β€Ή
3. Kunci yang Memilih

Kunci yang Memilih

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,637 kata

Ilustrasi Kunci yang Memilih

Latihan pertama hampir membunuh Naya β€” bukan karena makhluk asapnya, melainkan karena Danan ternyata tidak mengenal arti kata "pelan-pelan".

"Rasakan dulu. Jangan dipaksa. Arus langit itu seperti sungai β€” kau tidak bisa menyuruh sungai mengalir lebih cepat dengan berteriak padanya."

"Aku bahkan tidak bisa melihat sungainya!" Naya mengusap keringat dari dahinya. Matahari baru saja terbit di ufuk timur, kabut masih menggantung rendah di antara pohon-pohon jati, dan ia sudah satu jam duduk bersila di tanah yang dingin di tempat terbuka tempat gerbang itu muncul semalam β€” kini kosong, hanya pepohonan biasa. "Bagaimana aku bisa merasakan sesuatu yang tidak terlihat?"

Danan berjongkok di depannya, mata emasnya menatap tajam. "Pejamkan mata. Lupakan matamu. Para pewaris tidak melihat dengan mata β€” mereka melihat dengan darah. Darahmu mengingat, Naya. Ibumu pernah duduk di tempat yang persis sama, melakukan hal yang persis sama, saat ia seumurmu."

Kata-kata itu β€” ibumu pernah di sini β€” menghantam Naya lebih keras dari bentakan mana pun. Ia memejamkan mata, mengatur napas seperti yang diajarkan Danan: masuk empat hitungan, tahan empat hitungan, keluar empat hitungan.

Satu menit. Dua menit. Hanya suara jangkrik dan angin.

Lalu β€” seperti tirai yang tersibak β€” ia merasakannya.

Aliran hangat mengalir di udara di sekitarnya, tak terlihat namun nyata, seperti sungai tak kasatmata yang mengalir dari arah... atas. Dari langit. Ia berdenyut dengan irama yang sama dengan detak jantungnya sendiri, dan ketika Naya mengulurkan tangannya dengan ragu, aliran itu membelok β€” menyentuh ujung jarinya seperti anak kucing yang penasaran.

"Bagus," suara Danan terdengar jauh. "Sekarang tarik. Sedikit saja. Seperti menyeruput, bukan menenggak."

Naya menarik β€” dan cahaya kecil menyala di telapak tangannya. Biru kehijauan, seukuran kunang-kunang, berdenyut lembut. Ia membuka mata dan menatapnya dengan takjub, air matanya nyaris tumpah. "Aku... aku bisa."

"Ibumu menangis juga saat pertama kali berhasil," kata Danan pelan. "Tepat di tempat ini. Aku masih ingat β€” aku mengawasinya dari balik pohon itu." Ia menunjuk sebatang jati tua. "Kau mirip sekali dengannya saat tersenyum seperti itu."

Untuk pertama kalinya sejak semalam, Naya tersenyum β€” sungguhan. Tapi senyum itu membeku ketika udara di sekitar mereka tiba-tiba berubah.

Dengung itu kembali. Rendah, bergetar, datang dari... atas.

Di udara kosong tempat gerbang pernah berdiri, cahaya mulai berkumpul β€” berputar, memadat β€” dan dari pusarannya, sesuatu jatuh perlahan, melayang turun seperti daun yang gugur, hingga berhenti tepat setinggi dada Naya.

Kunci itu.

Kunci tulang burung dari mimpinya β€” nyata kini, bukan bayangan tidur. Seputih tulang, sehalus gading, melengkung dengan indah seperti tulang sayap burung raksasa, dengan ukiran-ukiran halus yang bergerak-gerak sendiri seperti tulisan hidup. Ia bersinar hangat, berdengung pelan, dan Naya bisa merasakannya memanggil β€” bukan dengan suara, melainkan dengan kerinduan yang menusuk tulang, seolah kunci itu adalah bagian dari dirinya yang hilang dan kini pulang.

Kakinya melangkah maju sendiri. Tangannya terangkat sendiri.

"Naya, jangan!"

Genggaman Danan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang mengejutkan β€” tepat sebelum ujung jarinya menyentuh tulang itu. Mata emasnya menyala terang, wajahnya pucat. "Jangan sentuh kuncinya."

Kata-kata yang sama. Persis sama dengan yang diucapkan Nek Wulan dalam mimpi, dan Danan di balai desa.

"Kenapa?" Naya meronta, tapi genggaman Danan seperti besi. "Kenapa semua orang melarangku menyentuhnya?! Itu memanggilku, Danan!"

"Karena kunci itu adalah jantung gerbang," kata Danan, suaranya berat. Ia tidak melepaskan pergelangan Naya sampai kunci itu perlahan memudar dan hilang kembali ke udara, meninggalkan dengung yang perlahan padam. "Hanya pewaris yang bisa menyentuhnya. Dan sekali pewaris menyentuhnya... tidak ada jalan kembali. Kau akan menjadi Penjaga sepenuhnya. Dengan segala... harganya."

