Lagu Sebelum Ingatan
Pewaris Terakhir Langit β’ 2,042 kata
Aku datang ke rumah tetua tertua sebelum matahari naik, seperti yang ia minta, dan udara pagi itu dingin sampai ke tulang.
Rumah tetua itu kecil dan gelap, dindingnya dari anyaman bambu yang sudah menghitam oleh asap perapian bertahun-tahun. Di dalamnya tidak ada kursi, hanya tikar pandan dan sebuah tungku kecil yang apinya sudah menyala, seolah tetua itu sudah bangun jauh sebelum aku datang dan sudah menungguku sejak lama. Ia duduk bersila di depan tungku, dan di sampingnya ada kendi tanah liat yang lain, kendi yang lebih tua dan lebih besar dari kendi kecilku, permukaannya retak halus seperti kulit orang yang sudah sangat tua.
"Duduk," katanya, tanpa menoleh. "Cerita ini panjang, dan pagi ini singkat. Matahari tidak akan menunggu kita selesai."
Aku duduk di hadapannya dan meletakkan kendi kecilku di pangkuanku. Cahaya kendi itu redup, seperti ia pun tahu bahwa pagi ini ia harus mendengarkan, bukan berbicara.
Tetua tertua menatap api sebentar, lalu mulai bercerita dengan suara yang lambat dan berat, seperti seseorang yang sedang mengangkat sesuatu yang sudah lama terkubur.
"Dulu, jauh sebelum bukit ini punya nama, sebelum ada rumah, sebelum ada lingkaran penjaga, ada seorang penjaga gerbang pertama," katanya. "Ia bukan penjaga seperti penjaga pintu yang kau kenal sekarang. Ia adalah orang pertama yang mendengar gerbang langit bernyanyi, dan orang pertama yang berjanji akan menjaga batas antara yang terjaga dan yang tidur."
"Penjaga pertama itu punya seorang anak," lanjut tetua. "Anak perempuan kecil, seumur Laras sekarang. Setiap malam, sebelum anak itu tidur, penjaga itu menyanyikan sebuah lagu untuknya. Bukan lagu selesai yang kita nyanyikan sekarang. Bukan lagu pulang. Lagu yang lain, lagu yang ia karang sendiri, tentang sebuah pintu yang selalu terbuka untuk anak yang pulang, dan tentang jalan yang selalu bisa ditemukan kembali, seberapa pun jauhnya seseorang pergi."
Tanganku berhenti bergerak di atas kendi. Lagu tentang pintu. Lagu yang dinyanyikan untuk anak kecil sebelum tidur. Persis seperti yang dinyanyikan Laras.
"Lalu suatu malam," kata tetua, suaranya semakin pelan, "gerbang langit bergetar, dan sesuatu di bawah bukit mulai bangun. Penjaga pertama itu harus memilih: tetap di atas bersama anaknya, atau turun ke bawah dan menjaga pintu itu dari dalam, supaya yang tidur tidak keluar dan membangunkan seluruh bukit. Ia memilih turun."
Tetua menatapku, dan matanya yang sudah keriput itu berkaca-kaca di bawah cahaya tungku. "Sebelum ia turun, ia menyanyikan lagu itu untuk anaknya untuk terakhir kalinya. Ia berpesan, kalau suatu malam anak itu mendengar lagu itu lagi, jangan takut, karena itu artinya ayahnya masih mengingatnya dari bawah. Lagu itu adalah janji, Naya. Janji bahwa pintu yang tertutup masih bisa dibuka dari dalam oleh seseorang yang ingat jalan pulang."
Aku merasakan sesuatu yang dingin dan hangat bercampur di dadaku. "Lalu anak itu bagaimana, Tetua?"
"Anak itu tumbuh di bukit ini," kata tetua. "Ia yang pertama kali mengajarkan lagu selesai kepada lingkaran penjaga. Ia yang pertama kali menanam rumput di atas bukit. Dan keturunannya, generasi demi generasi, tetap tinggal di bukit ini, menjaga lagu itu, tanpa tahu bahwa lagu yang mereka nyanyikan untuk anak-anak mereka berasal dari lagu yang dinyanyikan seorang ayah untuk anaknya sebelum ia turun ke bawah."
