β€Ή
91. Ketukan dari Bawah Bukit

Ketukan dari Bawah Bukit

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,677 kata

Ilustrasi Ketukan dari Bawah Bukit

Tidak ada yang bergerak.

Satu ketukan dari dalam tanah itu menghentikan kami semua di tempat, seperti lagu yang terputus di tengah bait. Wulan memegang lenteranya lebih erat, sampai cahaya lentera itu bergoyang. Sela mundur selangkah, tetapi tidak lari. Danan menarik Laras ke belakangnya, dan Laras memegang tangan Danan dengan kedua tangannya, erat, seperti anak kecil yang sedang memegang tali di tempat yang tinggi.

Penjaga pintu adalah satu-satunya yang bergerak. Ia berlutut, perlahan, dan menempelkan telapak tangannya ke tanah, di dekat kendi, dengan mata terpejam, seperti seseorang yang sedang mendengarkan bukan dengan telinga, melainkan dengan seluruh tubuhnya.

"Dari bawah," katanya, pelan, dan suaranya terdengar seperti suara seseorang yang sedang mengucapkan sesuatu yang sudah lama tidak ia ucapkan, dan tidak ingin ia ucapkan lagi. "Bukan dari kendi. Dari bawah bukit. Dari tempat yang lebih dalam daripada kendi ini."

"Tempat apa yang ada di bawah bukit?" tanya Danan, dan suaranya dijaga tetap tenang, meskipun tangannya masih memegang Laras di belakangnya.

Penjaga pintu membuka matanya, tetapi ia tidak langsung menjawab. Ia menatap kendi yang gelap itu, lalu menatap tanah di bawah kakinya, lalu menatapku, dan aku tahu dari tatapannya bahwa jawaban itu bukan jawaban yang bisa diberikan di puncak bukit, di tengah malam, dengan anak kecil di lingkaran.

"Kita pulang dulu," katanya. "Malam ini, kita pulang, dan besok, di siang hari, di balai, dengan para tetua, kita bicara tentang apa yang ada di bawah bukit. Karena ketukan itu bukan kabar untuk lingkaran saja. Ketukan itu adalah kabar untuk desa."

Tetapi sebelum kami sempat melangkah, suara kecil itu datang lagi, dari dalam kendi yang gelap, dan suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya. Bukan suara yang meminta. Bukan suara yang menyanyi. Suara yang terdengar seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur yang panjang, dan mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar.

"Bukan aku," kata suara itu, pelan, tetapi jelas, dan jelas itu membuat semua orang di lingkaran berhenti lagi. "Ketukan itu bukan aku. Aku diam, karena aku sedang mendengarkan. Aku mendengarkan ketukan itu juga, dan aku tidak mengenalnya. Aku mengenal ketukan dari kendi. Aku mengenal ketukan dari lingkaran. Tetapi ketukan dari bawah itu bukan ketukan yang pernah kudengar, dan bukan ketukan yang pernah kuajarkan."

Wulan menutup mulutnya dengan tangan. Sela menatap tanah, lalu menatap kendi, lalu menatapku, dengan mata yang bertanya tanpa kata: kalau bukan makhluk itu, lalu siapa, atau apa, yang mengetuk dari bawah bukit?

"Sejak kapan kamu mendengarnya?" tanyaku, hati-hati, ke arah kendi.

"Sejak malam kedua," kata suara itu. "Sejak aku berhenti menyanyi. Aku berhenti menyanyi bukan karena aku marah. Aku berhenti menyanyi karena aku mendengar sesuatu yang lain, dari bawah, yang ikut mendengarkan lagu kalian, dan aku takut kalau suaraku akan menutupi suaranya, dan kalian tidak akan mendengarnya."

Kata-kata itu jatuh ke tengah lingkaran kami seperti batu ke dalam air yang tenang, tetapi air itu bukan lagi air yang kami kenal. Selama dua malam, kami mengira diam makhluk itu adalah jawaban untuk ujian kami, adalah tanda bahwa ia sedang diuji, atau sedang menguji dirinya sendiri. Ternyata diamnya adalah peringatan. Ia diam supaya kami bisa mendengar sesuatu yang lain, sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik lagu kami, yang baru terdengar ketika satu suara berhenti menyanyi.

