β€Ή
8. Langit yang Jatuh

Langit yang Jatuh

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,228 kata

Ilustrasi Langit yang Jatuh

Orang-orang bilang langit itu jauh.

Mereka salah.

Langit itu dekat sekali β€” sedekat tubuh Danan yang jatuh, berputar tanpa daya, dengan sayap-sayap emasnya yang robek berkobar lalu padam seperti kertas dibakar.

"DANAN!"

Naya tidak berpikir. Kakinya sudah bergerak sebelum otaknya sempat menyusul β€” berlari menembus dinding menara yang kini bening seperti kaca, meninggalkan tenunan yang berdenyut liar di belakangnya, menuju satu-satunya jalan turun yang ia kenal: retakan di langit, sobekan yang sama yang dulu membawanya naik ke Jantung Langit.

Angin menampar wajahnya, dingin dan berbau hujan yang belum turun. Jantung Langit berputar di sekelilingnya β€” benang-benang cahaya yang tak terhitung jumlahnya, berdenyut seperti nadi raksasa.

Di bawahnya, jauh di bawah, Desa Langit Biru tampak mungil seperti mainan anak-anak: atap-atap genteng yang berbaris, sawah menguning yang bergelombang, dan cahaya-cahaya aneh yang menari-nari di langit malam β€” tenunannya bocor ke dunia bawah, persis seperti yang ia rasakan dari menara.

Dan di antara semuanya, satu titik emas yang jatuh. Jatuh. Jatuh.

Pegang aku, doanya dalam hati. Aku datang.

Ia terjun.

Dunia menjadi lolongan angin dan cahaya. Naya memejamkan mata, merentangkan tangan β€” dan merasakan tanda di telapaknya menyala panas. Benang-benang melesat dari telapak tangannya β€” biru kehijauan, emas, putih β€” melilit pergelangan tangannya, menahannya, memperlambat jatuhnya seperti layang-layang yang ditambatkan pada langit.

Ia menembus retakan itu β€” dingin yang menusuk tulang, gelap sesaat yang menelan semua suara β€” lalu malam dunia bawah menyambutnya dengan aroma tanah basah dan kayu bakar.

Sawah. Ia mendarat di pematang dengan lutut tertekuk, lumpur menciprat ke betisnya. Di depannya, sekitar dua puluh langkah, padi-padi rebah membentuk lingkaran β€” kawah dangkal tempat sesuatu yang berat baru saja jatuh.

Danan tergeletak di tengahnya.

Bau padi yang hangus bercampur aroma aneh β€” seperti hujan yang jatuh di atas besi panas. Cahaya keemasan merembes dari robekan sayapnya, menetes ke lumpur, dan di setiap tetes yang jatuh, padi-padi di sekitarnya bersinar sesaat sebelum layu β€” seolah kehidupan dan kematian sedang berebut tanah yang sama.

Naya berlari, tersandung, berlari lagi. Ia berlutut di sisinya, tangannya gemetar menyentuh wajahnya. Sayap-sayap emas itu β€” sayap yang dulu membawanya terbang menembus badai cahaya β€” kini robek di tiga tempat, bulunya hangus di ujung-ujungnya, dan dari robekan itu bukan darah yang mengalir, melainkan cahaya. Cahaya keemasan yang merembes ke tanah seperti embun pagi.

"Danan." Suaranya pecah. "Danan, bangun. Kumohon."

Kelopak matanya bergetar. Mata itu β€” mata yang selalu menatapnya seolah ia adalah hal paling berharga di dua dunia β€” terbuka perlahan, redup seperti bara yang hampir padam.

"Nayara..." bisiknya.

Untuk pertama kalinya, Danan mengucapkan nama sejatinya. Bukan Naya. Nayara. Dan Naya menangis β€” karena nama itu di bibirnya terdengar seperti doa, sekaligus seperti perpisahan.

"Jangan bicara," katanya, menekan telapak tangannya yang bertanda ke dada Danan. Cahaya mengalir β€” sedikit, terlalu sedikit. "Aku di sini. Akuβ€”"

"Di belakangmu," bisik Danan.

Naya menoleh. Di tepi kawah, di bawah pohon jati yang menjulang gelap, berdiri Rangga.

Di tangannya tergenggam pecahan kristal hitam sebesar kepalan tangan β€” berdenyut dengan kegelapan yang hidup, seperti jantung yang terbuat dari malam itu sendiri.

"Kau mendengarnya, kan?" kata Rangga pelan. "Waktu kau meneriakkan namamu ke langit tadi. Seluruh dunia mendengarnya, Naya. Terang dan gelap." Ia mengangkat pecahan itu tinggi-tinggi. "Termasuk mereka."

Dari sela-sela jari Rangga, bayangan-bayangan merayap keluar seperti asap β€” berbisik, berbisik tanpa henti: Nayara... Nayara...

"Kau yang menjatuhkannya," kata Naya, suaranya bergetar antara marah dan takut. Ia berdiri, membentangkan tangannya melindungi tubuh Danan. "Kau yang merobek sayapnya."

Rangga tidak menyangkal. "Dia menghalangi jalanku. Seperti dia selalu menghalangi semua orang yang ingin berubah." Matanya berkilat β€” dan Naya menyadari dengan ngeri bahwa kilat itu bukan kejahatan. Melainkan luka. Luka yang sangat tua. "Segel itu melemah, Naya. Kaum Bayang sudah bisa mencium cahaya dunia bawah. Kau bisa terus menenun jahitan manismu itu β€” atau kau bisa berhenti berpura-pura dan merobeknya sekalian bersamaku. Bebaskan semuanya. Sekali untuk selamanya."

