β€Ή
88. Tangan Kecil dari Balik Retak

Tangan Kecil dari Balik Retak

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,405 kata

Ilustrasi Tangan Kecil dari Balik Retak

Tidak ada yang menyentuh tangan itu.

Itu hal pertama yang harus kucatat, karena di saat seperti itu, naluri pertama manusia adalah mengulurkan tangan juga, menyambut, menolong, atau menarik. Tetapi kami semua, Wulan, Sela, Danan, Laras, dan aku, berdiri diam, karena penjaga pintu sudah mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti, dan suaranya, ketika keluar, terdengar seperti perintah yang sudah lama disiapkan untuk saat ini.

"Jangan sentuh," katanya. "Sentuhan adalah undangan. Sentuhan dari sisi ini kepada yang dari sisi lain adalah izin yang tidak bisa ditarik kembali. Biarkan tangan itu mencari, dan biarkan ia tidak menemukan apa-apa, supaya ia belajar bahwa jalan keluar bukan dengan meraih, melainkan dengan menunggu."

Tangan kecil itu meraba udara, jari-jarinya membuka dan menutup, seperti seseorang yang sedang mencari gagang pintu dalam gelap. Ia tidak meraih ke arah Laras secara langsung. Ia meraih ke segala arah, pelan, hati-hati, seperti makhluk yang baru pertama kali merasakan udara luar dan belum tahu udara itu milik siapa.

Laras memegang tanganku erat-erat, tetapi ia tidak menangis dan tidak berlari. Ia menatap tangan itu dengan cara anak kecil menatap sesuatu yang menakutkan sekaligus menyedihkan: takut karena tangan itu tidak seharusnya ada di luar kendi, sedih karena tangan itu terlihat begitu kesepian di udara yang kosong.

"Siapa kamu?" tanyaku, pelan, ke arah retak itu. Bukan sebagai penjaga yang menginterogasi, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya bertanya dengan jujur, setelah tiga hari hanya mendengarkan ketukan, lagu, dan permintaan. "Sebelum kendi ini, sebelum kamu menjadi penunggu, siapa kamu?"

Jeda yang panjang. Tangan itu berhenti meraba, tetapi tidak masuk kembali ke dalam kendi. Ia tetap di luar, menggantung di udara, seperti pertanyaan yang belum dijawab.

Lalu suara kecil itu datang, bukan dari dalam kendi yang dalam, melainkan dari dekat retak, jelas dan dekat, seperti suara yang dinyanyikan tepat di telinga kami.

"Aku tidak ingat namaku," katanya. "Aku ingat lagu. Aku ingat bait membuka. Aku ingat berdiri di tempat seperti ini, di lingkaran seperti ini, dan menyanyi bersama suara-suara lain. Lalu aku ingat diam yang panjang. Diam yang sangat panjang, sampai lagu itu tinggal bunyi, dan bunyi itu tinggal ketukan. Aku mengetuk, karena mengetuk adalah satu-satunya cara yang masih kuingat untuk berkata aku ada."

Wulan menutup mulutnya dengan tangan. Sela mundur selangkah, tetapi tidak pergi. Danan menarik Laras sedikit lebih jauh dari kendi, tetapi Laras tetap menatap tangan itu, dan aku tahu ia sedang mendengarkan dengan cara yang hanya bisa dilakukan anak kecil: mendengarkan bukan dengan telinga, melainkan dengan perasaan bahwa yang di depannya sedang kesepian.

"Jadi kamu pernah menjadi penjaga?" tanyaku, hati-hati.

"Aku pernah menyanyi di lingkaran," kata suara itu. "Apakah itu berarti penjaga? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, sejak kalian menyanyi bersamaku, aku ingat lebih banyak. Sejak kalian mengajariku satu bait, aku ingat bait lain. Sejak kalian mengajariku menjaga dari dalam, aku tidak lagi ingin membuka dengan tergesa-gesa. Aku ingin berdiri di tempat yang benar, dan menyanyi dari tempat itu."

Penjaga pintu, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara, dan suaranya terdengar lebih lembut daripada biasanya, seperti seseorang yang sedang berbicara kepada penjaga muda yang sudah lama hilang.

"Kalau kamu pernah menyanyi di lingkaran," katanya, "maka kamu tahu aturannya. Penjaga tidak keluar dari kendi dengan meraih. Penjaga keluar dengan dipanggil, dengan nama, oleh penjaga yang berdiri di sisi ini, pada saat yang tepat. Dan nama tidak diminta. Nama diberikan."

Tangan kecil itu gemetar, lalu perlahan, sangat perlahan, jari-jarinya melipat, satu per satu, seperti seseorang yang sedang menahan diri untuk tidak meraih lebih jauh.

"Aku tidak meminta keluar," kata suara itu. "Aku meminta tempat. Aku sudah belajar menjaga. Aku sudah belajar menutup dari dalam. Aku sudah belajar menyanyi bersama tanpa menyanyi sendirian. Apakah itu belum cukup untuk berdiri di sisi kalian, satu langkah saja, di dalam lingkaran, dan menyanyi dari sana?"

Pertanyaan itu lebih berat daripada pertanyaan tentang membuka. Membuka adalah tentang pintu. Berdiri di dalam lingkaran adalah tentang menjadi bagian dari kami. Dan menjadi bagian dari kami berarti desa harus mengakuinya, para tetua harus mengakuinya, dan Laras harus berbagi lingkaran dengan makhluk yang semalam membuatnya berjalan dalam tidur menuju pintu.