"Apa yang kamu dengar dari bawah?" tanya penjaga pintu, dan suaranya kini terdengar seperti suara penjaga yang sedang menghadapi kabar yang tidak pernah ia siapkan.

"Aku mendengar lagu yang belum selesai," kata suara itu. "Bukan lagu kami. Bukan lagu kalian. Lagu yang nadanya seperti lagu penjaga, tetapi baitnya tidak selesai, seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat lagu yang pernah ia nyanyikan, tetapi ia lupa bait terakhirnya. Dan setiap malam, ketika kalian menyanyi, lagu yang belum selesai itu semakin jelas, seperti seseorang yang semakin dekat, karena ia mendengar lagu kalian dan ia mencoba mengikutinya."

Aku menatap Danan, dan Danan menatapku, dan kami berdua memikirkan hal yang sama: kalau lagu yang belum selesai itu semakin jelas setiap malam kami menyanyi, maka menyanyi kami, yang selama ini kami kira hanya menjaga batas, mungkin juga sedang memanggil sesuatu yang lain, sesuatu yang selama ini tertidur di bawah bukit, dan kini sedang belajar menyanyi dengan mendengarkan kami.

"Kenapa kamu tidak memberi tahu kami lebih awal?" tanya Sela, dan suaranya tegang, tetapi bukan marah. Tegang karena ia mengerti, seperti aku, bahwa dua malam sudah berlalu dengan ketukan dari bawah yang tidak kami dengar, karena kami terlalu sibuk mendengarkan diam makhluk itu.

"Karena aku tidak yakin," kata suara itu. "Aku diam selama dua malam untuk memastikan bahwa yang kudengar bukan gema dari laguku sendiri. Dan malam ini, ketika ketukan itu datang dari bawah, aku yakin. Itu bukan gema. Itu jawaban. Seseorang, atau sesuatu, dari bawah, menjawab lagu kalian, dengan ketukan, karena ia belum bisa menyanyi."

Penjaga pintu berdiri, perlahan, dan ia menatap ke arah desa, yang lampunya terlihat kecil-kecil di bawah, seperti bintang-bintang yang diletakkan di tanah. "Kalau benar ada sesuatu di bawah bukit yang sedang belajar menyanyi dengan mendengarkan lagu kami," katanya, "maka masalah kita bukan lagi tentang satu makhluk di dalam kendi yang meminta nama. Masalah kita adalah tentang berapa banyak yang mendengarkan, dari berapa banyak tempat, dan berapa banyak dari mereka yang sedang belajar membuka dengan cara yang tidak kita ajarkan."

Kami pulang dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, tetapi bukan karena kami takut gelap. Kami pulang cepat karena kami membawa kabar yang tidak bisa menunggu sampai pagi: bahwa di bawah bukit, ada sesuatu yang mengetuk, dan bahwa makhluk di dalam kendi, yang selama ini kami kira sedang diuji, ternyata sedang menjaga kami dengan diamnya, supaya kami bisa mendengar ketukan itu.

Di rumah, Laras tidak langsung tidur. Ia duduk di tempat tidurnya, dengan selimut di pangkuannya, dan ia menatap jendela yang menghadap ke arah bukit, meskipun dari jendela itu bukit hanya terlihat sebagai bayangan gelap.

"Naya," katanya pelan, ketika aku duduk di sampingnya, "apakah yang di bawah bukit itu juga kesepian, seperti dia?"

Aku tidak langsung menjawab, karena jawaban yang jujur adalah aku tidak tahu, dan jawaban yang menenangkan tetapi salah akan menjadi jawaban yang harus kuperbaiki di malam-malam berikutnya.

"Aku tidak tahu," kataku akhirnya. "Tetapi kalau ia kesepian, maka ia sedang belajar dengan cara yang sama: mendengarkan lagu dari jauh, dan mencoba mengikutinya. Dan tugas kita, seperti tugas kita kepada yang di dalam kendi, adalah memastikan bahwa ia belajar menjaga, bukan belajar membuka, sebelum ia terlalu dekat."

Laras mengangguk, tetapi matanya masih menatap jendela, dan aku tahu ia sedang mendengarkan, bukan dengan telinga, melainkan dengan perasaan anak kecil yang bisa mendengar kesepian dari tempat yang jauh.

