Jawaban dari Bawah Bukit
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,253 kata
Pagi itu, tidak ada yang langsung bereaksi terhadap ucapan Laras. Itu mungkin hal yang paling menakutkan: kami semua terlalu terlatih untuk tidak panik di depan anak itu, sehingga keheningan kami justru terdengar seperti persetujuan.
Aku tersenyum pada Laras dan mengajaknya sarapan, seolah melodi baru itu hanyalah lagu iseng yang ia karang sendiri. Tapi begitu ia berlari keluar untuk bermain, aku memanggil Danan, Wulan, Sela, penjaga pintu, dan tetua tertua ke sisi rumah yang jauh dari telinga anak-anak. Kendi kubawa serta, cahayanya redup dan gelisah di dalam genggamanku.
"Melodi itu," kata penjaga pintu setelah aku menceritakan semuanya, "irama ketukannya sama dengan sinyal lama penjaga yang berjaga sendirian. Tapi nadanya baru. Tidak ada di lagu kita, tidak ada di bait yang tak selesai itu. Laras tidak mungkin mengarangnya sendiri dengan irama setua itu."
"Yang di bawah mengajarinya," kata Wulan pelan. "Dalam mimpi. Sementara kita sibuk menjaga bait yang tak selesai itu, yang tidur itu mengajarinya lagu lain."
Tetua tertua mengangguk perlahan, wajahnya lebih keriput dari biasanya di bawah cahaya pagi. "Ia tidak lagi hanya mendengarkan. Ia mulai mengajar. Itu perubahan yang besar, Naya. Pendengar yang mulai mengajar berarti ia sudah merasa punya sesuatu untuk diberikan."
Kami naik ke bukit siang itu, dengan Laras yang kami minta tetap di rumah bersama Sela, bermain dan menyanyi lagu selesai itu seperti biasa. Di atas bukit, perubahan itu terlihat bahkan sebelum kami mendengarnya. Lingkaran rumput tempat kami duduk melingkar semalam kini rebah ke arah luar, seperti ditiup dari dalam bumi, membentuk pola melingkar yang rapi dan tidak alami. Di tengah lingkaran itu, tanah tampak lebih gelap, lembap, seolah sesuatu di bawah sana bernapas lebih dekat ke permukaan daripada sebelumnya.
Wulan berjongkok dan menyentuh rumput itu dengan ujung jarinya, lalu menarik tangannya cepat-cepat. "Hangat," katanya, heran. "Rumput ini hangat, padahal udara pagi dingin. Dan lihat ini." Ia menunjuk ke tanah di tengah lingkaran, tempat embun pagi tidak menguap seperti di tempat lain, melainkan mengumpul menjadi titik-titik kecil yang tersusun seperti jejak kaki yang sangat besar dan sangat pelan. Bukan jejak yang berjalan pergi, melainkan jejak sesuatu yang berputar di tempat, mendengarkan, sepanjang malam.
Lalu kami mendengarnya. Bukan ketukan, bukan senandung samar. Nyanyian yang utuh, naik dari bawah bukit, dalam dan lambat, dengan suara yang terdengar seperti banyak suara yang dilebur menjadi satu. Yang tidur itu menyanyikan lagu selesai kita, bait demi bait, tentang pulang dan tidur nyenyak, dengan hafalan yang sempurna.
Untuk sesaat, aku hampir lega. Ia belajar lagu yang benar. Ia belajar pulang, bukan bangun. Bukankah itu yang kami inginkan selama ini?
Tapi kemudian nyanyian itu sampai di baris terakhir, dan bukannya berakhir, ia berbelok. Satu bait baru ditambahkan, bait yang tidak pernah kami nyanyikan, tentang sebuah pintu yang lama tertutup dan kini diketuk dari dalam oleh seseorang yang sudah hafal jalan pulang. Nada-nadanya persis melodi baru yang disenandungkan Laras pagi tadi.
Penjaga pintu memucat. Ia yang paling tahu soal pintu, karena menjaga pintu adalah tugasnya sejak sebelum aku lahir. "Itu lagu pintu," bisiknya, dan suaranya terdengar seperti seseorang yang melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat siapa pun. "Bukan lagu tidur, bukan lagu pulang. Itu lagu pintu. Dan pintu yang dimaksud lagu itu... ada di bawah bukit ini."
Tetua tertua menatap lingkaran rumput yang rebah itu lama, lalu berkata dengan hati-hati, seolah setiap kata harus ditimbang dulu. "Pintu itu bukan pintu rumah, bukan pintu gerbang yang bisa dibuka dengan kunci. Menurut cerita yang diwariskan para penjaga, pintu itu adalah batas antara yang terjaga dan yang tidur. Selama lagu tidur dinyanyikan di atasnya, batas itu tetap. Tapi lagu pintu berbeda. Lagu pintu tidak menidurkan penjaganya. Lagu pintu memanggilnya untuk membuka dari dalam. Karena itulah lagu itu tidak boleh selesai dinyanyikan oleh dua suara sekaligus."
