β€Ή
95. Suara yang Memilih Tinggal

Suara yang Memilih Tinggal

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,305 kata

Ilustrasi Suara yang Memilih Tinggal

Cahaya kendi itu tidak padam sekaligus. Ia meredup pelan-pelan, seperti seseorang yang menarik napas panjang sebelum mengucapkan sesuatu yang berat, dan di atas bukit yang mendadak sunyi itu, aku merasa seluruh lingkaran kami ikut menahan napas bersamanya.

Tidak ada yang bicara. Danan berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya, seolah menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang justru memperburuk keadaan. Wulan memeluk lututnya, matanya tidak lepas dari kendi. Sela duduk paling dekat dengan Laras, satu tangannya tetap siaga di dekat bahu anak itu, seolah Laras bisa melayang pergi kapan saja. Penjaga pintu menunduk, dan tetua tertua memejamkan mata, bibirnya bergerak tanpa suara, seperti sedang menghitung sesuatu yang hanya ia yang tahu hitungannya.

Aku tahu apa yang sedang terjadi, dan justru karena itulah aku tidak berani mengucapkan kata apa pun dengan gegabah. Suara kecil di dalam kendi itu sedang memutuskan: tinggal di atas bukit bersama kami, atau turun ke bawah, ke sisi yang tidur, memenuhi panggilan tiga ketukan dari bumi itu.

Larangan tidak akan berhasil. Kami sudah membuktikannya pada Laras. Semakin keras kami melarang sebuah lagu, semakin kuat lagu itu menariknya. Dan aku menduga suara kendi pun sama. Kalau aku memohon dengan panik, kalau aku memerintahnya tinggal, mungkin ia justru akan merasa bahwa keputusannya sudah dirampas, dan pergi adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia bebas memilih.

Maka aku melakukan hal yang paling sulit malam itu: aku memberinya izin untuk pergi.

"Kau boleh turun," kataku pelan, dan aku mendengar Danan menoleh cepat ke arahku. "Aku tidak akan menahanmu. Kalau panggilan itu memang untukmu, aku tidak berhak memagari jalanmu."

Cahaya kendi itu bergetar, bukan meredup, melainkan bergetar halus, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari. Suara kecil itu akhirnya keluar, gemetar dan nyaris berbisik. "Kau... tidak marah?"

"Aku takut," jawabku jujur. "Tapi takut bukan alasan untuk mengurung seseorang. Aku hanya ingin kau mendengar satu hal dulu sebelum memutuskan. Setelah itu, apa pun pilihanmu, aku menerimanya."

Aku menunggu sampai getar cahaya itu sedikit tenang, lalu melanjutkan. "Kalau kau turun, bukit ini kehilangan penyanyinya. Bukan hanya suara, tapi satu-satunya suara yang tahu bagaimana lagu selesai itu harus berakhir. Kami bisa menyanyi, tentu saja. Tapi kami menyanyi dengan suara yang masih belajar. Kau menyanyi dengan suara yang sudah hafal jalan pulangnya."

Laras menggeliat dalam tidurnya di pangkuan Sela, dan aku menurunkan suaraku lagi. "Dan kalau bukit ini kehilangan penyanyinya, lagu apa yang tersisa untuk didengar dari bawah? Hanya satu: bait yang tak selesai itu, yang dinyanyikan Laras tanpa sadar di dalam tidurnya. Yang tidur di bawah sana tidak lagi belajar dari lagu kita. Ia belajar dari tidur Laras. Kalau kau pergi, ia hanya akan mendengar bait itu, malam demi malam, sampai ia sampai di akhir bait itu sendiri."

Penjaga pintu mengangkat kepala. "Naya benar," katanya dengan suara berat. "Panggilan itu nyata. Aku tidak akan mengecilkannya. Tiga ketukan dengan jeda sinyal lama adalah panggilan yang dulu hanya dipakai penjaga yang berjaga sendirian, ketika ia butuh pengganti. Tapi panggilan bisa dijawab tanpa pergi. Penjaga yang dulu itu tetap di atas, dan ia menjawab dengan nyanyian, bukan dengan langkah."

Danan menambahkan, suaranya pelan tapi tegas. "Yang tidur itu memanggil karena ia kesepian, bukan karena ia marah. Suara yang kesepian tidak butuh ditemani di bawah. Ia butuh diingatkan bahwa di atas masih ada yang menyanyi untuknya."

Wulan, yang selama ini diam, akhirnya bicara. "Dan Laras membutuhkanmu di sini," katanya, sambil menatap kendi itu. "Bukan kami saja. Laras. Setiap malam ia tidur dengan lagu yang belum selesai berputar di kepalanya. Kalau ada suaramu di dekatnya, menyanyikan lagu selesai itu sampai habis, mungkin mimpinya tidak lagi tersesat ke bait yang salah."

Tetua tertua membuka mata. Ia tidak menatapku, tidak menatap kendi, melainkan menatap tanah di bawah kakinya, seolah berbicara kepada sesuatu yang jauh di sana. "Dulu," katanya lambat, "penjaga yang berjaga sendirian itu juga dipanggil. Berkali-kali. Ia juga pernah berdiri di tempatmu berdiri sekarang, kendi kecil, di antara tinggal dan turun. Ia memilih tetap di atas. Karena itulah bukit ini masih ada, dan karena itulah kami masih punya lagu untuk dinyanyikan malam ini."

