Tali yang Bercabang
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,352 kata
Tidak ada yang berani bersuara selama beberapa detik setelah pemuda itu menyebut makhluk yang tidak pernah diberi nama.
Hanya senandung dari dalam kendi yang terus mengalir, kecil dan riang, seperti anak kecil yang tidak tahu bahwa lagu yang dinyanyikannya sedang membuat orang dewasa pucat. Nada itu sama dengan nada Laras, tapi dinyanyikan dengan cara yang berbeda: lebih bebas, lebih liar, tanpa takut salah.
"Jangan dijawab," kata penjaga pintu yang sebenarnya dengan cepat. "Senandung itu memancing jawaban. Kalau kau menjawabnya, ia akan belajar nadamu, dan setelah ia belajar nadamu, ia akan bisa menyanyikanmu."
Aku menutup mulutku rapat-rapat, meski tidak ada lagu yang hendak keluar dari sana. Laras melakukan hal yang sama, kedua tangannya menutup mulutnya sendiri. Wulan memeluk lenteranya erat-erat, seolah api yang condong itu bisa melindunginya.
Hanya pemuda penjaga kendi kecil itu yang tetap tenang. Atau berpura-pura tenang. Ia mengangkat kendi kecilnya, meletakkannya di tanah di antara kami dan kendi besar, lalu duduk bersila di hadapannya.
"Kita tidak bisa diam selamanya," katanya. "Yang menunggu di balik kendi tidak suka keheningan. Keheningan membuatnya penasaran. Dan rasa penasaran membuatnya mendekat."
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Danan.
"Nyanyikan lagu kalian," kata pemuda itu. "Bukan untukku. Bukan untuknya. Untuk kendi kecil ini. Kendi ini akan mencatat lagu kalian, dan catatan itu akan menjadi bukti bahwa nada baru ini sudah didengar oleh penjaga. Setelah tercatat, aturannya terpenuhi, dan aku bisa kembali. Yang menunggu itu tidak bisa mendekat selama ada lagu penjaga yang sedang dicatat."
Sela menyipitkan mata. "Dan kalau kami tidak percaya padamu?"
Pemuda itu tersenyum tipis. "Kalau kalian tidak percaya, kalian boleh tidak bernyanyi. Tapi senandung dari dalam itu tidak akan berhenti. Ia akan terus memancing sampai salah satu dari kalian menjawab tanpa sadar. Anak kecil yang bernyanyi di balik pintu selalu lebih sabar daripada orang dewasa yang menahan napas."
Aku bertukar pandang dengan Danan, Wulan, dan Sela. Tidak ada pilihan yang aman. Bernyanyi berarti menyerahkan lagu kami untuk dicatat oleh orang asing dari sisi lain. Tidak bernyanyi berarti membiarkan senandung itu memancing kami satu per satu sampai seseorang terpeleset.
Laras yang akhirnya memecah kebuntuan. Ia berdiri, melangkah ke tengah lingkaran, dan menatap kami.
"Kalau lagu ini harus dicatat," katanya, suaranya masih baru tapi sudah mantap, "maka biarlah dicatat dengan benar. Bukan setengah-setengah. Bukan dengan takut. Lagu pagi tadi menyelamatkan kenangan kita. Lagu yang sama akan menyelamatkan kita malam ini."
Ia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambutnya. Wulan mengulurkan tangannya kepada Laras dari sisi lain. Sela menghela napas, lalu meletakkan tangannya di bahu Wulan. Danan berdiri di sampingku, tali jaring emas di pergelangan kami berdenyut pelan, seolah ikut bersiap.
"Dari mana kita mulai?" tanya Wulan.
"Dari pagi tadi," kataku. "Dari kenangan yang hampir dicuri, dan dari lagu yang mengembalikannya."
Aku memulai dengan nada rendah, nada yang dulu kugunakan untuk membangunkan lagu di bukit ini. Danan menyambung, suaranya stabil seperti tanah tempat kami berpijak. Wulan masuk dengan nada tinggi yang jernih, seperti cahaya pertama yang jatuh ke embun. Sela tidak bernyanyi dengan suara, ia bertepuk pelan, mengikuti irama dengan telapak tangannya, menjadi denyut yang menjaga kami tetap bersama.
Lalu Laras bernyanyi.
Suaranya bukan lagi gema. Bukan lagi suara keempat yang mengambang di antara kami. Suaranya kini punya badan, punya napas, punya nama. Ia menyanyikan bagian yang dulu hanya ia sambung dari kejauhan, dan kini bagian itu terdengar penuh, utuh, seperti potongan terakhir dari sebuah teka-teki yang akhirnya menemukan tempatnya.
Lagu kami mengalir, mengelilingi kendi besar, mengelilingi kendi kecil, mengelilingi lingkaran kami. Kendi kecil pemuda itu mulai berdenyut lebih cepat. Retakan di permukaannya berkilau, lalu perlahan, sangat perlahan, retakan itu merapat. Bukan menutup sepenuhnya, tapi menyempit, seperti luka yang mulai sembuh.
Pemuda itu memejamkan mata, mendengarkan dengan seluruh tubuhnya. "Terus," bisiknya. "Jangan berhenti di tengah. Lagu yang berhenti di tengah tidak tercatat. Ia hanya menjadi gema."