Di atas mereka, langit berdenyut β€” aurora aneh menari-nari, hijau dan emas dan ungu. Tenunannya. Setengah jadi. Menunggunya kembali.

Dan di bawah aurora itu, retakan-retakan tipis menganga di udara malam seperti luka yang belum dijahit β€” dan dari setiap retakan, bisikan itu semakin keras, semakin lapar: Nayara... pulanglah...

"Tenunan..." Danan mencengkeram pergelangan Naya dengan sisa tenaganya. "Kalau putus... retakan akan menelan desa lebih dulu. Kau harus... kembali."

"Aku tidak akan meninggalkanmu," kata Naya.

"Kau harus." Danan tersenyum β€” senyum yang sama seperti waktu ia mencengkeram tangannya di hutan jati dulu, melarangnya menyentuh kunci. "Aku jatuh karena memilih melindungimu. Jangan buat kejatuhanku sia-sia."

Suara langkah tergesa memecah malam. Cahaya obor bergoyang di pematang. "Naya!" Sari berlari dengan napas terengah, diikuti Nek Wulan yang berjalan cepat dengan tongkatnya β€” terlalu cepat untuk perempuan seusianya, seolah malam ini memberinya kaki yang lebih muda.

Nek Wulan berhenti di tepi kawah. Matanya yang tua menatap Naya β€” yang bercahaya, dengan tanda menyala di telapaknya β€” lalu menatap Danan yang bersayap emas, lalu menatap langit yang berdenyut dengan aurora. Dan ia tidak terkejut. Sama sekali tidak terkejut.

"Akhirnya," bisik Nek Wulan. "Akhirnya harinya tiba juga."

"Nek...?"

Nek Wulan berlutut di sisi Danan, tangannya yang keriput menyentuh sayap yang robek dengan lembut, seolah menyentuh kain mahal. "Nek tahu, Nduk. Sejak kau lahir β€” sejak bidan meletakkanmu di pangkuan Nek dan langit di luar jendela menyala tanpa petir β€” Nek tahu kau bukan anak biasa." Ia menatap Naya, matanya berkaca-kaca. "Namamu β€” nama sejatimu β€” Nek yang menulis di akta itu dengan tangan gemetar. Dan setiap malam sejak itu Nek berdoa semoga kau tidak pernah perlu mengucapkannya."

"Nek..."

"Pergi." Nek Wulan meletakkan tangan di bahu Naya β€” hangat, tegas, seperti waktu Naya demam kecil dulu. "Selesaikan yang kau mulai, Nduk. Dia aman bersamaku. Nek yang akan menjahit sayapnya β€” Nek dulu penjahit terbaik di desa ini, ingat?"

Naya tertawa di tengah air matanya. "Nek..."

"Jahit yang kuat, Nek," bisik Danan lemah, dan Nek Wulan mengelus kepalanya seperti cucunya sendiri. "Pergi, Nduk. Langit memanggilmu."

Naya menatap Danan sekali lagi β€” menghafal wajahnya, seolah takut lupa. Lalu ia berdiri, mengangkat telapaknya yang bertanda ke langit. Benang-benang melesat keluar, melilit tubuhnya, mengangkatnya β€” perlahan, seperti ditarik oleh tangan-tangan yang tak terlihat.

Di bawahnya, desa mengecil. Ia melihat Sari melambai dengan obornya, wajahnya basah air mata. Ia melihat Nek Wulan membungkuk di atas Danan, sudah merobek kain jariknya untuk pembalut.

Dan ia melihatnya β€” di tanah, di antara bayangan pohon jati, di dalam retakan-retakan tipis itu: kegelapan bergerak. Merayap. Berbisik dengan suara yang kini ia kenal terlalu baik: Nayara... kami menunggumu... pulanglah...

Ia menembus retakan kembali ke Jantung Langit β€” dan berlari menuju menara secepat kakinya bisa membawa.

Ia berlari menyusuri koridor benang cahaya yang bergoyang liar β€” helai-helai tenunan yang belum selesai mencambuk udara seperti ular-ular cahaya yang kehilangan tuannya. Satu helai menyambar pipinya, meninggalkan garis panas yang berdenyut. Naya tidak berhenti. Di benaknya hanya ada satu wajah: Danan β€” pucat, sayap robek, cahaya yang merembes ke tanah sawah. Bertahanlah, doanya dalam hati. Nek Wulan bersamamu. Sari bersamamu. Bertahanlah sampai aku selesai.

Ruang alat tenun menyambutnya dengan denyut yang tidak beraturan β€” seperti jantung yang berdebar ketakutan. Kain setengah jadi itu menggembung dan mengempis, benang-benangnya bergetar hebat.

Tenunan itu masih di sana. Masih berdenyut. Masih menunggunya.

Tapi ada yang salah. Sangat salah.

Kain setengah jadi itu bergerak sendiri β€” menenun dirinya sendiri, tanpa tangan penenun. Dan di antara benang-benang terang yang lahir dari telapaknya, ada satu helai yang hitam pekat. Berdenyut. Merayap seperti tinta yang diteteskan ke air, memakan cahaya di sekelilingnya sedikit demi sedikit.

Penjaga Pertama berdiri di sisi alat tenun, wajah cahayanya pucat pasi. "Kau kembali," bisiknya lega. Lalu ia mengikuti arah pandang Naya β€” ke helai hitam itu β€” dan suaranya bergetar seperti kaca retak.

"Bayang juga bisa menenun, Nak," katanya. "Dan mereka... mulai lebih dulu dari yang kukira."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!