Aku menahan napas. Ucapan tetua itu bukan perintah. Ia hanya meletakkan sebuah kebenaran di tengah lingkaran, dan membiarkannya bekerja sendiri.

Suara kendi itu terdiam lama. Begitu lama sampai aku mulai berpikir bahwa keheningan itu sendiri adalah jawabannya, bahwa ia sudah pergi tanpa pamit, dan cahaya yang tersisa hanyalah sisa terakhirnya. Lalu, sangat pelan, ia bertanya, "Kalau aku tinggal... apakah kau akan bernyanyi bersamaku? Setiap malam? Bukan hanya malam ini, saat semua orang takut, tapi juga malam-malam biasa, ketika tidak ada yang mengawasi?"

Aku tidak menjawab dengan janji besar yang muluk-muluk. Aku menjawab dengan hal yang paling bisa kupegang. "Setiap malam aku masih di sini, aku akan bernyanyi bersamamu. Dan kalau suatu malam aku tidak bisa, Danan akan menggantikanku. Dan kalau Danan tidak bisa, lingkaran ini yang menggantikannya. Lagu selesai itu bukan lagu satu orang. Ia lagu kita semua. Kau hanya suara yang mengingatkannya."

Laras, yang ternyata tidak sepenuhnya tidur, membuka mata setengah dan bergumam dengan suara serak anak yang baru bangun, "Jangan pergi. Kalau kau pergi, siapa yang mengajariku lagu pulang?"

Kalimat sederhana itu menghantam lingkaran kami lebih keras daripada semua argumenku. Cahaya kendi itu berdenyut sekali, dua kali, lalu perlahan-lahan, seperti matahari kecil yang memutuskan untuk terbit lagi, ia terang kembali. Tidak seterang semula, tapi cukup terang untuk membuat bayangan kami kembali jatuh di atas rumput.

"Aku tinggal," kata suara kecil itu. "Bukan karena kalian melarangku pergi. Tapi karena kalian membiarkanku memilih, dan aku memilih lagu yang selesai."

Sebelum kelegaan itu sempat menetap, suara kendi itu menambahkan sesuatu, lebih pelan, seperti seseorang yang baru berani mengajukan pertanyaan yang sebenarnya. "Tapi Naya, kalau panggilan itu datang lagi, lebih kuat dari malam ini, apa yang akan kita lakukan? Aku takut suatu malam aku tidak sekuat malam ini."

Aku memikirkan jawabanku baik-baik, karena janji yang kubuat malam ini harus bisa kupegang di malam-malam berikutnya. "Kalau panggilan itu datang lagi, kita tidak menjawabnya sendirian," kataku. "Kita menjawabnya bersama, dari atas, dengan lagu selesai itu. Panggilan itu hanya kuat kalau dijawab oleh satu suara yang kesepian. Ia tidak akan sekuat itu kalau dijawab oleh satu lingkaran penuh yang menyanyi bersama. Dan kalau kau goyah, katakan padaku. Jangan diam-diam memutuskan sendiri. Itu satu-satunya yang kuminta: jangan memutuskan sendirian dalam gelap."

Cahaya kendi itu menghangat sedikit mendengar itu, dan aku tahu jawabanku cukup, setidaknya untuk malam ini.

Kelegaan yang mengalir di dadaku begitu besar sampai lututku hampir lemas. Wulan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sela memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang. Danan mengangguk sekali, pelan, seperti seseorang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang penting dan tidak ingin merusaknya dengan kata-kata.

Kami menyanyikan lagu selesai itu sekali lagi, bersama-sama, tanpa tergesa-gesa. Kendi memimpin, suaranya kecil tapi jernih, dan kami mengikutinya bait demi bait sampai ke ujungnya, tentang pulang dan tidur nyenyak. Tanah di bawah kami tenang. Tidak ada getar, tidak ada ketukan. Untuk sesaat, bukit itu terasa seperti bukit biasa lagi, tempat orang bisa duduk melingkar dan menyanyi tanpa takut pada apa pun yang ada di bawah kaki mereka.

Lalu lagu itu selesai, dan dalam keheningan sesudahnya, dari bawah bukit, sangat samar sampai aku sempat mengira itu hanya angin, terdengar sesuatu yang membuat darahku dingin.

Yang tidur itu ikut bersenandung. Melodi lagu selesai itu, bait demi bait, dengan suara yang dalam dan lambat, seperti seseorang yang sedang belajar mengucapkan kata-kata baru. Tapi senandung itu berhenti tepat sebelum baris terakhir, menggantung di udara, seolah sedang menunggu seseorang menyelesaikan kalimatnya.

Dan yang paling membuatku merinding: warna suara itu, samar-samar, mirip suara Laras.

Aku menatap kendi itu, dan cahayanya menatapku balik, tidak lagi gemetar, tapi waspada. Yang tidur itu sedang belajar lagu kita. Dan ia sedang belajar suara Laras.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!