"Harga apa?"

Danan melepaskan tangannya perlahan. "Itu bukan hakku untuk menceritakan. Itu hak nenekmu."

Kemarahan membakar dada Naya. "Semua orang menyimpan rahasia dariku! Nenekku, kau β€” aku berhak tahu! Ini hidupku!"

"Dan justru karena itu hidupmu," kata Danan dengan tenang yang menyakitkan, "kami tidak boleh memilihkan untukmu. Seorang Penjaga yang dipaksa bukanlah penjaga β€” ia tahanan. Ibumu memilih sendiri. Kau pun harus memilih sendiri. Nanti. Bukan hari ini."

Sebelum Naya sempat menjawab, suara motor meraung dari arah jalan desa, dan Sari muncul dengan tergesa-gesa, wajahnya panik. "Naya! Syukurlah kau di sini! Bu RT menyuruhku mencarimu β€” ada... ada yang aneh di desa. Listrik mati total sejak subuh, dan Pak Haji bilang ia melihat... ia melihat mata-mata merah di kebunnya!"

Danan dan Naya saling berpandang. Wajah Danan mengeras dalam sekejap.

"Mereka tidak menunggu malam," gumamnya. "Retakan itu β€” segel sementaramu semalam tidak cukup kuat. Mereka belajar. Mereka berani." Ia menatap Naya. "Latihan selesai. Saatnya ujian yang sebenarnya."

Desa Langit Biru saat mereka tiba terasa seperti desa yang sedang menahan napas. Warung-warung tutup. Jalanan sepi β€” tidak biasa untuk jam segini. Di balai desa, sekelompok warga berkerumun dengan wajah tegang, dan di tengah mereka Bu RT berbicara dengan suara keras, mencoba terdengar berani.

"...tenang, semuanya tenang! Mungkin cuma... cuma pantulan lampu atau apaβ€”"

Lalu sore itu menjadi malam β€” bukan karena matahari terbenam, melainkan karena mereka datang.

Asap hitam meledak dari arah hutan, bergulung-gulung seperti tsunami, melesat di atas atap-atap rumah menuju jantung desa. Dan kali ini, semua orang melihatnya. Jeritan pecah di mana-mana. Warga berlarian. Anak-anak menangis. Di dalam gulungan asap, puluhan pasang mata merah menyala seperti bara api yang marah.

"Masuk ke rumah! Kunci pintu!" teriak Danan, benang-benang emas sudah terburai dari tangannya.

Tapi Naya tidak mendengarnya. Matanya tertuju pada satu titik: rumah Sari di ujung jalan, tempat segumpal asap terbesar melesat masuk lewat jendela yang terbuka β€” dan dari dalam, terdengar jeritan Sari yang melengking, disusul tangisan kecil Arka, putranya yang baru berumur tiga tahun.

Dunia Naya menyempit menjadi satu hal: Sari.

Ia berlari. Danan berteriak memanggilnya, tapi kakinya tidak berhenti. Ia menerobos masuk lewat pintu rumah Sari yang terbuka β€” dan pemandangan di dalamnya membuat darahnya membeku.

Sari meringkuk di sudut ruangan, memeluk Arka erat-erat, sementara tiga gumpalan asap mengepung mereka, mata merahnya menyala lapar, cakar-cakar hitamnya terulur. Bau busuk memenuhi ruangan.

"JANGAN SENTUH MEREKA!"

Naya tidak ingat mengangkat tangannya. Ia tidak ingat mengucapkan kata-kata itu lagi β€” "Balik! Tutup! Kembali ke langit!" β€” dalam bahasa yang bukan miliknya. Yang ia ingat hanyalah cahaya.

Cahaya biru kehijauan meledak dari seluruh tubuhnya β€” bukan hanya dari telapak tangan, melainkan dari kulitnya, dari matanya, dari helaian rambutnya. Ia menjadi mercusuar hidup di tengah ruangan yang gelap. Makhluk-makhluk asap itu melolong kesakitan, tubuh mereka berasap dan terpelintir, lalu tercabik-cabik menjadi serpihan yang tersedot keluar jendela, kembali ke arah hutan, kembali ke retakan.

Di luar, Danan bertarung dikelilingi pusaran emas, menebas gumpalan demi gumpalan. Tapi mereka terlalu banyak β€” dan Naya bisa merasakannya kini, dengan darahnya yang sudah terbuka: retakan di gerbang itu membesar, melebar dengan setiap makhluk yang keluar, seperti luka yang dipaksa menganga.

"Naya!" Danan meliriknya dari tengah pertarungan, wajahnya berlumuran keringat. "Aku tidak bisa menahan mereka sendirian! Retakannya membesar β€” kita butuh segel yang lebih kuat!"

