β€Ή
13. Jahitan yang Hidup

Jahitan yang Hidup

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,204 kata

Ilustrasi Jahitan yang Hidup

Gagang jarum itu dingin membakar di telapakku. Di sekelilingku, waktu seolah melambat β€” aku bisa melihat setiap helai bayangan yang jatuh menuju Desa Langit Biru, setiap kedip pintu cahaya yang sekarat, setiap air mata di wajah Rangga yang masih mencakar-cakar kristal retak itu.

Dan di tengah semua itu β€” aku MENGERTI.

Jalan ketiga tidak pernah tentang memilih. Bukan memilih satu dunia. Bukan memilih satu ibu. Bukan memilih ayah atau desa. Jalan ketiga adalah tentang MENJAHIT β€” mengambil apa yang robek dan menjadikannya utuh, tanpa membuang satu helai pun.

Aku tidak mencabut jarum itu untuk menyelamatkan Sekar. Aku tidak menancapkannya lebih dalam untuk menutup kain. Aku MELAKUKANNYA β€” aku mencabutnya dengan satu tarikan mantap, mengabaikan jeritan Rangga: "JANGAN SENTUH IBUKUβ€”!"

Danan menahannya. Sayap berjahitannya melingkupi Rangga seperti dinding. "Percayalah padanya," kata Danan β€” dan untuk pertama kalinya, aku mendengar Danan memohon. "Sekali ini. Percayalah pada keponakanku."

Aku mengangkat jarum kristal yang retak itu tinggi-tinggi. Retakannya berdenyut dengan cahaya yang tidak stabil β€” berbahaya, liar, seperti jantung yang fibrilasi. Tapi aku adalah jahitannya sekarang. Tubuhku terbuat dari kedua dunia. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan.

Dari telapak tanganku sendiri, aku menarik sehelai benang. Benang hidup β€” emas, hangat, berdenyut seperti nadiku. Rasanya seperti menarik urat dari dalam kulitku sendiri β€” perih, tapi benar. Aku memasukkannya ke lubang jarum kristal itu dengan tangan yang tidak gemetar sama sekali. Jarum itu berdengung pelan β€” mengenali benang penenun jalan ketiga.

"Jalan ketiga tidak pernah tentang memilih," kataku β€” dan suaraku menggema di menara, lebih besar dari diriku. "Ini tentang menjahit."

Aku melangkah β€” setengah tubuhku masuk kembali ke dalam kain, ke dalam luka di antara dua dunia. Danan menangkapku dari belakang β€” lengannya melingkari pinggangku, sayapnya yang berjahitan membungkus kami berdua, menahanku agar tidak terurai seluruhnya. "Tangkap aku," bisikku β€” mengulang janji malam itu.

"Selalu," bisiknya kembali.

Di dalam luka itu, aku MELIHAT Ayah sepenuhnya untuk pertama kalinya. Bukan bayangan cekung seperti tadi. Seorang laki-laki β€” separuh gelap, separuh benang cahaya β€” dengan kedua tangannya yang terurai menahan lautan wajah-wajah berlubang agar tidak tumpah keluar. Bahunya gemetar. Dia sudah menahan ini sendirian selama seratus tahun. Di sekelilingnya, Kaum Bayang berbisik β€” dan kini aku bisa mendengar kata-katanya dengan jelas: bukan lapar, bukan marah. Nama-nama. Mereka memanggil nama orang-orang yang mereka cintai, berulang-ulang, seperti doa yang lupa cara berhenti.

"Aku melihat kalian," bisikku pada mereka β€” dan ribuan wajah cekung itu menoleh. "Aku mendengar kalian."

"Ayah."

"Nayara... pergi." Suaranya parau menahan beban. "Ayah bisa menahan ini. Ayah sudah biasaβ€”"

"Seratus tahun, Ayah. CUKUP." Aku mengangkat jarum yang sudah berbenang itu. "Ibu mengajariku sesuatu malam ini. Pintu tidak terbuka untuk yang paling menderita β€” ia terbuka untuk yang sudah merelakan lukanya." Aku menatapnya β€” ayahku, penjagaku, bayanganku. "Lepaskan rasa bersalahmu, Ayah. Kau tidak meninggalkan kami β€” kau MENJAGA kami. Dan sekarang... biarkan aku menjagamu."

Di tepi pintu, Ibu mulai bernyanyi. Nina bobo itu β€” lagu yang sama yang kujadikan benang pertama, lagu yang dulu dinyanyikannya sambil mengelus perutnya yang membesar. "Nina bobo... oh nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk..." Suaranya β€” hangat, nyata, hidup β€” mengalir ke dalam luka seperti benang emas yang baru, dan Ayah membeku. Lagu yang dinyanyikan istrinya untuk anak yang tidak pernah ditemuinya. Bayangan di sekelilingnya diam. Kaum Bayang berhenti berbisik. Setetes air mata cahaya mengalir di pipi Ayah yang separuh gelap.

Dan Sekar β€” yang terurai, yang memudar β€” membuat pilihannya. Dengan sisa kekuatannya, dia melayang mendekati Ayah β€” dua penjaga tua yang seratus tahun lalu memilih tinggal bersama di dalam kegelapan. "Kau masih keras kepala seperti dulu, Bagas," bisiknya β€” dan ada senyum di suara angin itu. Dia mengumpulkan cahayanya β€” titik di dadanya, cintanya pada Rangga, seratus tahun penantian β€” dan menekankannya ke tangan Ayah yang terulur.

"Tahan ini bersamaku, Bagas," bisiknya. "Berdua. Seperti dulu."

