β€Ή
72. Jawaban dari Bukit

Jawaban dari Bukit

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,332 kata

Ilustrasi Jawaban dari Bukit

Kata "Besok" itu masih terngiang di dadaku ketika fajar tiba, dan aku tahu kami tidak bisa menunda lagi. Kendi yang terbuka sebagian itu masih di beranda, cahayanya pelan dan hangat seperti fajar dari dasar sumur, berdenyut sabar seperti seseorang yang sudah menyampaikan pesannya dan kini menunggu balasan.

"Jangan menyentuh retakannya," kata Danan, suaranya rendah tapi tegas, saat aku berjongkok di depan kendi untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. "Cahaya di dalamnya bukan untuk dimasuki. Sekali kau memberi izin dengan sentuhan, kau memberi jalan."

Aku mengangguk dan berdiri. Di sampingku, Wulan sudah siap, matanya jernih, benang hitam itu sudah tidak ada di lehernya sejak lagu tiga suara kemarin. Sela berdiri di ambang pintu, menjaga rumah.

Sela berdiri di ambang pintu, menatap kendi itu dengan hati-hati. "Kalau begitu," katanya, "kendi ini bukan wadah biasa. Ia menyampaikan pesan, dan pesannya sudah sampai: Pulang, lalu Besok. Sekarang ia hanya menunggu kita menepati janji itu."

Danan mengangguk. "Dan lonceng dari bukit itu mungkin bukan berasal dari bukit itu sendiri. Mungkin bukit hanyalah tempat suara itu memantul. Sumbernya bisa dari sisi lain jeda, tempat nama-nama yang belum ditulis menunggu untuk dipanggil."

Aku memandang ke arah bukit lagi. Kabutnya mulai menipis, ditarik matahari pagi yang semakin tinggi. Jalan setapak yang tadi tersembunyi kini terlihat lebih jelas, berkelok naik di antara pepohonan. Aku pernah mendengar cerita bahwa jalan itu dulu dipakai para penjaga untuk naik ke pos penjagaan, sebelum pos itu ditinggalkan. Apakah lonceng itu datang dari pos yang ditinggalkan itu? Atau dari sesuatu yang tinggal di sana setelah para penjaga pergi?

"Kita harus naik ke sana," kataku, sebelum sempat menahan diriku sendiri.

Tiga pasang mata menatapku sekaligus. Wulan yang pertama bereaksi. "Naya, jangan. Tadi kau sendiri bilang ada sesuatu yang mempelajari napasmu. Kalau kau naik ke sana, kau memberinya kesempatan mempelajari lebih banyak lagi. Wajahmu. Langkahmu. Suaramu dari dekat."

"Aku tahu risikonya," kataku. "Tapi diam di sini juga berisiko. Kendi sudah retak. Jawaban sudah datang. Kalau kita tidak menjawab balik, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan sesuatu itu selanjutnya? Ia sudah belajar meniru napasku dan menjawab laguku. Diam bukan lagi pilihan yang aman. Diam hanya memberinya waktu belajar lebih lama tanpa kita tahu apa yang ia pelajari."

Danan diam cukup lama. Aku mengenal diamnya. Itu diam seseorang yang sedang menimbang antara melindungi dan membiarkan. Jaring emas di lengannya meredup dan menyala bergantian, seperti napas yang ragu.

"Kalau kita naik," katanya akhirnya, "kita naik bersama. Tidak ada yang pergi sendiri. Kendi hitam yang terbuka sebagian itu tetap di sini, dijaga Sela. Kalau sesuatu terjadi pada kami di atas, tutup beranda dan jangan membuka pintu untuk lonceng atau suara apa pun, apa pun suaranya, bahkan kalau suaranya terdengar seperti suaraku."

Wulan menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak mau ditinggal menjaga kendi yang bisa retak kapan saja. Aku ikut."

"Sela?" tanyaku.

Sela menatap kendi hitam, lalu menatapku. "Seseorang harus menjaga rumah. Kalau semua pergi, siapa yang menjaga retakan ini agar tidak membesar saat kita tidak ada? Aku tinggal. Tapi dengan satu syarat: kalian kembali sebelum matahari tenggelam. Kalau tidak, aku akan menyanyikan lagu tiga suara itu sendiri, meski suaraku hanya satu."

Ancaman itu terdengar seperti janji sekaligus peringatan. Aku mengangguk, karena aku tahu Sela bersungguh-sungguh, dan karena aku tidak ingin menguji apa yang terjadi jika lagu itu dinyanyikan oleh satu suara saja.

Kami bersiap dengan cepat. Danan mengambil tali tipis dari jaring emasnya dan mengikatnya melingkari pergelangan tanganku dan pergelangan tangannya, bukan sebagai belenggu, melainkan sebagai penanda. "Supaya senandungku bisa menemukanmu," jelasnya. "Kalau suaramu ditarik lagi seperti tadi, senandung ini akan menahanmu."

Aku mengangguk. Sentuhan tali itu hangat, seperti pegangan tangan yang tidak pernah lepas. Wulan membawa bekal air dan kain penutup kepala, matanya masih sesekali melirik ke arah kendi hitam.

Sebelum berangkat, aku berjongkok sekali lagi di depan kendi hitam. Cahaya pelan di dalam retakannya masih ada, hangat, tidak menyilaukan. Aku tidak tahu apakah cahaya itu berarti ia sedang menunggu kami kembali, atau sedang menunjukkan jalan yang harus kami tempuh.

