Tiga Fajar
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,502 kata
Fajar pertama tinggal tiga jam lagi, dan lembah tidak tidur.
Aku duduk di depan pondok penjaga, berselimut kain sarung yang bau asap lentera, memandangi Mata Langit yang setengah terpejam di antara bintang-bintang yang memudar. Kata IBU masih menggantung di sana β lebih redup kini, tetapi menolak hilang, seperti bara yang dijaga seseorang dengan sabar.
Keputusan itu sudah kubuat sebelum matahari terbenam kemarin: aku akan masuk.
Bukan karena dewan memerintah. Bukan karena langit menuntut. Melainkan karena Ibu mengetuk β dan tidak ada anak yang membiarkan ibunya mengetuk sendirian dari dalam kegelapan.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Danan duduk di sampingku tanpa suara, seperti ia selalu muncul β penjaga yang bahkan langkahnya pun dijaga. Di tangannya ada dua cangkir teh jahe yang mengepul. "Dan jawabanku tetap tidak."
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Kau tidak perlu." Ia menyerahkan satu cangkir padaku. Jari-jarinya menyentuh jariku, dan kepangan benang kami berdenyut pelan di antara kami β emas dan abu-abu, ditambah satu simpul baru yang kuikat sendiri semalam. Simpulku. Pilihanku. "Benangmu berteriak lebih keras daripada mulutmu, Naya. Sejak semalam aku bisa mendengar rencanamu seperti mendengar genderang perang."
Aku menyesap tehnya. Panas dan pedas, menenangkan tenggorokanku yang kering. "Kalau begitu kau tahu kau tidak bisa menghentikanku."
"Aku tidak mencoba menghentikanmu." Ia menatapku, dan di cahaya lentera, wajahnya yang keriput terlihat lebih muda β atau mungkin aku hanya mulai menghafalnya. "Aku mencoba ikut."
"Tidakβ"
"Dua benang, satu jangkar, Naya." Suaranya tenang, final, seperti batu yang diletakkan di tempatnya. "Ke mana satu pergi, keduanya pergi. Itu bukan puisi. Itu fisika benang. Kau masuk, aku ikut. Kau tinggal, aku tinggal. Langit sendiri yang mengepang kita β langit yang menanggung akibatnya."
Aku ingin marah. Aku ingin berteriak bahwa ia sudah tua, bahwa ia sudah berjaga empat puluh dua tahun, bahwa ia berhak istirahat. Tetapi yang keluar dari mulutku justru bisikan: "Kau akan mati."
"Kita semua akan mati," katanya ringan, hampir tersenyum. "Penjaga hanya mati dengan jadwal yang lebih jelas."
Aku tertawa β tawa pendek yang berubah menjadi isak di tengah jalan. Aku bersandar padanya, dan bahunya yang keras menerima kepalaku seperti sudah melakukannya seribu kali. Kepangan benang kami melilit kami berdua dengan hangat. Sesuatu yang berbahaya dan manis berdesir di dadaku β sesuatu yang tidak seharusnya kurasakan pada penjaga ibuku, pada laki-laki yang usianya dua kali usiaku, pada orang yang seharusnya hanya menjadi perisai. Tetapi hati tidak pernah membaca peraturan dewan.
"Sebelum fajar," kata Danan pelan setelah lama, "ada satu hal yang belum kuceritakan. Bagian yang kemarin tidak sempat kukatakan. Bagian yang paling gelap."
Aku menegakkan badan. "Ceritakan."
Ia menatap keris di pinggangnya lama sekali sebelum bicara. "Dewan memerintahkanku memotong benangnya," katanya akhirnya. Setiap kata terdengar seperti dicabut dari tenggorokan. "Jika ibumu melawan. Jika ia tidak mau berjalan masuk dengan sukarela. Keris ini..." Ia menyentuh gagang kerisnya dengan ujung jari, lembut seperti menyentuh luka. "...ditempa untuk memotong benang emas. Itu tujuan ia dibuat."
Darahku berdesir dingin. "Dan kau mengangkatnya."
