β€Ή
56. Lonceng yang Menjawab

Lonceng yang Menjawab

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,309 kata

Ilustrasi Lonceng yang Menjawab

Denting ketiga mati di udara β€” dan keheningan yang mengikutinya terasa lebih berat daripada ketiga denting itu sendiri.

Aku masih menggenggam benang emasku yang berakar abu-abu ketika Danan berbisik, "Mereka punya lonceng lain," dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak di beranda itu. Bahkan jangkrik pun diam, seolah seluruh taman menahan napas, menunggu denting keempat yang tidak kunjung datang.

"Berapa banyak?" tanyaku akhirnya, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Danan menggeleng β€” pelan, seperti kepalanya terlalu berat untuk lehernya. "Aku tidak tahu. Tapi yang menjawab tadi... tiga. Tiga lonceng menjawab denting lonceng-palang kita."

"Bukan," kata Nini Wulan.

Kami menoleh serentak. Wulan masih duduk di kursi beranda β€” wajahnya pucat seperti kertas, tongkatnya tergeletak di pangkuannya β€” tapi matanya tajam seperti dulu, seperti saat ia mengajariku meraba benang dalam gelap.

"Yang menjawab bukan yang kosong, Nak," katanya. "Lonceng kosong tidak bersuara. Ia menunggu."

Dingin merayap di tengkukku, pelan seperti jari-jari es. "Maksudmu... yang menjawab tadi β€” penuh?"

"Seperti lonceng-palang kita." Wulan menatap langit pagi yang kini biru dan polos, seolah tidak pernah berdarah semalam. "Dewan tidak membiarkan kegelapan berkeliaran tanpa wadah. Setiap retakan yang mereka biarkan terbuka, setiap panen yang mereka lakukan β€” semuanya butuh tempat. Lonceng adalah wadah mereka." Ia berhenti, lalu menatap Danan β€” lembut, tanpa tuduhan, yang justru membuatnya terasa lebih berat. "Seperti... kau, dulu."

Danan memejamkan mata. Rahangnya mengeras, dan untuk sesaat aku melihat lagi bayangan garis-garis hitam di lengannya β€” tapi tidak, itu hanya bayangan dedaunan. Lengannya kini hanya bergaris abu tipis, seperti tato yang sudah lama.

"Tujuh," bisiknya tiba-tiba.

"Apa?"

"Tujuh lonceng yang penuh." Ia membuka mata β€” perak jernih, tapi jauh, seperti menatap ke dalam dirinya sendiri. "Sejak aku dikosongkan... aku bisa mendengarnya. Wadah yang pernah penuh mengenali wadah lain."

"Tapi kita hanya mendengar tiga yang menjawab," kataku.

"Tiga yang cukup dekat untuk terdengar telinga." Danan menatap cakrawala timur. "Tujuh yang kudengar sebagai wadah. Dan di baliknya... kekosongan-kekosongan. Yang tidak menjawab. Yang menunggu."

"Berapa yang kosong?" tanyaku.

"Kekosongan tidak bisa dihitung." Suaranya pelan sekali. "Ia hanya... menunggu."

Aku menatap tanganku β€” benang emasku yang kini berakar abu-abu, bergurat hitam tipis sejak aku menamai diriku PENJAGA. Dan aku bertanya-tanya, dengan rasa takut yang dingin di perutku: apakah aku juga kini bisa mendengar seperti Danan? Apakah tanda ini adalah harga yang kubayar... atau hadiah yang tidak kuminta?

Aku mencoba. Aku memejamkan mata dan merentangkan akar-akar abuku β€” hati-hati, seperti mencelupkan kaki ke air yang tidak kuketahui dalamnya.

Dan aku mendengarnya. Samar β€” seperti dengung yang terdengar lewat air. Tujuh nada, masing-masing berbeda tinggi. Satu terasa seperti besi di lidah. Satu seperti hujan di seng. Satu seperti... tangis yang ditahan terlalu lama.

Aku membuka mata dengan sentakan. Danan menatapku β€” mengangguk pelan.

"Kau dengar juga sekarang," katanya. Bukan pertanyaan.

"Kita harus menemukan yang terdekat," kataku, memaksa suaraku mantap meski jantungku berdegup kencang. "Sebelum Dewan memindahkannya. Sebelum ia berdenting lagi."

"Lonceng yang penuh adalah jebakan, Nak." Wulan mengangkat tongkatnya β€” gerakannya berat, tangannya gemetar. "Siapa pun yang membukanya akan melepaskan isinya. Dan isi lonceng Dewan... bukan sesuatu yang ingin kau temui tanpa bingkai."

"Aku tidak akan membukanya." Danan berdiri β€” masih goyah, tapi matanya mantap menatapku. "Aku tahu rasanya jadi wadah, Naya. Aku bisa mendengarkan tanpa membuka." Ia berhenti. "Dan aku tidak pergi sendiri."

Ibu keluar dari dalam rumah dengan Sela di gandengannya β€” wajahnya tegang, matanya berpindah dari aku ke Danan ke langit. Aku menjelaskan dengan cepat, dan ia hanya mengangguk. Ia sudah terlalu sering melihat kami pergi untuk bertanya lagi. Sela melambaikan tangan mungilnya padaku β€” gelang perak di pergelangannya berkilau di cahaya pagi, simpul INGAT yang baru berkedip seperti bintang kecil yang menjaga.

"Jaga gerbang, Nek," kataku pada Wulan.