Kami terus bernyanyi. Lagu pagi tadi kami sambung dengan lagu nama Laras, nada demi nada, kenangan demi kenangan. Aku menyanyikan tali Danan, pagi yang embunnya dingin, tangan Wulan yang menggenggamku saat lagu hampir putus. Danan menyanyikan keberaniannya untuk tetap tinggal ketika pintu mulai mencuri. Wulan menyanyikan suara yang meninggi saat ia takut kehilangan kami semua. Sela menyanyikan tepukan yang tidak pernah berhenti, bahkan saat ia paling takut.
Dan Laras menyanyikan dirinya sendiri. Bukan sebagai gema. Sebagai seseorang yang kini punya nama dan berhak menyanyikan kisahnya sendiri.
Perlahan, senandung dari dalam kendi berubah. Suara anak kecil itu tidak lagi memancing. Ia mulai mengikuti. Nada demi nada, ia menyelaraskan senandungnya dengan lagu kami, seperti seseorang yang belajar bernyanyi dengan mendengarkan dari balik dinding.
"Itu bagus," bisik pemuda itu, matanya masih terpejam. "Ia sedang belajar. Selama ia belajar dari lagu kalian, ia tidak mendekat. Ia hanya mendengarkan."
Aku hampir percaya bahwa malam ini akan berakhir dengan tenang. Hampir.
Karena di bait terakhir, saat lagu kami mencapai nada tertinggi dan semua suara kami bertemu dalam satu laras, tali jaring emas di pergelangan Danan dan aku berubah.
Perubahannya tidak sakit. Tidak panas. Tidak ada cahaya meledak atau bunyi retak. Hanya rasa seperti benang yang selama ini terpilin menjadi satu, tiba-tiba memutuskan untuk bercabang.
Aku menunduk. Serat emas itu membelah di tengah, perlahan dan pasti, menjadi dua untaian. Satu untaian tetap mengikat pergelangan Danan dan aku, hangat seperti biasa. Untaian kedua, yang lebih tipis dan lebih terang, terlepas dari pilinan itu, melayang di udara sesaat seperti mencari arah, lalu melingkari pergelangan Laras.
Laras tersentak. Lagu kami goyah, tapi tidak putus. Wulan menahan nadanya. Sela menepuk lebih keras, menjaga irama tetap hidup. Danan menggenggam tanganku erat-erat, dan aku merasakan untaian tali yang tersisa di antara kami masih berdenyut, masih hidup, tapi kini nadanya berbeda: bukan lagi nada berdua, melainkan nada bertiga.
Kupu-kupu bersayap not balok itu terbang dari bibir kendi kecil, mengelilingi pergelangan Laras sekali, lalu hinggap di untaian tali yang baru, mengepakkan sayapnya pelan, seolah mengesahkan apa yang baru saja terjadi.
Lagu kami selesai dalam keheningan yang tebal. Kendi kecil pemuda itu berhenti berdenyut. Retakannya kini tinggal garis tipis yang nyaris tidak terlihat.
Pemuda itu membuka matanya. Ia memandang tali di pergelangan Laras, lalu memandangku, lalu memandang penjaga pintu yang sebenarnya.
Penjaga itu tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Wajahnya yang berkabut bergeser, berputar, seperti kabut yang sedang mencari bentuk yang tepat untuk menyampaikan kabar buruk.
Akhirnya ia bersuara, pelan dan berat seperti batu yang jatuh ke dalam sumur.
"Satu nama, satu tali," katanya. "Dulu tali itu hanya punya dua ujung: kau dan Danan. Kini tali itu punya tiga. Dan setiap ujung tali adalah jalan. Jalan bisa dilalui dari dua arah."
Ia menatap celah kendi yang sempit itu, tempat senandung anak kecil tadi kini sudah berhenti, digantikan oleh keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada suara apa pun.
"Yang menunggu di balik semua kendi," kata penjaga itu, "baru saja belajar nada Laras. Dan kini ia tahu ada tali yang terhubung dengan nada itu."
Pemuda penjaga kendi kecil itu berdiri, memungut kendi kecilnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah kendi itu bisa pecah hanya karena disentuh terlalu keras.
"Aku harus kembali," katanya. "Sebelum ia memutuskan untuk mengikuti tali itu ke sini."
Ia melangkah menuju kabut perak di depan pintu. Tapi sebelum ia menghilang ke dalamnya, ia menoleh sekali lagi kepadaku.
"Jangan putuskan tali itu," katanya. "Dan jangan biarkan Laras bernyanyi sendirian malam ini. Kalau ia bernyanyi sendiri, suaranya akan terdengar paling jelas dari sisi lain."
Lalu ia lenyap ke dalam kabut. Kendi besar berdenyut sekali, pelan, dan celahnya menyempit sedikit lagi.
Aku menatap Laras. Ia menatap tali baru di pergelangannya, lalu menatapku. Di matanya tidak ada ketakutan. Ada sesuatu yang lebih sulit kuhadapi: rasa bersalah, karena ia tahu tali itu ada di sana karena namanya.
Dan dari dalam kendi, dari tempat yang jauh lebih dalam daripada suara pemuda tadi, sebuah suara yang sangat kecil, sangat pelan, dan sangat sabar, mulai menyanyikan nada pertama dari lagu kami.
Nada yang baru saja kami nyanyikan bersama. Dinyanyikan kembali, persis sama, oleh seseorang yang sedang belajar bagaimana menjadi kami.