β€Ή
36. Tiga Hari

Tiga Hari

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,329 kata

Ilustrasi Tiga Hari

Dewan tidak mengirim prajurit untuk perang. Dewan mengirim juru tagih untuk penagihan β€” dan itu jauh lebih menakutkan, karena juru tagih tidak pernah salah alamat.

Aku berlari kembali menyusuri lorong. Pintu-pintu itu kini diam β€” cahayanya meredup seperti napas yang ditahan. Di ambang pintu kecilnya, Sela mencengkeram tanganku erat-erat. "Aku tidak bisa keluar," bisiknya cepat. "Pintuku belum memilih. Kalau aku keluar sebelum memilih β€” aku akan jadi seperti ibumu dulu. Setengah. Tembus pandang."

"Kalau begitu jangan keluar." Aku berlutut, menatap mata keluarga itu. "Dengarkan aku, Sela. Aku kembali. Itu janji penjaga β€” dan penjaga tidak mengingkari janji."

Ia mengangguk β€” kecil, berani, dengan bibir dikatupkan seperti prajurit cilik β€” lalu menutup pintunya sendiri dari dalam. Klik. Suara kecil yang membuat dadaku nyeri.

Aku berlari. Lorong terasa lebih panjang saat ditakuti. Embun beku perak β€” tipis seperti sarang laba-laba β€” merambat di dinding-dinding lorong dari arah mulutnya, berkilauan dingin di bawah cahaya keemasan yang melawan, yang bertahan, yang tidak mau padam.

Di simpul jantung, mereka sudah menunggu. Danan berdiri tegak meski bahunya menyala β€” ia menolak duduk, menolak terlihat lemah. Saras di sisinya, benang emasnya terurai waspada seperti kucing yang menegakkan bulu. Ibu β€” Raras, ibuku yang nyata β€” berdiri paling depan, dagunya terangkat, tangannya yang baru nyata itu terkepal di sisi tubuhnya.

Dan di hadapan mereka β€” utusan itu.

Ia perempuan. Itu hal pertama yang membuatku terkejut β€” aku mengharapkan sesuatu yang tanpa wajah, tanpa bentuk. Ia dianyam dari perak hidup β€” bukan baja dingin seperti Arka, melainkan perak yang dipoles hingga berkilau, indah dan mengerikan sekaligus. Sayapnya terlipat di punggungnya seperti bilah-bilah cahaya bulan. Di tangannya, sebuah buku besar yang dianyam dari benang perak β€” halamannya membalik sendiri tanpa angin, dipenuhi tulisan perak yang bergerak-gerak seperti cacing cahaya. Dua pengawal bersayap berdiri di belakangnya, wajah mereka halus seperti cermin β€” tidak ada mata, tidak ada mulut, hanya pantulan.

"Naya, pewaris," katanya. Suaranya seperti lonceng angin di musim dingin β€” merdu, dan justru itu yang paling buruk darinya. "Aku Candra. Tangan kanan Dewan." Ia membungkuk sedikit β€” sopan santun sebagai senjata.

"Arka sudah pergi," kataku β€” suaraku lebih mantap dari yang kurasakan. "Pesan Dewan sudah disampaikan. Dan jawabanku tetap sama."

"Arka adalah peringatan." Candra tersenyum β€” tipis, nyaris sedih. "Aku adalah perhitungan. Dewan selalu mengirim keduanya, berurutan. Itu tata caranya." Ia membuka buku peraknya. Tulisan-tulisan di halamannya berpendar. "Mari kita hitung bersama, supaya tidak ada yang merasa dirugikan."

Ia mengangkat satu jari perak. "Pertama: gerbang yang kau buat β€”" ia melirik ke arah pintu cahaya tempat Nini keluar, "β€” anomali. Ia tidak ada dalam daftar." Ia mengetuk bukunya. "Yang tidak ada dalam daftar β€” harus dihapus. Itu bukan kekejaman. Itu pembukuan."

Jari kedua. "Kedua: pintu terjauh." Tatapannya β€” dingin, tanpa kedip β€” menemukan mataku. "Penjaganya adalah aset dewan. Yang diikat sebelum memilih β€” bukan pemberontak, Nak. Milik. Seperti benih yang ditanam β€” ia milik yang menanam, bukan milik tanah."

"SELA BUKAN BENIH!" Suaraku meledak, menggema di lorong. "Dia anak kecil!"

"Dan anak kecil β€”" Candra menutup bukunya perlahan, "β€” paling mudah dibentuk. Itu sebabnya kami menanam lebih awal." Ia tersenyum lagi β€” dan untuk sesaat, di balik perak yang dipoles itu, aku melihat sesuatu yang membuat perutku mual: bukan kebencian. Keyakinan. Ia sungguh-sungguh percaya ia benar.

Jari ketiga. "Ketiga: cahaya desamu." Ia menatap bayangan desa di atas simpul jantung β€” lentera-lentera hangat yang menyala. "Selama seribu tahun ia mengalir ke atas. Tatanan itu β€” nyaman. Teratur. Kami ingin kenyamanan itu kembali."

"Cahaya itu tidak pernah milik kalian!" Aku melangkah maju β€” Danan menahan bahuku, tetapi aku menepisnya pelan. "Nini bilang β€” lorong ini hidup dari kemauan para penjaga yang MEMILIH menjaga! Kalian tidak menciptakannya! Kalian hanya β€” mengklaimnya!"

"Ibumu β€” buyutmu β€”" Candra mengangguk pelan, "β€” selalu pandai merangkai kata, Naya. Itu sebabnya ia diikat seribu tahun. Kata-kata yang indah adalah simpul yang paling sulit dibuka."