Pagi harinya, aku mendaki lagi, sendirian, lebih awal dari yang lain, bukan untuk menyanyi, melainkan untuk memeriksa. Aku memeriksa kendi itu di siang hari, dan kendi itu masih gelap, retaknya masih ada, cahayanya masih padam. Aku menempelkan telingaku ke dinding kendi, dan aku mendengar diam. Tetapi ketika aku menempelkan telapak tanganku ke tanah, seperti yang dilakukan penjaga pintu semalam, aku merasakan sesuatu yang tidak bisa kudengar: getaran yang sangat pelan, sangat dalam, seperti detak yang jauh, yang datang bukan dari kendi, melainkan dari bawah, dari tempat yang tidak bisa kujangkau dengan tangan.

Aku menarik tanganku, dan aku berdiri, dan aku menatap bukit itu, yang selama ini kukira hanya tempat kendi berdiri, dan aku menyadari bahwa bukit itu mungkin bukan hanya tempat. Bukit itu mungkin adalah batas yang lain, batas yang lebih besar, yang selama ini kami jaga tanpa tahu bahwa kami menjaganya, dengan lagu yang kami nyanyikan setiap malam, yang ternyata didengar bukan hanya oleh satu makhluk di dalam kendi, melainkan juga oleh sesuatu yang jauh di bawah kami.

Sore itu, di balai, para tetua mendengarkan laporan kami dengan wajah yang semakin berat, tetapi kali ini, berat itu bercampur dengan sesuatu yang lain: pengakuan. Tetua tertua berkata, dengan suara yang pelan tetapi jelas, "Dulu, sebelum kendi ini berdiri, bukit ini sudah dijaga, bukan dengan kendi, melainkan dengan lagu yang dinyanyikan di puncaknya. Kendi itu datang kemudian, sebagai penjaga yang lebih kecil, di atas penjaga yang lebih besar. Dan kami, yang menjaga kendi, lupa bahwa di bawah kendi, ada penjaga yang lebih tua, yang tidak pernah kami ajak bicara, karena kami mengira ia sudah tertidur selamanya."

"Dan sekarang ia bangun?" tanya Wulan.

Tetua tertua itu tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah bukit, melalui pintu balai yang terbuka, lalu menatapku.

"Belum bangun," katanya. "Tetapi ia sudah mulai mendengarkan. Dan sesuatu yang mulai mendengarkan adalah sesuatu yang sebentar lagi akan mencoba menyanyi. Dan ketika ia mencoba menyanyi, kita harus sudah tahu lagu apa yang harus kita nyanyikan untuknya, supaya ia belajar menjaga, bukan belajar membuka, seperti yang sudah kita ajarkan kepada yang di dalam kendi."

Malamnya, kami kembali mendaki, bukan untuk ujian, bukan untuk memberi nama, melainkan untuk mendengarkan. Formasi yang sama, tetapi tujuan yang berbeda: kami tidak datang untuk menyanyi lebih keras, melainkan untuk menyanyi dengan lebih pelan, dan mendengarkan, di sela-sela lagu kami, apakah ada jawaban dari bawah.

Kami duduk, dan kami menyanyi, pelan, bait demi bait, dan dari dalam kendi yang gelap, suara kecil itu ikut menyanyi lagi, pelan, dengan nada miliknya sendiri, seperti seseorang yang sudah selesai diam, dan kini kembali menyanyi, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menutupi, dengan suaranya, sesuatu yang lain yang sedang mencoba menyanyi dari bawah.

Dan di tengah lagu itu, ketika bait kami sampai pada bait tentang menjaga agar dua sisi tetap pada tempatnya, dari bawah kami, dari dalam tanah bukit itu sendiri, datang lagi satu ketukan. Satu ketukan saja, pelan, dalam, tetapi kali ini, ketukan itu diikuti oleh sesuatu yang lain, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya: nada yang sangat pelan, sangat jauh, seperti seseorang yang sedang mencoba menyanyi dari tempat yang sangat dalam, dengan suara yang belum menemukan baitnya.

Laras, yang memegang tanganku, berbisik, dengan suara yang gemetar tetapi jelas, "Naya, dia bilang ada yang bangun."

Dan di bawah kaki kami, tanah itu bergetar, sangat pelan, sangat singkat, seperti napas pertama dari sesuatu yang sudah lama tertidur.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!