"Dan Laras?" tanyaku, suaraku hampir tidak keluar. "Apa hubungannya dengan Laras?"
Tetua tertua diam lama, begitu lama sampai aku mengira ia tidak akan menjawab. Api di tungku berdesis pelan. Dari luar, terdengar suara ayam pertama berkokok, jauh dan samar.
"Laras adalah keturunan anak itu," katanya akhirnya. "Bukan keturunan penjaga gerbang seperti dirimu, Naya. Keturunan anak yang ditinggalkan di atas. Darah penjaga pertama mengalir di dalam dirinya, tapi bukan sebagai pewaris gerbang. Sebagai pewaris lagu. Lagu itu bukan lagu yang ia pelajari dalam mimpi, Naya. Lagu itu adalah lagu yang memang sudah ada di dalam dirinya sejak ia lahir, menunggu seseorang dari bawah menyanyikannya kembali supaya ia ingat."
Aku menunduk dan menatap kendi kecilku. Cahaya di dalamnya berdenyut pelan, seperti jantung yang sedang mendengarkan sesuatu yang penting.
"Jadi yang tidur di bawah bukit itu," kataku pelan, "bukan memanggil Laras untuk membukakan pintu. Ia memanggilnya karena ia mengenali lagu itu. Karena lagu itu adalah lagu yang dulu ia nyanyikan sendiri."
"Benar," kata tetua. "Yang tidur itu bukan musuh, Naya. Ia adalah penjaga pertama. Ia sudah menjaga pintu itu dari dalam selama waktu yang tidak bisa kita hitung. Dan sekarang, setelah sekian lama, ia mendengar lagu yang ia ciptakan dinyanyikan kembali oleh keturunannya sendiri, dan ia berpikir bahwa anak itu sedang memanggilnya pulang."
Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada ketukan dari bawah bukit mana pun. Selama ini kami mengira yang tidur itu ingin keluar, ingin bangun, ingin membuka pintu dan mengambil alih bukit kami. Ternyata yang ia inginkan jauh lebih sederhana dan jauh lebih menyedihkan: ia ingin pulang. Dan satu-satunya suara yang ia kenali sebagai jalan pulang adalah suara Laras, menyanyikan lagu yang dulu ia nyanyikan untuk anaknya.
"Tapi kenapa sekarang?" tanyaku. "Kenapa setelah sekian lama, lagu itu baru muncul sekarang, di dalam mimpi Laras?"
"Karena Laras sudah cukup besar untuk mengingat," kata tetua. "Lagu itu selalu ada di dalam dirinya, seperti benih yang menunggu musimnya. Dan musimnya tiba ketika ia mulai bermimpi dengan sungguh-sungguh, ketika tidurnya mulai dalam, ketika ia mulai bisa mendengar suara dari bawah yang selama ini hanya berbisik. Dan yang di bawah sana, setelah sekian lama hanya mendengar lagu selesai yang kita nyanyikan, akhirnya mendengar sesuatu yang ia kenali: lagunya sendiri, dinyanyikan oleh darahnya sendiri."
"Apa yang terjadi kalau Laras menyanyikan lagu itu sampai habis lagi, Tetua?" tanyaku. "Apa pintu itu akan terbuka?"
Tetua mengangguk pelan. "Pintu itu akan terbuka dari dalam, karena penjaga pertama akan mengira bahwa anaknya sedang memanggilnya pulang. Dan kalau ia keluar, Naya, batas antara yang terjaga dan yang tidur akan hilang. Bukan karena ia jahat. Karena ia sudah terlalu lama sendiri, dan kerinduan bisa lebih kuat daripada tugas apa pun."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanyaku. "Aku pewaris gerbang. Tugas apa yang harus kulakukan untuk lagu ini?"
