Penyanyi, Bukan Penjaga
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,595 kata
Nama Danan β nama itu menggantung di udara di antara aku dan lonceng itu, dan untuk sesaat yang terasa seperti selamanya, aku tidak bisa bergerak, tidak bisa berpikir, tidak bisa melakukan apa pun selain mendengar harga itu berulang-ulang di kepalaku: satu nama yang kau cintai, satu nama yang kau bawa bersamamu ke bawah sini.
Di belakangku, Danan tidak bergerak juga. Jaring emasnya masih terentang, masih bergetar, tapi aku merasakan sesuatu berubah di dalamnya β bukan ketakutan, melainkan ketegasan. Seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum orang lain sempat melarangnya.
"Jangan," kataku β cepat, tajam, sebelum ia sempat membuka mulut. Aku berbalik setengah badan, cukup untuk menatap matanya yang perak dalam cahaya lentera. "Danan, jangan katakan apa pun. Jangan tawarkan apa pun. Kau dengar aku? Ini tawaranku, bukan tawaranmu. Kau tidak ikut membayar."
"Nayaβ" Ia mulai bicara, dan suaranya tenang dengan cara yang paling membuatku takut β tenang seperti seseorang yang sudah berdamai dengan keputusan yang mengerikan.
"TIDAK." Aku mengatakannya lebih keras dari yang kumaksud, dan gema di dinding tanah mengulanginya, dan lonceng itu bergetar pelan seolah menikmati pertengkaran kami. "Kau ikut ke bawah sini supaya ada yang menarikku pulang. Bukan supaya kau yang tinggal di sini menggantikanku. Aku tidak akan menukar satu nama yang dimakan dengan nama lain yang dimakan. Itu bukan penyelamatan. Itu hanya memindahkan goresan dari satu tempat ke tempat lain."
Aku berbalik lagi menghadap lonceng itu. Tanganku gemetar, tapi suaraku β ketika aku berbicara lagi β tidak gemetar. Karena aku akhirnya mengerti sesuatu yang seharusnya kumengerti sejak awal, sejak aku pertama kali memberi nama pada tujuh lonceng dan merasakan apa artinya menamai sesuatu.
Menamai adalah mengklaim. Dan mengklaim selalu berjalan dua arah. Lonceng itu mengklaim namaku karena aku datang ke sini untuk mengklaimnya. Danan akan diklaim jika ia ditawarkan sebagai pembayaran, karena pembayaran adalah klaim juga. Setiap pertukaran dengan sesuatu seperti ini β sesuatu yang lapar, sesuatu yang sudah memakan ratusan nama β hanya akan memberinya lebih banyak untuk dimakan, tidak pernah membuatnya kenyang.
Jadi aku tidak akan menukar. Aku tidak akan membayar dengan nama siapa pun. Aku akan melakukan hal yang sama sekali berbeda β hal yang tidak pernah dilakukan oleh satu pun pemberi nama yang goresannya kini memenuhi perunggu ini, hal yang tidak pernah dilakukan oleh Dewan yang menempa lonceng ini karena mereka takut menyimpan lapar itu di dalam diri mereka sendiri.
Aku akan menolak menjadi pemberi nama. Dan aku akan menolak menjadi yang diberi nama.
"Aku menolak tawaranmu," kataku pada lonceng itu, jelas dan pelan. "Bukan karena aku tidak mau bernyanyi untukmu. Aku akan tetap bernyanyi β setiap malam, lagu itu, tanpa kata terakhir, tanpa nama siapa pun sebagai pembayaran. Tapi bukan sebagai pertukaran. Bukan sebagai harga. Sebagai pilihan."
Lonceng itu bergetar β bukan dengkur, bukan tawa, melainkan sesuatu yang tajam dan tidak senang, seperti binatang yang makanannya ditarik kembali dari mulutnya. Hawa hangat dari mulutnya berubah menjadi panas, dan aku merasakan tarikan di dadaku menguat lagi β tarikan pada namaku yang masih basah di permukaannya, tarikan yang ingin menarik kenangan-kenangan kecilku keluar satu per satu.