Dan di tengah kekacauan itu, suara yang tenang dan tua terdengar β€” nyaris tenggelam oleh lolongan dan jeritan, namun jelas bagi Naya:

"Cukup."

Nek Wulan berdiri di tengah jalan desa, tegak di antara kepanikan yang berlarian ke sana kemari. Di tangannya, sebilah pisau kecil berkilat β€” pisau dapur biasa. Tanpa ragu, tanpa gemetar, ia menggoreskan pisau itu ke telapak tangannya sendiri.

Darah menetes. Dan di telapak tangan tuanya yang berdarah itu, Naya melihatnya β€” samar, pudar oleh usia, namun jelas: tanda berbentuk kunci kecil, persis seperti yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.

"Nek, janganβ€”!" Naya berlari ke arah neneknya.

Tapi Nek Wulan sudah mengangkat tangannya yang berdarah tinggi-tinggi ke arah hutan, ke arah gerbang yang tak terlihat dari desa namun terasa oleh mereka yang berdarah penjaga. Suaranya β€” suara tua yang biasanya lembut β€” kini bergema dengan kekuatan yang bukan milik seorang nenek penjual jamu:

"Demi darahku, demi ibuku, demi ibu dari ibuku β€” aku perintahkan: tutup!"

Cahaya putih-biru meledak dari telapak tangan Nek Wulan, melesat seperti tombak raksasa menembus udara menuju hutan. Dari kejauhan terdengar bunyi seperti gong raksasa yang dipukul β€” DUNG β€” dan seluruh desa bergetar. Asap-asap hitam itu menjerit serentak β€” jeritan yang membuat kaca-kaca jendela bergetar β€” lalu tersedot paksa kembali ke arah hutan, menghilang ke dalam kegelapan pepohonan.

Hening.

Lampu-lampu desa menyala kembali satu per satu, berkedip-kedip seperti orang yang terbangun dari mimpi buruk. Warga keluar dari persembunyian dengan wajah pucat dan bingung, saling berpandangan, tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Di tengah jalan, Nek Wulan terhuyung. Naya menangkap tubuh neneknya sebelum jatuh β€” dan tercekat.

Rambut Nek Wulan β€” yang pagi ini masih hitam beruban β€” kini separuhnya memutih. Keriput di wajahnya bertambah dalam, seolah sepuluh tahun berlalu dalam sepuluh detik. Napasnya tersengal-sengal, lemah.

"Nek... Nek Wulan..."

"Segel darah," bisik Nek Wulan dengan suara yang nyaris tak terdengar, matanya setengah terpejam. "Hanya... bertahan tujuh hari. Setelah itu... terserah padamu, Nak." Lalu ia terkulai pingsan di pelukan Naya.

Danan datang berlari, wajahnya muram saat melihat kondisi Nek Wulan. Ia mengangkat tubuh tua itu dengan hati-hati. "Bawa dia pulang. Cepat."

Malam itu, Nek Wulan terbaring tak sadarkan diri di dipannya, napasnya tipis. Naya duduk di sisinya, menggenggam tangan neneknya yang dingin β€” tangan yang tadi berdarah demi desa, demi dia. Di luar, Danan berjaga di beranda, mata emasnya mengawasi kegelapan hutan tanpa berkedip.

"Tujuh hari," kata Naya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Setelah tujuh hari, apa yang terjadi?"

Danan tidak menoleh. "Segel darah akan melemah. Retakan akan terbuka lagi β€” lebih besar dari sebelumnya. Dan Kaum Bayang akan datang dengan kekuatan penuh."

"Lalu aku harus apa?"

"Kau harus memilih." Danan akhirnya menatapnya, dan di mata emasnya ada kesedihan yang dalam. "Seperti ibumu memilih. Seperti yang akan kuceritakan... setelah nenekmu sadar. Jika ia sadar."

Naya menunduk, air matanya jatuh ke tangan Nek Wulan yang dingin. Ia merasa kecil, merasa marah, merasa takut β€” semuanya sekaligus, berputar-putar seperti pusaran air yang menyeretnya ke dasar.

Ia tidak tahu jam berapa ia akhirnya tertidur di sisi dipan neneknya, kepalanya bersandar di tepi kasur.

Ia terbangun karena kehangatan di pipinya.

Bulan masuk lewat jendela, dan di atas bantalnya β€” tepat di samping kepalanya β€” tergeletak kunci tulang burung itu. Nyata. Hangat. Berdengung pelan, seirama dengan detak jantungnya. Seolah ia sudah menunggu di sana sejak lama, sabar, hingga Naya siap.

Naya menahan napas. Tangannya terangkat β€” ragu, gemetar β€” dan dari ambang pintu, suara Danan terdengar, serak dan pucat:

"Itu... tidak seharusnya terjadi. Kunci tidak pernah datang sendiri. Tidak pernah."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!