"Aku mengangkatnya." Suaranya hancur berkeping-keping. "Empat puluh tahun aku mencoba melupakan berat keris di tanganku sore itu. Beratnya seperti mengangkat gunung. Dan ibumu β ia melihatku. Ia melihat keris itu, ia melihat tanganku yang gemetar, dan ia tersenyum. Senyum yang sama seperti senyummu ketika kau keras kepala." Air mata mengalir di wajahnya, dan kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya. "Ia mengambil keris itu dari tanganku dengan lembut, seperti mengambil mainan berbahaya dari tangan anak kecil. Ia meletakkannya di tanah. Lalu ia memelukku β sekali, singkat β dan berkata..."
"Apa katanya?" bisikku, meski aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak kemarin.
"Jaga anakku." Ia menatapku, hancur. "Hanya itu. Dua kata. Lalu ia berjalan masuk sambil bernyanyi, dan aku menutup gerbang di belakangnya. Dua kata itu telah menghantuiku selama empat puluh tahun, Naya. Dan sekarang kau memintaku mengulanginya β menjaga anaknya dengan cara membiarkannya berjalan ke tempat yang sama."
Aku menggenggam tangannya yang gemetar dengan kedua tanganku. "Kau tidak kehilangan Ibu," kataku, mengulang kata-kataku semalam karena ia perlu mendengarnya lagi. "Dia memilih. Dan sekarang aku memilih. Itu bedanya antara dikorbankan dan berkorban, Danan."
"Bagaimana jika aku tidak sanggup?" bisiknya. "Bagaimana jika tanganku gemetar lagi?"
"Maka aku yang akan memegang tanganmu." Aku mengangkat kepangan benang kami ke cahaya lentera. "Lihat. Simpul ini kuikat sendiri. Selama simpulku ada di sini, kau tidak akan pernah mendorong batu sendirian lagi."
Kami menguatkan kepangan itu β bukan dengan mantra atau ritual dewan, melainkan dengan cara yang lebih tua: kami saling menatap, dan masing-masing mengikatkan satu simpul baru dengan tangan sendiri. Simpul sumpah. Ketika simpul terakhir kukencangkan, kepangan itu menyala β emas dan abu-abu berpilin β dan di antara kami, untuk sesaat, aku bisa merasakan detak jantungnya seirama dengan detak jantungku.
"Dua benang," bisikku.
"Satu jangkar," bisiknya.
Dahinya menyentuh dahiku. Dan untuk sesaat yang panjang dan berbahaya, tidak ada gerbang, tidak ada dewan, tidak ada langit β hanya kami berdua dan janji yang lebih berat dari dunia.
Di tanah lapang di bawah bukit, Bima duduk bersandar pada batu, dan di pangkuannya β dijaga dari kejauhan oleh herald tua yang tidak tidur β Wulan tertidur dengan napas teratur.
Aku turun menghampiri mereka. Bima menoleh, matanya merah dan bengkak, tetapi ada sesuatu yang baru di sana β sesuatu yang hampir seperti harapan.
"Ia memanggilku ,"Kak" sekali," bisiknya, takut suaranya terlalu keras akan memecahkan keajaiban itu. "Tadi, sekitar tengah malam. Ia terbangun, menatapku, dan berkata... "Kak, aku haus." Lalu ia lupa lagi. Lalu satu jam kemudian ia ingat lagi β lebih lama." Ia tertawa kecil yang basah. "Nama itu sedang kering, bukan? Sedang berakar."
"Ya," kataku. Tenggorokanku tercekat. "Tiga fajar, Bima. Tinta benang butuh tiga fajar untuk kering. Jaga dia. Jangan biarkan ia sendirian sedetik pun."
"Kalau kau masuk..." Ia menatapku. "Siapa yang menjaga nama itu tetap kering? Siapa yang menjaga halamannya?"
Aku mengeluarkan halaman hangat itu dari sakuku. Nama WULAN berkilau samar di atasnya, seperti cahaya di bawah air. Aku meletakkannya di tangan Bima.
"Pegang ini," kataku. "Hangatnya adalah jantungku. Selama ia hangat, namanya hidup. Selama kau memegangnya, dewan tidak bisa menghapusnya lagi β karena halaman ini bukan lagi milik mereka. Ini milik kita."
Bima menggenggam halaman itu seperti menggenggam bayi burung. "Nayaβ"
"Jangan berterima kasih. Jaga saja dia." Aku menatap Wulan yang tidur. "Dan kalau fajar ketiga tiba dan aku belum kembali... ceritakan padanya siapa aku. Agar ada yang mengingatku, kalau langit lupa."