"Tapi dengarkan dulu," kataku cepat, sebelum tarikan itu sempat mengambil lebih banyak. "Dengarkan apa yang kubedakan. Selama ini, semua orang yang datang padamu datang dengan satu dari dua posisi: mereka yang menamaimu, dan mereka yang kau namai. Pemberi nama dan makanan. Tidak ada posisi ketiga. Dan karena hanya ada dua posisi itu, kau tidak pernah kenyang β karena pemberi nama selalu habis dimakan, dan makanan selalu habis ditelan, dan kau selalu lapar lagi."
Aku melangkah maju β satu langkah lagi, lebih dekat dari sebelumnya, cukup dekat hingga aku bisa melihat setiap goresan di permukaan itu, cukup dekat hingga Danan di belakangku menahan napas. Aku mengangkat tanganku β bukan untuk menyentuh perunggu itu, bukan untuk menyentuh namaku β melainkan untuk mengangkat lentera lebih tinggi, supaya cahayanya jatuh penuh ke mulut lonceng yang menganga itu.
"Aku menawarkan posisi ketiga," kataku. "Bukan pemberi nama. Bukan makanan. Penyanyi."
Keheningan. Tarikan di dadaku melemah β sedikit saja, tapi cukup untuk membuatku bisa bernapas lebih mudah. Lonceng itu mendengarkan. Benar-benar mendengarkan, dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya ia mendengarkan seperti pemburu mendengarkan langkah mangsa. Sekarang ia mendengarkan seperti seseorang yang mendengar kata yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Penyanyi tidak memberi nama," lanjutku, dan kata-kata itu mengalir sekarang, karena aku mulai memahami kebenarannya sendiri saat mengucapkannya. "Penyanyi tidak dimakan. Penyanyi adalah orang yang tinggal di antara lagu dan yang mendengarkan lagu itu β yang menjaga lagu itu tetap hidup tanpa pernah menyerahkannya, tanpa pernah menyelesaikannya untuk orang lain. Nenek Buyut menyembunyikan namamu di dalam lagu bukan supaya lagu itu bisa selesai suatu hari nanti. Ia menyembunyikannya supaya lagu itu tidak pernah selesai. Supaya selalu ada seseorang yang menyanyikannya, dan selalu ada seseorang yang mendengarkannya, dan di antara keduanya, tidak ada yang dimakan."
Aku menarik napas dalam-dalam. Ini bagian yang paling sulit. Bagian di mana aku harus mengubah posisiku sendiri β bukan hanya di depan lonceng ini, melainkan di depan seluruh warisan yang kubawa sejak lahir.
"Selama ini aku mengira tugasku sebagai pewaris adalah menjaga gerbang," kataku. "Menjaga pintu tetap tertutup. Memberi nama pada yang belum bernama supaya mereka tidak membuka pintu. Menjadi penjaga yang berdiri di antara dunia dan apa yang ada di baliknya. Tapi malam ini aku mengerti: penjaga yang hanya menjaga pintu akan selalu kalah, karena pintu yang dijaga dengan ketakutan pada akhirnya akan dibuka oleh seseorang yang lebih lapar, lebih sabar, lebih tua dari penjaganya."
Aku menatap lonceng itu β besar, hitam, penuh nama, lapar, lelah, tua β dan aku berkata dengan suara yang tidak lagi gemetar sama sekali:
"Aku bukan penjaga pintu lagi. Aku penyanyi lagu ini. Dan penyanyi tidak menjaga pintu dengan menutupnya. Penyanyi menjaga pintu dengan membuat yang di balik pintu itu tidak ingin keluar β karena di dalam sini, di dunia ini, ada lagu yang lebih layak didengar daripada apa pun yang menunggu di balik pintu itu."
Untuk sesaat yang panjang, tidak ada yang terjadi. Lonceng itu tidak bergetar. Tidak mendengkur. Tidak berbicara dengan suaraku, dengan suara Sela, dengan suara lelahnya yang dalam. Tanah tidak bergetar. Akar-akar kamboja tidak menetes. Bahkan Danan di belakangku tidak bernapas β atau aku yang tidak mendengar napasnya karena seluruh duniaku menyempit menjadi ruang antara aku dan perunggu hitam itu.
Lalu, perlahan β sangat perlahan, seperti matahari terbit yang tidak yakin apakah ia boleh terbit β permukaan lonceng itu mulai berubah.