Tetua mencondongkan tubuhnya ke arahku, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia menatapku langsung, mata ke mata. "Kau harus menjadi suara yang menjawab panggilan itu sebelum Laras menjawabnya. Penjaga pertama itu memanggil keturunannya, tapi yang ia cari sebenarnya adalah pewaris. Ia mencari seseorang yang bisa berkata kepadanya: tugasmu sudah selesai, kau boleh pulang, tapi bukan lewat pintu yang terbuka lebar. Lewat lagu. Kau harus menyanyikan lagu itu untuknya, Naya. Bukan Laras. Kau. Dengan suaramu sendiri, sebagai pewaris. Supaya ia mendengar bahwa penjaga di atas masih ada, dan bahwa ia tidak perlu lagi menjaga pintu itu sendirian dari dalam."
Aku merasakan tenggorokanku mengencang. Menyanyikan lagu pintu itu sendiri, bait tentang pintu itu sampai habis, adalah hal yang selama ini kami takutkan, karena bait yang selesai akan menggeser pintu. Tapi tetua mengatakan sebaliknya: bait itu hanya berbahaya kalau dinyanyikan oleh Laras, karena Laras adalah keturunan yang dipanggil pulang. Kalau dinyanyikan oleh pewaris, bait itu menjadi jawaban, bukan panggilan.
"Apakah kau yakin, Tetua?" tanyaku. "Bagaimana kalau aku salah, dan pintu itu justru terbuka karena aku?"
Tetua tersenyum tipis, senyum orang tua yang sudah melihat terlalu banyak hal untuk takut pada kemungkinan. "Tidak ada yang yakin, Naya. Itulah yang namanya menjadi pewaris. Kau tidak pernah tahu sebelum kau melakukannya. Kau hanya tahu bahwa kalau kau tidak melakukannya, Laras yang akan melakukannya, dan Laras tidak punya pilihan. Kau punya pilihan. Dan pilihan itu adalah tugasmu."
Aku pulang dari rumah tetua ketika matahari sudah naik setengah, dan bukit terlihat biasa saja di bawah cahaya pagi: rumput hijau, rumah-rumah kecil, asap dapur yang mengepul pelan. Tidak ada tanda-tanda bahwa di bawah keindahan itu ada sebuah pintu yang engselnya sudah bergeser, dan seorang penjaga tua yang sudah terlalu lama menunggu seseorang menyanyikan lagunya kembali.
Di rumah, Laras sedang bermain di halaman bersama Sela, menyanyikan lagu selesai itu dengan riang, tanpa tahu bahwa lagu lain sedang menunggu di dalam kepalanya. Danan sedang memperbaiki pagar yang miring, tapi matanya sesekali melirik ke arahku, menunggu kabar dari rumah tetua. Aku menghampirinya dan menceritakan semuanya, pelan, supaya Laras tidak mendengar. Danan mendengarkan sampai selesai, lalu mengangguk sekali.
"Jadi rencananya, kau yang akan menyanyi," katanya. "Bukan Laras."
"Ya," kataku. "Malam ini, di atas bukit, di lingkaran itu. Aku akan menyanyikan bait tentang pintu itu sampai habis, dengan suaraku sendiri. Dan kalian semua harus menyanyikan lagu selesai itu bersamaku, supaya pintu itu mendengar dua lagu sekaligus: lagu pintu yang dijawab, dan lagu tidur yang menenangkannya."
Danan menatapku lama, lalu meletakkan tangannya di bahuku. "Kalau sesuatu terjadi padamu di atas bukit itu, Naya, aku akan menarikmu turun. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu sendirian di lingkaran itu."
Aku mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak semalam, aku merasa sedikit tenang. Bukan karena aku tidak takut, tapi karena aku akhirnya tahu apa yang harus kulakukan. Ketakutan yang tidak punya nama adalah yang paling menakutkan. Sekarang ketakutan itu punya nama: aku harus menyanyikan lagu yang selama ini kami larang, dan aku harus menyanyikannya dengan benar.
