipkan pada benang nama orang lain. Ia tidak mencuri. Ia menumpang. Memakan hangat. Tumbuh perlahan. Sampai suatu hari..." Ia berhenti.

"Sampai suatu hari apa?"

"Sampai penenunnya tidak bisa lagi membedakan mana benangnya sendiri dan mana penumpangnya." Ia menatapku β€” matanya berkaca. "Aku kira seni itu mati bersama nenekku. Aku kira tidak ada lagi yang tahu caranya."

Aku menatap lonceng kecil itu. Otak penenunku bekerja β€” menyusun potongan-potongan malam ini menjadi pola.

"Lonceng ini ada di sakuku," kataku perlahan, "saat aku menenun benang-benang hitam Dewan menjadi satu. Saat aku menamainya TAKUT." Aku mengangkat wajah. "Seutas β€” seutas kecil yang terlepas β€” menyelinap masuk ke sini. Dan sesuatu... menumpanginya."

"Bukan TAKUT," kata Danan cepat. "TAKUT sudah bernama. Sudah terikat. Ia tidur di lonceng besar di atas sana." Ia menunjuk langit β€” lonceng perunggu raksasa yang tergantung dengan benar, mulut menghadap ke atas, diam. "Ini sesuatu yang lain."

"Yang lebih tua," bisikku. Aku bisa merasakannya β€” dengan mata penenunku, aku bisa membaca umur benang seperti membaca lingkaran tahun pada batang pohon. Benang hitam kecil ini... tua. Lebih tua dari TAKUT. Lebih tua dari Dewan. Mungkin setua gerbang itu sendiri.

Sebuah pikiran mengerikan melintas: lonceng kosong Sela dulu meneteskan kegelapan β€” jauh sebelum malam ini, jauh sebelum Dewan menunjukkan wajahnya. Bagaimana kalau penumpangnya sudah ada di sana sejak awal? Bagaimana kalau kegelapan yang menetes itu bukan Dewan β€” melainkan ia, yang selama ini tidur di dalam lonceng adikku, menunggu malam ketika tenunanku mengguncang segalanya hingga ia terbangun dan lapar?

Aku harus yakin. Aku menarik sehelai benang emasku β€” setipis rambut β€” dan mendekatkannya ke lonceng kecil itu.

Benang emasku membengkok. Melengkung ke arah perunggu seperti besi ke magnet. Ujungnya bergetar β€” tertarik masuk.

"Dia lapar," kata Danan β€” suaranya serak. "Ia memakan hangat. Benang perak Sela adalah makanannya. Semakin lama di dalam, semakin besar ia tumbuh."

Aku menatap perunggu lonceng itu. Embun malam menempel di permukaannya β€” tapi tidak menguap. Di bawah cahaya bulan, aku bisa melihatnya: lapisan tipis embun yang membeku di tempat, seolah lonceng itu menghembuskan musim dinginnya sendiri. Dingin yang tadi mengisap hangat dari kulitku β€” kini aku mengerti. Ia bukan sekadar dingin. Ia lapar.

Di dalam rumah, Sela tidur nyenyak β€” benang perak tipisnya melingkar di pergelangan tangannya seperti gelang, berdenyut pelan. Hangat. Hidup. Dan di dalam lonceng kecil di tanganku, seutas benang hitam melilit saudara kembar benang itu β€” memakannya, sedikit demi sedikit, dalam kegelapan yang tidak bisa dilihat siapa pun kecuali penenun.

"Aku yang menjahit loncengmu, Dek," bisikku β€” begitu pelan hingga Danan hampir tidak mendengarnya. "Aku yang akan mengeluarkannya. Janji."

"Dan sesuatu yang bernama bisa diikat," kataku β€” mengulangi aturan yang diajarkan Wulan, aturan yang menyelamatkan kami malam ini. "Tapi ini..." Aku menatap simpul balik itu β€” kaitnya yang menusuk mundur. "Ini belum punya nama, kan?"

Danan menggeleng β€” pelan, berat. "Keluargaku punya satu aturan untuk penumpang, Naya. Satu-satunya aturan yang bahkan nenekku tidak berani melanggar." Ia menatapku β€” dan di matanya ada ketakutan yang tulus. "Kami tidak menamainya. Tidak pernah. Karena yang menamai..." Ia berhenti β€” seolah kata-katanya sendiri menakutkannya. "Karena yang menamai, yang terikat."

"Untuk apa?" Suaraku lebih tajam dari yang kumaksud. "Untuk apa keluargamu menanam penumpang pada penenun keluargaku? Untuk membunuh kami?"

Danan menggeleng β€” lambat. "Bukan untuk membunuh. Untuk mengosongkan." Ia menatap lonceng kecil itu β€” dan aku melihat tangannya gemetar. "Nenekku bilang: kau tidak perlu mematahkan seorang penenun, Danan. Cukup buat ia ragu pada benangnya sendiri. Penumpang memakan hangat β€” dan hangat pada benang nama adalah... keyakinan. Kasih yang ditenun ke dalamnya. Semakin lama ia makan, semakin dingin benang itu. Sampai suatu hari penenunnya memegang benangnya sendiri dan tidak lagi merasakan apa-apa."

Dingin merambat di tengkukku. "Wulan," bisikku. "Benang emas tuanya yang redup β€” kau pikir..."

"Aku tidak tahu." Danan menatapku β€” jujur, hancur. "Aku harap tidak. Tapi nenekku menanam penumpang selama puluhan tahun, Naya. Pada banyak keluarga penenun. Mungkin salah satunya tidak pernah keluar."

Ia mengulurkan tangannya β€” ragu β€” ke arah lonceng kecil itu. Jari-jarinya berhenti sejengkal dari perunggu.

Sulur hitam di dalam lonceng bergerak. Denyutnya mempercepat β€” dan aku melihatnya dengan mata penenunku: ia condong ke arah tangan Danan. Ke arah benang peraknya β€” yang masih bercampur hitam di ujung-ujungnya.

Danan menarik tangannya seperti tersengat. "Ia mengenali aku," bisiknya β€” wajahnya pucat. "Atau... mengenali apa yang pernah keluargaku ajarkan padanya."

Sunyi. Bahkan jangkrik seolah menahan napas.

Aku menatap lonceng kecil di tanganku β€” benang perak adikku yang tidur nyenyak, dan sulur hitam yang melilitnya, bernapas pelan dalam kegelapan perunggu. Sesuatu yang tidak bernama. Sesuatu yang tidak bisa diikat. Sesuatu yang sedang tumbuh β€” di dalam lonceng adikku β€” memakan hangatnya, sedikit demi sedikit.

Lalu aku melakukan hal terbodoh malam ini: aku mendekatkan lonceng itu ke telingaku. Untuk mendengar.

Denyut pertama: benang perak Sela. Pelan. Tenang.

Denyut kedua: sesuatu yang lain. Dingin. Teratur. Dan β€” semakin keras.

Lalu sulur hitam itu β€” di dalam kegelapan lonceng β€” mengangkat kepalanya. Aku melihatnya dengan mata penenunku: seperti mata yang terbuka di dalam sumur. Ia menatapku. Menatap langsung ke arahku.

Dan dengan suara Nini Wulan β€” persis suara Nini Wulan, hangat dan tua β€” ia berbisik:

"Nak."

Lonceng kecil di tanganku berdenyut dua kali. Dan untuk pertama kalinya malam ini β€” setelah menghadapi Dewan, setelah menutup gerbang langit β€” aku merasakan takut yang sesungguhnya. Bukan pada sesuatu yang bernama.

Pada sesuatu yang bahkan belum punya nama.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!