Menjelang fajar, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam empat puluh dua tahun penjagaan Danan terjadi: Mata Langit menutup sepenuhnya.
Kegelapan total menyelimuti lembah. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Hanya hitam yang pekat seperti tinta.
Lalu β dari dalam gerbang β ketukan itu berubah.
TOK-tok-TOK. Tok-TOK-tok. Bukan lagi ketukan memanggil. Ini ritme. Ini lagu. Seluruh gunung bernyanyi nina bobo dalam bahasa ketukan batu β dan aku, yang dibesarkan dengan lagu itu, merasakan setiap baitnya di sumsum tulangku.
"Ia menyiapkan jalan," bisik Danan di sampingku. Ia sudah berdiri, keris di pinggang, wajahnya tenang seperti danau pagi. "Ibu menyiapkan jalan untukmu. Seperti ia menyiapkan jalan untuk dirinya sendiri empat puluh tahun yang lalu."
Lalu fajar pertama tiba.
Langit di timur memerah seperti bara yang ditiup. Mata Langit membuka β penuh, lebar, merah di tepi-tepinya seperti mata yang tidak tidur semalam. Kata IBU menyala terang kembali, berkobar seperti obor.
Di puncak bukit, prosesi dewan muncul β bukan tiga sosok seperti kemarin, melainkan seluruh dewan. Puluhan jubah kelabu berbaris dalam keheningan yang menekan. Herald tua mengangkat lonceng kuningannya tinggi-tinggi.
Dan gerbang itu bergetar.
Retakan membuka β lebih lebar dari kemarin, selebar telapak tangan. Cahaya keemasan membanjir keluar seperti air bah, membasahi batu-batu kuno, membasahi tanah, membasahi wajahku yang mendongak.
Dan Ibu melangkah keluar.
Ia muda. Itu hal pertama yang kuhancurkan di kepalaku β ia muda, semuda hari ia masuk empat puluh tahun yang lalu, tidak menua sehari pun. Rambutnya panjang dan hitam dengan uban perak di pelipis. Matanya β mataku. Senyumnya β senyumku ketika aku keras kepala.
Ia menatapku, dan air mata mengalir di wajahnya yang tidak menua, dan ia bernyanyi.
Bait terakhir nina bobo. Bait kepulangan. Bait yang tidak pernah kudengar, karena Ibu tidak pernah menyanyikannya β bait itu hanya ada untuk hari ini, untuk saat ini, untuk ketika yang pergi akhirnya pulang.
"Anakku..." Suaranya retak seperti porselen tua, tetapi hangat seperti matahari pagi. "Kau tumbuh dengan benang yang begitu terang."
Danan berlutut di tanah, kerisnya terlepas dari tangannya. "Maafkan aku," bisiknya ke tanah. "Maafkan aku."
Ibu menatapnya β lama, dalam β lalu menggeleng pelan sambil tersenyum. Pengampunan tanpa kata. Empat puluh tahun penantian, selesai dalam satu gelengan.
Lalu ia mengulurkan tangannya padaku.
Tetapi di belakangnya β dalam kegelapan gerbang yang masih terbuka menganga β berbaris mereka.
Bayangan-bayangan tanpa wajah. Ratusan. Berbaris rapi seperti pasukan yang menunggu perintah. Mereka yang terhapus dari buku besar orang hidup. Mereka yang namanya dicabut, yang ingatannya dirampas, yang bahkan tidak diingat oleh langit.
Dan di puncak bukit, dewan telah tiba sepenuhnya. Herald mengangkat loncengnya β dan tangannya mulai bergerak untuk memukulnya.
Danan bangkit. Ia memungut kerisnya dan berdiri di depanku β di antara aku dan dewan, di antara aku dan gerbang, di antara aku dan ibuku yang baru pulang.
"Kalau mereka mau satu jantung," katanya β lantang, agar didengar langit dan dewan dan ibuku dan seluruh lembah yang tidak tidur β "mereka harus memotong dua benang sekaligus."
Kepangan kami menyala β emas dan abu-abu berpilin β seterang matahari yang baru terbit.
Fajar pertama telah tiba. Ibuku pulang β tepat pada hari dewan datang menagih. Dan langit pun menahan napas.