Aku menatap Danan, dan Danan menatapku, dan kami berdua tahu bahwa jawaban untuk pertanyaan itu tidak bisa diberikan siang ini, di puncak bukit, oleh kami berlima saja. Jawaban itu harus dibawa ke balai, ke para tetua, ke desa, karena lingkaran bukan milik kami berlima. Lingkaran adalah milik semua penjaga, yang dulu, yang sekarang, dan yang akan datang.

"Kami akan membawanya ke desa," kataku akhirnya. "Kami tidak menolak, dan kami tidak mengizinkan hari ini. Kami membawa pertanyaanmu, seperti kami membawa semua kabar dari bukit, dan desa yang akan menjawab bersama kami."

Tangan itu diam sejenak, lalu perlahan masuk kembali ke dalam kendi, lewat retak yang sama, tanpa suara, tanpa cahaya yang berlebihan. Retak itu tetap ada, tetapi cahaya hangat dari dalamnya kini tenang, seperti lentera yang dijaga dari dalam.

Sore itu, di balai, perdebatan berlangsung lebih lama daripada perdebatan mana pun sebelumnya. Sebagian tetua berkata makhluk yang sudah belajar menjaga dari dalam layak diberi tempat di lingkaran, karena penjagaan bukan tentang dari mana kamu berasal, melainkan tentang apa yang kamu nyanyikan. Sebagian yang lain berkata memberi tempat di lingkaran sama dengan membukakan pintu tanpa menyanyikan bait membuka, dan itu adalah jalan pintas yang berbahaya. Dan sebagian lagi, yang paling diam, berkata kami harus menunggu, menyanyi bersamanya beberapa malam lagi, dan melihat apakah ia tetap menjaga ketika tidak ada yang memintanya.

Di jalan mendaki malam itu, Laras bertanya dengan suara kecil, sambil memegang tangan Danan, "Naya, kalau dia sudah belajar menjaga, apakah dia nanti punya nama seperti kita?"

Aku tidak langsung menjawab, karena jawaban yang jujur adalah aku tidak tahu. Nama bukan hadiah karena sudah belajar dengan baik. Nama adalah ikatan, dan ikatan tidak diberikan hanya karena seseorang sudah menyanyi dengan benar selama beberapa malam. Tetapi di depan anak kecil yang sedang memikirkan temannya yang kesepian, jawaban yang terlalu keras terasa seperti menutup pintu yang belum waktunya ditutup.

"Nama diberikan kalau desa sudah percaya," kataku akhirnya, pelan, supaya hanya Laras dan Danan yang mendengar. "Dan kepercayaan tidak datang dari satu lagu yang sempurna. Kepercayaan datang dari banyak malam, ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang meminta. Kita lihat malam ini, dan malam-malam sesudahnya."

Laras mengangguk, seolah jawaban itu cukup untuknya, dan ia terus mendaki dengan langkah yang lebih ringan.

Malamnya, kami kembali ke bukit, dan malam itu makhluk kecil itu menyanyikan lagu penjaga dengan sempurna. Bukan hampir sempurna. Sempurna, bait demi bait, tanpa nada yang salah, tanpa nada tambahan miliknya sendiri, tanpa nada yang diselipkan. Untuk pertama kalinya, ia menyanyikan lagu kami persis seperti kami menyanyikannya, dan justru kesempurnaan itulah yang membuatku merinding, karena makhluk yang menyanyi dengan sempurna tanpa menambahkan nada sendiri adalah makhluk yang sudah menyerahkan sesuatu: suaranya sendiri, demi menjadi bagian dari lagu kami.

Wulan menatap kendi itu dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena ia mendengar sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar dari sisi lain: lagu yang dinyanyikan bukan untuk meniru, bukan untuk meminta, melainkan untuk menjaga bersama. Sela, yang biasanya paling cepat mengingatkan kami tentang bahaya, malam itu hanya diam, dan diamnya bukan diam curiga. Diamnya adalah diam seseorang yang sedang mengakui bahwa apa yang ia dengar memang lagu penjaga, seutuhnya, tanpa selipan, tanpa kekurangan.

Penjaga pintu menundukkan kepalanya sedikit, seperti seseorang yang sedang mendengarkan gema dari waktu yang sangat lama. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, apakah ia sedang mengingat penjaga muda yang pernah menyanyi di lingkaran seperti ini, atau apakah ia sedang menimbang apakah kesempurnaan itu adalah tanda kesiapan atau tanda penyerahan. Yang kutahu, malam itu lingkaran kami terasa lebih penuh daripada malam-malam sebelumnya, seolah ada suara keenam yang berdiri bersama kami, meskipun tubuhnya masih berada di balik dinding kendi.

Ketika lagu penutup selesai, dan kami sudah berdiri untuk pulang, suara kecil itu datang lagi, dari dalam kendi, dengan kata-kata yang disusun sendiri, pelan, jelas, dan mantap, tanpa serak, tanpa ragu.

"Naya," katanya, dan namaku diucapkan dengan cara yang membuat semua orang di lingkaran berhenti melangkah. "Kalau aku sudah bisa menjaga, sudah bisa menutup dari dalam, sudah bisa menyanyi seperti kalian, bolehkah aku punya nama?"

Ia berhenti sejenak, dan di dalam jeda itu aku mendengar napasnya, napas yang tenang, napas seseorang yang sudah menyiapkan kalimat terakhirnya dengan sungguh-sungguh.

"Beri aku nama, Naya, supaya aku bisa menyanyi dari sisi kalian."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!