β€Ή
100. Suara Pewaris

Suara Pewaris

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,716 kata

Ilustrasi Suara Pewaris

Cahaya itu naik dari celah tanah dengan pelan, seperti matahari yang terbit dari arah yang salah, dan untuk sesaat aku tidak bisa melihat apa-apa selain keemasan yang memenuhi mataku.

Aku tidak berhenti bernyanyi. Itu adalah satu-satunya hal yang kuputuskan sebelum naik ke bukit: apa pun yang terjadi, aku tidak akan berhenti di tengah bait. Tetua tertua sudah memperingatkanku, bait yang berhenti di tengah lebih berbahaya daripada bait yang selesai, karena bait yang menggantung akan terus dicari ujungnya, oleh siapa pun yang mendengarnya, dari atas maupun dari bawah. Maka aku terus menyanyi, meski suaraku gemetar, meski cahaya itu membuat mataku berair, meski tanah di bawah kakiku terasa seperti bernapas.

Di belakangku, suara Danan dan Sela menyanyikan lagu selesai itu semakin keras, menimpa baitku seperti selimut yang diletakkan di atas api yang mulai membesar. Aku bisa mendengar kendi kecilku ikut bernyanyi, suaranya jernih dan berani, memimpin lagu selesai itu dengan nada yang stabil. Tiga suara kami membungkus bait tentang pintu itu dari segala sisi, dan aku berharap, dengan seluruh hatiku, bahwa itu cukup.

Tapi suara Laras dari bawah bukit tidak berhenti. Ia menyanyikan bait yang sama, dari baris yang sama, dengan suara anak kecil yang sedang bermimpi dan tidak tahu bahwa nyanyiannya sedang membuka sesuatu. Dan setiap kali suaranya mencapai nada yang sama dengan nadaku, cahaya di tengah lingkaran itu menjadi lebih terang, dan celahnya menjadi sedikit lebih lebar.

"Terus, Naya!" teriak Danan dari belakangku, dan aku bisa mendengar bahwa ia sudah berdiri, sudah siap menarikku keluar dari lingkaran kalau keadaan memburuk. "Jangan berhenti! Selesaikan baitmu duluan! Kalau suaramu selesai duluan, pintunya akan mendengar pewarisnya, bukan Laras!"

Aku mengerti maksudnya. Ini adalah perlombaan yang aneh dan mengerikan: dua suara menyanyikan bait yang sama, dan suara yang selesai duluan akan menentukan apa yang terjadi pada pintu itu. Kalau Laras selesai duluan, pintu itu akan terbuka untuk keturunannya yang memanggil pulang. Kalau aku selesai duluan, pintu itu akan mendengar jawaban pewaris, dan mungkin, hanya mungkin, ia akan tetap tertutup, karena tugas penjaga pertama sudah dijawab.

Maka aku menyanyi lebih cepat, bukan dengan tergesa-gesa yang panik, tapi dengan ketegasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku menyanyikan setiap kata dengan jelas, dengan suaraku sendiri, suara Naya, pewaris gerbang langit, bukan tiruan suara Laras, bukan tiruan suara kendi. Aku menyanyikan tentang pintu yang lama tertutup, tentang jalan pulang yang selalu bisa ditemukan, tentang penjaga yang sudah boleh beristirahat, karena di atas masih ada yang menjaga.

Dan ketika aku sampai di kata terakhir, aku menyanyikannya dengan seluruh napas yang tersisa di dadaku, keras dan jernih, seperti seseorang yang menutup sebuah pintu dengan tangannya sendiri dan berkata, cukup, sampai di sini.

Baitku selesai.

Untuk sesaat, tidak ada apa-apa. Cahaya itu tetap ada, celah itu tetap terbuka, dan suara Laras dari bawah bukit masih terdengar, menyanyikan baitnya yang belum selesai, satu baris lagi menuju kata terakhir.

Lalu kendi kecilku melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: ia menyanyikan lagu selesai itu dengan suara yang lebih besar daripada biasanya, bukan sekadar memimpin, tapi memanggil, dan suaranya naik ke langit malam seperti lentera yang dinyalakan di tengah gelap. Danan dan Sela mengikutinya, dan aku ikut bergabung, meninggalkan bait tentang pintu itu dan beralih ke lagu selesai, lagu tentang pulang dan tidur nyenyak, lagu yang kami kenal dengan baik.