Bukan goresan namaku. Namaku masih di sana β masih basah, masih hangat, masih belum hilang. Tapi di sekelilingnya, ribuan goresan lain itu β goresan-goresan yang selama ratusan tahun hanya menjadi kulit, hanya menjadi bukti dari semua yang dimakan β mulai meredup. Bukan menghilang. Meredup, seperti bara yang ditutup abu, seperti suara yang mengecil karena yang mendengarkannya akhirnya berhenti berteriak dan mulai bernyanyi.
Dan hawa hangat dari mulut lonceng itu berubah. Bukan lagi cicipan. Bukan lagi tarikan. Melainkan sesuatu yang hampir terasa seperti... embusan napas yang lega. Seperti seseorang yang sudah menahan napas ratusan tahun dan akhirnya menghembuskannya.
Danan melangkah ke sampingku β pelan, hati-hati, jaring emasnya masih terentang tapi tidak lagi menegang. Ia menatap permukaan lonceng itu, lalu menatapku, dan di matanya yang perak ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: bukan ketakutan, bukan kelegaan. Kekaguman. Dan sesuatu yang lebih lembut dari itu, yang membuat wajahku memanas meski kami sedang berdiri di mulut sesuatu yang lapar.
"Apakah itu berhasil?" bisiknya. "Naya, apakah kau baru sajaβ"
"Aku tidak tahu," bisikku kembali, jujur. "Aku tidak tahu apakah ini berhasil, atau apakah ia hanya sedang mempertimbangkan tawaran yang lebih baik. Aku hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak kami turun, ia tidak sedang memakan apa pun."
Dan kemudian β karena dunia ini tidak pernah memberiku kemenangan yang bersih, tidak pernah memberiku kelegaan tanpa harga yang menyusul di belakangnya β tanah di bawah kaki kami bergetar lagi.
Bukan dari lonceng. Bukan dari gerbang yang bergeser. Dari atas. Dari jauh. Dari arah yang berlawanan dengan bukit β dari arah laut, dari arah tempat Dewan menuang beban-beban mereka selama ini.
Suara itu datang melalui tanah, melalui batu, melalui tenggorokan sumur, sampai ke ruang bawah tanah ini: suara sesuatu yang dituang. Berat. Sabar. Tidak terburu-buru. Seperti seseorang yang menuangkan air ke dalam bejana yang sudah hampir penuh, dengan keyakinan penuh bahwa bejana itu pada akhirnya akan meluap β tidak peduli berapa banyak lagu yang dinyanyikan untuknya.
Dewan sedang menuang lagi.
Dan di permukaan lonceng itu, di antara goresan-goresan yang baru saja meredup, namaku β namaku yang masih basah dan hangat β mulai berdenyut lagi, pelan, sabar, seperti detak jantung kedua yang baru saja belajar berdetak.
Aku menatap Danan. Danan menatapku. Dan kami berdua mengerti, tanpa perlu mengatakannya, apa yang baru saja berubah dan apa yang belum berubah sama sekali: aku mungkin baru saja mengubah posisiku sebagai pewaris β dari penjaga pintu menjadi penyanyi lagu β tapi lagu itu belum selesai dinyanyikan, nama itu belum kembali, tujuh nama itu belum aman, dan Dewan belum berhenti menuang.
Aku mengangkat suaraku β bukan untuk lonceng, bukan untuk Dewan, melainkan untuk diriku sendiri, untuk mengingat siapa aku di tengah semua ini β dan aku mulai bernyanyi lagi, bait pertama, dari awal, pelan dan jelas.
Dan kali ini, dari mulut lonceng yang menganga itu, dari kegelapan yang selama ratusan tahun hanya mengeluarkan hawa hangat dan panggilan dan lapar, terdengar sesuatu yang membuat darahku berhenti mengalir dan membuat Danan mencengkeram tanganku begitu keras hingga aku hampir menjatuhkan lentera:
Bukan gema nyanyianku. Bukan tiruan suaraku.
Sebuah suara lain β suara yang jauh lebih tua dari lonceng itu sendiri, suara yang kukenal dari cerita Wulan tapi belum pernah kudengar dengan telingaku sendiri β yang ikut bernyanyi bersamaku, bait demi bait, dengan kata-kata yang bukan kata-kata lagu nina bobokku.
Suara Nenek Buyut.