"Gerbang sudah punya penjaga." Wulan tersenyum tipis β€” bukan padaku, tapi ke arah langit, ke arah huruf S yang bersinar di palang perunggu. "Aku hanya menemani yang menjaganya."

"Dengar boleh," kata Wulan tiba-tiba, suaranya berubah tajam β€” nada yang dulu selalu membuatku berhenti di tengah langkah. "Menjawab jangan."

Aku menatapnya. "Maksudmu?"

"Kalau kau menjawab denting mereka β€” dengan benangmu, dengan suaramu, dengan cara apa pun β€” mereka akan tahu di mana wadah yang kosong." Matanya menatapku lekat-lekat. "Dan wadah kosong yang ketahuan... akan diisi."

Dingin menjalar di tulang punggungku. Aku mengangguk β€” pelan, mengerti.

"Dulu," kata Wulan tiba-tiba, suaranya jauh, "sebelum kau lahir β€” ada lonceng yang dibuka di desa seberang gunung. Bukan oleh Dewan. Oleh orang yang penasaran." Ia menatapku. "Desa itu tidak ada lagi di peta, Nak. Yang tersisa hanya lubang β€” dan dengung yang tidak pernah berhenti, sampai sekarang."

Aku menelan ludah. "Aku tidak akan membukanya, Nek. Aku janji."

Sela menarik ujung kebayaku β€” kecil, hangat. "Kak," bisiknya, "loncengnya bunyi lagi?"

Aku berlutut, menatap matanya yang jernih. "Tidak, Sayang. Kakak yang akan memastikan mereka diam."

Ia mengangguk β€” lalu menempelkan gelang peraknya ke pipiku. Simpul INGAT itu hangat, berdenyut pelan seperti jantung kecil. "INGAT jagain kakak juga," katanya sungguh-sungguh.

Tenggorokanku tercekat. Aku mengangguk, tidak percaya suaraku akan keluar dengan benar.

Ibu menyodorkan bungkusan daun pisang β€” bekal, seperti setiap kali kami pergi jauh. Tangannya gemetar sedikit saat aku menerimanya. "Pulang sebelum gelap," katanya β€” kalimat yang sama sejak aku kecil, yang dulu terdengar biasa saja dan kini terdengar seperti doa.

Aku melirik Danan β€” ia sedang menatap Ibu dan Sela dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Kerinduan, mungkin. Untuk sesuatu yang tidak pernah ia miliki: seseorang yang membungkuskan bekal dan menyuruh pulang sebelum gelap. Aku menggenggam tangannya sebentar β€” sekali, erat β€” sebelum kami berbalik menuju jalan setapak.

Sebelum berangkat, aku menenun seutas jaring emas tipis melingkari pergelangan tangan Danan β€” garis pengaman, seperti yang dulu melilitnya saat ia masih penuh kegelapan. Bedanya, kali ini jaring itu bukan untuk menahan. Untuk menarik kembali. Kalau sesuatu mencoba masuk lewat pendengarannya, jaring itu akan menyentak β€” dan ujung satunya ada di tanganku.

"Kau yakin?" tanyanya, menatap jaring tipis itu.

"Tidak," kataku jujur. "Tapi kita tidak punya yang lebih baik."

Kami berjalan ke timur β€” mengikuti dengung yang hanya bisa didengar Danan. Fajar yang sebenarnya sudah tiba, dan jalan setapak di antara kebun basah oleh embun. "Dua bukit," kata Danan tanpa menoleh, matanya setengah terpejam seperti orang berjalan dalam mimpi. "Di balik hutan bambu."

Langit pagi biru dan polos di atas kami β€” seolah tidak pernah berdarah. Tapi di bawah kakiku, aku bisa merasakan benang-benangku bergerak gelisah. Akar-akar abu-abunya merentang lebih jauh dari sebelumnya β€” menyentuh tempat-tempat gelap di bawah tanah, di balik bayangan, yang dulu akan membakar benang emasku sampai putus. Kini mereka hanya... lewat. Dingin. Tenang. Seolah kegelapan mengenali salah satu miliknya dan membiarkannya lewat tanpa menoleh.

Hadiah, pikirku. Atau harga. Mungkin keduanya β€” mungkin selalu keduanya.

Di tepi taman β€” tepat di batas di mana tanah kebun bertemu jalan setapak menuju bukit β€” Danan berhenti mendadak.

"Ada yang keempat," bisiknya.

Aku menajamkan pendengaran. Tidak ada apa-apa. Hanya angin pagi di daun bambu, dan jauh di bawah sana suara ayam berkokok.

"Aku tidak mendengarβ€”"

"Karena bukan dari cakrawala." Ia berbalik β€” perlahan, seperti ditarik β€” bukan ke arah timur. Ke arah rumah. Ke arah gerbang yang berkedip samar di balik langit biru.

Ke arah palang perunggu kita.

Palang itu bergetar β€” halus, hampir tak terlihat oleh mata biasa. Tapi aku bisa melihatnya dengan mata penenunku: benang-benang perunggu itu berdenyut, pelan dan berirama, seperti jantung kecil yang baru belajar berdetak. Menjawab panggilan yang hanya bisa didengarnya.

"Danan," bisikku β€” tenggorokanku kering seperti kertas. "Apa yang ia dengar?"

Ia menatapku β€” wajahnya pucat seperti kain kafan.

"Panggilan pulang," katanya.

Dan lonceng-palang kita bergetar β€” seolah ingin pergi menjawabnya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!