Empat suara kami menyanyikan lagu selesai itu bersama-sama, dan suara itu naik, membungkus bukit, membungkus rumah-rumah di bawah, membungkus tidur Laras yang jauh di sana. Dan di tengah lagu itu, aku mendengar suara Laras berubah: bait tentang pintu itu melambat, tersendat, lalu berbelok, nada demi nada, mengikuti lagu kami, seperti anak kecil yang tersesat lalu menemukan tangan yang dikenalnya. Laras menyelesaikan baitnya bukan dengan kata tentang pintu, melainkan dengan baris terakhir lagu selesai itu, tentang tidur nyenyak sampai pagi.

Begitu suara Laras beralih, cahaya di tengah lingkaran itu mulai meredup. Bukan padam sekaligus, tapi meredup pelan-pelan, seperti matahari kecil yang memutuskan untuk terbenam kembali. Celah tanah itu mulai menutup, sangat pelan, dan bunyi yang mengikutinya adalah bunyi yang sama seperti semalam, tapi terbalik: bukan bunyi pintu yang bergeser untuk terbuka, melainkan bunyi pintu yang kembali ke kusennya, dengan hati-hati, seperti seseorang yang menutup pintu kamar anaknya yang sudah tidur, supaya tidak membangunkannya.

Tanah menjadi dingin kembali di bawah kakiku. Rumput yang rebah itu tetap rebah, tapi tidak lagi bergetar. Embun mulai terbentuk lagi di atasnya, seperti biasa. Dan dari bawah bukit, tidak ada ketukan, tidak ada nyanyian. Hanya hening, hening yang kali ini terasa berbeda: bukan hening seseorang yang menunggu, melainkan hening seseorang yang sudah mendengar jawaban dan sedang memikirkannya.

Aku jatuh berlutut di tepi lingkaran, dan Danan langsung berada di sampingku, memegang bahuku. Sela berjongkok di sisi lain, dan kendi kecilku melayang pelan dari genggamanku ke pangkuanku, cahayanya hangat dan lelah.

"Kau melakukannya," kata Danan, suaranya serak. "Kau menyelesaikan baitmu duluan. Pintunya mendengarmu."

Tetua tertua bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pelan ke tepi lingkaran, menatap celah tanah yang kini hampir tertutup sepenuhnya. "Pintu itu belum terbuka, dan malam ini ia tidak akan terbuka," katanya. "Tapi Naya, dengarkan aku baik-baik. Pintu itu sudah mendengar suaramu, dan ia sekarang tahu bahwa pewaris di atas masih ada. Itu kabar baik. Tapi ada kabar yang tidak baik juga."

"Apa?" tanyaku, masih terengah-engah.

"Penjaga pertama itu sudah menunggu terlalu lama," kata tetua. "Malam ini ia mendengar jawabanmu, dan ia menerimanya, untuk malam ini. Tapi kerinduan tidak hilang hanya karena satu jawaban. Ia akan memanggil lagi. Dan setiap kali ia memanggil, Laras akan mendengarnya, karena lagu itu ada di dalam darahnya. Kau tidak bisa menyanyikan bait itu setiap malam selamanya, Naya. Suatu malam kau akan lelah, atau kau tidak ada di bukit, dan malam itu Laras akan menyanyikan bait itu sendirian sampai habis."

Aku menatapnya, dan aku tahu ia benar. Malam ini kami menang, tapi kemenangan ini tidak menyelesaikan apa-apa. Ia hanya memberi kami waktu. Dan waktu itu harus kami gunakan untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekadar menjaga tidur Laras setiap malam.

"Apa yang harus kulakukan, Tetua?" tanyaku. "Kalau menjaga saja tidak cukup, apa yang cukup?"

Tetua menatap celah tanah yang kini tinggal garis tipis, lalu menatapku. "Kau harus turun, Naya. Bukan sekarang, bukan malam ini. Tapi suatu hari, kau sebagai pewaris harus turun ke bawah bukit dan berbicara dengan penjaga pertama itu sendiri, dari pintu ke pintu, bukan lewat lagu yang dinyanyikan dari atas. Hanya pewaris yang bisa melakukannya. Laras tidak bisa, karena ia adalah keturunan yang dipanggil. Kendi tidak bisa, karena ia hanya suara. Danan tidak bisa, karena ia bukan pewaris. Hanya kau."

Kata turun itu menggema di kepalaku. Turun ke bawah bukit, ke tempat pintu itu berada, ke tempat penjaga pertama sudah menjaga sendirian selama waktu yang tidak bisa dihitung. Aku tidak tahu apa yang ada di bawah sana, aku tidak tahu apakah aku akan bisa kembali, dan aku tidak tahu apakah penjaga pertama itu akan menerimaku sebagai pewaris atau sebagai pengganggu.

