Satu Langkah dari Bukit
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,529 kata
Bukit tidak melepaskan kami dengan mudah.
Itu pikiran pertama yang muncul ketika cahaya fajar sudah penuh dan kami mulai menuruni jalan setapak. Kakiku terasa seperti bukan milikku lagi. Semalaman kami berdiri, bernyanyi, dan menahan napas di dalam lingkaran, dan tubuhku baru sekarang menagih semua yang ia tunda. Setiap langkah turun terasa berat, seolah tanah bukit menahan telapak sepatuku, seolah ia ingin memastikan kami benar-benar pergi, bukan hanya berpura-pura pergi.
Danan berjalan di depanku, menggandeng Laras. Gadis kecil itu sudah tidak menangis, tetapi ia juga tidak bicara. Ia memegang tangan Danan erat-erat, dan sesekali ia menoleh ke belakang, ke arah puncak, ke arah kendi besar yang kini tertutup rapat dan diam. Aku tahu apa yang ia cari. Ia mencari bunyi. Semalaman telinganya penuh lagu, ketukan, dan senandung kecil dari dalam kendi. Pagi yang sunyi terasa aneh baginya, seperti ruangan yang tiba-tiba kehilangan satu suara yang sudah lama ada.
Wulan berjalan di belakang kami dengan lenteranya yang sudah padam. Ia memeluk lentera itu seperti memeluk sesuatu yang masih bisa memberinya hangat, padahal apinya sudah mati sejak fajar pecah. Sela berjalan paling belakang, pelan, dengan langkah orang yang sudah terlalu lelah untuk berpura-pura kuat. Tidak ada yang mengajak bicara. Kami terlalu lelah untuk kalimat yang panjang, dan terlalu penuh untuk kalimat yang pendek.
Di tengah jalan turun, Danan berhenti. Ia menunjuk ke tanah, ke sebuah batu datar tempat kami biasa beristirahat kalau mendaki. "Duduk dulu," katanya. "Laras perlu minum. Kita semua perlu minum."
Kami duduk. Air di dalam botol sudah tinggal sedikit, dan kami membaginya bergiliran, seteguk demi seteguk, tanpa ada yang meminta lebih. Laras minum paling akhir, dan setelah itu ia bersandar ke bahu Danan, matanya setengah terpejam. Aku melihat tali di pergelanganku. Nadanya tenang sekarang, nada berdua yang ditambah nada ketiga yang lembut, seperti yang kudengar semalam setelah lagu kami selesai. Tidak ada lagi denyut yang bertanya-tanya. Tidak ada lagi tarikan ke arah kendi. Untuk sesaat, aku membiarkan diriku percaya bahwa itu berarti malam sudah benar-benar selesai.
"Kamu menghapus jejaknya," kata Wulan tiba-tiba, pelan, tanpa menatapku. "Di ambang lingkaran tadi. Aku melihatmu."
Aku mengangguk. "Aku tidak mau ada yang membacanya. Jejak seperti itu, kalau dibaca orang yang salah, bisa menjadi undangan."
"Atau menjadi bukti," kata Sela, dan suaranya serak karena semalaman bertepuk dan bernyanyi. "Bukti bahwa jaraknya tinggal satu langkah. Kalau para tetua tidak percaya, bukti itu yang akan membuat mereka percaya."
"Aku tidak menghapusnya karena aku tidak mau mereka percaya," kataku. "Aku menghapusnya karena jejak itu bukan untuk dibaca sembarangan. Ia berhenti di batas lagu kami. Itu bukan jejak orang yang datang. Itu jejak orang yang mendengarkan. Ada bedanya, dan beda itu penting."
Wulan menatapku lama. "Kamu membelanya," katanya. Bukan tuduhan. Bukan juga pujian. Hanya pengamatan, diucapkan dengan lelah.
"Aku belum membela siapa-siapa," jawabku. "Aku hanya menjaga agar kita tidak memutuskan sesuatu tentangnya sebelum kita benar-benar mengenalnya. Itu yang dikatakan penjaga pintu. Nama yang ditunda memberi waktu."
