β€Ή
39. Gudang Cahaya

Gudang Cahaya

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,172 kata

Ilustrasi Gudang Cahaya

Yang keluar dari balik pintu perak-emas bukanlah ibuku. Melainkan dingin β€” dingin yang berjalan, dingin yang punya lutut dan siku, dingin yang melangkah melewatiku tanpa menoleh, seolah aku hanyalah udara yang kebetulan berbentuk manusia.

Pintu itu terbuka penuh β€” dan di baliknya bukan ruangan. Melainkan keluasan: sebuah gua anyaman yang begitu besar sehingga langit-langitnya hilang dalam gelap. Dari lubang di atas β€” lubang bundar sempurna, seperti mata β€” ribuan benang perak menjuntai ke bawah, masing-masing bergetar pelan, masing-masing mengikat segumpal cahaya kecil di ujungnya, menariknya β€” pelan, tak terhindarkan β€” ke atas. Ke lubang itu. Ke mereka.

Dan alat-alat tenun. Ya Tuhan β€” alat-alat tenun raksasa dari perak, berderet sejauh mata memandang, menenun sendiri β€” tanpa penenun. Atau lebih tepatnya: penenunnya adalah benang-benang itu sendiri, ditarik oleh tangan-tangan perak yang muncul dari dinding-dinding gua β€” tangan-tangan tanpa tubuh, tanpa wajah, bergerak dengan presisi yang mengerikan. Tangan-tangan Dewan.

β€œNaya?” Suara Sela β€” kecil, jauh β€” dari belakangku. Aku menoleh: ia berdiri di ambang pintu, berpegangan pada bingkainya, wajahnya pucat. β€œTetap di sana,” kataku β€” dan suaraku terdengar asing di tempat ini, terlalu hidup, terlalu hangat. β€œPegang pintunya. Jangan biarkan tertutup. Apa pun yang terjadi β€” jangan biarkan tertutup.” Ia mengangguk β€” dan melilitkan benang emasnya sendiri mengelilingi gagang pintu. Anak delapan tahun menjaga pintu gudang Dewan. Aku hampir tertawa β€” lalu hampir menangis.

Aku melangkah masuk. Udara di sini tidak berbau apa-apa β€” bahkan dingin pun tidak berbau. Setiap benang yang kulewati berdengung pelan β€” dan setiap dengung adalah pecahan: lagu nina-bobo dalam bahasa yang tidak kukenal. Tawa anak kecil. Bunyi cangkir beradu. Hujan di atas atap rumbia. Doa magrib yang dibaca tergesa. Ratusan desa. Ratusan ibu. Dadaku sesak hingga sulit bernapas β€” ini bukan gudang. Ini kuburan yang belum selesai menggali.

Satu benang menyentuh pipiku waktu aku lewat β€” dingin, lalu β€” anehnya β€” hangat sesaat, seperti seseorang yang mencoba mengingat caranya tersenyum. Aku berhenti. β€œMaaf,” bisikku padanya β€” pada desa yang tidak kukenal, pada ibu yang tidak kukenal. β€œAku datang untuk mengambil kembali apa yang dicuri. Tunggu aku.” Benang itu bergetar β€” pelan β€” dan untuk sesaat dengungnya berubah nada, seperti isak yang tertahan menjadi napas. Mungkin aku berhalusinasi. Mungkin juga tidak. Di tempat seperti ini, harapan adalah satu-satunya hal yang masih berbau manusia.

Aku berjalan β€” dan berjalan β€” di antara barisan alat tenun yang tidak berujung. Kakiku tidak menimbulkan suara di lantai anyaman yang dingin. Semakin jauh aku masuk, semakin tua dengung-dengung itu terasa: ada benang yang mendengungkan pasar malam dari zaman kakekku, ada yang mendengungkan nyanyian menumbuk padi yang sudah tidak dinyanyikan siapa pun selama lima puluh tahun. Gudang ini tidak hanya mencuri masa kini. Ia menimbun masa lalu β€” lapis demi lapis β€” seperti arsip yang tidak pernah diizinkan untuk dikenang.

Lalu aku mendengarnya β€” lebih jelas dari yang lain, memotong semua dengung: β€œ...kau harus kuat... karena kau anak pertama...” Suara ibuku β€” berputar-putar, seperti lagu yang macet di bagian yang sama. Aku mengikuti suara itu β€” kakiku bergerak sebelum aku memerintah β€” melewati barisan alat tenun, menuju satu benang emas di antara lautan perak. Benang itu melilit sesuatu yang kecil, yang kukenal sebelum aku sempat berpikir: cangkir retak. Cangkir teh jahe dari dapur kami. Uapnya β€” aku bersumpah β€” masih mengepul, tipis, seperti napas terakhir.

Lututku lemas. Aku berlutut di lantai gua yang dingin. β€œIbu...” Dan aku mengulurkan tangan β€” dan sebuah tangan perak turun dari atas, di antara tanganku dan cangkir itu. Lalu suara β€” bukan suara ibuku, bukan hangat sama sekali: datar, bening, seperti es di atas kolam. β€œPenjaga kecil.” Aku mendongak. Tidak ada wajah. Hanya tangan-tangan β€” dan suara yang datang dari mana-mana. β€œKau sudah jauh dari kebunmu.”