Tapi aku juga tahu satu hal: kalau aku tidak turun, Laras akan terus menjadi suara yang dipanggil, dan suatu malam, cepat atau lambat, pintu itu akan terbuka untuknya. Dan itu adalah hal yang tidak boleh terjadi.

"Aku akan turun," kataku, dan suaraku terdengar lebih tenang daripada yang kurasakan di dalam. "Tapi tidak malam ini. Malam ini Laras harus tidur dengan tenang, dan aku harus memastikan bahwa ia aman. Beri aku waktu untuk bersiap, Tetua. Beri aku waktu untuk memahami apa yang harus kukatakan kepadanya di bawah sana."

Tetua mengangguk. "Waktu itu yang akan kuberikan padamu, Naya. Tapi ingat, waktu di bawah bukit tidak berjalan seperti waktu di atas. Setiap malam kau menunda, penjaga pertama itu menunggu satu malam lagi. Dan penantian yang terlalu lama bisa mengubah kerinduan menjadi sesuatu yang lain."

Kami turun dari bukit dalam diam, dan malam terasa lebih dingin dari biasanya. Di rumah tetua tertua, Laras tidur dengan tenang di atas tikarnya, Wulan duduk di sampingnya, dan penjaga pintu berjaga di depan pintu. Ketika aku masuk, Laras menggeliat sedikit dalam tidurnya dan bergumam, "Kak Naya... lagunya sudah selesai ya?"

Aku berjongkok di sampingnya dan mengusap rambutnya. "Sudah selesai, sayang," kataku. "Malam ini lagunya sudah selesai, dan kau menyanyikannya dengan sangat baik."

Laras tersenyum dalam tidurnya dan tenang kembali. Aku menatapnya lama, anak kecil yang tidak tahu bahwa di dalam dirinya ada lagu yang bisa membuka pintu di bawah bukit, dan bahwa mulai malam ini, tugas terberatku bukan lagi menjaga tidurnya, melainkan mempersiapkan diriku untuk turun dan menemui orang yang menciptakan lagu itu.

Danan mengantarku pulang, dan di depan rumahku, ia berhenti dan menatapku. "Kau sungguh akan turun?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Aku pewaris, Danan. Pintu itu memanggil Laras karena ia tidak bisa memanggilku secara langsung. Sekarang ia sudah mendengar suaraku. Suatu hari aku harus menjawabnya bukan dari atas bukit, tapi dari depan pintunya. Itu tugas yang sudah lama menunggu seseorang, dan seseorang itu adalah aku."

Danan diam sejenak, lalu mengangguk. "Kalau begitu, aku akan bersiap bersamamu. Apa pun yang ada di bawah sana, kau tidak akan menghadapinya sendirian. Aku akan berada di atas, menjaga Laras dan menjaga bukit, supaya ketika kau turun, ada yang menunggumu kembali."

Aku masuk ke dalam rumah, dan kendi kecilku kutaruh di samping bantalku. Cahayanya redup dan hangat, dan sebelum aku tertidur, ia berbisik dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar.

"Naya," katanya. "Malam ini kau menyelamatkan Laras dengan suaramu. Tapi dengarkan aku: pintu itu sudah memilih suaranya. Dan sekarang, ia sedang menunggu pewarisnya menjawab. Bukan dengan lagu. Dengan langkah."

Aku memejamkan mata, dan di dalam gelap di balik kelopak mataku, aku melihat celah cahaya keemasan itu lagi, dan di baliknya, samar-samar, seperti bayangan di balik pintu yang hampir tertutup, aku melihat sesosok yang berdiri di sana, menungguku, dengan lagu yang sama yang dinyanyikan Laras, lagu yang dulu dinyanyikan seorang ayah untuk anaknya, lagu yang kini menunggu pewarisnya datang dan menyelesaikannya dengan cara yang berbeda: bukan dengan suara, melainkan dengan keberanian untuk turun dan menghadapinya sendiri.

Di luar, dari bawah bukit, terdengar satu ketukan tunggal. Bukan panggilan. Bukan ancaman. Melainkan seperti ketukan seseorang yang mengetuk pintu dari dalam, dengan sabar, untuk memastikan bahwa seseorang di atas masih mendengarkan.

Dan aku mendengarkan. Aku akan selalu mendengarkan, sampai hari aku turun dan menjawab ketukan itu sendiri.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!