"Kami datang," bisikku ke arah bukit, bukan sebagai tantangan, melainkan sebagai jawaban. "Kami mendengar loncengmu, dan kami datang untuk mendengarnya dari dekat."

Tidak ada lonceng yang menjawab. Hanya angin pagi yang bergerak di antara pepohonan. Tapi aku merasa, entah bagaimana, bahwa keheningan itu sendiri adalah jawaban. Keheningan yang menunggu.

Sebelum kami benar-benar meninggalkan halaman, Danan berhenti dan membuka telapak tangannya. Jaring emasnya masih terurai, beberapa simpulnya menggantung lepas seperti rambut yang putus, dan benang hitam dari malam di sumur itu sudah tidak lagi melilit sebanyak dulu, tapi jejaknya masih terlihat di simpul yang paling tengah. Ia tidak mencoba memperbaikinya dengan paksa. Ia hanya mengusap simpul itu pelan, seperti seseorang yang menenangkan luka agar tidak berdarah lagi, lalu menutup telapaknya dan mengangguk padaku. Isyarat itu cukup bagiku: ia tidak lagi berjanji menahan dunia untukku, tapi ia berjanji berjalan di sampingku, dan untuk perjalanan ke bukit ini, janji kedua itu justru yang paling kubutuhkan. Wulan, yang melihat isyarat itu, menggenggam tanganku lebih erat, seolah ia juga mengerti bahwa mulai hari ini kami tidak lagi dijaga dari depan, melainkan dijaga dari samping, oleh orang-orang yang berjalan bersama kami.

Perjalanan naik tidak mudah. Jalan setapak itu licin oleh embun, dan beberapa bagiannya tertutup akar yang menjalar seperti jari-jari. Danan berjalan di depan, membersihkan jalan dengan tongkat kayunya, sesekali berhenti untuk mendengarkan. Wulan berjalan di tengah, dan aku di belakang, menjaga agar tidak ada yang tertinggal.

Di tengah perjalanan, nada lonceng itu kembali. Kali ini dari dekat. Sangat dekat. Bukan dari puncak bukit, melainkan dari balik pepohonan di sisi jalan, hanya beberapa langkah dari kami.

Satu nada. Jeda panjang. Satu nada lagi, menyanyikan namaku yang itu, Nayara, dengan suaraku sendiri.

Kami berhenti serentak. Danan mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Wulan mencengkeram lenganku. Aku menahan napas, dan saat itu aku menyadari sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri: nada itu tidak lagi hanya meniru jedaku. Nada itu meniru langkah kami, lalu kembali menyanyikan namaku, seolah ia sedang belajar dari apa pun yang kami lakukan, lalu menggunakannya untuk memanggilku.

"Danan," bisikku, suaraku gemetar. "Ia tidak hanya mempelajari napasku. Ia mempelajari apa pun yang kita lakukan."

Danan mengangguk, wajahnya tegang. "Itu sebabnya kita tidak boleh berhenti terlalu lama. Semakin lama kita diam di satu tempat, semakin banyak yang ia pelajari dari diam kita."

Kami melanjutkan langkah, lebih cepat, meski jalan semakin curam. Nada itu mengikuti, tapi kini dengan pola yang berubah-ubah, seolah ia sedang mencoba pola baru, menguji mana yang membuat kami berhenti dan mana yang membuat kami berjalan. Satu nada, dua nada, jeda. Lalu satu nada lagi, lebih pelan, menyanyikan namaku seperti pertanyaan.

Di sebuah tikungan, jalan membuka ke sebuah tanah lapang kecil. Di tengahnya berdiri bangunan batu yang sudah setengah runtuh, dengan pintu kayu yang terbuka sedikit. Pos penjagaan tua. Atapnya sebagian ambruk, dindingnya ditumbuhi lumut, tapi pintunya masih bisa dikenali. Dan dari dalam bangunan itu, terdengar bunyi yang membuat kami semua membeku.

Bukan ketukan. Bukan nyanyian kendi. Melainkan suara seseorang yang menyanyikan lagu tiga suara kami, tapi dengan suara keempat yang belum pernah kami dengar.

Suara itu menyanyikan bagianku, bagian Nenek Buyut, bagian Wulan, dan bagian Danan, semuanya sekaligus, dari satu tenggorokan, dengan sempurna.

Wulan menutup mulutnya. Danan menarikku ke belakangnya. Dan dari dalam pos penjagaan yang gelap itu, sebuah bayangan melangkah keluar, perlahan, ke arah cahaya pagi.

Bayangan itu berhenti di ambang pintu, dan untuk pertama kalinya, nada lonceng dari bukit itu berhenti sepenuhnya. Hening total. Seolah seluruh bukit menahan napas bersama kami.

Aku menggenggam tali di pergelangan tanganku erat-erat, dan berbisik, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada siapa pun: "Siapa pun kau, jangan menyanyikan laguku dengan suara yang bukan milikku."

Bayangan itu mengangkat kepala. Dan di bawah cahaya pagi, aku melihat wajah yang seharusnya tidak mungkin ada di sana, wajahku sendiri, tapi lebih tenang, lebih berani, dan tersenyum dengan cara yang persis seperti caraku tersenyum saat aku merasa sudah menang.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!