β€œKembalikan,” kataku. Tanganku gemetar β€” bukan karena takut. Karena marah. β€œItu milik ibuku. Kembalikan suaranya.” Hening β€” hanya derak alat tenun. Lalu suara itu β€” hampir... geli? β€œAmbillah.” Dua kata. β€œKami tidak keberatan.” Aku membeku. β€œSatu benang untuk satu desa. Ambil benang ibumu β€” dan saat panen tiba dua hari lagi, kami tidak menyentuh desamu.” Jantungku berhenti β€” lalu berdentang. Tawaran. Jalan keluar yang mudah. Desa yang aman.

Bayangannya mekar di kepalaku sebelum aku bisa mencegahnya: lentera desa yang menyala selamanya. Ibu di dapur β€” aman β€” menuang teh jahe ke cangkir retak yang utuh kembali. Tidak ada tangan perak di langit desa. Tidak ada panen. Hanya... damai. Tanganku terangkat β€” menuju benang emas itu β€” menuju suara ibuku yang masih berputar: β€œ...kau harus kuat... karena kau anak pertama...”

Tapi kemudian aku melihat benang-benang lain. Di sebelah benang ibuku β€” satu benang kecil mendengungkan tawa anak kecil yang tersedak-sedak. Di seberangnya β€” batuk kering orang tua. Lebih jauh β€” doa yang dibaca tergesa, terputus di tengah. Jika aku mengambil milikku dan pergi β€” panen mengambil sisanya. Dan ibuku β€” ibuku yang asli, yang di desa, yang tidak tahu apa-apa tentang lorong β€” apa yang akan ia katakan? Aku tahu jawabannya. Aku selalu tahu. β€œKau harus kuat, karena kau anak pertama.” Anak pertama β€” adalah yang memikul untuk adik-adiknya. Ia tidak membesarkanku untuk menyelamatkan rumah kami saja.

Dan di sanalah β€” di antara alat tenun raksasa itu β€” aku akhirnya mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan Sela tadi malam. Cahaya yang sudah memilih terlalu terang untuk dipanen β€” ia membakar tangan yang memegangnya. Itu sebabnya mereka mengikat Sela sebelum ia sempat memilih. Itu sebabnya mereka mencoba mengikatku. Itu sebabnya lentera desa dialihkan, bukan dipadamkan: cahaya yang terikat β€” yang belum memilih, yang hanya mengalir karena diperintah β€” bisa diminum. Cahaya yang memilih β€” membakar. Panen bukanlah pencurian cahaya. Panen adalah pencurian pilihan.

Aku menarik tanganku kembali β€” dari benang ibuku. β€œTidak,” kataku. Dan keheningan yang jatuh sesudahnya terasa seperti gua itu sendiri menahan napas. β€œAku tidak mengambilnya. Aku tidak meninggalkanmu juga, Ibu.” Aku menguraikan benang dari simpulku β€” panjang, hangat β€” dan melilitkannya mengelilingi benang emas ibuku β€” bukan untuk mengambilnya, melainkan untuk mengikatkan diriku padanya. Simpul penjaga. Lalu aku bernapas ke dalamnya β€” dan aku bercerita. Seperti tadi malam pada Sela. β€œIbu, ini Naya. Suaramu dicuri, tapi aku mengenalimu. Aku tidak pulang sendirian malam ini.”

Benang emas itu β€” berdenyut. Sekali. Lalu menyala β€” bukan seperti lentera, melainkan seperti bara yang ditiup. Dan karena semua benang di gudang ini bersentuhan β€” karena tidak ada yang benar-benar terpisah di tempat seperti ini β€” kehangatan itu merambat. Satu benang. Lalu sepuluh. Lalu seratus. Titik-titik emas menyala di sepanjang perak seperti bintang-bintang yang lahir sekaligus. Alat-alat tenun berderak β€” tersentak. Tangan-tangan perak menarik diri β€” mundur β€” karena cahaya yang memilih membakar, dan malam ini, di gudang ini, ratusan benang baru saja memilih.

β€œBERHENTI.” Suara Dewan β€” tidak lagi datar. Retak. Di atas, lubang bundar itu melebar β€” dan satu tangan perak yang besar β€” lebih besar dari semua β€” turun ke arahku. Aku tidak berpikir. Benang emas ibuku menguraikan dirinya sendiri dari cangkir retak itu β€” melilit pergelanganku β€” erat, hangat, memilih β€” dan aku berlari. Melewati alat tenun yang bergetar. Melewati tangan-tangan yang mencakar udara. Menuju pintu β€” menuju bingkai perak-emas di mana Sela kecil berdiri dengan benang emasnya melilit gagang pintu, berteriak: β€œNAYA, CEPAT!”

Aku melompat melewati ambang β€” Sela menarikku β€” pintu itu berayun menutup di belakangku dengan dentang yang mengguncang taman. Hening. Hanya napasku β€” dan napas Sela β€” dan denyut benang emas di pergelanganku: tuk... tuk... tuk. Irama jantung. Iramaku. Lalu β€” dari balik pintu yang tertutup β€” suara Dewan, datar kembali, seperti menutup buku kas: β€œLari saja, penjaga kecil. Gudang ini punya banyak pintu.” Jeda. β€œDan panen β€” tinggal dua hari.” Di suatu tempat di atas kami β€” di tempat yang tidak terlihat β€” lonceng perak berdentang sekali. Dua hari.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!