Harga Sebuah Jalan Pulang
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,267 kata
Keponakanku.
Kata itu menghantamku lebih keras daripada semua tuntutan mereka. Aku menarik benang-benangku kembali dari pergelangan Arka dengan tangan gemetar, dan aku mundur selangkah β lalu selangkah lagi β hingga punggungku menyentuh sesuatu yang hangat dan kokoh. Sayap Danan. Ia sudah berdiri di belakangku, melindungiku tanpa perlu diminta.
"Apa maksudmu?" Suaraku nyaris tidak keluar.
Arka membuka genggamannya. Simpul ibuku β simpul yang dititipkannya β masih utuh di telapaknya, berdenyut pelan. Ia tidak jadi mengurainya. Belum.
"Raras adalah adikku," katanya. "Adik kandungku. Kami tumbuh bersama di Langit Atas, belajar menjahit dari tangan yang sama. Lalu aku memilih tatanan β dan ia memilih..." Ia menatapku. "Ia memilih turun. Memilih desa. Memilih ayahmu. Memilihmu."
Ayahku. Kata yang hampir tidak pernah kudengar. Ia meninggal saat aku masih terlalu kecil untuk mengingat wajahnya β demam, kata Danan dulu. Atau begitulah yang kuketahui.
"Danan adalah adik ayahmu," lanjut Arka, seolah membaca pikiranku. "Jadi kau punya dua paman, Naya. Satu yang jatuh karena melindungimu. Dan satu yang naik karena tidak bisa melindunginya." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku."
Aku menoleh pada Danan. Rahangnya mengeras, tetapi ia mengangguk pelan β membenarkan. Selama ini ia tahu. Selama ini ia tidak memberitahuku.
"Kenapa kau tidak pernah bilang?" bisikku.
"Karena ia memilih mereka," jawab Danan, suaranya datar. "Dan orang yang memilih tatanan di atas darahnya sendiri tidak pantas disebut keluarga."
"Justru karena ia darahku, aku tidak bisa melindunginya dari tatanan!" Untuk pertama kalinya, gema suara Arka pecah β menjadi satu suara, suara laki-laki yang lelah dan tua. "Aku mencoba, Danan! Aku memohon pada dewan agar aku yang menjadi jahitan! Tetapi Raras β adikku yang keras kepala β ia memohon lebih keras. Ia bilang anaknya masih kecil. Ia bilang biarkan aku."
Keheningan jatuh di antara kami β keheningan yang anehnya manusiawi, tanpa gema.
Lalu Arka menarik napas, dan gema itu kembali, rapi seperti semula. "Itu dulu. Sekarang, pilihanku sama seperti tatanan: kau ikut denganku ke Langit Atas sebagai kunci yang hidup. Jahitan ini tetap β jangkarnya dipindahkan ke tempat yang seharusnya. Desamu aman. Dan simpul ibumu β " ia mengangkat simpul kecil itu, " β akan kusimpan. Seperti yang kuinginkan sejak dulu."
"Dan kalau aku menolak?"
"Kalau kau menolak," kata Arka, "kami akan merapikan dengan cara kami. Kami akan mencabut jahitan ini dari Langit Atas β paksa. Langit akan robek lagi, lebih lebar dari robekan Bima. Cahaya yang dipinjam desamu akan tercabut bersamanya." Ia menoleh ke bawah, ke Desa Langit Biru yang lampu-lampunya mulai redup satu per satu β seolah langit sendiri menahan napas. "Desa itu akan gelap, Naya. Bukan karena kami kejam. Karena tatanan memang begitu: yang dijahit dengan paksa, akan robek dengan paksa."
Aku merasakan lututku lemas. Ini bukan lagi tentangku. Ini tentang setiap rumah di bawah sana, setiap orang yang menengadah ke langit ganda β tentang Rangga, tentang Sekar, tentang semua yang kubangun dengan kenangan-kenanganku sendiri.
"Tidak ada jalan ketiga bagimu, rupanya," bisikku. "Hanya dua pilihan. Seperti biasa."
"Aku memberimu lebih banyak daripada yang pernah kuberikan pada ibumu," kata Arka. "Aku memberimu waktu untuk memilih."
Aku memejamkan mata. Di dalam gelap itu, aku mencari suara Ibu β kenangan yang sesungguhnya, yang masih tersisa: tangannya mengelus rambutku saat aku demam, bisikannya, "tidurlah, sayang, Ibu di sini." Kenangan itu masih milikku. Belum diambil. Aku menggenggamnya erat-erat.
Lalu aku membuka mata β dan tanganku menemukan benang Bima yang putus, masih tergenggam di telapakku sejak tadi malam.
Jangan ikuti aku. Benang ini dua arah, Naya.
Dua arah. Kalau aku menariknya cukup kuat, mereka akan mengikutiku kembali.
Sebuah pikiran β liar, berbahaya, dan sangat Bima β menyala di kepalaku.
"Kalian memburu Bima karena butuh kunci," kataku pelan. "Gerbang butuh kunci yang hidup."
Arka memiringkan kepala. "Ya."
"Benangnya masih hidup." Aku mengangkat sehelai benang emas yang putus itu, membiarkannya melayang di antara kami. "Masih terhubung dengannya. Ke mana pun ia diseret, benang ini tahu jalannya."
"Kau ingin menukarnya?" Gema suara Arka terdengar... tertarik. "Bima untuk jahitanmu?"