Danan menggeser posisi Laras yang mulai tertidur di bahunya. "Penjaga pintu juga bilang sesuatu yang lain," katanya pelan. "Sesuatu yang belajar menjaga tidak akan berhenti belajar. Besok malam ia mungkin kembali bukan sebagai penunggu yang meniru, melainkan sebagai sesuatu yang merasa berhak ikut menjaga. Itu bukan kalimat yang menenangkan, Naya."
"Aku tahu," kataku. "Karena itu kita harus melapor. Bukan hanya kepada penjaga pintu, tetapi kepada desa. Kepada para tetua. Mereka berhak tahu bahwa jarak sisi lain kini hanya selebar satu langkah, dan bahwa penunggu itu kini menyanyikan lagu penjaga."
Sela mengangguk, tetapi matanya menatap ke arah puncak. "Dan apa yang akan kita katakan kepada mereka? Bahwa makhluk kecil di dalam kendi itu calon penjaga? Atau ancaman baru? Karena dua kalimat itu akan membawa desa ke dua arah yang berlawanan. Yang satu membuka pintu. Yang satu menutupnya rapat-rapat."
Pertanyaan itu mengikuti kami sepanjang sisa jalan turun, lebih berat daripada ransel dan lentera yang kami bawa.
Di kaki bukit, kabut pagi masih menggantung rendah di antara pepohonan. Beberapa warga sudah mulai beraktivitas, dan mereka menatap kami dengan cara orang yang tahu bahwa kami baru turun dari tempat yang tidak sembarang orang datangi semalaman. Tidak ada yang bertanya langsung. Di desa ini, orang tidak bertanya kepada penjaga yang baru turun dari bukit sebelum penjaga itu sendiri yang bicara. Itu adat yang tidak tertulis, tetapi dipatuhi.
Kami menuju balai, tempat para tetua biasa berkumpul pagi-pagi. Aku menggendong Laras bergantian dengan Danan, karena gadis kecil itu akhirnya tertidur sepenuhnya, kepalanya bersandar, napasnya pelan dan teratur. Tidurnya adalah satu-satunya hal yang pagi itu terasa benar-benar damai.
Di balai, kami menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir, tanpa melebihkan dan tanpa mengurangi. Tentang ketukan yang datang tiga kali. Tentang lagu penjaga yang kami nyanyikan bersama, bait demi bait, agar Laras tidak bernyanyi sendirian. Tentang tali yang akhirnya memilih mengikuti lagu kami, bukan ketukan dari sisi lain. Tentang langkah yang menjauh, dan tentang senandung dari dalam kendi yang berubah: bukan lagi meniru lagu kami, melainkan menyanyikan lagu penjaga dengan caranya sendiri yang masih kikuk, masih belajar, tetapi jelas sedang belajar menjaga.
Aku juga menceritakan keputusan kami: menunda pemberian nama. Dan aku menceritakan jejak kaki kecil di ambang lingkaran, yang sudah kuhapus, dan apa artinya: jarak sisi lain kini hanya selebar satu langkah.
Para tetua mendengarkan tanpa menyela, seperti cara mereka selalu mendengarkan kabar dari bukit. Ketika aku selesai, keheningan di balai terasa panjang. Lalu perdebatan itu dimulai, persis seperti yang dikhawatirkan Sela, hanya saja lebih pelan dan lebih berat karena diucapkan oleh orang-orang yang memikul tanggung jawab atas desa ini.
Seorang tetua berkata bahwa makhluk yang belajar menyanyikan lagu penjaga harus dianggap calon penjaga. "Lagu penjaga bukan lagu sembarangan," katanya. "Tidak ada yang bisa menyanyikannya dengan benar kalau ia tidak sedang belajar menjaga. Meniru itu satu hal. Menjaga itu hal lain. Anak itu, makhluk itu, sudah melewati batas antara keduanya semalam."