Danan melangkah maju, berdiri di antara kami dan lingkaran rumput yang rebah itu. "Kalau begitu kita harus memastikan lagu itu tidak selesai dinyanyikan," katanya. "Bait apa pun yang dinyanyikan yang tidur itu, selama tidak selesai, pintu itu tetap tertutup."
"Tapi ia sudah tidak sendiri," kata tetua tertua, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, suaranya terdengar benar-benar tua. "Ia punya penyanyi di atas. Laras menghafal bait barunya. Setiap kali Laras menyanyikannya, bait itu mendapat suara kedua. Dan bait yang dinyanyikan dua suara lebih cepat selesai daripada bait yang dinyanyikan satu suara."
Kata-kata itu masih menggantung di udara ketika dari arah rumah, suara Laras terdengar, jernih dan riang, menyanyikan melodi baru itu. Ia menyanyikannya dengan hafalan sempurna, kata demi kata, termasuk bait tentang pintu itu, seolah lagu itu memang sudah lama ia ketahui dan baru pagi ini ia ingat kembali. Sela pasti sedang berusaha mengalihkannya, karena sesaat kemudian terdengar suara Sela menyanyikan lagu selesai itu, keras dan cepat, menimpa nyanyian Laras. Tapi Laras hanya tertawa, dan melanjutkan baitnya dari tempat ia berhenti, tanpa satu pun nada yang salah.
Aku berlari setengah jalan menuruni bukit, tapi tetua tertua menahan lenganku. "Jangan berlari dengan panik," katanya. "Anak itu akan tahu ada yang salah dari wajahmu, dan rasa ingin tahunya akan lebih besar daripada rasa takutnya. Turunlah pelan-pelan, dan nyanyikan lagu pulang bersamanya. Jangan melarang. Temani."
Aku menurut, meski kakiku ingin berlari. Perjalanan menuruni bukit itu terasa paling panjang yang pernah kutempuh, karena setiap langkah harus kupaksa pelan sementara suaraku harus tetap riang, menyanyikan lagu pulang seolah tidak ada yang salah. Di tengah jalan, aku sempat berhenti dan menatap ke bawah, ke arah rumah, dan menyadari sesuatu yang membuatku semakin takut: aku tidak lagi tahu apakah aku sedang menenangkan Laras, atau sedang menenangkan diriku sendiri. Di halaman rumah, aku duduk di samping Laras dan ikut menyanyikan lagu selesai itu, dengan suara yang kubuat seriang mungkin. Laras menoleh padaku, tersenyum, dan beralih ke laguku dengan mudah, seperti anak yang memang suka menyanyi apa saja asal ada yang menemani. Tapi di sela-sela lagu itu, ia sempat berkata dengan santai, "Tapi Kak, lagu yang dari bawah itu rasanya seperti lagu yang sudah lama aku tahu. Seperti lagu yang dulu sering dinyanyikan untukku, sebelum aku ingat apa-apa."
Kalimat itu membuat tanganku berhenti sejenak di udara. Sebelum ia ingat apa-apa. Seolah lagu itu berasal dari waktu sebelum Laras menjadi Laras yang kami kenal.
Menjelang senja, kendi itu memanggilku dengan suara yang sangat pelan, nyaris tidak terdengar. Aku mendekatkan telinga ke bibirnya. "Naya," bisiknya. "Ia tidak lagi memanggilku. Tadi pagi, ketukannya berubah. Ketukan itu tidak lagi berirama seperti panggilanku. Irama ketukan itu kini mengikuti irama lagu Laras."
Aku merasakan dingin menjalar dari tengkuk ke punggung. Panggilan itu sudah berpindah sasaran. Bukan lagi suara kecil di kendi yang dipanggil turun. Yang dipanggil kini adalah Laras, lewat lagu yang diajarkan di dalam mimpinya.
Malam itu, saat matahari terbenam dan langit berubah ungu, dari bawah bukit terdengar satu ketukan tunggal. Bukan tiga, bukan panggilan panjang. Satu ketukan, lalu hening. Seolah sesuatu di bawah sana sedang memastikan bahwa kami masih mendengarkan.
Dan dari dalam rumah, suara Laras terdengar lagi, sendirian, jelas, menyanyikan bait tentang pintu itu sampai habis. Tidak ada yang menimpanya kali ini, karena Sela sedang di dapur dan aku masih di halaman. Bait itu selesai, sempurna, tanpa terputus.
Tanah di bawah kakiku menjawab dengan suara yang belum pernah kudengar sebelumnya: bunyi pelan dan dalam, seperti bingkai pintu yang bergeser di kusennya setelah lama tidak bergerak.
Danan sudah berlari ke arah rumah. Aku menyusulnya. Dan dari kendi di genggamanku, suara kecil itu berbisik dengan gemetar, "Pintu itu belum terbuka, Naya. Tapi ia sudah menemukan suaranya. Dan suaranya... adalah Laras."