Dua Penjaga Dalam. Untuk menahan luka dari dalam, selamanya β€” agar tidak ada lagi yang harus memilih tinggal atau pergi sendirian.

Rangga merangkak mendekati ibunya yang memudar. Dia menangkup wajah bayangan itu dengan kedua tangannya β€” tangan anak kecil yang tersesat, akhirnya menemukan jalan pulang. "Bu... Ibu ingat waktu aku kecil? Ibu selalu bilang... bintang-bintang itu jahitan langit yang belum selesai."

"Aku ingat, Nak," bisik Sekar. "Ibu ingat semuanya."

"Jangan pergi," bisiknya β€” tapi bahkan dia tahu itu bukan permintaan yang adil.

Sekar menyentuh pipinya. Sentuhan malam yang lembut. "Ingat Ibu sebagai terang, Nak. Bukan sebagai lapar. Dan hiduplah β€” hiduplah yang lama, yang bahagia β€” supaya penantian Ibu tidak sia-sia."

Rangga menangis β€” meraung seperti anak kecil β€” lalu, dengan seluruh sisa kekuatannya, dia mengangguk. "Pulanglah, Bu... aku ikhlas."

Kata-kata itu melepaskannya. Cahaya Sekar tidak lagi berkedip liar β€” ia tenang, hangat, dan perlahan menetap ke dalam tenunan, berdampingan dengan tangan-tangan Ayah yang kini tidak lagi gemetar sendirian.

Aku menjahit. Jahitan terakhir. Aku menarik jarum berbenang emasku menembus robekan itu β€” mengikat cahaya Sekar dan tangan-tangan bayangan Ayah ke jantung kain. Uraian itu berhenti. Tenunan menarik dirinya utuh. Dan pintu β€” yang tidak lagi dibutuhkan sebagai luka β€” menutup dengan lembut. Seperti kelopak mata. Bukan dibanting.

Aku jatuh kembali ke pelukan Danan. Fajar merekah di atas Desa Langit Biru β€” desa yang selamat, dengan lampu-lampu obor yang kini bercampur asap dapur pagi. Dari bawah sana, samar-samar, aku mendengar suara Sari memanggil namaku β€” pasti dia melihat cahaya aneh di menara semalaman. Ibu nyata, padat, menangis, memelukku erat-erat β€” tangannya yang dulu hanya bisa menyanyi kini bisa mengusap rambutku. Dia membungkuk, memungut segenggam embun dari lantai cahaya, dan tertawa seperti anak kecil karena embun itu DINGIN dan NYATA.

Penjaga Pertama membungkuk dalam-dalam β€” pertama kalinya aku melihatnya membungkuk pada siapa pun. "Pewaris Terakhir Langit," katanya. "Gelar itu bukan warisan, Nak. Kau merebutnya sendiri β€” dengan jahitan."

Danan menatap sayapnya β€” dan aku melihatnya juga: satu jahitan di tepi sayapnya terlepas dengan sendirinya, tanpa rasa sakit, seperti benang yang sudah selesai tugasnya. Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Satu tahun pengampunan," bisiknya. "Mungkin dewan akhirnya mengerti."

"Kau menangkapku," bisikku padanya.

"Kataku juga β€” selalu," jawabnya. Dan untuk pertama kalinya, dia tersenyum tanpa beban seratus tahun di matanya. Ibu memperhatikanku dan Danan dengan senyum penuh arti seorang ibu β€” senyum yang membuat pipiku panas.

Di seberang menara, Rangga duduk sendirian β€” tangan kosong, tapi... lebih ringan. Dia menatapku. Aku menatapnya. Sebuah anggukan kecil. Bukan teman. Bukan musuh. Dua anak yang selamat.

Aku memejamkan mata, merasakan kain itu β€” karena aku adalah jahitannya sekarang, aku bisa merasakan setiap helainya. Kedamaian. Keutuhan. Ayah dan Sekar yang menahan dari dalam, tenang. Ibu yangβ€”

Tunggu.

Ada yang salah. Getaran. Bukan dari bawah β€” bukan dari dalam kain. Dari ATAS. Dari sisi langit gerbang β€” tempat tidak ada yang mengetuk selama seratus tahun.

BOOM.

Seluruh menara berguncang. Debu cahaya berjatuhan dari langit-langit.

BOOM.

Danan menegakkan tubuhnya. Sayapnya yang berjahitan β€” bergetar. Bukan karena takut. Karena KENAL.

BOOM.

Dan sebuah suara β€” lebih tua dari para penjaga, lebih tua dari alat tenun itu sendiri β€” menggema dari balik gerbang langit:

"PEWARIS TERAKHIR... GERBANG YANG LAMA TELAH RUNTUH. KAMI DATANG MENAGIH JANJI."

Aku menatap Danan. "Danan... siapa mereka?"

Danan berbisik β€” dengan suara seseorang yang baru menyadari bahwa perang yang sesungguhnya bahkan belum dimulai:

Sebelum ketukan itu datang, aku sempat merasakan sesuatu yang aneh β€” sehelai benang di ujung kain, di sisi langit, yang bergetar seperti senar yang dipetik. Ibu merasakannya juga β€” dia berhenti tertawa, menatap ke atas dengan wajah yang tiba-tiba pucat. Bahkan Ayah β€” dari dalam kain yang utuh β€” aku bisa merasakan kegelisahannya merambat melalui jahitanku. Sesuatu yang sangat tua baru saja membuka matanya. Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi jahitan, aku merasa TAKUT pada kainku sendiri.

"Mereka yang membuat alat tenun itu."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!