Tetua yang lain menggeleng. "Atau ia sedang belajar cara terbaik untuk meniru," katanya. "Penunggu yang paling berbahaya bukan yang mengetuk keras-keras. Penunggu yang paling berbahaya adalah yang belajar menyanyi seperti penjaga, supaya suatu malam kita membukakan pintu untuknya karena kita mengira ia salah satu dari kita. Satu langkah, Naya bilang. Satu langkah bukan jarak yang aman. Satu langkah adalah jarak orang yang sudah siap masuk."
Wulan, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Ia tidak meminta masuk semalam. Ia mengetuk tiga kali, mendengarkan lagu kami, lalu pergi. Kalau ia mau masuk, ia bisa mengetuk keempat kalinya. Ia tidak melakukannya. Ia memilih pergi dan belajar."
"Atau ia memilih menunggu malam yang lebih baik," sahut Sela, jujur dan lelah. "Kita tidak tahu. Dan justru karena kita tidak tahu itulah kita tidak boleh memberinya nama malam ini, dan tidak boleh juga mengusirnya begitu saja. Nama mengikat. Pengusiran juga mengikat, dengan cara yang berbeda. Keduanya menutup kemungkinan kita mengenalnya lebih dulu."
Aku menatap mereka semua, para tetua, Wulan, Sela, Danan yang masih menggendong Laras yang tertidur. "Maka kita sepakat pada satu hal," kataku. "Kita tidak menamainya. Kita tidak mengusirnya. Kita menyanyi untuknya setiap malam, seperti janji kami, supaya ia tahu jalan ini dijaga, dan supaya ia terus belajar menjaga. Dan kita berjaga lebih rapat. Lingkaran di puncak dijaga, jalan setapak dijaga, dan Laras tidak pernah dibiarkan bernyanyi sendirian. Itu yang bisa kita janjikan hari ini. Selebihnya, kita lihat malam demi malam."
Para tetua mengangguk, sebagian dengan lega, sebagian dengan ragu yang tidak disembunyikan. Keputusan seperti itu tidak pernah memuaskan semua orang. Tetapi keputusan itu cukup untuk membuat kami bisa pulang, beristirahat, dan bersiap untuk malam berikutnya.
Siang itu, di rumah, aku mencoba tidur. Tubuhku memintanya, tetapi pikiranku tidak mau diam. Setiap kali mataku hampir terpejam, aku mendengar lagi ketukan itu: satu, dua, tiga. Dan di antara ketukan-ketukan itu, lagu kami. Dan setelah lagu kami, senandung kecil yang belajar menjaga.
Sore menjelang, Danan datang membangunkanku. Wajahnya tidak seperti orang yang baru bangun dari tidur yang cukup. Wajahnya seperti orang yang membawa kabar yang ia sendiri belum percaya.
"Naya," katanya pelan, "turun ke jalan setapak. Ada yang harus kamu lihat sebelum malam."
Aku mengikutinya, setengah berlari, setengah tersandung karena kakiku masih kaku. Di jalan setapak kaki bukit, di tempat tanahnya masih lembap oleh embun pagi, Danan berhenti dan menunjuk ke bawah.
Di sana, menghadap ke arah desa, ada satu jejak kaki kecil.
Satu saja. Tidak berpasangan, tidak berlanjut ke arah mana pun. Persis seperti jejak yang kuhapus pagi tadi di ambang lingkaran, hanya saja jejak ini tidak berada di puncak bukit. Jejak ini berada di jalan menuju desa.
Dan ketika aku berlutut untuk melihatnya lebih dekat, aku menyadari sesuatu yang membuat darahku terasa dingin: tanah di sekeliling jejak itu kering, padahal embun pagi masih membasahi rumput di kiri dan kanannya. Seolah jejak itu tidak dibuat pagi tadi. Seolah jejak itu dibuat baru saja, sore ini, oleh sesuatu yang berjalan pelan, berhenti, dan mendengarkan, tepat di batas tempat lagu kami tidak lagi terdengar.
Laras, yang menyusul kami bersama Wulan, menatap jejak itu lama, lalu berbisik dengan suara yang terlalu tenang untuk anak sekecil itu, "Dia sudah tahu jalan pulang kita."