"Aku ingin menukarnya untuk desaku." Aku menatapnya lurus-lurus. "Aku tarik dia kembali. Kalian ambil dia sebagai kunci β itu yang kalian inginkan sejak awal, bukan aku. Dan sebagai gantinya: kalian pergi. Jahitan ini tetap milikku. Desa ini tetap bercahaya. Simpul ibuku β dua-duanya β kembali kepadaku."
"Naya, jangan!" Danan mencengkeram bahuku. "Itu jerat! Kau tidak tahu apa yang ada di ujung benang itu!"
"Aku tahu," kataku. Dan aku sungguh-sungguh tahu β atau begitulah kukira. "Bima memperingatkanku. Benang ini dua arah. Ia tahu risikonya saat meninggalkannya untukku."
Arka mempelajari wajahku lama. Lalu ia mengangguk β sekali, rapi. "Baik. Tarik dia kembali. Dan kami akan pergi."
Danan menggeleng keras. "Naya β"
"Tidak ada pilihan lain, Paman." Aku menggenggam benang Bima dengan kedua tangan. "Kalau aku menolak, desa gelap. Kalau aku ikut, aku menjadi kunci yang tidak bisa menolak. Tetapi kalau Bima β Bima sudah memilih jalannya sejak dulu. Ia merobek langit untuk kabur dari menjadi kunci. Mungkin..." suaraku bergetar, "mungkin ini caranya menebus robekan itu."
Itu bohong, dan aku tahu itu bohong bahkan saat mengatakannya. Bima tidak ingin ditebus. Bima ingin bebas. Tetapi aku tidak punya kebohongan lain yang tersedia.
Aku menarik.
Sekali β benang itu menegang di tanganku, denyut Bima menjawab dari jauh: kaget, takut, lalu... pasrah? Dua kali β tarikan itu menjalar ke atas, menyusuri kegelapan menuju Langit Atas, dan aku merasakan sesuatu yang besar bergerak di ujung sana. Tiga kali β
Dan Bima jatuh dari tirai cahaya seperti bintang yang dipaksa jatuh.
Ia menghantam perbatasan dengan bunyi yang membuat benang-benangku bergetar kesakitan. Wajahnya pucat, benang-benang emas liarnya kusut dan redup, dan di pergelangan tangannya β aku melihatnya sekarang β melingkar jerat cahaya perak. Jerat kunci. Sudah terpasang. Sudah menunggu.
"Bima!" Aku berlari ke arahnya, tetapi Danan menahanku.
"Jangan!" teriak Bima β atau mencoba berteriak. Suaranya serak, hancur. "Naya, jangan sentuh aku! Jeratnya β ia terhubung ke benangku β ke benang yang kau pegang β"
Terlambat aku mengerti.
Benang yang putus di tanganku β yang kukira pesan, yang kukira senjata β berdenyut dengan cahaya perak. Bukan emas lagi. Perak. Seperti sayap mereka. Seperti jerat mereka.
Bima tidak meninggalkan umpan. Mereka menanamnya. Melalui Bima yang tertawan, melalui tangannya yang gemetar, mereka menyelipkan sehelai benang yang sudah mereka sentuh β benang yang dua arah, ya, tetapi arah yang satu lagi bukan menuju Bima.
Melainkan menuju jerat.
"Terima kasih, keponakanku." Suara Arka β gema yang rapi itu β terdengar tepat di belakangku. "Kau baru saja menjahit jalan untuk kami."
Tarikan itu datang β bukan dari lenganku kali ini, melainkan dari benang Bima di tanganku. Tarikan balik. Kuat. Tidak seperti ketukan sopan tadi malam β ini cengkeraman. Jerat cahaya perak melesat dari pergelangan Bima, menyusuri benang yang kupegang, dan melilit pergelangan tanganku sendiri.
Aku menjerit β bukan karena sakit, meskipun sakitnya seperti dibakar es β melainkan karena aku merasakan benang-benangku sendiri, seluruh jahitan perbatasan ini, tersentak. Jerat itu tidak hanya mengikatku. Ia mengikat jahitanku. Ia mengikat jangkarku.
Dan ia menarik.
Kakiku terangkat dari tanah. Dunia miring. Aku melihat Danan terbang ke arahku dengan sayap terkembang penuh, wajahnya dilanda kepanikan yang belum pernah kulihat. Aku melihat Rangga berteriak β suaranya hilang ditelan angin. Aku melihat Sekar membuka pintu cahaya lebar-lebar, cahayanya sendiri meluap untuk menangkapku.
Tetapi jerat itu lebih kuat. Ia menarikku ke atas β setengah jalan menuju Langit Atas β benang-benang emasku sendiri kini menjadi tali yang menyeretku, setiap simpul jahitan yang kubuat dengan kenanganku menjadi anak tangga menuju penjara.
"Naya! Putuskan benangmu!" Itu suara Danan, jauh di bawah. "Putuskan sekarang!"
Aku mengangkat tanganku yang bebas β tangan yang tidak terjerat β ke arah benang-benangku. Satu tarikan, dan semuanya selesai. Jahitan ini akan robek. Langit akan robek. Desa akan gelap. Tetapi aku akan bebas. Aku akan jatuh β dan mungkin Danan akan menangkapku.
Tetapi sebelum aku sempat memutuskan, aku mendengarnya.
Dari simpul jalan pulang β simpul kecil untuk ibuku, yang tinggal selilitan lagi sebelum terurai habis β terdengar suara. Bukan gema. Bukan ingatan. Suara yang sesungguhnya, hangat, dan sangat kukenal:
"Putus, Nak."
Ibuku.
"Putuskan benangmu."
Tanganku berhenti di udara β dan chapter ini berakhir di sana, di antara tarikan jerat dan suara ibuku, dengan seluruh langit menahan napas.