Danan melangkah maju β€” dan saat itulah aku melihatnya. Embun beku di udara β€” kehadiran Candra yang dingin β€” menjawab perak di bahu Danan. Luka bilah Arka itu β€” berdenyut. Danan meringis β€” cepat, ditahan, disembunyikan β€” tetapi Candra melihat. Tentu saja ia melihat. Juru tagih selalu melihat yang disembunyikan.

"Jangkar tua," katanya lembut β€” hampir sayang. "Perak mengenali perak, Paman. Luka itu β€”" ia menatap bahu Danan, "β€” tidak akan sembuh sendiri. Perak dewan tidak berkarat. Ia menunggu."

"Yang menunggu β€”" Danan menyeringai, meski wajahnya pucat, "β€” biasanya kecewa, Nduk."

Candra menutup bukunya. Suaranya seperti pintu yang ditutup β€” final. "Tiga hari." Ia menatapku. "Tiga hari untuk mengembalikan tatanan. Menutup anomali. Menyerahkan aset. Setelah itu β€”" ia melirik pintu-pintu yang diam di sepanjang lorong, "β€” kami datang bukan untuk bicara."

Ia berbalik β€” lalu berhenti. "Satu hal lagi, pewaris." Tatapannya jatuh ke pergelanganku β€” ke simpulku yang kini utuh. "Simpul yang utuh β€” lebih terang. Dan yang lebih terang β€”" ia tersenyum, "β€” lebih mudah ditemukan. Jaga cahayamu baik-baik."

Ia pergi β€” melayang, tanpa suara β€” pengawalnya mengikuti seperti bayangan cermin. Embun beku di dinding surut perlahan di belakang mereka seperti air pasang yang mundur. Tetapi tidak hilang seluruhnya. Di sudut-sudut, di sela-sela anyaman β€” ia tinggal. Menunggu.

Hening. Lalu Saras bergerak cepat β€” menyingkap kain di bahu Danan. Aku menahan napas. Luka itu β€” cahaya abu-abu Danan β€” kini disusupi pola putih dingin yang merambat seperti jamur di atas roti, seperti akar es di dalam tanah. Danan tertawa kecil β€” dipaksakan. "Tidak apa-apa. Bahu tua β€”"

"Diam, Paman." Suara Ibu β€” Raras β€” tajam seperti pisau dapur. Ia berlutut di sisi Danan, dan dengan tangan yang BARU NYATA itu β€” tangan yang kemarin masih tembus pandang β€” ia menekan telapaknya ke luka Danan. Hangat. Aku bisa melihatnya β€” kehangatan merambat dari telapaknya, dan pola es itu β€” melambat. Berhenti merambat. Tidak hilang β€” tetapi berhenti.

"Tanganku masih belajar menjadi tangan," bisik Raras β€” air matanya jatuh ke bahu Danan, menguap menjadi cahaya kecil. "Maaf kalau canggung."

Danan menatapnya β€” lalu tertawa, tawa yang sesungguhnya meski parau. "Belajarlah di bahuku, Nak. Bahuku sudah tua." Ia mengedipkan mata. "Tidak keberatan menjadi buku latihan."

Raras tertawa di tengah tangisnya β€” suara yang membuat simpul jantung berdenyut lebih hangat. Saras ikut tersenyum β€” tetapi matanya β€” mata keluargaku β€” menatapku dengan berat.

Malam itu β€” jika lorong punya malam β€” aku duduk di tepi simpul jantung. Ibu mengepang rambutku β€” jari-jarinya yang baru nyata itu canggung tetapi lembut, sesekali menarik terlalu kencang lalu berbisik "maaf, maaf." Di bawah sana, di bayangan desa, lentera-lentera menyala hangat. Aku melihat perempuan berselendang lusuh itu β€” ibu desaku β€” menggantung lenteranya lebih tinggi di depan rumah, menengadah ke langit, tersenyum pada cahaya yang tidak ia tahu asalnya.

"Dewan tidak takut pada kekuatan, Nak." Suara Saras β€” ia duduk di sisiku tanpa kudengar datang. "Dewan takut pada preseden. Kau bukan pemberontak pertama yang mereka hadapi." Ia menatap pintu-pintu yang diam. "Kau preseden pertama yang BERHASIL."

"Lalu apa yang kulakukan dalam tiga hari ini, Nini?"

Ia menatap pintu-pintu yang jauh β€” yang diam, yang menahan napas. "Kau lakukan yang selalu kau lakukan sejak kau menjawab ketukan pertamamu." Tangannya yang dijalin cahaya menyentuh pipiku. "Kau memilih β€” dan kau biarkan yang lain memilih."

Aku mengangguk β€” tetapi pikiranku melayang ke ujung lorong. Ke pintu kecil. Ke Sela. Aku berdiri β€” tiba-tiba tidak tahan duduk diam. "Aku harus mengecek Sela."

Aku berlari menyusuri lorong yang diam itu. Pintu-pintu yang kulewati β€” redup, menahan napas. Dan di ujungnya β€” pintu kecil itu β€” bingkainya β€”

Embun beku. Bermekaran di bingkai anyamannya seperti bunga es. Bukan embun beku biasa β€” ini disengaja. Ditinggalkan. Pesan.

Aku menempelkan telingaku ke pintu kecil itu. Menahan napas. Mendengar.

Tuk-tuk. Tuk-tuk. Lemah. Melambat. Seperti jantung yang kelelahan.

Lalu β€” berhenti.

Hening.

"Sela?" bisikku. Tanganku menekan anyaman yang dingin itu. "Sela!"

Tidak ada jawaban. Hanya dingin β€” dan di balik dingin itu β€” sangat jauh, sangat samar β€” satu ketukan terakhir. Tuk.

"...Sela?"

Tidak ada jawaban.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku menjawab ketukannya β€” pintu yang paling jauh itu β€” diam.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!