Sore itu, kami bersiap. Wulan menyiapkan kendi-kendi kecil untuk diletakkan di sekeliling lingkaran. Sela menyiapkan selimut untuk Laras, yang malam ini akan tidur di rumah tetua tertua, jauh dari bukit, dijaga oleh Wulan dan penjaga pintu, supaya suaranya tidak ikut naik ke lingkaran. Penjaga pintu memeriksa lingkaran rumput yang rebah itu sekali lagi, dan ia berkata bahwa tanah di tengah lingkaran itu kini lebih hangat daripada kemarin, dan embunnya tidak lagi menguap sama sekali.
Menjelang senja, aku naik ke bukit bersama Danan, Sela, tetua tertua, dan kendi kecilku. Laras melambaikan tangan dari halaman rumah tetua, tidak tahu bahwa malam ini adalah malam yang akan menentukan apakah lagu di dalam kepalanya akan tetap menjadi lagu, atau menjadi kunci yang membuka pintu di bawah bukit.
Di atas bukit, lingkaran rumput yang rebah itu tampak lebih jelas di bawah cahaya senja: rumputnya terbaring ke arah luar, seperti kelopak bunga yang membuka, dan di tengahnya, tanah yang gelap dan lembap itu tampak berdenyut pelan, seperti sesuatu yang bernapas.
Tetua tertua duduk di tepi lingkaran dan menatapku. "Kalau kau sudah siap, Naya, mulailah. Dan ingat: nyanyikan dengan suaramu sendiri. Jangan meniru suara Laras. Jangan meniru suara kendi. Suaramu, sebagai pewaris. Pintu itu harus mendengar siapa yang sedang berbicara dengannya."
Aku menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, dan membuka mulutku. Nada pertama keluar dengan gemetar, karena aku tidak pernah menyanyikan lagu ini sebelumnya, dan melodi itu hanya kukenal dari suara Laras dan dari nyanyian yang naik dari bawah bukit. Tapi setelah nada kedua, ketiga, sesuatu yang aneh terjadi: melodi itu terasa familiar di tenggorokanku, seperti lagu yang pernah kudengar sangat lama, di suatu tempat yang tidak kuingat, dinyanyikan oleh seseorang yang suaranya mirip suara kendi kecilku.
Dan dari bawah bukit, sangat pelan, terdengar jawaban: satu ketukan. Bukan tiga. Satu. Seolah penjaga pertama itu sedang berkata, aku mendengarmu. Teruskan.
Aku meneruskan, bait demi bait, menuju baris tentang pintu itu, dan di belakangku, Danan dan Sela mulai menyanyikan lagu selesai itu, pelan, supaya dua lagu itu naik bersamaan ke langit senja. Tanah di bawah kakiku mulai hangat. Lingkaran rumput di sekelilingku mulai bergetar halus. Dan jauh di bawah sana, aku bisa merasakan pintu itu mendengarkan, engselnya yang sudah bergeser itu menahan napas, menunggu apakah lagu yang dinyanyikan kali ini adalah panggilan pulang dari keturunannya, atau jawaban dari pewarisnya.
Aku sampai di baris terakhir. Mulutku terbuka untuk menyanyikan kata terakhir, kata yang akan menyelesaikan bait itu. Dan pada saat yang sama, dari arah rumah tetua tertua, jauh di bawah bukit, terdengar suara kecil yang kukenal dengan sangat baik, suara Laras, menyanyikan bait yang sama, dari baris yang sama, dalam tidurnya, tanpa tahu bahwa aku sedang menyanyikannya di atas bukit.
Dua suara menyanyikan bait yang sama pada saat yang sama. Satu di atas bukit, satu di bawah. Dan tanah di bawah kakiku menjawab dengan bunyi yang lebih keras daripada sebelumnya, bunyi yang dalam dan panjang, seperti pintu besar yang engselnya akhirnya bergerak sepenuhnya, dan untuk pertama kalinya, celah cahaya tipis muncul di tengah lingkaran rumput yang rebah itu, cahaya yang naik dari bawah, hangat dan keemasan, seperti cahaya matahari yang terbit dari dalam bumi.